logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 2 Salah Paham

"Sudah selesai mengomelnya, hm?"
Zara tidak menjawab. Dia memalingkan mukanya dengan kasar, dan mendengus kesal 
Melihat reaksi itu, wajah si pria yang sedingin es perlahan melembut. 
“Hei, tenanglah. Aku akan mengganti rugi semua ini, dan aku selalu bertanggung jawab dengan ucapanku sekalipun aku tidak berjanji. jadi, kau–" 
"Bla... bla... bla... bla... blaa! Terserah! Bodo amat! Yang gue mau sekarang cuma pulaaaang!!!" ledek Zara dengan nada kekanak-kanakan, sengaja memotong kalimat pria itu.
Namun, tepat setelah kalimatnya selesai…
Kruuukkk...
Zara tersentak kaget. Wajahnya mendadak panas. 
Sialan nih perut, pakai bunyi segala lagi! Gak usah malu-maluin dong! Iya, gue juga tahu gue belum makan semenjak pulang sekolah tadi... tapi ya gimana, nasib gue lagi ampas banget sekarang! rutuk Zara dalam hati, meratapi nasibnya.
Untuk menutupi rasa malunya, Zara berdehem keras-keras. Dia mulai menggerak-gerakkan badannya, pura-pura meregangkan otot dan bertingkah aktif agar tidak terlihat kaku atau ketahuan kalau dia sedang kelaparan.
Sementara itu, si pria hanya menatapnya sinis. Tatapannya seolah menegaskan bahwa dia sudah benar-benar tidak menyukai kehadiran gadis aneh di depannya ini.
Akhirnya, mereka berdua terdiam. Waktu terus bergulir hingga langit sore perlahan-lahan meredup dan berubah menjadi gelap gulita. 
Pria itu mulai tidak sabar. Beberapa kali dia mengembuskan napas kasar penuh kekesalan karena tim penjemputnya belum juga tiba.
Di sisi lain, perubahan drastis terjadi pada Zara. Gadis yang tadinya sangat berisik dan aktif itu mendadak menjadi sangat pendiam. 
Dia duduk bersandar di dekat motornya, murung, sambil memeluk kedua lututnya sendiri untuk menghalau dinginnya angin malam.
Perubahan sikap yang tiba-tiba itu menarik perhatian si pria. Kenapa dia jadi pendiam seperti itu? tanyanya dalam hati.
Dengan langkah pelan, pria itu mendekati Zara. Dia menatap gadis itu dengan pandangan tajam—tatapan bawaannya yang selalu terkesan mengintimidasi meskipun saat ini dia hanya penasaran.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan. Nada suaranya dibuat sedatar mungkin, seolah enggan menunjukkan bahwa dia sebenarnya peduli.
Zara mendongak sedikit, melirik pria itu dengan tatapan sendu. Ekspresi wajahnya tidak lagi menyebalkan, melainkan dipenuhi rasa takut dan rapuh. Matanya mulai berkaca-kaca.
Pria itu tertegun. "Oh astaga... Kenapa kau menangis?"
Begitu pertanyaan itu terlontar, pertahanan Zara runtuh. Dia tidak sanggup lagi menahan beban emosinya hari ini. Isakan kecil lolos dari bibirnya, yang kemudian berubah menjadi tangisan kencang. 
Zara menangis sejadi-jadinya di atas lututnya sendiri.
Pria jangkung itu langsung panik. Dia berdiri mematung dengan canggung, tangannya bergerak tidak jelas di udara, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa menghadapi gadis yang tiba-tiba menangis histeris di depannya.
"Astaga, kenapa malah jadi seperti ini..." ungkap pria itu frustasi, meremas rambutnya sendiri. "Arrrrggghhh... kupingku kembali sakit mendengar suaranya!"
Karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, pria itu mencoba cara yang paling dia kuasai untuk menenangkan situasi, yaiti intimidasi.
"Hei, kau! Diamlah!" bentaknya keras.
Deg.
Bentakan itu sukses membuat Zara tersentak kaget. Tangis kencangnya langsung terhenti seketika, menyisakan isakan kecil yang tertahan. Dia menatap pria itu dengan tubuh gemetar, benar-benar ketakutan.
Melihat reaksi Zara yang justru makin ciut, pria itu menghela napas panjang. Oh tidak, dasar bodoh! Aku malah membuatnya takut.
Dia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya. "Ekhem... Kau lapar?" tanyanya dengan nada dingin dan datar.
Zara tidak menjawab. Dia terlanjur takut dan memilih untuk menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Melihat tidak ada respons, pria itu merogoh saku dalam jas mewahnya. Dia mengeluarkan sebuah batangan kecil berbungkus kemasan khusus yang tebal.
"Ini, makanlah," ucapnya ketus sambil menyodorkan benda itu ke hadapan Zara.
Zara tetap bergeming, enggan mengulurkan tangan karena masih diliputi rasa trauma.
"Oh, astaga... Makanlah! Apa kau tidak mengerti?! AKU BILANG MAKAN!" gertak pria itu lagi, matanya melotot tajam dengan penekanan di setiap kata.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Zara akhirnya terpaksa mengambil makanan tersebut. Bentuknya terlihat seperti cokelat, tapi dengan kemasan yang aneh dan tidak familier. 
Zara membukanya perlahan sambil membatin penuh curiga, Ini apa? Apa dia mau kasih gue racun biar mati di sini?
Ragu-ragu, Zara mendongak untuk menatap pria itu. Dia kembali tersentak karena pria itu masih memasang tatapan setajam elang. 
Merasa diperhatikan, pria itu sedikit mengangkat dagunya—sebuah isyarat tak terucap yang seolah bertanya, "Kenapa? Cepat makan!"
Zara menelan ludahnya dengan susah payah. Dia pasrah.
Kalaupun ini beneran ada racunnya, setidaknya gue bersyukur pernah dikasih kesempatan buat ngerasain hidup di dunia ini. Walaupun mungkin dengan nasib tragis kayak gini... Gue gak nyesel, Tuhan. Beneran deh, ciuss... Gak nyesel, ratap Zara dalam hati seolah sedang mengucap wasiat terakhir.
Hap.
Zara memakan cokelat aneh itu sampai habis. Dia kemudian memejamkan mata, mematung, menunggu reaksi sugestinya sendiri tentang bagaimana racun itu akan menggerogoti tubuhnya.
Satu detik... Dua detik... Tiga detik...
Tidak terjadi apa-apa. Alih-alih rasa sakit, Zara justru merasakan gelombang kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya. 
Rasa lelah, lemas, dan lapar yang menyiksanya sejak pulang sekolah tadi mendadak lenyap. Dia mendadak merasa sangat bertenaga.
Zara membuka matanya, mengerjap bingung. 
Loh, kok jadi gini? Ini makanan apa? Kenapa gue gak mati? Atau... apa gue udah mati dan racunnya gak punya efek samping sakit ya? Tapi kalau gue mati, harusnya gue bisa liat jasad gue dong?
Zara langsung bangkit berdiri tegak dengan pikiran absurd bahwa jiwanya sudah terpisah dari raga. Dia melihat ke bawah, memeriksa tangannya sendiri.
Tapi kok ini jasad masih ngikut, sih? Berarti... gue gak mati dong!
Masih penasaran dan ingin memastikan apakah dia masih berwujud manusia atau hantu, Zara melangkah maju dan tiba-tiba memukul lengan pria itu dengan keras.
Plak!
"Shit!! Apa yang kau lakukan?!" bentak pria itu, melangkah mundur sambil memegangi lengannya yang dipukul. "Beraninya kau memukulku di saat aku harus merelakan makanan daruratku padamu?!"
Mendengar respons kesakitan itu, wajah Zara langsung berubah excited dan ceria seketika. 
"Oh my goddd... Aku beneran gak mati! Aku masih hidup!!!" teriaknya histeris sambil melompat kecil kegirangan.
Pria itu langsung terkoneksi dengan jalan pikiran absurd Zara. Begitu menyadari bahwa gadis itu baru saja mengiranya berniat meracuninya, ekspresi kekesalan pria itu langsung naik ke level maksimal.
"Apa kau pikir aku memberimu racun, hah?! Dasar bodoh!" bentak pria itu, benar-benar tak habis pikir. 
"Kau pikir untuk apa aku memberimu racun sebesar itu kalau memang benar makanan tadi adalah racun?! Itu makanan daruratku! Cara kerjanya seperti obat, bisa memberikan energi besar pada tubuh dalam waktu singkat!" jelasnya dengan nada sedingin es dan penuh penekanan.
Namun, Zara sama sekali tidak mendengarkan penjelasan panjang lebar itu. Dia terlalu sibuk menikmati sensasi tubuhnya yang mendadak segar bugar dan berenergi kembali setelah seharian terkuras. 
Dia melompat-lompat kecil sambil memeriksa kekuatan ototnya sendiri.
Pria itu hanya bisa berdiri mematung, menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat kelakuan aneh gadis di depannya ini.
"Dasar gadis gila," gumam pria itu pelan.
Meskipun diucapkan dengan lirih, telinga tajam Zara langsung menangkapnya. 
Kegembiraannya lenyap seketika, berganti menjadi mode galak.
"Apa lo bilang?! Gadis gila?!" seru Zara, menunjuk wajah pria itu. 
"WOY!!! Ini udah kedua kalinya ya lo nyebut gue kayak gitu! Pertama, gue masih bisa nerima karena gue juga sadar diri, dan yaa gue emang udah biasa suka dianggap aneh sama orang-orang. Tapi hinaan kedua ini, gue gak terima ya!"
Pria itu menatapnya datar, lalu dengan santai membalas, "Bla... bla... bla... bla... blaa."
Zara terperangah. "What?! Lo itu jangan suka plagiat omongan atau ledekan orang ya!"
Belum sempat Zara melanjutkan protesnya, pria itu mendadak bergerak secepat kilat. 
Dia merangsek maju, membekap mulut Zara dengan telapak tangannya yang besar, lalu berbisik tajam tepat di telinganya.
"Diamlah. Ada orang yang sedang memperhatikan kita tak jauh dari sini."
Zara melotot kaget. Tubuhnya menegang, mencoba membaca situasi sekeliling yang gelap gulita. Namun, di tengah atmosfer mencekam itu, otak absurd Zara kembali salah fokus.
Eum... harum banget sih tangan si pemarah ini, aku kira pakaiannya doang yang wangi. puji Zara dalam hati. 
Bisa-bisanya dia mengagumi aroma maskulin dari tangan pria yang membekapnya di tengah situasi hidup dan mati.
Pria itu masih membekap mulut Zara dengan satu tangannya, lalu satu tangan yang lain, kembali mengeluarkan alat komunikasi rahasianya.
"Nyxta," ucap pria itu dengan nada rendah dan penuh wibawa.
Sesaat kemudian, dari balik kegelapan bangunan kosong tak jauh dari posisi mereka, sebuah suara bariton menyahut dengan sandi balasan.
"Fos."
Sret! Sret!
Beberapa sosok pria tegap mendadak muncul dari balik bayang-bayang kegelapan. 
Mereka mengenakan seragam khusus yang tampak sangat elit dan mewah—potongannya mirip pakaian formal namun didesain taktis agar bebas bergerak, siap untuk bertempur kapan saja.
Mereka langsung berbaris rapi dan membungkuk hormat dengan khidmat. Salah satu dari mereka, yang tampaknya berperan sebagai pimpinan pasukan, melangkah maju dan memberi hormat khusus.
"Eighty six?" tanya pimpinan itu, menggunakan kode rahasia.
Pria jangkung di depan Zara menjawab pendek dengan suara sedingin es, "No."
Setelah memastikan keadaan aman, pria itu akhirnya melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Zara. Dia berbalik memunggungi gadis itu dan melangkah tegap menuju pasukannya.
"Ayo pergi!" perintah si pria tegas.
"Baik, Tuan!" jawab seluruh pasukan itu kompak dengan suara yang menggelegar.
Zara yang merasa diabaikan langsung berteriak tidak terima. 
"Apa?! Lo seenaknya mau pergi gitu aja?! Katanya mau ganti kerugian gue! Mana omongan lo yang katanya selalu lo pegang itu, hah?!”
“Terus kok tega banget sih ninggalin cewek sendirian malam-malam di sini? Gak tahu diri banget! Lo gak inget? Lo yang udah seret gue ke masalah lo sendiri tahu!”
Langkah pria itu mendadak terhenti. Dia tidak menoleh, hanya memberikan perintah baru kepada anak buahnya.
"Bawa gadis gila itu!"
Mendengar perintah itu, bulu kuduk Zara langsung berdiri. Rasa terancam dan takut mendadak menyergapnya. 
Kesadarannya baru pulih sepenuhnya bahwa pria pemarah yang ia temui ini bukanlah orang sembarangan, melainkan sosok berbahaya yang punya pasukan bersenjata.
Zara membuka mulutnya, hendak berteriak minta tolong atau memprotes. Namun, tepat sebelum satu kata pun lolos dari bibirnya…
Jleb.
Sebuah jarum bius kecil berkecepatan tinggi sudah bersarang di lehernya, ditembakkan dengan cekatan oleh salah satu pengawal. 
Pandangan Zara mendadak buram, kekuatannya lumpuh seketika, dan tubuh jangkungnya ambruk ke dalam kegelapan sebelum sempat mengeluarkan sepatah kata pun.

Bình Luận Sách (2)

  • avatar
    Visitor

    Bgus

    3d

      0
  • avatar
    WulandariFebriana

    lucu

    7d

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất