logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 5 Iklan penyelamat atau jebakan?

Bab 5: Iklan Penyelamat atau Jebakan?
"Papa sudah tidur?" Valeria bergumam, suaranya pelan di tengah kesunyian rumah kecil itu. Ia menuruni anak tangga, menuju dapur. Setelah menyelimuti ayahnya semalam, ia tidak bisa tidur sama sekali. Otaknya terus bekerja, menganalisis situasi. Matahari pagi sudah mulai menyusup dari sela tirai, namun ia sudah memegang ponselnya sejak berjam-jam lalu. Halaman iklan lowongan pekerjaan itu terpampang jelas di layar.
Ia melangkah perlahan ke arah meja makan, menaruh ponselnya di sana. Ayahnya pasti lelah setelah kaget dengan berita itu semalam. Biar ia istirahat dulu.
"Gaji 50 juta rupiah per bulan, akomodasi disediakan di kediaman utama Suryadi, tunjangan kesehatan..." Valeria membaca detail iklan itu dengan nada dingin. Setiap kata adalah jaring emas yang memanggilnya sekaligus benang jebakan yang mengancam. "Hanya untuk menjadi pengasuh bagi Tuan Liam Suryadi."
Langkah kaki Papa Danu yang berat terdengar dari kamar. Pria tua itu muncul, wajahnya masih pucat, namun tatapannya lebih waspada. Ia sudah mengenakan pakaian rumahan.
"Valeria, Nak. Kamu tidak tidur semalaman?" tanya Papa Danu khawatir, menghampiri meja makan dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Valeria. Ia menatap layar ponsel Valeria yang menampilkan iklan.
Valeria mengangkat pandangannya. "Bagaimana aku bisa tidur, Pa? Hidupku sudah jungkir balik. Papa butuh obat, aku butuh uang. Dan mereka," tangannya mengepal, "Mereka harus membayar."
"Iklan itu lagi?" Papa Danu mendesah. "Valeria, itu terlalu berbahaya. Adrian di sana. Rumah itu terlalu besar, tapi bukan berarti kamu tidak akan berpapasan dengannya. Kalau dia tahu siapa kamu, apa yang akan terjadi?"
"Itulah risikonya, Pa." Valeria menarik ponsel itu, memutar layarnya agar ayahnya bisa melihat. "Tugasnya menjaga Liam. Aku sayang sekali dengan Liam. Setidaknya itu bisa melindungiku sementara, kan? Liam butuh figur ibu."
"Dan kamu akan berpura-pura menjadi pengasuh biasa?" Papa Danu menggeleng tidak percaya. "Valeria, wajahmu sudah terlalu dikenal. Berita itu disebar di mana-mana. Majalah, koran, media sosial. Bahkan mungkin pelayan di sana mengenali kamu. Kecantikanmu tidak bisa ditutupi dengan mudah."
Valeria menyeringai. Ada perhitungan di balik matanya. "Aku tidak akan masuk sebagai Valeria yang dulu, Pa. Tidak ada lagi desainer interior Valeria. Tidak ada lagi wanita polos yang jatuh cinta pada Adrian. Aku akan masuk sebagai Ria. Pelayan biasa. Pengasuh anak."
"Ria?" Papa Danu mengerutkan kening. "Lalu, bagaimana kamu akan menutupi identitasmu, Nak? Suaramu, gerak-gerikmu, caramu berbicara."
"Wajah." Valeria mengetuk-ngetuk dagunya. "Mungkin kacamata tebal dan besar. Rambut dikuncir kaku. Pakaian sederhana, bukan gaun yang biasanya kupakai. Aku harus tampil seramah mungkin di hadapan Liam, namun sedingin mungkin di hadapan orang lain. Aku harus menciptakan tembok tak terlihat yang menjauhkan semua orang dari pikiranku. Membuat diriku tampak biasa saja."
"Kedengarannya seperti menyamar." Papa Danu meneguk air putih hangat yang sudah disiapkan Valeria. "Itu sangat melelahkan, Nak. Setiap hari, setiap saat, kamu harus menipu semua orang di sana."
"Lebih lelah lagi kalau Papa jatuh sakit lebih parah, lalu aku tidak punya uang untuk mengobati Papa." Valeria menatap ayahnya lekat. "Atau melihat Adrian dan Saras bahagia menari-nari di atas kehancuran kita. Ini bukan soal lelah lagi, Pa. Ini soal harga diri."
"Lalu Liam? Bagaimana dengan anak itu?" tanya Papa Danu. "Liam tidak pernah tahu apa-apa. Kamu justru masuk untuk menjadi 'ibu' palsu di kehidupan palsu."
Valeria merasakan sengatan di hatinya. "Liam adalah korban dari ketidakpedulian ibunya dan trauma yang ditanamkan. Adrian sendiri bahkan tidak begitu peduli padanya. Aku sudah lama menyayangi Liam, Pa. Dialah alasanku tidak bisa langsung menyeret Adrian ke meja hukum. Adrian bilang, aku tidak boleh mendekati Liam lagi."
"Justru itu bisa menjadi salah satu cara." Papa Danu tersenyum tipis, memahami putrinya. "Liam pasti akan sangat bahagia punya kamu lagi. Meski dalam wujud yang berbeda."
"Dan itulah yang akan membuat Adrian jengkel, bukan?" Valeria mengamati pantulan dirinya di cangkir. Ia akan menghapus setiap jejak Valeria di sana. "Dia mengatakan jangan mendekati Liam. Itu berarti, jika aku kembali, dan justru Liam semakin melekat padaku, dia pasti akan merasa tidak nyaman."
"Iya, Adrian punya banyak kelemahan di sana, termasuk keponakanmu." Papa Danu mengangguk. "Bagaimana dengan caramu berbicara? Pengetahuanmu sebagai desainer dan pendidikanmu sangat jelas berbeda dari kebanyakan pelayan."
"Aku harus membiasakan diri bicara seadanya, Pa." Valeria meraih kertas dan pulpen. "Aku akan berlatih setiap hari. Mencari pakaian sederhana, dan belajar menjadi sosok yang sangat tidak menarik, sama sekali tidak menarik perhatian Adrian. Agar dia tidak curiga, dia hanya akan menganggapku pengasuh culun dan tidak tahu apa-apa. Biar dia lengah."
"Sulit sekali dipercaya," Papa Danu bergumam. "Valeria, kamu tahu kan risikonya. Jika dia tahu... dia bisa memutarbalikkan fakta, menuduhmu sebagai penguntit, bahkan memasukkanmu ke penjara. Lalu siapa yang akan merawat Papa?"
"Itu tidak akan terjadi." Valeria berbicara dengan penuh keyakinan. "Adrian bukan tipe pria pemberani. Dia pengecut dan licik. Dia hanya berani di belakang. Tapi aku tahu persis, dia menyimpan semua bukti tindakannya di tempat paling aman baginya. Entah di paviliun, atau di perusahaan."
"Kamu akan mencari bukti saat di sana?" mata Papa Danu membelalak. "Valeria, itu sangat sangat sangat berbahaya. Ada cctv. Ada banyak orang."
"Ada Liam, Pa." Valeria menekan telapak tangannya di meja. "Anak-anak polos seperti Liam akan menjadi perisaiku. Ethan juga. Setidaknya ia adalah sosok lurus yang bisa jadi penolong, mungkin bukan disadari, tapi bisa kumanfaatkan di waktu genting nanti."
"Ethan? Pria dingin itu? Kurasa kamu jangan berharap terlalu banyak padanya, Nak." Papa Danu menggeleng. "Dia tidak punya hati untuk urusan perasaan, kecuali untuk Liam. Tapi soalmu? Ia mungkin akan setuju Adrian. Ia kan kakak tirinya."
"Aku tahu, Pa." Valeria mengangguk, sorot matanya tajam. "Tapi di dalam hati kecilku, ia juga menjadi jembatan agar aku masuk ke kehidupan Adrian lebih dalam lagi. Ethan sangat membenci wanita, itu akan membuatku mudah menyelinap masuk dan tak terlihat sebagai pengancam dirinya. Ia justru akan lengah. Dengan begitu aku tidak akan menarik perhatian Ethan Suryadi yang kaku itu."
"Aku tidak suka ide ini." Papa Danu menopang dagunya. "Tapi aku tahu kamu sudah memutuskan. Aku tidak bisa melarang anak Papa yang sudah tumbuh dewasa dan kuat ini." Ia menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Kalau itu yang harus kamu lakukan untuk kita, lakukanlah. Tapi berhati-hatilah selalu, Nak. Setiap langkah. Setiap kata. Setiap tatapan. Mereka bukan tandingan orang lurus seperti kamu."
Valeria berdiri, mendekat ke ayahnya, dan memeluknya erat. "Aku bukan lagi Valeria yang lurus, Pa. Aku sudah patah. Patah hati, patah harapan. Tapi tidak untuk ambisi. Kali ini, ambisi itu untuk menyelamatkan Papa, menyelamatkan namaku, dan menyeret Adrian serta Saras ke lubang neraka yang sudah mereka siapkan untukku."
"Sakit Papa sekarang jadi lebih baik sedikit karena kamu." Papa Danu mengelus punggung putrinya. "Itu janji Adrian padamu, ya?"
"Bukan, Pa. Itu ancaman dan kebodohan Adrian sendiri," jelas Valeria. "Saat itu ia marah besar aku ingin mengambil Liam, kemudian dia bicara omong kosong saat di acara. Dia bilang padaku, 'Jangan pernah kembali ke rumah ini, Valeria. Dan jangan berani mendekati Liam lagi. Kamu bukan ibunya.' Jadi, itu artinya," Valeria menarik diri dari pelukan, tersenyum sinis, "Aku boleh masuk asal tidak mengaku sebagai ibunya Liam."
Papa Danu menggelengkan kepala, mencoba memahami logika putrinya. "Adrian memang terlalu sombong dan bodoh."
"Dia terlalu yakin dirinya di atas angin, Pa," Valeria menambahkan. "Dan itulah kelemahan fatalnya. Semalam, aku memikirkannya baik-baik. Kalaupun Adrian mengenaliku, itu bukan masalah besar. Apa yang akan dia lakukan? Dia tidak bisa tiba-tiba menyeretku ke penjara tanpa alasan yang jelas."
"Tapi bukankah dia sudah menuduhmu, nak?" tanya Papa Danu.
"Itu hanya di publik, bukan di meja hijau yang valid," jelas Valeria. "Lagipula, sekarang ada yang baru yang perlu aku perhatikan dari Ethan Suryadi. Warisan yang sudah kujanjikan Kakek Suryadi." Valeria menjilat bibirnya, kering. "Adrian adalah cucu tiri Kakek Suryadi. Dia tidak punya hak. Sedangkan Kakek Suryadi membuat kesepakatan besar-besaran untuk mewariskan bagian usahanya ke keturunan rekan-rekan bisnisnya. Yaitu salah satunya Kakekku."
"Lalu?" tanya Papa Danu lagi.
"Itu berarti bagian dari kepemilikan saham itu adalah hak mutlakku dari awal. Itulah intinya. Adrian tahu itu. Karena itulah ia ingin memusnahkanku sebelum aku benar-benar mendapatkan hak itu," terang Valeria, mengepalkan tangannya di udara. "Jadi di sinilah letak kuncinya, Pa. Aku tidak bisa mundur. Ini bukan hanya untuk Papa, ini untuk Kakekku, untuk martabat kita. Sekaligus membersihkan namaku di hadapan Suryadi Group dan dunia desain."
Papa Danu menarik napas panjang. "Baiklah, Nak. Aku tidak bisa menahanmu lagi. Jika itu sudah keputusanmu, maka ikuti kata hatimu. Papa akan selalu mendoakan dan mendukungmu dari sini. Jaga diri baik-baik."
"Aku akan, Pa." Valeria mengangguk, hatinya kini terasa lebih tenang. Ia sudah menemukan tujuan. Tekadnya sudah bulat. Iklan itu memang sebuah penyelamat. Sebuah jalan masuk ke inti neraka, yang juga merupakan jalan menuju pembalasan.
Valeria melirik jam di dinding. Pukul sembilan pagi. Masih ada waktu sebelum jadwal wawancara yang tertera di iklan. Ia segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Wajahnya yang kuyu menatap pantulannya di cermin. Bekas air mata, garis lelah, dan kesedihan yang mendalam. Ia mengangkat tangannya, menyentuh bayangannya. Tidak ada lagi wanita rapuh ini.
"Kau akan menghilang," bisiknya pada bayangan itu. "Valeria mati. Ria lahir."
Ia mulai membuka rambutnya yang sudah semrawut, mencuci mukanya dengan sabun yang ada. Mencari bedak sederhana Papa Danu yang selalu diletakkan di lemari. Ia tidak butuh riasan tebal lagi. Ia tidak ingin tampil menarik. Matanya menyapu deretan pakaian yang sudah usang di lemari Papa Danu. Kemeja kebesaran, celana bahan yang longgar. Itu sempurna. Ia perlu mengubah gestur, intonasi suara, dan bahkan cara ia tersenyum. Semuanya akan ia latih dalam waktu singkat. Ini akan menjadi pertunjukan terbesarnya. Dan panggungnya adalah rumah Suryadi. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Adrian atau siapapun merusak pertunjukannya. Dendam membakar. Pengorbanan ayahnya akan dibalas. Kebahagiaan Liam adalah perisaiku. Itu semua menjadi sumpah mati bagi Ria yang baru lahir.
"Sekarang." Ia berkata pada dirinya sendiri di cermin, meraih sikat rambut yang sudah usang. "Kita akan mulai bekerja." Dia akan melakukan itu, untuk Papa.

Bình Luận Sách (3)

  • avatar
    L Uniii

    Sangat baguss ceritanyaa🥰

    02/05

      0
  • avatar
    Ridho Asg

    bagus banget

    19/04

      0
  • avatar
    S.Sohifah Widyafitri

    ceritanya menarik utk dibaca

    12/04

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất