“Waduh, kenapa ramai sekali? Jangan-jangan benar Tuan kenapa-napa!” seru Toby panik dari luar koridor. Dia langsung menerobos pintu kamar sambil berteriak, “Tuaaaan!” Namun, langkah Toby mendadak terkunci. Matanya membelalak seketika begitu melihat sesosok mayat segar yang baru saja tumbang di lantai, lengkap dengan genangan darah yang mulai melebar. Di dekatnya, sang Tuan sedang berdiri diam sambil memejamkan mata, berusaha keras menetralkan napas dan menenangkan emosinya yang membumbung tinggi. Toby langsung paham apa yang baru saja terjadi. Dia sudah tidak heran lagi; ini jelas perbuatan tuannya yang sedang mengamuk. Tapi tetap saja, ada satu hal yang mengganjal di kepalanya. Di mana gadis tadi? Apa dia sudah dibuang duluan? Kenapa Tuan berteriak sampai seisi mansion gempar tadi? batin Toby bingung. Pria pemarah itu perlahan membuka matanya. Tatapannya dingin menembus Toby. “Bersihkan mayat itu secepatnya. Dan... Toby!” “Iya, Tuan!” jawab Toby sigap sambil menegakkan posisi tubuhnya. “Panggilkan dokter kemari.” Toby mengerjap. “Hah? Dokter? Apa Tuan terluka? Apa dugaanku benar? Apa gadis tadi benar-benar menyerang Tuan!?” Mendengar rentetan pertanyaan itu, si pria hanya menatap Toby dengan pandangan horor yang menusuk. Menyadari tuannya sudah berada di puncak batas kesabaran, Toby langsung bungkam dan menghentikan interogasinya. “Akhh! Kau sama saja dengan gadis gila itu, selalu bertanya beruntun!” bentak pria itu frustasi, memijit pelipisnya yang berdenyut. “Maaf, Tuan.” “Cepat panggilkan dokter! Aku ingin periksa darah,” perintahnya mutlak. Toby segera berbalik dan menghubungi tim medis internal mansion melalui tabletnya. Hanya dalam hitungan menit, dokter pribadi keluarga yang selalu bersiaga di mansion itu langsung melangkah masuk ke dalam kamar mewah tersebut lengkap dengan peralatan medisnya. Sementara itu, di bawah kegelapan kolong kasur... Zara yang masih setia bertelungkup hanya bisa melongo mendengar suara langkah kaki dokter yang baru saja tiba. Gila... ini rumah apa dunia, sih? Dokter aja langsung ada secepat kilat! Jangan-jangan kebun binatang juga ada di dalam mansion ini! gumam Zara heran dalam hati, masih sempat-sempatnya takjub di tengah situasi mencekam. Namun, sedetik kemudian, rasa panik yang sesungguhnya mulai menyerang Zara. Detak jantungnya kembali berpacu cepat. Duh, mampus... kalau sampai ada yang jongkok atau jatuhin sesuatu ke lantai, gue bakal ketahuan gak yaa? Beruntung bagi Zara, ranjang king size itu dilengkapi dengan bedcover mewah berukuran sangat besar yang menjuntai lebat hingga menyentuh lantai. Selimut tebal premium yang estetik itu menutupi seluruh celah kolong kasur dengan sempurna, bertindak sebagai tirai pelindung yang menyembunyikan Zara dari pandangan siapa pun di dalam ruangan gila itu. Zara menahan napasnya dalam-dalam, merapatkan tubuhnya ke lantai, berharap pemeriksaan darah si pria pemarah cepat selesai. Dokter pribadi mansion itu dengan cekatan melilitkan manset alat pengukur tekanan darah di lengan kokoh sang Tuan. Setelah beberapa detik keheningan yang menegangkan, alat digital itu berbunyi bip. Dokter tersebut melotot, menatap layar dengan ekspresi tidak percaya. "Astaga, Tuan! Tekanan darah Anda melonjak drastis ke 165/105! Ini sangat tidak normal," ucap dokter itu dengan nada panik, menyeka keringat di dahinya. "Apa Anda sedang mengalami stres atau emosi yang sangat ekstrem hari ini?" "Ini gara-gara gadis gila itu... Aku sudah menduganya!" geram pria itu frustrasi, meremas tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. "Semenjak bertemu dengannya, kepalaku rasanya mau pecah dengan semua tingkahnya. Apalagi suaranya itu... Owh, aku sangat membencinya!" Entah gadis macam apa yang berhasil membuat Tuan kehilangan kendali seperti ini. Bertahun-tahun saya merawatnya, baru kali ini tekanan darahnya melonjak sedrastis ini hanya karena satu orang, batin sang dokter heran. Di bawah kolong kasur, Zara yang mendengar dirinya diseret-seret langsung memutar bola matanya malas. Ah, sialan! Si pemarah itu kan emang aslinya pemarah, kok malah nyalahin gue sih?! Dasar hobi nyari kambing hitam! rutuk Zara dalam hati, menahan diri agar tidak mendengus keras. Dokter itu segera menyiapkan beberapa botol obat dari tas medisnya, lalu menatap tuannya dengan cemas. "Tuan, Anda harus benar-benar beristirahat total dan tidur untuk menstabilkan kondisi fisik Anda." Dokter dan Toby saling berpandangan. Mereka tahu betul sebuah rahasia besar: sang Tuan mengidap gangguan tidur kronis yang parah. Dia tidak akan pernah bisa beristirahat atau tidur secara normal dalam kondisi sadar seperti manusia biasa. "Siapkan suntikan penenang," perintah pria itu akhirnya, menyerah pada rasa pening yang luar biasa di kepalanya. Dokter itu mengangguk patuh. Dengan hati-hati, dia menyuntikkan obat penenang berdosis tepat ke lengan pria itu agar dia bisa tertidur demi memulihkan kondisinya. Sebelum efek obat itu mulai menguasai kesadarannya, pria itu melirik Toby yang berdiri siaga di samping ranjang. "Toby... sementara aku beristirahat, kau urus semua pekerjaanku," ucap pria itu dengan suara yang mulai melemah. "Dan kerahkan tim untuk mencari gadis gila itu. Aku ingin dia ada di hadapanku sebelum aku bangun... dengan kondisi apa pun, asalkan jangan mati." "Siap, Tuan!" jawab Toby tegas sambil membungkuk hormat. Dih, ngeri!!! Kejam banget dia! ucap Zara dalam hati, seluruh tubuhnya mendadak merinding mendengar perintah berdarah dingin tersebut. Begitu suara langkah kaki dokter, Toby, dan para pengawal perlahan menjauh dan pintu kamar tertutup, suasana kamar mewah itu kembali sunyi senyap. Hanya ada suara napas teratur dari si pria pemarah yang kini sudah tertidur pulas di atas kasur akibat efek obat penenang. Zara terdiam di bawah kolong ranjang yang gelap. Otaknya kini mulai berputar dengan kecepatan penuh, memikirkan taruhan nyawanya jika dia tetap diam di sana. Gak boleh gini... Gak bisa dibiarin nih! batin Zara, mulai panik seiring menyadari posisinya sekarang. Seluruh mansion pasti bakal dikerahkan buat nyari gue di luar sana. Gue harus gimana sekarang? Kalau gue keluar dari kolong kasur dan ketahuan di koridor, gue mati. Tapi kalau gue tetep di sini, begitu dia bangun dan gue ketahuan... gue juga mati!
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Xem tất cả