Trang Chủ/Aku Kembali sebagai Ibu untuk Anak Duda Beku itu!/
Chương 6 perjalanan
Bab 6: Perjalanan "Papa yakin sudah memikirkan semuanya, Nak?" suara Papa Danu terdengar berat, mengisi keheningan ruang tamu yang sekarang menjadi panggung bagi transformasi Valeria. Ia menatap putrinya, yang berdiri di hadapannya dengan tampilan baru yang mengejutkan. Rambut Valeria diikat kaku ke belakang, sebagian poni yang menutupi wajahnya dipaksa menjauh dari mata. Kacamata besar berbingkai tebal yang tadi baru saja dibeli, bertengger kaku di pangkal hidungnya, menyamarkan separuh kecantikan matanya. Pakaiannya pun sederhana, blus longgar berwarna netral dan celana panjang bahan yang jauh dari kesan glamor seorang desainer interior papan atas. Valeria memutar badannya di depan cermin tua yang ada di dinding, mengamati setiap detail perubahannya. "Cukup. Papa jangan terlalu khawatir. Lihatlah aku sekarang. Tidak ada Valeria desainer yang dulu elegan. Yang ada hanyalah Ria, calon pengasuh yang lugu dan tampak tidak punya pengalaman berarti di dunia yang mereka kenal. Ini penampilan paling aman agar aku tidak menarik perhatian siapapun di rumah itu." "Tapi kacamata itu membuatmu terlihat berbeda sekali," ujar Papa Danu, nada khawatirnya tidak hilang. "Itu sengaja kamu lakukan agar tidak mudah dikenali? Papa tidak yakin itu akan cukup." "Itulah gunanya kacamata, Pa," jawab Valeria, merapikan sedikit lipatan di blus barunya. "Aku sengaja memilih yang tebal dan kuno. Ini akan menyembunyikan sebagian besar ekspresiku, juga membuat fitur wajahku yang terlalu tajam menjadi lebih lembut, lebih... biasa. Ini menyamarkan." Ia mengambil napas dalam-dalam. "Percayalah, di balik lensa ini, sorot mataku yang sebenarnya akan tetap tersimpan aman. Tidak akan ada yang menyangka aku punya maksud tertentu. Bahkan Adrian sendiri, mungkin akan sulit mengingat detail Valeria yang sesungguhnya di tengah wajah polos yang mereka fitnah kemarin. Dia tidak akan memedulikanku lagi." "Caramu bicara, Nak, juga harus kamu perhatikan," kata Papa Danu lagi, pandangannya mengamati putrinya dengan seksama. "Bahasa keseharian kita terkadang terlalu... formal. Dan juga logatmu yang kental akan kesopan santunan bangsawan, pasti mudah dikenali di kalangan atas sana." Valeria mengangguk. "Aku sudah memikirkannya, Pa. Sepanjang pagi aku sudah berlatih. Tidak ada lagi kalimat-kalimat rumit atau kosakata berbobot tinggi. Aku akan menggunakan bahasa sederhana, lugu, sedikit terbata-bata jika perlu, agar terlihat kurang cerdas dari yang sebenarnya." Ia mempraktekkan sedikit, mencoba mengubah intonasinya. "Misalnya, 'Saya... anu... datang untuk wawancara pekerjaan sebagai... pengasuh, Pak.' Aku akan bicara sedikit canggung." "Cukup meyakinkan, tapi butuh latihan terus-menerus," komentar Papa Danu. "Apalagi saat kamu berbicara dengan Liam. Liam pasti bisa merasakan jika ada yang tidak tulus dari suaramu." "Liam berbeda, Pa. Aku sangat tulus menyayanginya. Tidak akan sulit untukku bicara apa adanya dengannya," ujar Valeria lembut. Nada suaranya berubah hangat saat menyebut nama Liam. "Malah mungkin aku bisa mengutarakan semua perasaanku kepadanya. Anak-anak biasanya akan melihat apa yang sebenarnya dari diri kita." "Betul sekali," Papa Danu mengangguk setuju. "Hati anak-anak tidak bisa dibohongi. Tapi itu bukan satu-satunya kekhawatiran Papa, Nak. Adrian dan Saras tidak hanya di paviliun, mereka sering sekali terlihat di rumah utama untuk menjamu teman-teman mereka." "Aku tahu, Pa. Itu sudah masuk dalam perkiraan risikoku," kata Valeria tegas. "Maka dari itu aku harus menyelinap masuk seperti tikus, bukan macan. Mereka harus merasa tidak ada ancaman dariku. Mereka tidak akan melihatku sebagai musuh. Mereka harus meremehkanku sepenuhnya. Adrian selalu meremehkan perempuan biasa, Papa tahu itu. Ia hanya tertarik pada wanita dengan koneksi dan aset. Aku tidak memiliki keduanya sekarang." "Bagaimana jika mereka sengaja melakukan wawancara untuk mencari tahu siapa kamu?" tanya Papa Danu. "Ada kemungkinan Adrian mencoba memancingmu keluar, mencoba memastikan bahwa kamu tidak akan pernah bisa kembali ke sana." Valeria tertawa kecil, hampa. "Adrian pengecut, Pa. Dia tidak akan berani melakukan hal sebodoh itu. Dia hanya ingin menyingkirkanku dari hidupnya, memastikan aku tidak punya daya ungkit lagi atas dirinya dan saham Suryadi Group yang harusnya menjadi bagianku. Dan Liam, itu ancaman terbesarnya." "Oh ya, masalah saham," Papa Danu mengingatkan, "Kamu yakin harus membahas ini? Apa yang harus kamu cari di sana?" "Aku butuh bukti bahwa klaim wasiat Kakek Adrian tentang warisan sebagian usaha Suryadi Group kepada keturunanku, itu nyata. Dan bukan hanya itu. Bukti-bukti rekayasa Adrian. Dia menggunakan namaku untuk transfer palsu itu. Artinya ada data rekening bank yang sudah dimanipulasi di belakangnya, entah olehnya atau anak buahnya," jelas Valeria, tatapan matanya mengeras. "Itulah yang akan kutemukan. Aku butuh akses. Dan rumah itu adalah pusat semuanya. Paviliun Adrian, kantornya di rumah utama, ruang kerjanya yang seringkali tak terkunci." "Ruang kerja Adrian di rumah utama tidak terkunci?" Papa Danu tampak tidak yakin. "Ya. Karena Adrian memiliki kepercayaan besar kepada pengawalnya yang lama. Pengawal itu sangat bisa dipercaya, tidak pernah absen di sisinya. Dia juga menjaga kunci-kunci itu dari jauh, namun kadang, ia meletakkan kuncinya di meja sana," jelas Valeria. Papa Danu hanya menghela napas. "Lalu bagaimana jika mereka memasang kamera tersembunyi untuk melacak gerak-gerik pelayan? Atau merekam suara setiap orang yang ada di sana? Pengasuh bukanlah orang biasa, biasanya di sana akan diawasi secara khusus, bukan seperti ART biasa." Valeria diam sejenak, memikirkan hal itu. "Aku tahu, Pa. Risikonya sangat tinggi. Tapi itulah tantangannya. Aku harus lebih pintar. Aku harus mengandalkan insting dan kemampuan analisis yang selama ini kupunya sebagai desainer. Detil itu penting, dan aku jamin aku bisa mengamatinya dengan sangat hati-hati tanpa kecurigaan. Tapi bukan Adrian yang akan memecahkanku. Ada Ethan di sana, dan anak Liam." "Apa rencanamu terhadap Ethan?" tanya Papa Danu, merasa semakin khawatir dengan putrinya yang tampak meremehkan Ethan Suryadi. "Jangan meremehkannya. Dia lebih dingin daripada gunung es. Dia bahkan tidak akan tersenyum. Kau tidak akan pernah berhasil membuatnya luluh, itu pasti." "Tidak juga, Pa," Valeria menjawab. "Ethan adalah sosok kaku dan cenderung tidak acuh terhadap orang-orang baru di sekitarnya. Ini akan jadi keuntunganku. Dia membenci wanita yang mendekat demi uang dan menganggap cinta adalah kelemahan. Jadi aku hanya perlu memperlihatkan diri sebagai sosok yang sama sekali tidak mengancam pandangannya. Seorang pengasuh biasa, sederhana, tanpa embel-embel apa pun. Dia tidak akan menganggapku spesial, bahkan menganggapku seperti barang." "Dan dia akan mengabaikanmu?" Papa Danu terdiam, mencerna penjelasan putrinya. "Itu akan membuat Adrian juga meremehkanmu." "Justru itu kuncinya," Valeria tersenyum tipis. "Agar mereka lengah, Pa. Ketika aku berhasil mendekati Liam dan menjalin kedekatan, Adrian akan melihatnya. Ethan juga akan. Ethan melihat Liam semakin ceria bersamaku, itu bisa menjadi sebuah jembatan bagiku untuk masuk lebih jauh lagi, tanpa harus berbuat apa-apa, apalagi menarik perhatiannya. Dia yang akan secara tidak langsung membelaku tanpa menyadarinya. Karena jika ada yang mengusik pengasuh Liam, itu artinya mengusik kebahagiaan putranya." "Lalu dengan siapa kamu akan berangkat sekarang?" Papa Danu akhirnya berdiri, menghampiri Valeria, memeluknya erat. "Bis Pak Danu di sini sedang dipakai. Naik taksi, kamu punya uang?" "Aku ada sedikit uang sisa, Pa. Sisa honor desain proyek kecil bulan lalu, yang belum mereka sempat blokir dari akunku," jawab Valeria, sedikit mendongak, merasakan kehangatan pelukan ayahnya. "Aku sudah menyiapkan sekitar tiga ratus ribu. Seharusnya cukup untuk naik taksi ke sana, ditambah untuk makan kalau diperlukan." "Ini uang Papa," Papa Danu menyerahkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah. "Ambil. Ini tidak seberapa, tapi siapa tahu kamu butuh di sana." "Terima kasih, Pa." Valeria memeluk ayahnya lebih erat lagi, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Papa, hati-hati di rumah ya. Aku akan sering menelepon." "Kamu juga, Nak. Jaga dirimu baik-baik," Papa Danu mengelus lembut rambut Valeria yang kaku. "Ingat, dendam memang kuat, tapi jangan biarkan ia menggerogoti jiwamu. Ada Papa di sini, ada Liam di sana yang membutuhkanmu kembali menjadi orang baik." Valeria mengangguk. "Aku mengerti, Pa. Dendamku untuk menegakkan keadilan, bukan untuk menjatuhkan diriku ke kegelapan sepenuhnya." Ia mengambil napas panjang. "Aku akan berusaha menemukan kembali diriku yang sejati, dan menghapuskan luka masa lalu. Kali ini bukan dengan kesedihan dan kekecewaan. Tetapi dengan membalasnya satu per satu." Beberapa menit kemudian, Valeria melangkahkan kaki keluar rumah. Ia memandang langit biru yang cerah, kontras dengan hatinya yang bergejolak. Udara pagi terasa sejuk, namun punggungnya merinding. Jalan setapak menuju halte bus tidak jauh, tapi rasanya setiap langkah terasa seperti mendekati jurang yang dalam. Ia menarik napas. "Seharusnya taksi lebih baik," gumam Valeria pada dirinya sendiri. "Tidak ada yang akan mengenali desainer Valeria naik bus umum dengan pakaian lusuh seperti ini." Ia menoleh ke belakang, melihat rumah kecil mereka, seakan ingin mengukir ingatan tentang tempat berlindung satu-satunya itu. Ia lalu membuka ponselnya dan memanggil taksi daring. Tidak perlu menunggu terlalu lama, taksi itu tiba. "Permisi, apakah ini benar nona Ria?" suara sopir taksi terdengar ramah. "Sesuai aplikasi." Valeria sedikit tergagap, terbiasa dengan nama Valeria. "Ah, i... iya, benar, Pak. Ria. Maaf, saya kadang lupa," ucapnya dengan intonasi canggung yang sudah ia latih. Sopir taksi itu tersenyum kecil. "Oh tidak apa-apa, Nona. Mau ke mana?" "Ke Kediaman Suryadi, Pak. Yang dekat jalan utama itu," jawab Valeria. Ia sengaja tidak menyebutkan alamat lengkap agar terdengar kurang tahu persis dan lugu. Selama perjalanan, Valeria menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi, pusat-pusat perbelanjaan, butik-butik mewah yang dulu sering ia kunjungi, semua terasa asing sekarang. Ia adalah Ria, bukan lagi Valeria. Sosok itu sudah mati. Dulu ia menatap semua kemewahan itu dengan bangga, hasil dari kerja kerasnya. Sekarang ia melihatnya dengan rasa sakit, simbol dari dunia yang telah menolaknya. Ia tidak akan peduli lagi pada hal itu. Matanya hanya terpaku pada jalan, memusatkan fokus pada rumah Suryadi yang sebentar lagi akan menjadi penjara sekaligus panggung pertunjukannya. Perjalanan itu terasa sangat panjang. Detak jantungnya berdebar-debar seiring dengan setiap kilometer yang dilewati. Ia membayangkan apa yang akan ia hadapi. Liam yang mungkin masih rewel dan menolak. Adrian yang mungkin saja berpapasan dengannya secara tidak sengaja. Ethan yang dingin dan penuh curiga. Lingkungan yang sama sekali tidak ramah. Ia meraba kalung yang disembunyikannya di balik blus, kalung peninggalan ibunya, sebagai satu-satunya penenang. Akhirnya, taksi melambat. Di depan mata Valeria, menjulang gerbang tinggi yang dihiasi ukiran naga khas Suryadi. Gerbang itu dulu terasa megah dan ramah. Kini, terasa seperti gerbang penjara dengan janji kehancuran. Pintu-pintu mobilnya, seperti sebuah gerbang bagi Valeria untuk pergi dari kandang singa ini secara langsung. "Kita sudah sampai, Nona." Sopir taksi itu memarkir mobilnya beberapa meter dari gerbang utama. "Harus sedikit jalan kaki, gerbang ini hanya untuk mobil tamu." Valeria mengangguk. "Oh, iya Pak, terima kasih banyak ya," ucapnya, berusaha tetap bersikap ramah dan canggung. Ia membayar tarif taksi dengan uang tunai, menyisakan uang untuk keperluan darurat lain, lalu turun dari mobil. Angin semilir menyapa kulitnya, membisikkan bahaya yang mengintai. Ia berdiri di trotoar yang bersih, menatap gerbang raksasa itu. Di baliknya, taman hijau membentang luas, dan bangunan utama rumah Suryadi yang ikonik tampak agung namun penuh misteri dari kejauhan. Inilah dia. Kandang singa yang sebenarnya. Sarang musuh, tetapi juga tempat di mana keadilan harus ia rebut kembali. Sebuah rasa dingin menusuknya hingga tulang, namun diikuti oleh gelora api tekad yang membakar seluruh jiwanya. Valeria menarik napas sekali lagi, mengeratkan tas selempangnya yang usang, dan mulai melangkahkan kaki. Setiap langkahnya bukan lagi langkah wanita yang gentar, melainkan langkah seorang prajurit yang siap berperang. Ini adalah permulaan yang sesungguhnya. Ria melangkah maju.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Sangat baguss ceritanyaa🥰
02/05
0bagus banget
19/04
0ceritanya menarik utk dibaca
12/04
0Xem tất cả