logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

CCTV

Semua sudah beres, kamera CCTV sudah terpasang dan Cahya juga menunggu suami dan ART nya pulang.
"Mas, Cahya lagi gak di rumah. semalam sayang ini di rumah Bude Ilyas di Kemang. Kemungkinan pulangnya lusa, Mas masih lama nggak pulangnya?" tanya Cahya.
"Yah, padahal Mas niatnya pulang hari ini. Tapi ya nggak apa deh. Silvi dah balik mudik belum?"
"Kayaknya belum. Kemarin sih, dia bilang hari ini."
"Oh, baiklah. Mas akan usahakan pulang secepatnya. Kamu juga, jangan lama-lama di sana. Mas besok mulai kerja lagi. Dah lama minta cutinya."
"Ok," jawab Cahya singkat.
Semua rencananya tidak boleh ada yang gagal. Ia harus memastikan kalau suaminya pulang hari ini terlebih dahulu sebelum ia pulang dari rumah sahabatnya. Ia kemudian mengirim pesan pada Silvi dan menanyakan perihal kepulangannya kembali ke rumah.
"Sore, Bu. Tumben nelpon? Nggak kirim pesan kayak biasanya," tanya Silvia.
"Nggak. Kamu di mana, Sil?" tanya Cahya memastikan.
"Saya masih di kampung, Bu. Kenapa?"
"Oalah. Sayang sekali. Bukannya izin liburnya tujuh hari?"
"Hehehe, Iya, Bu. Nanti saya pulang."
Ibarat kata peribahasa, gayung bersambut dua tiga pulau terlampaui. Berharap bersama Rio dan Melati, awalnya sudah berjalan dengan lancar.
Cahya bersiap untuk pergi dari rumah terlebih dahulu dan menunggu dari rumah sahabatnya, apakah keduanya akan pulang bersama nanti.
Benar saja, malam hari keduanya pulang bersama. Cahya semakin geram karena melihat keduanya yang saling merangkul dan tertawa bahagia.
"Gila suami Lo, Ya. Nekat bener bawa pacar ke rumahnya," ujar Mentari.
Cahya tak menanggapi. Ia fokus melihat gerak-gerik suaminya dan juga Silvi--art yang sekaligus jadi selingkuhan suaminya.
Keduanya masuk ke dalam rumah dan Hardian mengantar Silvi masuk ke dalam kamar miliknya. Cahya kembali dibuat meradang, saat melihat Hardian yang mencium kening Silvi sebelum meninggalkan kamar itu.
"Lo mau pulang sekarang atau nunggu ada banyak bukti?" tanya Melati.
"Kita akan tunggu satu atau dua hari. Kita akan benar-benar melihat apa yang mereka lakukan jika tidak ada aku di sana," ucap Cahya lirih.
Sebagai sahabat, Mentari sangat prihatin dengan hasil pernikahan sahabatnya itu. Bahkan ia tahu perjuangan saya dalam membantu keuangan dan perekonomian keluarga Hardian.
****
Malam hari selepas Hardian pulang dari kerja, Silvi menyambutnya layaknya istri sesungguhnya. Hardian mencium kening Silvi dan mengusap perut Silvi membuat Cahya benar-benar terpukul. Ia berpikir jika alasannya Hardian mendekati Silvi adalah karena sampai sekarang ia juga belum diberikan keturunan.
Cahya masih fokus penyelidikan di malam yang ke dua suaminya di rumah tanpanya. Ia melihat Silvi yang berlagak nyonya dan bebas melakukan apapun di rumahnya itu. Bahkan, Silvi membawakan kopi dan masuk ke dalam kamar miliknya.
"Biar nggak ngantuk," ucap Silvi mendayu dan membuat Hardian memeluk pinggang Silvi dan tersenyum.
"Thanks ya. Jangan masuk ke kamar ini. Takutnya Cahya pulang dan liat kamu ada di sini."
"Mas ngusir aku?" sungut Silvia. Namun ini hanya triknya untuk membuat Hardian membujuk dan merayunya.
Hardian yang merasa tak enak dan memilih mendudukan Silvia dia pangkuannya. Cahya yang mengawasi dari jauh, merasa tak nyaman dengan pemandangan itu.
"Gimana? Mau kita grebeg?" tanya Mentari yang juga ikut geram melihat kelakuan suami Cahya itu.
"Kita lihat aja dulu. Perihal apa yang hendak mereka lakukan, ini akan menjadi bukti yang memalukan," ucap Cahya menyeringai.
Kembali ia melihat adegan demi adegan Silvi, yang tampak sedang menggoda suaminya yang bekerja lembur di rumahnya.
"Mas, Cahya pulang kapan katanya?" tanya Silvi.
"Besok katanya. Kenapa?" tanya Hardian.
"Yah. Harus jadi babu lagi deh. Mas, bisa nggak sih, kamu jelasin aja ke Cahya kalau kita dah nikah dan ini anak kamu? Biar dia tahu dan Nerima dengan lapang, kalau aku ini madunya," bujuk Silvi.
Cahya dan Mentari terkejut mendengarnya. Ini sungguh di luar ekspektasinya yang tadinya Cahya kira adalah hubungan kekasih gelap. Ternyata keduanya sudah menikah tanpa sepengetahuannya.
"Mana bisa? Itu sama saja bunuh diri, Sil. Kamu kan yang minta agar kita bisa memiliki buah cinta tanpa merusak hubungan yang sudah Mas jalin dengan Cahya? Lagian, Mas masih mencintainya juga. Kamu gak boleh kayak gitu. Bagaimanapun, kamu tetap istri Mas. Jadi nggak usah ngiri sama Cahya. Kalian sama di mata Mas," ucap Hardian.
"Nggak! Silvi maunya ada pengakuan dari Mas pada teman-teman Mas di kantor, di dalam keluarga. Ya?"
Hardian menghadapkan wajah Silvi ke arahnya. Sungguh, percakapan dengan Silvi membuatnya tak fokus bekerja.
"Sayang, Mas itu bingung kalau mengahadapi Cahya jika nanti dia tahu kamu istri Mas juga. Untuk saat ini, bersabarlah. Nanti pelan-pelan akan Mas jelaskan padanya. Pasti dia mengerti, ya? Mas lagi kerja. Nanti Mas tidur di kamar kamu, ya?"
"Janji?"
"Ya."
"Tapi jangan lama-lama kerjanya. Nanti Silvi keburu tidur."
"Ya, Sayang. Bawel ih!" jawab Hardian sambil mencium pipi Silvi yang sudah bersemu.
Silvi tersenyum setelah mendengar janji Hardian yang hendak tidur di kamarnya. Ia melenggang pergi dengan perasaan senang, sedangkan Cahya di sana masih menahan dada yang bergetar karena melihat percakapan Hardian bersama Silvi di kamarnya.
"Kita akan grebeg nanti?" tanya Mentari lagi.
"Kita grebek sekarang?" tanya Mentari semangat.
Cahya tersenyum. "Nggak usah. Tunggu saja tanggal mainnya. Harus ada bukti yang kuat untuk memberikan efek jera pada kedua manusia yang tidak tahu dosa itu," ucap Cahya. meski dalam hatinya begitu geram namun ia tidak bisa berbuat banyak jika bukti yang ia dapatkan hanya satu atau dua. Dia akan mencari bukti yang lebih kuat agar Hardian mau mengakui semuanya.
"Tapi ini sudah kebangetan loh, Ya. Memangnya kamu nggak marah apa?" tanya Mentari.
"Wanita mana yang dimadu tidak marah? Tapi percuma saja jika memang keduanya sudah terlanjur menikah. Kita hanya butuh waktu dan situasi yang tepat untuk membuat kedua orang itu mati kutu dengan apa yang kita lakukan. Tidak ada pembalasan yang sangat menyakitkan selain ditinggal orang terkasih," ucap Cahya.
"Maksudnya? Lo bakal bunuh Hardian?"
Pletak!
Cahya memukul kening sahabatnya lirih. "Aw! Kok dijitak?" protes Cahya.
"Kagak lah! Emangnya aku ini pembunuh apa? Tampang kalem dan baik ini masa melakukan pembalasan dengan membunuh orang. Yang benar saja. Lebih baik aku akan melakukan satu langkah ke depan agar bisa membuat Hardian merasa jika dia membutuhkan ku."
Cahya berpikir untuk meminta bantuan Rio untuk membuat Hardian mendapatkan masalah di kantornya. Namun bukan cara Yang licik yang akan ia gunakan, tetapi ia akan membuat celah kebohongan bagi Hardian agar bosnya merasa jika Hardian memang melakukan kesalahan sehingga dirinya dipecat dengan tidak terhormat.
"Aku akan minta bantuan dia untuk hal ini. Jika dia bisa berpergian keluar kota berbulan madu bahkan bersenang-senang dengan alasan keluarganya yang sakit, maka bosnya harus tahu jika karyawannya itu telah berbohong dan kita akan dapat melihat seberapa tak berdayanya Hardian tanpa pekerjaan di kantornya," ujar Mentari.
"Tapi bisa saja nanti Hardian melamar pekerjaan di tempat lain," ucap Mentari. "Bagaimana?"
"Kamu jangan terlalu khawatir, Mentari. Kamu ingat, tidak ada kejahatan yang sempurna dan kita pasti akan dengan mudah membuka dan memberikan pelajaran pada mereka yang sudah menjadi kita."
Cahya tersenyum mengetahui ide yang tiba-tiba terlintas di pikirannya kali ini. iya baru sadar jika dirinya memang benar-benar jenius dan pandai untuk melakukan sebuah intrik dan rencana.
"Kamu mau pulang?" tanya Mentari.
"Nggak. Aku akan meminta izin untuk pergi berapa hari. Dengan alasan itu aku bisa memata-mata itu melakukan segalanya dengan rapi," ucap Cahya.
"Kalau menurut aku sih, baiknya kamu nggak usah pergi. Kamu bisa membuat adegan yang bisa membuat madu kamu itu merasa cemburu. Sehingga nanti dia akan marah-marah pada Hardian dan memilihmu daripada dia," saran Mentari.
"Aku nggak minta dipilih sih. Tapi saran kamu bagus juga. Aku coba, siapa tahu bisa membuat Mas Hardian melek dan tahu mana istri yang harus dibuang dan istri yang harus dipertahankan. Sebenarnya nggak niat mempertahankan sih kalau udah sampai berhubungan badan begitu. aku jadi jijik dan malas untuk melayaninya nanti. Dipikir aja Mas melayani yang sudah dipakai oleh wanita lain. Kalau situ jadi aku, situ mau memakai bekas orang lain? Kalau aku suka, aku akan pertahan kan hanya untuk membalas sakit hati yang Mas Hardian lakukan. Setelah itu aku akan memberikan kejutan padanya," ucap Mentari.
"Aku setuju. Ogah juga memakai bekas orang lain. Baiklah, good job kawan semoga semuanya bisa berjalan dengan baik dan kamu akan mendapatkan kebahagiaan atas apa yang sudah kamu lewati ini," ucap Mentari.
" Thank, Tari. Aku pulang dulu ya pokoknya aku harap usaha aku ini agar tidak diketahui oleh siapapun. Termasuk mertuaku nanti jika menanyakannya padamu," ucap Cahya.
"Sip. rahasia aman dan terjaga dengan baik. Pokoknya aku tunggu berita selanjutnya dari kamu, sepertinya ini menarik untuk menjadi sebuah cerbung atau sinetron ikan terbang," seloroh Mentari.
"Ish! Mana ada seperti itu. Ya udah, aku cabut. Bye Tari," pamit Cahya.
Cahya menaiki ojol yang dipesannya untuk sampai ke rumah. sebenarnya ia ingin membeli mobil pribadi untuk yang pakai jika sedang bepergian, tetapi tidak selalu membuat mertuanya curiga Jika ia mempunyai uang yang banyak dari usaha yang sudah ia buka beberapa tahun belakangan.
"Assalamualaikum," salam Cahya.
"Waalaikumsalam, Bu. Tumben pulang sore?" tanya Silvi.
"Kenapa? Panik banget saya pulang awal?"
Setelah melihat kejadian mesra antara Silvi dan Hardian, Cahya mulai enggan bersikap manis pada Silvi.
"Bu-kan, Bu, tetapi tumben saja biasanya Ibu kalau dari luar selalu pulang malam," ucap Silvi membuat Cahya bertambah muak.
"Mas Hardian sudah pulang?" tanya Cahya yang langsung masuk tanpa menjawab dan menanggapi ucapan Silvi.
"Su-dah. Sedang mandi di kamarnya."
"Kok kamu tahu, suamiku sedang mandi? Kamu ngintip?"
"Eng-gak, Bu. Tadi Pak Hardian minta disiapkan air hangat. Katanya badannya sedang tidak enak," ucap Silvi gugup.
"Masa? Bukannya pake water heater?"
Kali ini Cahya dapat menangkap sosok Silvi yang salah tingkah ketika dia kedapatan ditanyai tentang Hardian.
"Iya. Tapi_"
"Hai, Ya. Sudah pulang?" Hardian tiba-tiba muncul saat Silvi terlihat bingung menjawab tuduhan Cahya.
"Iya. Water heater mati, Mas? Kok Silvi bilang, kamu minta disiapkan air panas untuk mandi?"
Hardian menengok pada Silvi yang terlihat sudah pucat pasi.
"Oh, i-ya. Yuk, ah! Mas sudah kangen sama kamu. Mas bikin semur ayam kesukaan kamu. Kita makan yuk, pasti kamu lapar," ucap Hardian merangkul Cahya membuat Silvi cemburu.
Cahya hanya tersenyum melihat tingkah dan wajah kedua orang di depannya itu. Mereka bahkanterlihat salah tingkah karena kedapatan melakukan kejanggalan dan kecurigaan pada Cahya.

Bình Luận Sách (214)

  • avatar
    UmmahRofi'atul

    bagus

    02/12

      0
  • avatar
    DahlianaIntan

    wah seru

    05/07/2025

      0
  • avatar
    MayaaSri

    bagus

    15/06/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất