logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Gadis Tengil dan Mafia Pemarah

Gadis Tengil dan Mafia Pemarah

Senara Sakya Lumea


Chương 1 Pertemuan

Sebuah mobil mewah melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Namun tiba-tiba ban mobil mencicit tajam di tikungan. 
Brak!
Benturan keras tak terelakkan. Sebuah motor tersungkur, dan…
"Aaaaaahhhkkk! Oh my God!" Teriak seorang gadis yang mengendarai motor itu. 
Gadis itu, bernama Zara Collins, seorang gadis yang masih sekolah berusia 18 tahun dengan tinggi badan yang mencapai 170 cm.
Ia sedang bekerja part time setiap habis pulang sekolah. namun, pesanan makanan yang ia bawa tumpah berantakan ke aspal, dan rusak total.
Ckit! 
Pintu mobil mewah itu terbuka cepat. Seorang pria keluar dari dalam sana. Tubuhnya luar biasa tinggi, sekitar 190 cm, namun wajahnya kini pucat pasi, matanya memindai sekitar dengan panik. 
Bukannya menolong gadis itu, pria itu malah menghampiri motornya, Ia langsung menegakkan motor gadis itu, lalu duduk di jok belakang.
"Kau, bangunlah! Dan cepat jalankan motor ini!" perintahnya tegas.
"Gila lu ya!, udah nabrak, bukannya minta maaf malah nyuruh-nyuruh!" Ucap Zara. Matanya melotot tak percaya dengan perlakuan si pria yang telah menabrak motornya. 
Pria itu menggeram, "Hei kau!, cepatlah! kalau kau tidak ingin mati di sini?"
"Maksud lo apaan ancam-ancam gue?!"
Tiba-tiba, deru mesin mobil lain terdengar mendekat dari kejauhan. Pria itu tampak semakin frustasi. 
"Sial!" umpatnya.
Tanpa menunggu jawaban, pria itu merosot turun ke jok depan, mengambil alih kemudi. 
Ia sempat melirik Zara yang masih kesakitan. Dan terlihat sedang berpikir keras. 
“Ayolah, apa yang harus kulakukan sekarang.”  
“Oh sial!, Gadis ini malah menambah masalahku saja” ucapnya dalam hati.
Mobil-mobil yang mengejarnya mulai terlihat dan semakin melaju kencang.
"Cepat naiklah! Atau kutinggalkan kau disini!!" ancam pria itu akhirnya.
Zara makin kesal, "Lo pikir itu motor punya siapa hah? Kampret lu yaa! Bukannya nolongin malah ngancam-ngancam, kayak begal aja." gerutunya.
“Ku beri kau kesempatan untuk selamat sekali lagi gadis, kau mau naik atau mati ditangan mereka.” ucap pria itu tegas sambil menunjuk ke arah mobil-mobil hitam yang melaju brutal ke arah mereka,
Seketika nyali Zara menciut. Kepalanya berdenyut pusing, tapi instingnya berteriak untuk segera kabur.
Argh, daripada gue celaka, mending nurut dulu deh, batinnya.
Zara buru-buru naik ke jok belakang. 
Brummm! 
Motor itu melesat secepat kilat. Zara kaget setengah mati, ia bahkan tak tahu motornya bisa secepat itu. Refleks, ia memeluk erat pinggang pria di depannya. Kepalanya menyandar di punggung pria itu agar tubuhnya yang kurus itu tidak terbang tertiup angin kencang.
Di tengah situasi hidup dan mati itu, Zara sempat merasakan sesuatu. 
Eum, harum banget sih cowok ini? pikirnya saat aroma parfum maskulin pria itu menusuk indra penciumannya.
"Hei, kau! Jangan memelukku seperti itu!" seru pria itu di tengah deru angin. Suaranya terdengar tegas, tubuhnya tampak kaku dan risih.
Zara yang mendengar itu langsung mendengus kesal, teriakannya kalah kencang oleh suara mesin motor. "Apaan sih?! Orang aku nggak peluk, aku cuma pegangan! Kalau nggak pegangan, nanti aku jatuh, bodoh!"
"Pegangan saja pada bajuku! Jangan menyentuh tubuhku!" balas pria itu lagi, matanya tetap fokus pada jalanan yang berkelok tajam.
Zara memutar bola matanya di balik punggung pria itu. "Ih, ngeri banget sih ngomongnya! Kayak gue mau ngelecehin lo aja!"
Pria itu terdiam. Ia tidak membalas lagi. Ia tertegun mendengar ucapan gadis di belakangnya yang begitu polos dan ceplas-ceplos di situasi setegang ini. 
“Dasar gadis gila!” gumam pria itu kesal dalam hati.
Belum pernah ia menemui wanita seperti itu.
Di balik helm, Zara memikirkan ucapannya barusan. Eh iya, ngomong-ngomong soal dilecehkan... emang kata itu berlaku buat cowok? Ada gitu ya, laki-laki merasa dilecehkan? Perasaan baru kali ini dengar, hahaha… ada- ada aja aku ini. pikirnya geli sendiri.
Sreeet!
Pria itu tiba-tiba membanting stang motor, membelokkan kendaraan dengan sangat gila hingga ban motor berdecit panjang. 
Zara hampir terpental, refleks tubuhnya langsung menempel erat, memeluk pinggang pria itu dengan sangat kencang karena ketakutan.
"Sialan! Lepaskan aku! Sudah kubilang jangan sentuh aku!" bentaknya. 
Ia melotot tajam, menahan rasa risih yang luar biasa. 
"Iya, iya! Ganteng-ganteng kok galak amat sih, dasar pemarah!" balas Zara, suaranya melengking melawan angin. "Lagian salah lo sendiri! Nggak becus ngendarain motor! Belok aja sampai hampir bikin orang mati!"
Pria itu menggeram rendah, rahangnya mengeras. Beraninya dia mengataiku tidak becus, batinnya kesal. Harga dirinya benar-benar terusik.
Tak lama, di depan mereka, jalanan mulai menyempit. 
Pria itu menurunkan giginya, membuat motor melambat sejenak sebelum melakukan manuver tajam masuk ke gang sempit yang gelap, meninggalkan jalan raya utama agar mereka tidak mudah dilacak oleh mobil-mobil hitam yang mengejar tadi.
"Untuk sementara, aku akan bersembunyi di sini," gumamnya dalam hati.
Pria itu menoleh sedikit ke belakang dengan tatapan memperingatkan. "Pegangan yang benar pada bajuku. Awas saja, jangan sampai menyentuhku kembali!"
Zara cuma mendengus malas, memutar bola matanya sambil bergumam pelan agar tak terdengar, "Dasar pemarah!"
Perjalanan mereka digang itu pun terus berlangsung dengan sunyi, setelah dirasa sudah cukup aman dan jauh, pria itu akhirnya menghentikan motornya. 
Suasana digang itu sungguh mencekam; meski rumah-rumah di sana terlihat megah dan terawat, tak ada satu pun lampu yang menyala atau suara manusia yang terdengar. 
Benar-benar sunyi total.
Begitu motor berhenti, Zara langsung melompat turun dan melihat sekeliling, ia pun mulai mengoceh. 
"Oh my god! Lo bawa kita ke mana ini? Gue gak tahu jalanan ini, gimana caranya gue mau balik!”
Dia semakin ribut saat teringat sesuatu, “Argghh, astaga! Pesanan pelanggan gue rusak total! Bisa-bisa gaji gue dipotong, atau lebih parah lagi... gue bisa dipecat!"
Ia menoleh ke arah pria itu, matanya berkilat marah. "Hei! Lo siapa sebenarnya? Kenapa bisa sampai dikejar-kejar kayak tadi, hah? Oh... atau jangan-jangan lo penjahat yaa? Ngaku nggak lo! Ngaku!"
Zara mulai mendorong-dorong bahu pria itu, lalu memukuli lengannya dengan brutal. 
"Argghh, gara-gara lo gue jadi sial hari ini tahu! Motor kesayangan gue yang gue dapat susah payah selama bertahun-tahun sekarang jadi lecet!, badan gue juga sama lecet, dan sekarang… kerjaan gue berantakan gara-gara lo!"
Pria itu mencoba menghindar dari setiap pukulan yang mendarat di lengannya. Ia melangkah mundur, berusaha menjaga jarak agar tangan Zara tidak sedikit pun menyentuh dirinya.
"Apa yang kau lakukan?! Diamlah!" bentak pria itu dengan nada rendah namun penuh ancaman. Tatapannya menusuk, menunjukkan betapa ia sangat terganggu dengan kontak fisik tersebut.
Zara tertegun sejenak. Ia teringat kembali betapa sensitifnya pria ini soal sentuhan—seolah-olah menyentuh pria itu adalah sebuah dosa besar. Zara akhirnya mendengus keras, menurunkan tangannya dengan kasar, lalu berhenti memukul.
Ia memilih menjauh dan berjalan mondar-mandir di gang sempit itu, menghentakkan kakinya ke aspal untuk meluapkan rasa kesal dan frustasi atas nasib buruk yang menimpanya hari ini.
Sementara Zara sibuk mengomel gak jelas disana, si pria mencoba tenang, ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat komunikasi rahasia berspesifikasi canggih, dan mulai sibuk menekan tombol untuk menghubungi seseorang.
"Aku aman. Segera temukan lokasi keberadaanku dan jemput aku," perintahnya singkat.
Dari seberang lini, terdengar suara bariton yang menjawab dengan patuh, "Baik, Tuan. Kami akan segera menjemputmu. Tapi... Tuan?"
"Apa?!" sentak pria itu galak, tidak sabaran.
"Anda bersama siapa sekarang? Apa Anda sedang diancam, atau sedang menyamar di tempat umum? Mengapa di sana sepertinya berisik sekali?" tanya sang bawahan di seberang telepon.
Pria itu langsung melirik tajam ke arah Zara lewat sudut matanya. Di belakang, Zara masih sibuk merutuki nasibnya sendiri—memaki, mengeluh, dan sesekali menangis dramatis karena pekerjaannya.
"Sialan! Bener-bener sial gue hari ini, udah masuk kerja telat, hampir dikeluarin dari tim basket, dimarahin guru, dan sekarang… selain diomelin pelanggan gue pasti diomelin bos juga, huhuhuhu.. bener-bener miris banget nasib gue."
Pria itu mengembuskan napas panjang, menahan denyut di pelipisnya karena pusing mendengar suara Zara. 
Dia kembali berbicara pada alat komunikasinya. "Oh, itu... Ya, aku bersama gadis gila di sini. Entahlah, dia berisik sekali sampai membuat kupingku sakit. Makanya cepat jemput aku! Aku sudah tidak tahan lagi!"
Di seberang sana, si bawahan langsung merespons dengan sigap. "Baik, Tuan. Saya sudah memerintahkan tim yang lain untuk segera melacak koordinat Anda dan menjemput Anda sekarang juga."
Klik.
Pria itu langsung memutus sambungan komunikasinya. Dia membalikkan badan, memasukkan kembali alat tersebut ke dalam saku jas mewahnya, lalu melipat kedua tangan di dada sambil menatap Zara dengan pandangan sedingin es. 
“Sudah selesai mengeluhnya, hm?” 

Bình Luận Sách (2)

  • avatar
    Visitor

    Bgus

    8d

      0
  • avatar
    WulandariFebriana

    lucu

    11d

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất