logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 4 Satu Tembakan

"Dasar wanita sialan! Gadis gila! Berani-beraninya dia bersikap seperti itu padaku! Sejak pertemuan dengannya sepertinya darahku naik sangat banyak, benar-benar menyebalkan!" ungkap pria itu frustasi menahan kesal dan amarah.
Pria itu terus melangkah lebar membelah koridor mansion, menuju sebuah ruangan steril berteknologi tinggi tempat di mana obat-obatan khusus dan berbagai zat kimia diracik. 
Semua ilmuwan dan peracik medis yang melihat tuan mereka datang langsung didera ketegangan luar biasa. 
Mereka menunduk takut, khawatir berbuat salah dan tidak bisa memenuhi keinginan sang tuan saat datang ke tempat itu. 
Mereka sudah terbiasa melihat rekan kerjanya mati dan merelakan nyawanya, saat sang tuan marah atau frustasi karena tidak mendapat apa yang ia inginkan disini.
Salah seorang kepala laboratorium memberanikan diri maju, membungkuk khidmat. "Anda memerlukan sesuatu, Tuan?"
Pria itu sama sekali tidak menjawab. Dia mengabaikan pertanyaan itu dan meneruskan langkahnya dengan tatapan lurus yang mematikan. 
"Toby! Di mana dia?!" serunya, suaranya menggelegar dingin.
Toby yang baru saja selesai menyiapkan instruksi darurat bergegas berlari menghampiri. 
"Siap, Tuan! Ini obatnya sudah siap! Mau langsung saya eksekusi pada gadis gila tadi?" tanya Toby sembari menyodorkan sebuah kotak berisi alat suntik dengan cairan bening berdosis tinggi di dalamnya.
"Berikan padaku," desis pria tampan itu dingin. 
Dia langsung merebut paksa kotak tersebut dari tangan Toby, dan membalikkan badan dengan cepat, bergegas kembali menuju kamar atas tempat Zara disekap.
Sementara itu, orang-orang di dalam ruangan racik obat saling berpandangan dengan sisa rasa takut yang masih membekas. 
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Tuan? Mengapa dia terlihat sangat kesal?" bisik salah satu peracik dengan dahi berkerut cemas.
"Entahlah, aku tidak tahu. Sejak pulang dari misinya tadi, dia terus marah-marah dan gampang kesal." jawab Toby pelan.
Ia menatap pintu keluar dengan perasaan campur aduk, membayangkan nasib gadis di atas sana yang mungkin sebentar lagi akan segera kembali ia buang ke kandang macan.
“Arrrrgggghhhhh!!!”
Sebuah teriakan frustasi yang menggelegar dari lantai atas mendadak memecah kesunyian seluruh penjuru mansion. 
Suaranya begitu keras dan bergemuruh, mirip seperti auman seekor singa jantan di tengah hutan belantara.
Di ruang bawah, Toby dan para peracik obat langsung tersentak. Langkah kaki mereka membeku.
“Astaga, ngeri banget... Tuan kenapa lagi?” bisik salah satu pekerja dengan wajah memucat.
“Toby, cepat periksa ke sana! Jangan-jangan musuhnya melawan dan menyerang Tuan!” desak yang lain, meraba dada mereka yang berdegup kencang.
Toby menelan ludah, buru-buru membenarkan letak kacamatanya. “Ya, mungkin saja itu benar! Aku harus menyelamatkan Tuan. Jangan sampai beliau terluka oleh gadis itu! Nanti siapa yang bakal menggaji kita kalau Tuan sampai tidak ada?!”
Tanpa membuang waktu, Toby langsung berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Sementara itu, di dalam kamar mewah...
Si pria tampan berdiri di tengah ruangan dengan napas yang memburu hebat.
Dadanya naik-turun menahan gumpalan emosi yang nyaris meledak. Matanya memerah, menatap ke arah kasur king size yang kini sudah kosong melongpong. 
Nampan makanan terguling di lantai, dan jendelanya terbuka lebar, membiarkan gorden putih berkibar tertiup angin malam.
“Sialan! Dasar gadis gila! Kemana dia pergi?!” raungnya murka. 
“PENGAWAL!!!”
Drap! Drap! Drap!
Hanya dalam hitungan detik, pintu kamar dikepung. Beberapa pengawal taktis berseragam hitam langsung merangsek masuk dan berbaris rapi dengan kepala menunduk.
“Iya, Tuan!” jawab mereka serentak, tubuh mereka kaku.
“Ke mana gadis itu pergi?!” tanya si Tuan, suaranya bergetar menahan amarah yang begitu pekat.
Para pengawal itu seketika dilanda kebingungan massal. Mereka saling melirik satu sama lain lewat sudut mata dengan dahi yang dibanjiri keringat dingin. Mereka tahu betul, salah menjawab pertanyaan ini berarti nyawa mereka menjadi taruhannya.
“K-kami tidak melihat Nona itu keluar dari kamar ini, Tuan... Kami tidak tahu,” jawab salah satu pengawal di barisan depan dengan suara gemetar hebat.
Pria itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya memaku tatapannya dengan sangat tajam pada pengawal yang baru saja bicara. 
Dengan gerakan kilat yang nyaris tak kasat mata, dia menarik pistol dari balik jasnya dan…
Dorr!
Satu letusan senjata api memekik telinga. Pengawal itu langsung tumbang di tempat tanpa sempat mengeluarkan suara.
Semua orang di ruangan itu tersentak kaget. Jantung mereka serasa copot, namun mereka segera menahan napas dan mematung kembali. 
Mereka sudah terbiasa dengan kekejaman sang Tuan, dan saat ini, satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah berdoa di dalam hati agar tidak menjadi korban berikutnya.
“Gak guna!” umpat pria itu, melangkah maju sambil mengacungkan pistolnya ke arah pengawal yang tersisa. “Untuk apa aku mempekerjakan kalian di sini, hah?! Pengawal dan penjagaan seketat ini di mansion, bahkan tidak tahu ke mana dia pergi?! Kalian pikir dia hantu?! Manusia super yang nekat kabur lewat jendela di atas ketinggian seperti ini?!”
Dia kembali meraup udara banyak-banyak, masih ngos-ngosan, frustasi, dan diselimuti kemarahan yang luar biasa karena tawanannya menghilang.
Sementara sang Tuan masih mengamuk, di bawah sana—tepat di kolong kasur king size mewah yang sama—Zara Collins sebenarnya masih ada di sana. 
Dia sama sekali tidak kabur lewat jendela. Gadis itu hanya berbaring telungkup, merapatkan tubuhnya ke lantai kompartemen ranjang yang gelap.
Saat suara letusan pistol “Dorr!” tadi bergema merobek udara kamar, Zara refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. 
Dia ikut menahan napas, menatap ngeri ke arah sepasang sepatu bot para pengawal dan sepatu kulit mahal si pria pemarah yang berdiri hanya beberapa sentimeter dari pandangannya.
Dia takut setengah mati. Gilaaa... Anjir, ngeri banget! Ini gue lagi berhadapan sama apa coba?! jerit Zara dalam hati, matanya melotot memandangi debu-debu halus di kolong kasur.
Dasar setan! Si pemarah ini emang setan kayaknya, kejam banget! Gue tadinya cuma mau iseng main petak umpet aja biar dia pusing nyariin gue, eh sekarang malah ciut nyali gue buat keluar dari sini. Gue gak yakin bakal selamat kalau nunjukkin diri sekarang! Bisa-bisa kepala gue yang bolong berikutnya!
Zara merapatkan tubuhnya lebih dalam lagi ke sudut tergelap di bawah ranjang. Dia memeluk baju tidur kucing galaknya erat-erat, meratapi nasibnya yang entah bagaimana bisa terjebak di dalam kamar seorang psikopat kaya raya. 
⋇⋆✦⋆⋇ 
"Di balik gelapnya kolong ranjang, aku belajar bahwa cahaya bukan selalu tempat untuk berlari. Terkadang, gelaplah yang menyelamatkan nyawa."
-Zara Collins-
⋇⋆✦⋆⋇ 

Bình Luận Sách (1)

  • avatar
    WulandariFebriana

    lucu

    20h

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất