logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 3 Amnesia

"Hoaamm...."
Zara menguap lebar-lebar. Kepalanya masih terasa agak pening dan berdenyut. 
Namun, begitu dia membuka mata, kesadarannya langsung tersentak. Dia tidak lagi berada di kamar nya yang berantakan dan sempit, melainkan sedang berbaring di atas kasur king size yang sangat empuk dan mewah.
Zara menunduk, memeriksa tubuhnya. Seragam kafe dan jaketnya sudah lenyap, berganti dengan baju tidur bergambar kucing galak yang sedang berantem. 
Dia menyentuh kepalanya—ikat rambutnya sudah dilepas. Entah bagaimana caranya, rambut panjangnya kini terasa sangat halus, bersih, dan harum semerbak. Badannya pun terasa jauh lebih segar.
"Gue di mana?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengucek mata. "Apa gue masih mimpi?"
Zara bangkit dan duduk perlahan di tepi ranjang. 
Begitu pandangannya menyapu sekeliling kamar yang luas bak kamar hotel bintang lima itu, matanya langsung disuguhi pemandangan seorang pria jangkung nan tampan yang sedang bersandar santai di sebuah kursi berlengan tak jauh di depannya.
Pria itu mengenakan pakaian kasual namun tetap terlihat mahal. Kaki jenjangnya ditumpangkan dengan santai ke atas meja, sementara sebuah laptop mahal bertengger di pangkuannya. 
Mendengar pergerakan dari arah kasur, pria itu melirik Zara sekilas dengan tatapan dinginnya yang khas, lalu kembali fokus menatap layar laptop.
Zara mengerjap-ngerjap gila. 
Aduh... bentar, bentar. Gue ini lagi di mana, sih? Kok tiba-tiba banget bangun tidur langsung liat cowok ganteng dan kamar mewah gini? Apa... apa gue mimpi udah nikah kali ya? batin Zara, mulai ngawur akibat efek bius yang belum hilang sepenuhnya.
"Dasar gadis gila," gumam pria di depannya, ketus.
Zara memiringkan kepalanya, mengetuk-ngetuk dagunya sendiri. "Hah? Kok gue kayak pernah denger ya omongan itu? Di mana ya..."
Melihat Zara yang bertingkah aneh seperti orang linglung, pria itu menghela napas panjang dengan gusar. Dia langsung menutup laptopnya, merogoh ponsel, dan menghubungi seseorang.
"Sejak kapan obat bius kita ditambah efek amnesia yang begitu parah?" tanya pria itu ketus ke seberang telepon.
"Apa maksud Anda, Tuan?" sahut suara di telepon, terdengar bingung.
"Kemari dan lihat saja sendiri! Gadis gila itu sekarang jadi amnesia!" bentak pria itu sebelum langsung mematikan sambungan.
Tak butuh waktu lama, terdengar ketukan di pintu. Seorang pria paruh baya berpakaian pelayan rapi masuk dengan tergesa-gesa.
Si pria tampan langsung menunjuk Zara dengan dagunya. "Lihat dia yang kebingungan seperti orang tersesat itu? Dia sama sekali tidak mengingat apa-apa!"
"T-tapi, Tuan... sepertinya itu bukan—"
"Diam!" potong pria itu mutlak, tidak mau dibantah. 
Dia berdiri dari kursinya, merapikan bajunya, lalu menatap pelayannya lagi. "Ambilkan makanan untuknya, dan suruh pelayan mengurusnya setelah ini."
"Baik, Tuan," jawab pelayan itu sambil membungkuk hormat.
Sementara perdebatan tentang "amnesia" itu berlangsung di depannya, Zara sama sekali tidak protes. 
Otaknya benar-benar masih loading parah akibat sisa-sisa efek obat bius, ditambah lagi dengan cacing di perutnya yang mendadak mulai demo karena kosong melongpong.
Dia hanya duduk diam di atas kasur mewah, mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
Pria tampan itu melirik Zara sekali lagi dengan tatapan penuh keheranan, sebelum akhirnya melangkah lebar keluar dari kamar mewah tersebut, meninggalkan Zara yang masih asyik dengan dunianya sendiri.
"Hmpp... Ini kayaknya masih mimpi, tapi kebangun di dalam mimpi kayaknya. Ya, pasti kayak gitu. Gue sering kok ngalamin ini kalau mimpi buruk, mana susah bangun lagi... Tapi kok sekarang mimpinya indah ya?"
Zara terus meracau sendiri dengan setengah kesadaran. Matanya terpejam-terbuka bergantian, hingga akhirnya—bruk! Tubuh jangkungnya kembali ambruk ke atas kasur dan dia tertidur lagi.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Zara Collins!!!"
Sebuah teriakan dengan nada kasar mendadak menggema, menembus alam bawah sadarnya.
Zara langsung terduduk tegak di atas kasur, matanya membelalak sempurna. Refleks tubuhnya langsung mengambil posisi siap tempur. "IYA! Aku bangun!" serunya lantang, napasnya memburu saking kagetnya.
Tubuhnya sudah terbiasa dengan sambutan pagi berupa teriakan melengking dari tantenya di rumah. 
Namun, begitu pandangannya menyapu sekeliling kamar mewah itu, memori gila kemarin sore langsung berputar cepat di otaknya. 
Kesadarannya pulih seratus persen.
"Oh... iya, gue inget! Gue kan diculik sama si pemarah itu! Astaga!" Zara memeriksa baju tidur kucing galak yang melekat di tubuhnya, lalu menyentuh rambutnya yang wangi. 
"Semuanya ternyata nyata, bukan mimpi! Ahhhhhh!"
Zara berteriak kencang, frustasi. "Apa-apaan ini?! Kemana baju gue?! Apa yang udah pria itu lakuin sama gue selama gue pingsan!”
Pikirannya mulai kemana-mana. “Jangan jangan…"
Zara langsung melompat turun dari kasur king size mewah itu. Dia melangkah lebar, bertekad untuk mencari si pria misterius dan menghajar wajah tampannya. 
“Sialan!, beraninya dia”. ucapnya berapi-api
Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, pintu tersebut sudah terbuka dari luar.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan rapi masuk. Wajahnya tampak sehat dan dihiasi senyuman yang sangat ramah. 
Dia membawa sebuah nampan berisi makanan mewah yang aromanya sangat menggugah selera.
"Ini makanan Anda, Nona. Silakan dinikmati," ucap wanita itu sopan.
Zara tidak memedulikan makanan itu. Dia langsung memasang wajah galak. "Ibu siapa?! Di mana si pemarah itu?!"
Wanita paruh baya itu tersentak, senyumnya langsung membeku. "Astaga, Nona! Siapa yang Anda maksud 'si pemarah' itu? Apakah... maksud Anda Tuan?"
"Iya, kayaknya 'Tuan' kamu tuh yang pemarah! Di mana dia?!" tuntut Zara.
Mendengar sebutan itu, si ibu pelayan langsung menelan ludah dengan susah payah. 
Wajahnya memucat, tampak ketakutan setengah mati jika ada pengawal lain atau bahkan tuannya sendiri yang mendengar ucapan nekat Zara. 
Dia bergegas mengalihkan pembicaraan untuk menyelamatkan situasi.
"T-Tuan ada di bawah, Nona. Beliau memintaku untuk memberi Anda makan dulu. Ayo Nona, silahkan dimakan," bujuk wanita itu dengan suara agak gemetar.
"Enggak! Gue gak mau makan! Gue mau ketemu si pemarah itu pokoknya dan minta pertanggungjawaban dia sekarang juga!" tolak Zara keras. 
Dia melangkah maju, hendak menerobos pintu. "Di mana dia? Di bawah, kan? Biar gue susul!"
Namun, baru dua langkah berjalan keluar kamar.
"Aduh..." Zara tiba-tiba membungkuk, tangannya langsung mencengkram perutnya sendiri. Wajahnya berkerut menahan sakit. "Maag gue kambuh lagi kan jadinya... Aw, perih banget!"
Langkah heroisnya terhenti total karena masalah lambung. 
Zara menoleh ke belakang, melirik nampan makanan yang dipegang si ibu pelayan dengan tatapan nanar. Aroma sup hangat di atas nampan itu mendadak menggugah selera.
Zara mengembuskan napas pasrah, gengsinya runtuh seketika di hadapan penyakit maag. Dia berbalik, merebut nampan makanan itu dengan cepat.
"Ya udah deh, mending gue makan dulu. Laper banget nih. Makasih ya, Bu," ucapnya.
Ia kemudian langsung duduk di atas kasur dan mulai menyuap makanan itu dengan lahap.
Ibu pelayan itu hanya bisa melongo, heran melihat perubahan sikap Zara. "I-iya, sama-sama, Nona. Saya permisi dulu."
Dengan langkah cepat, ibu pelayan itu keluar dan langsung menutup pintu kamar. Begitu berada di koridor yang sepi, tubuhnya bergidik ngeri.
Siapa sebenarnya Nona itu? Kenapa dia berani-beraninya menyebut Tuan dengan sebutan 'pemarah'? Apa Nona itu tidak tahu kalau Tuan bisa saja... Ah, sudahlah! Aku tidak ingin mati hanya karena ikut campur, batin ibu pelayan itu ketakutan, bergegas pergi dari sana.
***
"Hmm... Sebenarnya sih ada hikmahnya juga gue dikasih maag ngedadak gini. Eh, bukan ngedadak sih, emang pantes gue maag, orang dari tadi sore gue belum makan dan minum," gumam Zara serius. 
Dia merenung sambil terus menyuap makanan dan mengunyahnya dengan lahap di atas kasur.
"Ini tuh jadinya gimana, sih? Dikejar-kejar mobil misterius, sembunyi di gang… dan tiba-tiba muncul pasukan. Dia itu sebenernya siapa sih?”
”Dan... apa dia nolong gue atau nyulik gue? Jangan-jangan dia beneran orang jahat dan sekarang mau apa apain gue!"
Klek.
Pintu kamar terbuka. Pria tampan tadi melangkah masuk, masih dengan wajah dinginnya yang khas. 
Dia menghampiri ranjang dan seketika menghentikan langkahnya. 
Matanya menatap tajam ke arah Zara yang sedang makan dengan berantakan seperti anak kecil—duduk dengan posisi tidak sopan di atas kasur mewah, ditambah sisa kuah sup yang menetes dan tumpah dari sendoknya.
Pria itu mengernyitkan tak suka. "Menjijikan. Dasar jorok, seperti anak kecil saja." ungkapnya pedas.
Zara menghentikan sendoknya, menatap pria itu dengan pandangan sinis dan penuh selidik. 
"Woy!” Ucapnya tiba-tiba sambil melotot.
“Lo itu siapa sih sebenernya? Lo nolong gue apa mau nyulik gue?! Dan kenapa... kemana semua pakaian gue? Terus motor gue, oh my God! Iya, motor gue ada di mana?! Terus kenapa baju ini—"
"DIAM!" bentak pria itu.
Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Rahangnya mengeras, emosinya mulai tersulut oleh rentetan pertanyaan Zara.
Pria itu kemudian menarik nafas pelan.
"Motormu aman. Kau berada di mansionku sekarang. Cepat habiskan makananmu dan pergi jauh-jauh dariku. Ini uang untuk mengganti semua kerugianmu kemarin," ucap pria itu.
Dia merogoh saku jasnya lalu melemparkan selembar cek ke atas kasur, tepat di depan Zara. Di sana tertulis angka yang fantastis: 1 juta dollar.
"Aku tidak peduli itu cukup atau tidak. Anggap kita tidak pernah bertemu. Lupakan semua kejadian kemarin, atau..."
"Atau apa, hah?! Enak aja ngancem-ngancem gue lagi! Atau apa, hah?!" tantang Zara, ikut terpancing emosi dan melotot tak takut.
 "Atau kupaksa kau untuk melupakannya!” ucap pria itu penuh penekanan.
Dia berbalik dengan gestur kesal, lalu berteriak lantang ke arah luar pintu, "TOBY!!!"
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berlari kencang dari arah koridor. 
Seorang pria berbadan agak berisi masuk dengan terengah-engah. Di tangannya terdapat sebuah tablet kerja dan... sebungkus camilan.
"I-iya, Tuan!" jawab Toby patuh.
"Siapkan obat penghapus ingatan tingkat ekstrim sekarang, dan bawa ke sini dengan dosis tinggi!" perintah pria itu tanpa perasaan.
Toby seketika menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya ikut tegang. "B-baik, Tuan."
Mendengar perintah gila itu, bulu kuduk Zara langsung berdiri. Nyalinya yang tadi setinggi langit mendadak ciut.
Anjir, gila nih orang! Dia bener-bener mau hapus ingatan gue apa bunuh gue?! Pakai tingkat ekstrim dan dosis tinggi segala lagi! Mati yang ada nanti! pekik Zara dalam hati.
Oke, oke... Tenang, Zara, tenang. Gue sekarang harus jaga omongan, tetep kalem, sambil mikir keras gimana cara kabur dari tempat gila ini sebelum si pemarah itu beneran bunuh gue!

Bình Luận Sách (1)

  • avatar
    WulandariFebriana

    lucu

    22h

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất