logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 7 Lahirnya Ria identitas baru

Bab 7: Lahirnya 'Ria': Identitas Baru
"Permisi, apakah ini benar nona Ria?" suara satpam yang berdiri tegap di pos penjagaan gerbang utama terdengar tegas. Tubuhnya gagah berseragam gelap, matanya tajam menatap Valeria yang kini menundukkan pandangannya. Di hadapannya, gerbang hitam menjulang tinggi itu terasa lebih dari sekadar pembatas fisik, melainkan garis tipis antara masa lalu dan masa depan yang ia rancang sendiri. Ia berusaha mengatur napas, menciptakan sosok yang seratus persen berbeda.
Valeria membetulkan posisi kacamatanya yang kebesaran, menyunggingkan senyum canggung. "Oh, i-iya, Pak. Ria. Maaf, saya memang... agak pelupa," ucapnya, mencoba memberikan kesan lugu dan sedikit grogi. Suaranya sedikit direndahkan, dengan aksen yang dibuat lebih halus dan polos, jauh dari nada yakin seorang desainer ternama. Matanya tetap fokus pada detail kecil di kancing seragam satpam, menghindari kontak mata langsung yang mungkin mengungkapkan terlalu banyak.
"Jadi ini Anda yang melamar posisi pengasuh, ya?" tanya satpam itu lagi, tangannya memegang daftar tamu dan jadwal wawancara di sebuah tablet. Ia terlihat memindai wajah Valeria yang tertutup kacamata. Wajahnya mengernyit samar, seolah Valeria adalah buku tanpa sampul menarik. "Baiklah, nama Anda Ria Sinta."
"Iya, Pak, benar sekali," Valeria mengangguk antusias, sedikit berlebihan. Ia telah menyiapkan identitas palsu yang sederhana ini: Ria Sinta, yatim piatu yang mencari nafkah. Tidak ada jejak masa lalunya di dalamnya, tidak ada koneksi dengan ayahnya atau warisan apapun. Ria Sinta adalah kanvas kosong yang bisa ia lukis sesukanya. Ini aman.
"Masuklah. Nyonya Amelia sedang menunggu di ruang rekreasi belakang." Satpam itu membuka pintu gerbang kecil yang hanya muat satu orang. Tatapannya menyeleksi dari atas ke bawah. Penampilan Valeria dengan blus longgar dan celana bahan yang sudah usang jelas tidak menarik perhatian, justru membuang semua rasa curiga. Itu adalah tujuannya.
Langkah kaki Valeria terasa aneh di atas bebatuan taman yang tertata rapi. Ia terbiasa dengan hak tinggi, bukan sepatu kanvas sederhana seperti sekarang. Otaknya memerintah tubuhnya untuk beradaptasi, berlagak lebih kikuk. Setiap gestur harus dikendalikan, tidak boleh ada kemahiran atau kepercayaan diri yang melekat dari "Valeria yang lama". Dia kini adalah Ria. Polos. Biasa saja. Bahkan mungkin sedikit canggung.
Ia berjalan di sepanjang jalan setapak yang dihiasi bunga-bunga tropis yang rimbun. Ingatannya tentang keindahan taman ini dulu adalah bagian dari Adrian yang sombong, selalu menunjukkan kemegahan miliknya. Sekarang, ia melihatnya dengan pandangan dingin, sebuah penjara indah yang akan ia taklukkan. Tujuan terbesarnya bukan keindahan, melainkan keadilan.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi muncul dari balik sudut. Wajahnya ramah, tetapi matanya mengamati dengan saksama. "Selamat pagi, Anda Ria, ya?"
Valeria tersenyum tipis. "Pagi, Bu. Iya, saya Ria. Datang untuk wawancara. Kata Pak Satpam tadi, Ibu Amelia sedang menunggu saya?"
Wanita itu tersenyum lebih lebar. "Oh, itu bukan Nyonya Amelia. Saya Bi Narsih, Kepala Asisten Rumah Tangga di sini." Bi Narsih menuntunnya melewati area kolam renang yang berkilauan. "Nyonya Amelia itu kakak Tuan Ethan. Beliau yang mengurus semua keperluan Liam sejak dulu, karena ibunya Liam... sudah tiada."
Hati Valeria sedikit mencelos mendengar sebutan "ibunya Liam", tetapi ia menekan perasaannya. Ini bukan waktunya untuk kenangan atau emosi Valeria. Ini adalah saat untuk Ria.
"Maaf, saya tidak tahu, Bu," ucap Valeria, sedikit menundukkan kepala. Ia berusaha keras menampilkan citra polos, sedikit malu karena salah mengira. Ini adalah teknik meredakan kecurigaan, membuat dirinya terlihat inferior dan tidak mengancam. "Saya agak gugup juga, jadi suka salah dengar."
Bi Narsih terkekeh ringan. "Tidak apa-apa, kok. Ayo, kita ke ruang rekreasi. Di sana nyaman, kita bisa bicara lebih santai."
Ruangan yang dimaksud cukup besar, dengan sofa empuk dan meja kopi yang elegan. Ada beberapa lukisan abstrak mahal tergantung di dinding. Valeria merasakan dorongan naluriah untuk menganalisis gaya desain dan menaksir harganya, tetapi ia cepat-cepat menepisnya. Ria tidak melakukan itu. Ria hanya melihatnya sebagai "gambar indah".
"Duduklah, Ria." Bi Narsih duduk di salah satu sofa. "Kudengar kamu melamar posisi pengasuh Liam, putra Tuan Ethan. Liam itu anak yang... istimewa."
"I-iya, Bu. Saya lihat iklannya, dan kebetulan saya memang sangat suka anak-anak," kata Valeria. Dia sedikit gagap, memastikan untuk menjaga karakternya. "Saya rasa... saya cocok."
Bi Narsih tersenyum kecil. "Banyak yang bilang begitu, tapi banyak juga yang tidak betah dengan Liam. Dia memiliki gangguan emosional. Setelah ibunya meninggal, ia sering tantrum. Terakhir, bahkan mengusir semua pengasuh yang pernah dipekerjakan Tuan Ethan."
Valeria merasakan sengatan kesedihan di hatinya untuk Liam. Betapa hancurnya jiwa anak itu. "Saya... saya rasa bisa mengatasinya, Bu. Saya punya beberapa sepupu kecil yang sering tantrum juga. Saya tahu caranya... sedikitlah. Lebih ke memahami apa yang dia mau, kan, Bu?"
"Terdengar sederhana sekali." Bi Narsih menopang dagunya, tatapannya menyidik. "Apa riwayat pekerjaanmu sebelumnya, Ria? Kamu kelihatannya masih muda sekali, apakah ada pengalaman merawat anak secara profesional?"
Ini adalah titik krusial. Valeria harus pintar berbohong, tetapi dengan kejujuran palsu. "Saya... dulunya memang sering membantu orang tua di panti asuhan, Bu," jawabnya pelan. "Jadi memang dekat dengan anak-anak. Kalau pengalaman profesional, saya tidak punya sertifikat resmi, Bu. Tapi saya yakin hati saya cukup tulus untuk menyayangi Liam seperti anak saya sendiri. Itu bukan... soal gelar, kan, Bu? Itu soal hati."
Bi Narsih terlihat sedikit melunak. "Memang benar. Itu soal hati. Tapi gajinya besar, lho, Ria. Lima puluh juta rupiah. Apa kamu yakin tidak mengincar harta Tuan Ethan seperti pengasuh-pengasuh sebelumnya?"
Jantung Valeria berpacu kencang. Pertanyaan ini bisa jadi jebakan. "Oh, t-tidak, Bu!" serunya buru-buru. Nada suaranya sedikit meninggi karena panik yang disengaja. "Demi Tuhan, saya hanya ingin mencari uang untuk orang tua saya yang sakit. Ayah saya... baru saja terkena sakit jantung. Saya tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta selain ayah. Saya cuma mau punya penghasilan, Bu. Ini bahkan terlalu besar untuk saya. Saya sebenarnya tidak menyangka kalau gajinya akan sebanyak ini. Saya pikir paling sepuluh atau lima belas juta saja, jadi saya berniat menawar sedikit saja kalau memang ditanyakan," jelasnya, menatap lurus dengan wajah penuh kejujuran (yang ia aktingkan). Ia berusaha terlihat lugu dan takut disalahpahami.
"Ayahmu sakit jantung?" Bi Narsih mengulangi, ekspresinya lebih prihatin.
"I-iya, Bu." Valeria mengangguk, sorot matanya yang samar terlihat sedih di balik kacamata. Ini adalah satu-satunya bagian "kebohongan" yang ada butir kejujurannya, dan ia memanfaatkannya. "Makanya saya sangat butuh pekerjaan ini. Apa saja asal halal, Bu."
Bi Narsih mendesah. "Oke. Baik, Ria. Saya akan mencatat itu. Saya harus melaporkannya dulu pada Nyonya Amelia dan Tuan Ethan." Ia mengamati Valeria lagi, kali ini dengan sudut pandang yang berbeda. Wanita di depannya ini tidak terlihat seperti pencari harta, melainkan pencari nafkah yang putus asa. Itu poin bagus bagi Valeria. "Untuk Liam sendiri, apakah ada ide jika dia mulai tantrum?"
Valeria membetulkan duduknya. "Mungkin... daripada melarang, lebih baik memahami alasannya dulu, Bu. Lalu kalau sudah agak tenang, ajak dia melakukan sesuatu yang dia suka. Cerita, main, atau ajak gambar." Ia mencoba mengingat lagi pengetahuannya tentang psikologi anak-anak dari artikel yang ia baca dulu untuk iseng saja.
Bi Narsih mengangguk-angguk. "Itu salah satu pendekatan yang Nyonya Amelia juga coba. Kami lihatlah nanti ya. Tunggu di sini dulu."
Wanita paruh baya itu pergi. Valeria mengembuskan napas panjang. Wawancara awal ini jauh lebih menegangkan dari wawancara dengan klien-klien kakap sebelumnya. Ia merasa seperti berjalan di atas tali tipis, berusaha menyeimbangkan peran palsu dengan motif aslinya. Jauh di dalam lubuk hatinya, "Valeria" sedang berteriak cemas, namun "Ria" hanya tersenyum samar, menyimpan ketenangan palsunya.
'Adrian mungkin tidak akan mengincarku di sini. Adrian bahkan meremehkan Ethan yang kakak tirinya, dia mungkin juga meremehkan keponakannya sendiri,' batin Valeria, otaknya bekerja cepat menganalisis situasi. 'Kakek Suryadi saja lebih mencintai cucu pertamanya. Jadi Adrian pasti merasa tidak punya hal dalam keluarga itu selain paman-paman tiri lainnya.'
Tiba-tiba, sebuah suara bariton dalam memenuhi ruangan. "Jadi ini yang kau namakan kandidat yang menjanjikan, Narsih?"
Valeria terkesiap, nyaris melonjak dari sofa. Itu suara Ethan Suryadi. Dingin. Membeku. Sangat sesuai dengan reputasinya. Ia tidak pernah mengira akan bertemu Ethan secepat ini. Bahkan Adrian pun ia berharap bisa ia hindari di awal-awal masuk.
Ethan Suryadi berdiri di ambang pintu, aura kekuasaan dan kekakuannya mengisi seluruh ruangan. Setelan jas mahalnya membungkus tubuh atletisnya. Matanya yang gelap, dingin seperti samudra beku, menatap langsung ke arah Valeria. Sejenak, ia seperti terkesima dengan apa yang ia lihat. Wajahnya mengernyit samar. Ada seulas tanda aneh dari Valeria, namun terlalu kabur untuk dipastikan Ethan yang terlalu dingin itu. Tatapan itu terasa seperti jutaan panah es yang menembus jantung. Di sampingnya, seorang wanita yang jauh lebih anggun berdiri, anggap saja ia Nyonya Amelia, sang kakak yang terkenal elegan dan lebih lunak dari Ethan. Wajahnya jelas mencerminkan ketidaksetujuan akan tampilan Valeria.
Bi Narsih muncul lagi dari balik Ethan, wajahnya tampak panik. "M-maaf, Tuan. Saya tadi... sedang mencari Anda berdua."
Nyonya Amelia membuang muka. "Beginikah standar pengasuh untuk Liam, Narsih? Kenapa terlihat sangat... biasa saja? Aku butuh yang memiliki reputasi dan gelar yang mumpuni, yang setidaknya bisa mengajarkan Liam lebih banyak hal, tidak hanya menjadi teman bermain yang sederhana saja."
"Maafkan saya, Nyonya," Bi Narsih menunduk dalam. "Tapi Ria memiliki niat baik. Saya yakin..."
Ethan mengangkat tangan, membungkam mereka berdua. Pandangannya tidak lepas dari Valeria. Ada sesuatu di balik mata Ria, pikir Ethan, sesuatu yang mengingatkannya pada sesuatu yang hilang. Namun penampilan lusuh, rambut kaku, dan kacamata tebal itu begitu efektif menyamarkannya. Bahkan ia melihat luka gores kecil di jemari tangan gadis itu. 'Apa ada insiden sebelumnya?' Pikir Ethan. 'Mungkin aku perlu mencari tahu.'
Valeria merasakan tatapan Ethan. Ini lebih sulit daripada Adrian. Adrian bisa ia tebak dan manipulasi karena keserakahannya. Tapi Ethan? Pria ini adalah teka-teki, balok es bergerak yang tak terbaca. Dia menganggap semua wanita hanyalah sebuah obyek, dia tidak peduli tentang nilai aset, atau tentang status keluarga. Yang ia pedulikan adalah kualitas.
"Jadi kamu melamar sebagai pengasuh, ya?" suara Ethan sedingin musim dingin. "Nama Ria Sinta. Umur, pendidikan terakhir?"
Valeria mencoba mengatur napas. "Nama saya Ria, Tuan. Umur 24. Pendidikan terakhir saya... sekolah menengah atas, Tuan," ucapnya, merendahkan pendidikannya sejauh mungkin. Lulusan arsitektur desain interior dari universitas terkemuka kini menyusut menjadi lulusan SMA. Sungguh ironis. Tapi itu adalah harga yang harus dibayar.
Nyonya Amelia mendengus. "Sekolah menengah atas? Apa yang bisa kamu ajarkan pada Liam, Ria? Liam butuh figur yang pintar, yang bisa membimbingnya secara akademis juga. Liam cerdas, tahu."
"Maaf, Nyonya. Saya... hanya bisa mengajarkan kasih sayang," ucap Valeria tulus. Di sini, ia tidak berbohong. Ia sungguh tulus menyayangi Liam. Air matanya sendiri nyaris tumpah, namun berhasil ditahan di balik kacamata. Ini adalah perjuangan yang sungguh melelahkan.
Ethan tidak bereaksi. Hanya menatapnya tajam. Ia merasakan kejujuran dalam nada suara terakhir Ria, kejujuran yang menonjol dari akting gugup dan canggung di awal. Itu menarik perhatiannya. Kejutakan muncul di wajah kaku itu, hanya untuk sesaat.
"Kasih sayang?" tanya Ethan datar, nada suaranya seolah mengejek, namun matanya mengamati. Ia melihat sebuah ketulusan dari gadis ini, bahkan saat tatapan Amelia memandang Ria yang lusuh dengan rasa tidak setuju.
Valeria mengangguk. "Iya, Tuan. Kasih sayang itu hal yang paling penting untuk anak seperti Liam, kan? Dia membutuhkan banyak perhatian dan pengertian." Ia memfokuskan pikirannya pada Liam. Memikirkan Liam secara otomatis memunculkan ketulusan yang murni dari dirinya. Itu adalah penyelamatnya, jembatan paling aman bagi penyamarannya.
"Cukup menarik." Ethan akhirnya memutus tatapannya, melirik Nyonya Amelia. "Liam akan kita izinkan untuk melihat dan mengenalnya beberapa hari ke depan, Kak. Kita butuh kandidat sesegera mungkin."
"Apa? Liam tidak butuh orang ini, Ethan!" protes Nyonya Amelia. "Dia bisa kita ajari bahasa Inggris dari kursus saja, atau dari pengajar professional yang ada. Tidak butuh pengasuh sederhana seperti ini!"
"Kita butuh figur yang mampu membuatnya tenang dan percaya," potong Ethan, tidak peduli dengan pendapat kakaknya. Nada suaranya sedikit membela Ria, walaupun ia tidak menyadarinya. "Jika hanya akademik, Liam sudah terlalu pintar."
Nyonya Amelia tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi tatapannya pada Valeria semakin dingin. Jelas tidak menyukainya. Ini adalah konflik baru, konflik internal yang bisa saja ia manfaatkan atau justru membahayakan penyamarannya. Namun kali ini ia hanya berterima kasih dalam hati. Liam adalah penyelamat. Liam sudah membantunya memasuki kandang singa ini.
"Mulai sekarang kamu tinggal di kamar pengasuh. Malam ini akan ada briefing dari Nyonya Amelia untuk rutinitas Liam," ucap Ethan, tatapannya kini kembali tajam dan membeku. Ia tidak mengharapkan respons. "Jaga barang-barangmu, jangan merusaknya, atau kamu akan kutinggalkan di pinggir jalan sana."
Valeria menunduk. "Baik, Tuan. Saya mengerti. Terima kasih." Ia melihat Nyonya Amelia beranjak dengan wajah kesal, sementara Ethan sudah melangkah pergi. Begitu dingin. Betul sekali apa kata ayahnya. Ethan bahkan menganggap dirinya seperti barang.
Bi Narsih tersenyum padanya. "Ayo, Ria. Saya tunjukkan kamarmu."
Di kamar pengasuh yang kecil tapi bersih, Valeria akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Ia memegang dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Itu dia. Tahap pertama selesai. 'Valeria' berhasil menjadi 'Ria', melewati hadangan pertama dengan sukses, bahkan mendapatkan persetujuan langsung dari Ethan yang dingin. Semua pengorbanan, penampilan yang disamarkan, suara yang diubah, kisah palsu, semua untuk satu tujuan. Untuk Liam. Untuk Papa. Untuk balas dendam.
Ia melepaskan kacamata tebalnya, menaruhnya hati-hati di nakas. Di depan cermin kecil di dinding, wajahnya terpantul. Tanpa kacamata, matanya yang tajam dan ekspresif kini terlihat jelas. Senyumnya, meski penuh kepedihan, mengandung secercah kebanggaan. Ia telah mati sebagai Valeria, dan bangkit sebagai Ria. Ini adalah kelahirannya kembali. Sebuah metamorfosis yang menyakitkan, namun perlu.
Valeria menyentuh goresan di jarinya yang terkena pisau lipat Adrian kemarin. Rasa perih itu menjadi pengingat nyata, sebuah janji yang harus ia tepati. Setiap detik ia berada di rumah ini, ia akan mengingat Adrian. Setiap interaksi dengan Ethan, ia akan mengingat janjinya pada ayahnya. Dan setiap kali ia melihat Liam, ia akan merasakan motivasi yang murni, melindungi anak itu, menyejukkan hatinya, dan pada akhirnya, membawa keadilan.
Misi dimulai. 'Ria' telah resmi masuk ke jantung keluarga Suryadi. Siap menjalankan perannya. Siap bertempur di kandang singa. Ini bukan lagi hanya tentang dendam, tetapi tentang keberlangsungan hidupnya dan kehormatan ayahnya. Ia sudah di dalam. Permainan baru saja dimulai. Ia bukan hanya Ria, seorang pengasuh sederhana. Dia adalah Ria, prajurit yang menyamar, menunggu saat yang tepat untuk melancarkan serangan baliknya. Tatapan matanya yang terpantul di cermin, kini lebih dingin dan lebih bertekad dari sebelumnya.
Di luar, suara hujan samar-samar terdengar, seolah memberkati lahirnya sosok baru. Langit tampak begitu tenang. Itu adalah ketenangan sebelum badai. Dan Ria sudah siap untuk badai itu. Ini babak barunya, tanpa asteris atau titik tiga, tanpa kemewahan, tanpa ampun.

Bình Luận Sách (3)

  • avatar
    L Uniii

    Sangat baguss ceritanyaa🥰

    02/05

      0
  • avatar
    Ridho Asg

    bagus banget

    19/04

      0
  • avatar
    S.Sohifah Widyafitri

    ceritanya menarik utk dibaca

    12/04

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất