"Aw... aduh, aduh, aduh, aduh..." keluh Zara dramatis sambil merayap keluar dari bawah kolong kasur seperti seekor komodo. Begitu seluruh tubuh jangkungnya berhasil lolos, dia langsung meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Anjir, pegel banget badan gue, huh-ah! Akhirnya gue keluar juga dari kegelapan kolong kasur!" Zara berdiri perlahan, mematikan mode suara di langkah kakinya. Pandangannya langsung tertuju pada si pria pemarah yang kini sedang terbaring tak berdaya, tertidur pulas akibat efek obat penenang. Zara melangkah mendekat, lalu dengan santai mendudukkan bokongnya di tepi kasur mewah tersebut. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah wajah si pria, lalu mengibaskan telapak tangannya di depan mata pria itu beberapa kali untuk memastikan kesadarannya. "Dia beneran tidur, kan? Hehehehe... aman!" bisiknya puas saat melihat targetnya sama sekali tidak bergeming. Zara kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang terbuka lebar. Di luar sana langit masih gelap gulita dan angin malam berembus sangat dingin. Dia memberanikan diri mengintip ke bawah, namun langsung bergidik ngeri. "Kiri, kanan, bawah... ngeri banget. Kayaknya ini lantai tiga deh. Tetep aja tinggi, kalau gue maksa lompat bisa patah tulang," gumamnya, menciut. "Terus gue harus gimana ya?” Hoaaammmm... Zara mendadak menguap lebar. Efek bius beberapa jam lalu dan kasur yang super empuk ini ternyata sukses memicu rasa kantuknya kembali. "Mana malah ngantuk lagi? Jam berapa sih ini? Ya kali di kamar semewah ini gak ada jam dinding," rutuknya kesal. Dia mulai mondar-mandir dengan langkah malas mencari penunjuk waktu. Namun, bukannya menemukan jam dinding, pandangannya justru tertuju pada pergelangan tangan si pria yang tergeletak bebas di atas kasur. Sebuah jam tangan mewah dengan desain taktis yang rumit melingkar di sana. "Hihihihi..." Senyum jahil mendadak terbit di wajah Zara. Ide absurd kembali melintasi otak gesreknya. Dia merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan lebay yang dramatis, seolah-olah seorang bajak laut yang baru saja menemukan harta karun tersembunyi. "Wah... jam apa ini? Bagus banget, mana aneh lagi tombolnya," bisiknya antusias. Tanpa rasa takut, Zara mulai mengoprek jam tangan yang masih melingkar di tangan si pria. Dia memencet hampir semua tombol yang ada karena penasaran, hingga akhirnya layar digital mini pada jam itu menyala, menampilkan angka digital: 00:00. "Tuh kan, masih malem banget... Baru jam 12 malem," gumam Zara. "Gue bisa aja sih sebenarnya nekat lompat dari jendela itu pakai selimut tebal ini ala-ala agen rahasia. Cuma masalahnya..." “Gue gak tahu jalan keluar dari mansion ini. Yang ada nanti begitu mendarat, gue malah ketemu pengawal dia terus ditembak kaki gue! Kaki ya, woy! Gue gak mau mati, kaki gue aset buat main basket!" Merasa otaknya mulai lelah berpikir, Zara merasakan betapa nyamannya permukaan kasur tempat dia duduk. Keempukannya benar-benar seperti memanggil-manggil tubuhnya untuk segera rebahan. "Mikir sambil tiduran aja kali ya? Siapa tahu ide buat jalan keluar dari sini muncul kalau otak gue rileks. Gue kan pinter, hehehe... Cuma butuh ketenangan," pujinya pada diri sendiri dengan tingkat percaya diri yang luar biasa. Tanpa memikirkan risiko bahwa dia sedang berbaring tepat di samping seekor 'singa' berbahaya yang bisa terbangun kapan saja, Zara merebahkan tubuh jangkungnya di atas kasur mewah tersebut, menarik sebagian selimut, lalu memejamkan mata. Dia mulai menghayal, memvisualisasikan berbagai skenario pelarian yang keren di dalam kepalanya. Mengendap-endap lewat ventilasi, melumpuhkan pengawal dengan teknik basket, hingga mencari dan membawa kabur motornya. Namun, saking rileksnya... "Hoammm..." Zara bener-bener ketiduran. Hebatnya, meskipun tubuhnya sudah terlelap pulas di samping si pria misterius, otaknya yang terlanjur stres memikirkan jalan keluar malah membawa pikiran itu ke dalam mimpi. Di dalam tidurnya, Zara bermimpi bahwa dia masih terjaga dan sedang sibuk menyusun strategi pelarian, sama sekali tidak sadar kalau realitanya, dia sedang tidur nyenyak berdampingan dengan orang yang paling ingin melenyapkannya dari muka bumi. *** Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar mewah yang kini telah bersih dari sisa kekacauan semalam. Perlahan, efek obat penenang kuat di tubuh pria itu habis sepenuhnya. Kelopak matanya bergerak, lalu perlahan terbuka. Namun, belum sempat dia mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, sebuah beban hangat yang menempel di dadanya membuat tubuhnya menegang. Pria itu menunduk. Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah polos Zara Collins—si gadis gila yang semalaman dicari oleh seluruh pasukannya—sedang tertidur sangat pulas di dalam dekapan lengannya. Saking pulasnya, mulut Zara sedikit terbuka, meninggalkan noda basah alias air liur yang sukses membasahi baju mahal yang dikenakan pria itu. Berbeda dengan Zara yang membutuhkan waktu lama untuk loading setelah dibius, pria ini memiliki mode siaga instan. Matanya langsung melotot sempurna. Amarahnya melejit ke ubun-ubun tanpa permisi. "Bedebah!" teriaknya menggelegar tepat di depan wajah Zara. Dengan kasar dan tanpa perasaan, pria itu langsung bangkit dan mendorong tubuh jangkung Zara hingga terguling ke sisi ranjang yang lain. Dia berdiri di tepi tempat tidur, menatap kaus bagian dadanya yang basah karena air liur gadis itu dengan ekspresi super muak. "Menjijikan! Dia memang jorok!" makinya, wajahnya memerah padam. "TOBY!!!" Drap! Drap! Drap! Mendengar lengkingan suara tuannya di pagi buta, Toby langsung berlari kencang dan menerobos masuk ke dalam kamar. Langkah kaki Toby mendadak terkunci di ambang pintu. Matanya nyaris keluar dari rongganya saat melihat Zara yang masih menggeliat malas di atas kasur. Bagaimana bisa gadis itu ada di sini? Perasaan tim belum ada yang konfirmasi apa-apa atau laporan kalau berhasil nemuin dia, gumam Toby dalam hati, benar-benar syok. Pria itu berbalik, menatap Toby dengan pandangan yang sanggup membunuh orang. "Mengapa gadis ini dibiarkan tidur bersamaku?! Ulah siapa ini?!" Toby langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya bergetar. "S-saya tidak tahu, Tuan!" "Sejak kapan seorang tawanan ditempatkan tidur di sebelahku, hah?!" bentak pria itu lagi, suaranya naik satu oktaf. "Panggil semua tim yang bertugas mencari gadis gila ini! Sekarang!" "B-baik, Tuan!" Hanya dalam waktu lima menit, koridor di luar kamar mewah itu sudah dipenuhi oleh puluhan pengawal taktis yang berbaris rapi dengan wajah pucat pasi. Toby yang berdiri di dekat pintu kamar hanya bisa mengeluh pasrah dalam hati sambil menatap nasib para pengawal. Nasib, memang miris bekerja dengan majikan yang satu ini... Baru bangun dari tidur bius sudah marah-marah. Kenapa dia tidak amnesia saja seperti gadis kemarin, ya? batin Toby heran. Pria itu melangkah keluar kamar, menatap tajam barisan pasukannya dengan tangan mengepal di sisi tubuh. "Bajingan kalian! Aku menyuruh kalian untuk menemukan gadis ini! Bukan berarti kalian harus menaruhnya langsung di sampingku!" semprotnya berapi-api. "Beraninya kalian membiarkan gadis itu tidur seranjang bersamaku! Berapa lama kalian telah bekerja di sini, hah?! Apa ini pertama kalinya bagi kalian menangkap seorang wanita?!" Semua pengawal hanya bisa mematung, menahan napas dalam-dalam tanpa ada yang berani membela diri. Pria itu maju selangkah, aura kepemimpinannya yang kejam terasa mencekik udara koridor. "Kalian pikir aku punya rasa lebih karena seorang wanita?! Tidak! Seorang Leo Marcone tidak akan pernah lemah, tunduk, atau mengasihani musuhnya, biarpun itu seorang wanita!" Suasana menjadi sunyi senyap sejenak setelah deklarasi mutlak dari pria bernama Leo Marcone itu. Di tengah keheningan yang menegangkan itu, Toby dengan nekat memberanikan diri membuka suara. "Tuan... apa Tuan sudah meminum obat Anda? Dokter berkata Anda harus menjaga emosi agar kepala Anda tidak meledak, Tuan," ucap Toby dengan suara pelan, mencoba mengingatkan soal tensi darah 165/105 kemarin. Leo Marcone langsung memutar kepalanya, menghujani Toby dengan lirikkan mata yang sangat tajam dan mematikan. Toby langsung menelan ludah, refleks mundur selangkah. "M-maaf, Tuan." "Pergi!" perintah Leo tegas, menunjuk ke arah koridor. Tanpa perlu diperintah dua kali, Toby dan seluruh tim pengawal langsung membubarkan diri dengan kecepatan penuh. Mereka semua merasa sangat beruntung karena di pagi hari yang cerah ini, setidaknya tidak ada lagi nyawa yang melayang gara-gara luapan emosi sang singa Marcone.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Xem tất cả