Sesampainya di perpustakaan Ara dan Eza sedang sibuk mengambil buku yang akan mereka pelajari. Ara yang mencari dan Eza yang membawakan. "Banyak banget sih, satu aja cukup kalik," galak Eza. Alis Eza tertautkan, buku yang Ara pilih sudah hampir sepuluh, berjalan mondar-mandir, hanya menemani mencari buku. Jika saja bukan tugas sekolah, mungkin Eza lebih baik, menenggelamkan kepalanya diatas tumpuan tangan, sambil menikmati terik matahari, yang masuk melalui celah-celah. Ara menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum lembut kearah Eza, "kalo cuman satu kita gak akan tau tentang leluasanya cerita kerajaan maja pahit." "Terus buku ini buat apa?" Tanya Eza karna ia melihat sebuah buku yang tidak ada hubungannya dengan tugas yang akan mereka kerjakan. "Oh ini aku mau belajar Za, sini biar aku aja yang bawa." Ara ingin mengambil tiga buku tebal yang akan ia pelajari. Namun, Eza menepis tangan Ara, "biar gue aja yang bawa!" "Tapi Za!" "Ck jangan bawel." "Ya Za," patuh Ara dan mencari kembali buku-buku yang ia pelajari. 🌱🌱🌱 "Selesai!" Senang Eza. "Mana HP lo biar gue kirim teksnya lewat email," pinta Eza. Ara menggelengkan kepalanya, membuat eza mengernyit, "HP lo ketinggalan?" tanya Eza yang sudah menahan kegeramannya. "Aku tulis aja ya Za, aku gak punya HP, boleh gak minjem laptop kamu dulu buat nyalin kebuku?" Tanya Ara hati-hati. "HP lo rusak?" "Aku gak punya HP." Eza tersenyum mengejek, wanita disampingnya ini sok-sokan polos rupanya, "Gak usah sok polos deh Ra, mana ada jaman moderen yang serba teknologi canggih kayak gini masih ada orang yang gak punya HP!" sangkal Eza tak percaya dengan ucapan Ara. "Aku orang miskin Za, aku bukan orang yang berkecukupan kayak kamu," jawab Ara sedih. Meskipun semua itu hanya rekayasa. Eza tertegun mendengar jawaban dari Ara, tanpa ia sadari ucapannya itu menyakiti Ara, "Ra maaf!" Ara hanya tersenyum, "kamu gak salah kok, memang sepatutnya kamu gak percaya, dijaman kayak gini masih ada yang gak punya HP." Eza semakin merasa bersalah ketika melihat senyuman tulus dari Ara. Ara menyalin teks yang ada di laptop kebukunya, menulis dengan lihai, dan fokus sampai ia tak menyadari jika Eza sedang menatapnya.  Eza tertegun melihat Ara, wajah yang natural, tanpa polesan make up, wajah yang halus tanpa ada bekas jerawat sedikit pun, apa ini, Eza mengangkat alisnya, "kenapa Ara cantik sih!" Batin Eza.  "Ekhem lo, gak mau kekantin?" tanya Eza menghilangkan lamunannya. "Masih banyak yang mau aku tulis, tapi aku janji bel masuk aku kembaliin laptopnya." "Ck, gue nanya lo gak mau kekantin, bukan kapan Lo mau balikin?" "Oh, enggak Za, aku masih kenyang," bohong Ara meskipun dari tadi pagi dirinya belum memakan apapun. Mungkin Ara tidak di takdirkan untuk berbohong, perutnya tiba-tiba berbunyi menandakan cacing perutnya meronta-ronta meminta diisi. "Ck, ikut gue!" ajak Eza. Menarik pergelangan tangan Ara. "Kemana?" "Makan!" Ara menggelengkan kepalanya, ia tak mau menjadi bahan bully akibat makan bersama dengan Eza. "Ini pernyataan bukan pertanyaan!" tegas Eza, dan menutup laptopnya sambil menarik tangan Ara, supaya mengikutinya.  Ini Shelby. 🌱🌱🌱 "Mau pesen apa?" Tanya Eza yang sudah mendudukkan Ara dibangku kantin. Ara tetap menggeleng, sambil menunduk ketakutan, tatapan teman-temannya yang begitu mengerikan, apalagi Shelby yang membuat Ara semakin takut. "Gue nanyak Ra lo mau pesen apa?" tanya Eza dengan tegas. "Te-terserah kamu Za!" Eza pergi memesan makanannya dan Ara. Tanpa Eza ketahui Shelby menghampiri Ara, menjambak rambutnya dengan keras hingga kepala Ara tersentak kebelakang. "Aw, lepasin Shel!" Ringis Ara. "Udah berani lo deketin cowok?" tanya Shelby penuh penekanan. "Aku-aku gak deketin Eza Shel!" Elak Ara, sambil meringis meminta dilepaskan. "Gue liat Ra, lo kan yang maksa Eza buat makan bareng lo?" "Eza yang maksa aku buat ikut dia." "Lo bohong mana ada cowok yang mau sama lo Ra. Wanita cupu, bau, dan gak cantik," Shelby melepaskan tangannya dari rambut Ara. "Awas lo Ra, semakin lo Deket sama Eza, Sakin gue akan buat lo menderita. Camkan itu!" Ancam Shelby dan pergi meninggalkan Ara. 🌱🌱🌱 Sepulang sekolah, Ara melihat sebuah Cafe yang sedang membutuhkan karyawan, karna tertera di sana jika sedang mencari pelayan. Ara menghampiri kertas pengumuman itu, dan membacanya secara detail. "Dibutuhkan karyawan, persyaratannya, KTP, ijazah SMA, bisa komputer," Ara kecewa dirinya tidak bisa bekerja disini. "Hai," sapa lelaki paruh baya, menghampiri Ara. "Kamu mau bekerja disini?" "Pengen sih pak, tapi Ara masih belum punya KTP, sama ijazah pak," jawab Ara sedih. "Kamu bisakan komputer?" "Bisa pak." "Ya sudah kamu saya terima, besok pulang sekolah kamu sudah boleh masuk kerja. Perkenalkan nama saya Bapak Rizqi." "Bapak beneran kan?" Pak Rizqi melepaskan kertas penggumannya dan menaruhnya ketempat sampah. Ara menyalimi tangan Rizqi dengan hormat, "terima kasih pak, terima kasih, Ara janji bakal kerja dengan baik Pak," "Sama-sama Ara, jangan lupa besok datang!" Ara yang sedang mengelap meja, harus menghampiri pelayang yang datang. Ara menyapa pelanggan tua itu, namun tetap terlihat cantik, dan anggun. Ia menundukkan tubuhnya, sebagai rasa hormat. "Mau pesan apa Bu?" Wanita itu tetap menunduk, sedang mencari barang di dalam tasnya. Namun, tau tua itu tau jika Ara berada di sampingnya. "Dek saya mau_ Ara," terkejut Farida ketika mengetahui pelayan yang akan melayaninya 'Nenek Ara / Ibu karin' adalah Ara. "Oma," Ara juga terkejut. Beberapa detik kemudian Ara langsung mengubah mimik wajahnya, dan menyalimi Farida. Farida melihat penampilan Ara dari atas sampai bawah, Farida semakin tak mengerti kenapa Ara memakai seragam pegawai Cafe, di tambah clemek khas Cafe membaluti seragamnya.  (Intinya seragamnya seperti itu) Farida bangun dari duduknya, menangkup wajah Ara. "Kamu kerja disini? Pasti Hutomo gak ngasih kamu uang? Atau Dewi yang nyuruh kamu kerja?" Ara tersenyum melihat keposesifan Neneknya yang begitu berlebihan padanya, "ini tugas sekolah Oma!" Bohong Ara. "Jangan bohong Ara, Oma pemilik sekolah yang kamu tempati!" bantah Farida. "Oma kan tau Ara suka mencari hal baru, ya meskipun bukan tugas sekolah, tapi setidaknya Ara bisa belajar gunain komputer, tehnik marketing, memasak dan juga banyak lagi!" "Tapi Ara, Oma gak mau kamu sakit, cuman gara kamu kecapean!" "Oma! Ara ini anaknya Mama Karin yang kuat. Pasti Ara juga kuat kok Oma!" Farida tersenyum, dan menarik Ara dalam dekapannya, "ya, kamu Karin kecil sayang, keras kepala, dan selalu membuat Oma bangga," puji Farida sambil mengelus rambut Ara. Ara semakin mengeratkan pelukannya, ia menangis dalam pelukan Farida, meminta pertolongan, yang tak bisa ia ucapkan. Amanah Mamanya lebih penting, dari pada ia mengadu terhadap Neneknya. Farida yang merasa bajunya basah melepaskan dekapannya, dan benar, Ara sedang menangis. "Kenapa nangis?" "Ara rindu Mama Oma," bohong Ara dengan menetapkan lengkungan dibibirnya. Farida membelai pipi Ara, "Ara, Mama selalu ada di sini," tunjuk farida di dada Ara, "dihati Ara, selalu bersama Ara. Selamanya." Ara mengangguk dan tersenyum manis kepada Farida. 🌱🌱🌱 "Ara," panggil Hutomo, yang sedang duduk dengan kaki kiri yang berada diatas paha kanannya. Ara menghampiri panggilan Hutomo, dengan ketakutan. "Ya pa!" Jawab Ara takut. "Kamu bekerja?" tanya Hutomo sambil melirik Ara sekilas. "I-iya Pa," jawab Ara enunduk takut, jika papanya akan memarahinya lagi nanti. "Baguslah kalau kamu sadar diri!" Ara mengangguk dan kembali menunduk. "Pergi," usir Hutomo. Sebelum Ara pergi, Shelby bersuara, "Papa, Ara ngambil cowok Shelby!" Rengek Shelby mendekati hutomo. Ara mengangkat kepalanya terkejut, mengambil pacarnya, sejak kapan? Dan siapa pacar Shelby? "Benar Ara?" tanya Hutomo dengan menahan amarahnya. Shelby tersenyum devil melihat ketakutan Ara, "ya pa, dia berani-beraninya ngajakin pacar Shelby makan bareng. Kalo Papa gak percaya ini buktinya Pa!" Shelby memang sengaja memotret Eza dan Ara yang sedang makan di kantin, supaya ia bisa mencari kesalahan Ara, yang berujung di marahi dan di pukul oleh Papanya. "ARA, KAMU SAMA SEPERTI MAMA KAMU, WANITA GATAL PADA LELAKI!" Paarr Hutomo menampar Ara dengan sangat keras, membuat sudut bibir Ara sedikit sobek, dan pipi yang memar. Ara menangis, menahan isaknya, ia tak mau Hutomo semakin marah, ketika mendengar isaknya. "Ara-Ara gak ngambil pa-pacar Shelby Pa." Hutomo mencengkram dagu Ara, "kamu tau. Kamu bukan anak saya, kamu anak selingkuhan Mama kamu, dan satu lagi, kamu tetap saya bolehkan tinggal disini, karna saya ingin membalas dendam terhadap Mama kamu, dan harta kamu!" Hutomo menghempaskan dagu Ara, sampai Ara jatuh hingga kepalanya terbentur meja. Hutomo meninggalkan Ara, yang sedang kesakitan memegangi pelipisnya. Shelby yang sejak tadi senang, seakan menonton pertunjukan konser, menghampiri Ara, dan tersenyum puas. "Itu akibat lo deketin Eza." 🌱🌱🌱 Ara dengan sekuat tenaganya menahan supaya ia tidak pingsan, penglihatannya memburam. Ara menyiram mukanya dengan air, sambil membasuh darah segar yang mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya. Setibanya di kamar yang bisa di bilang bukan kamar, hanya terisi kasur lusuh, satu bantal, lemari tanpa pintu karna rusak, cermin persegi sebagai hiasan dinding. Ara tersenyum didepan cermin, menguatkan dirinya sendiri, sambil memberi obat Merah kepada lukanya. Apa benar aku bukan anak Papa? Apa benar Mama menyelingkuhi Papa? Apa aku salah jika mempunyai teman selain Faiz? Apa aku tidak boleh bahagia? Pertanyaan itu hinggap di kepala, membuat, denyutan dikepalnya semakin sakit. Ara menggeleng kuat. "Enggak Ara, kamu jangan mikir kayak gitu, semua akan tiba, semua ada masanya!" Ara memejamkan matanya dan tersenyum kepada dirinya sendiri, memberi semangat, jika sebentar lagi masa bahagianya akan tiba. "Ara, positive thinking, Papa lagi marah sama kamu, jadi semua yang keluar dari mulut Papa jangan kamu masukin hati!" 🌱🌱🌱 Seorang lelaki dengan style ala bad boynya, ditambah setangkai mawar yang derada di tangannya, menunggu seseorang yang tadi ia ajak bertemu, lelaki itu tersenyum senang.  "Sebentar lagi gue bakalan punya pacar," ujar Iqbal senang. Lelaki itu Iqbal, yang ingin menjumpai Shelby. Tak lama kemudian Shelby datang, setelah tiga puluh menit ia menunggunya. "Langsung aja ada apa?" tanya Shelby, tanpa basa-basi.  "Lo cantik banget Shel!" Puji Iqbal. "Gue udah tau, dari dulu gue udah juga cantik," sombong Shelby. Iqbal tertawa garing, bisa-bisanya wanita di sampingnya ini meroket, "hehehe ya Shel." "Ceper ada apa lo ngajak gue ketemuan?" tanya Shelby tak sabaran. Iqbal memegang tang shelby yang berada diatas meja. Namun Shelby langsung menghempaskannya. Iqbal memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, "lo mau gak jadi pacar gue?" "What pacar? Gue? Jadi pacar lo? Mending gue pacaran sama kambing dari pada sama lo!" "Gue janji, bakalan jagain lo, kapanpun itu, lo butuh gue, gue selalu ada Shel!" "Gue bisa bayar bodyguard buat itu. Lo bukan level gue, dan kita tidak sepadan, gue yang menjulang dan lo rendahan!" Ucap Shelby sambil menekan kata-katanya. Shelby pergi meninggalkan Iqbal yang berdiam, dengan tatapan kosong. Setelah kepergian Shelby, dan Iqbal yang terdiam cukup lama. Iqbal menggeram, "Serendah itu gue? Argh," Iqbal melemparkan gelas kearah lantai, membuat semua pengunjung cafe di sana menoleh kearahnya. "Apa! Lo mau gue lempar juga, apa mata lo mau gue colok!" Amuk Iqbal kepada semua pengunjung yang memandanginya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
baguss aku suka
08/07/2025
0bagusss bgtt😭
01/07/2025
0bagus
20/06/2025
0Xem tất cả