logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 7 Terjebak

Setelah meluapkan amarahnya di koridor dan mengusir Toby beserta seluruh tim pengawal, Leo Marcone memutar tubuhnya dengan kasar. Napasnya masih memburu, menahan rasa gengsi dan jengkel yang membakar dada. 
Dengan langkah lebar dan menghentak, dia kembali melangkah masuk ke dalam kamar tadi, berniat untuk langsung menginterogasi sekaligus meluapkan kekesalannya pada gadis yang telah menodai pakaiannya dengan air liurnya.
Brak! 
Leo membuka pintu kamar dengan sentakan keras. Namun, begitu matanya menyapu sekeliling ruangan, rahangnya seketika mengeras. Kasur king size itu kembali kosong
Gadis itu menghilang lagi!
"Gadis gila!!!" geram Leo, sepasang matanya langsung melotot tajam mencari keberadaan si gadis.
Mengingat kejadian kemarin malam di mana dia sempat mengira Zara kabur lewat jendela lantai tiga, insting Leo langsung menuntun pandangannya ke arah yang sama. 
Benar saja, dugaannya tidak meleset. Tatapan tajam Leo seketika terkunci pada jendela besar yang terbuka lebar. Kali ini, ada bukti yang sangat mencolok.
Bed cover tebal berbahan mewah yang semula menutupi ranjangnya kini telah raib, berganti menjadi seuntai kain raksasa yang terjulur malang melintang keluar jendela. 
Gadis itu menggunakan selimut ranjang sebagai tali darurat!
"Sialan, benar-benar nekat!" umpat Leo geram.
Tanpa membuang waktu, Leo segera berlari sekencang mungkin menghampiri jendela tersebut. Dia mencengkeram kusen dengan kuat dan langsung melongokkan kepalanya ke bawah. 
Di luar sana, menempel pada dinding batu mansion yang tinggi menjulang, dia mendapati Zara sedang bergelantungan dengan posisi yang sangat menyedihkan.
Rencana pelarian Zara ternyata gagal total. Meski ukuran bed cover itu sangat besar dan tebal, kain itu tetap saja kependekan dan tidak cukup panjang untuk menolongnya turun ke dasar halaman mansion dengan selamat dari ketinggian lantai tiga. 
Alhasil, Zara kini terjebak di tengah-tengah dinding luar, menggelantung tak berdaya bagai jemuran.
Mau merayap naik kembali ke atas jendela, otot lengan Zara sudah gemetar kehabisan tenaga menahan beban tubuhnya sendiri. 
Sementara untuk melompat turun, dia masih terlalu takut karena jarak ke tanah di bawahnya masih sangat tinggi—bisa-bisa dia berakhir dengan tulang kaki yang patah.
Di tengah situasi kritis antara hidup dan mati itu, Zara mendengar suara benturan keras dari jendela atas. 
Dia mendongak, dan tepat saat sepasang mata elang Leo yang berkilat murka bertemu dengan matanya, pertahanan Zara runtuh dalam bentuk yang paling absurd.
"Hehehehe... ketahuan ya?" ucap Zara dengan nada sangat polos, seolah dia hanya tertangkap basah sedang mencuri camilan di dapur, bukan sedang bertaruh nyawa di dinding luar lantai tiga.
"Udah marah-marahnya? Berisik banget sih, sampai kedengeran loh ke sini juga."
Leo melotot mendengar kalimat yang keluar dari mulut gadis di bawahnya. Pembuluh darah di pelipis sang singa Marcone berdenyut kencang, benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala gadis gila di depannya yang masih sempat-sempatnya meledek di tengah taruhan nyawa.
"Beraninya kau!" geram Leo, suaranya bergetar menahan amarah yang siap meledak melihat tingkah ajaib tahanannya itu.
Namun, sebelum Leo sempat melayangkan omelan panjang lebar, Zara buru-buru menyela dengan raut muka yang mulai memelas karena telapak tangannya terasa makin panas akibat gesekan kain.
"Tolongin dong... please... tangan gue udah gak kuat nih! Nanti kalau jatuh gimana?" rengek Zara.
"Gue ini pemain basket loh, kaptennya lagi! Emangnya lo mau tanggung jawab kalau gue celaka dan satu sekolah nyariin gue karena gak dateng lomba? Lo mau digerebek pelatih gue karena jadi tersangka kematian gue di sini, hah?!"
Leo tertegun sejenak, menatap tajam gadis yang bergelantungan itu. 
“Mulutnya itu benar-benar... menyebalkan!” Geram Leo. 
Leo kemudian menyilangkan tangan di depan dada, menatap Zara dengan senyum sinis yang dingin.
"Hei gadis gila, kau pikir aku akan menolongmu? Jangan harap!" cetus Leo ketus. 
Dia sengaja mencondongkan badannya sedikit ke luar jendela demi memastikan Zara mendengar penegasannya dengan jelas. 
"Nikmati siksaan yang kau ciptakan sendiri di sana. Bergelantunglah sekuatmu sampai kau terjatuh!"
Tanpa memedulikan nasib tragis yang mungkin menanti Zara di bawah sana, pria bertubuh jangkung itu berbalik arah, meninggalkan jendela dan berniat keluar dari kamar begitu saja untuk membiarkan Zara menerima pelajaran.
Melihat punggung Leo yang menjauh, kepanikan Zara langsung naik ke level maksimal. Dia mulai berteriak-teriak heboh, menggoyangkan badannya yang malah membuat pegangannya pada kain bed cover makin merosot.
"Woy! Jangan gitu napa! Katanya mau hapus ingatan gue? Katanya mau ganti rugi dan tanggung jawab?!" teriak Zara sekuat tenaga, suaranya menggema di sepanjang dinding luar mansion mewah itu. 
"Gue sampai terjebak di tempat ini tuh gara-gara kebawa masalah lo, tahu!!!"
"Hei, Tuan Pemarah! Tolongin gue!!!" teriak Zara sekali lagi, suaranya melengking memecah keheningan halaman samping mansion.
Namun, efek dari teriakan kencangnya itu ternyata tidak memanggil Leo untuk kembali. 
Justru, gema suaranya memancing perhatian dua orang penjaga berseragam hitam yang kebetulan sedang berpatroli di area taman bawah. 
Langkah kaki mereka yang berat berderap cepat mendekat ke arah dinding luar lantai tiga.
Begitu mendongak, kedua penjaga itu kompak mengernyitkan dahi melihat seuntai bed cover sutra mewah menjuntai dengan seorang gadis yang menggelantung heboh di ujungnya.
"Hei, bukannya gadis itu yang kemarin Tuan suruh tim dan pasukan banyak untuk mencarinya?" tanya penjaga pertama sambil menunjuk ke atas dengan heboh.
Penjaga kedua menyipitkan mata, lalu mengangguk cepat setelah mengenali wajah Zara. "Ya, kau benar! Sepertinya dia sudah tertangkap dan sekarang mencoba lari. Ayo kita tangkap dia!"
Melihat dua orang pria berbadan kekar menghampirinya dari bawah, otak Zara yang kadang suka absurd dan lambat dalam mencerna situasi kritis ini mendadak mengalami kelonggaran logika. 
Bukannya sadar kalau mereka adalah anak buah Leo yang mengurungnya, Zara malah merasa sangat gembira karena akhirnya ada tanda-tanda bantuan datang.
"Hei! Tolongin gue!" teriak Zara girang, melambaikan satu tangannya dengan nekat sementara tangan satunya mencengkeram erat kain selimut. "Iya, iya! Ayo sini, sini! Cepetan tolongin gue!"
Mendengar respons dari target buruan mereka, kedua penjaga itu saling lirik heran sebelum akhirnya berteriak tegas dengan nada mengancam. "Hei kau! Turun sekarang! Jangan coba-coba kabur lagi!"
Deg. 
Kata 'jangan coba-coba kabur lagi' dan 'tangkap dia' seketika bergema di gendang telinga Zara, melempar sinyal keterlambatan berpikir yang akhirnya sukses tersambung ke otaknya. 
Ekspresi wajah Zara yang tadinya memelas penuh harap langsung berubah drastis menjadi masam.
"Oh, iya ya... lupa," gumam Zara pada dirinya sendiri, meratapi kebodohannya yang hakiki. "Gue kan lagi diburu sama mereka. Kenapa gue malah minta tolong?"
Zara menepuk dahinya pelan dengan punggung tangan yang bebas, merutuki nasib. 
Ihhh, bodo banget sih gue! Tahu gini gak usah berisik teriak-teriak kayak tadi! Jadinya makin repot, kan? Mau selamat turun dari sini atau enggak, tetep aja ujung-ujungnya gue bakal masuk lagi ke mansion singa ini!

Bình Luận Sách (0)

    Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất