Trang Chủ/Aku Kembali sebagai Ibu untuk Anak Duda Beku itu!/
Chương 3 Kejatuhan Valeria
Bab 3: Kejatuhan Valeria "Sudah berapa lama ini berlangsung?" Valeria bergumam, suaranya parau karena menangis dan basah kuyup. Jemarinya kedinginan, menekan bel unit apartemennya sendiri berulang kali. Tidak ada sahutan. Hujan masih turun deras di luar, namun ia kini berada di lorong koridor yang terasa dingin dan pengap, jauh dari kemewahan pesta pertunangannya beberapa jam lalu. Pintu apartemen itu tertutup rapat, terasa lebih kokoh dari sebelumnya. Seperti gerbang yang baru saja mengusirnya dari seluruh kehidupannya. Tas jinjing kecil yang berisi sedikit barangnya terasa membebani tangannya yang gemetar. Ponselnya basah, untungnya masih menyala. Ia meraihnya, menekan nomor kontak sahabat terbaiknya, Tania. Jantungnya berdebar kencang. Setidaknya, Tania pasti akan percaya padanya. Akan membantunya. Satu dering. Dua dering. Tiga dering. Akhirnya, sebuah suara terdengar. "Halo," suara Tania dingin, tak seperti biasa. "Tania, syukurlah kamu mengangkat teleponku," ucap Valeria buru-buru, napasnya tersengal. "Kamu di mana? Kamu melihat semua itu? Aku bersumpah itu fitnah, Tania. Adrian dan Saras menjebakku." Hening sejenak. Hanya suara isakan napas Valeria yang mengisi udara. "Aku tahu, Valeria," jawab Tania, suaranya tanpa emosi. "Aku di sana. Aku melihatnya. Semua bukti." Hati Valeria mencelos. "Tidak mungkin, Tania! Kamu sahabatku. Kamu seharusnya percaya padaku." "Bagaimana aku bisa percaya, Valeria?" Tania balik bertanya, ada nada tuduhan dalam suaranya. "Semua orang melihat transfer puluhan miliar itu. Semua orang mendengar rekaman teleponmu dengan perancang-perancang itu." "Itu semua palsu!" Valeria berteriak frustasi, tidak peduli suaranya akan membangunkan penghuni lain. "Aku tidak pernah melakukannya! Adrian yang menjebakku!" "Cukup, Valeria." Suara Tania semakin keras, sarat kejengkelan. "Jangan bersikap naif. Aku kecewa padamu. Aku benar-benar tidak menyangka. Sejak kapan kamu menjadi seorang pencuri seperti itu?" "Tania, apa maksudmu?" Mata Valeria memanas. Ia tidak mengerti mengapa bahkan sahabatnya sendiri menuduhnya. "Keluargaku akan rugi besar kalau terlibat denganmu. Klien-klien kita. Perusahaanku," kata Tania tegas. "Maaf, aku tidak bisa membantumu. Jaga diri. Aku akan memberitahukan ke pihak administrasi bahwa aku tidak punya hubungan lagi dengan proyekmu." Tut. Sambungan terputus. Valeria berdiri membeku, ponselnya nyaris jatuh dari tangan. Bahkan sahabatnya. Tania. Orang yang selalu bersamanya. Menyangkalnya. Semua orang. Semua dunia. Menolaknya. Ia mencobanya lagi, nomor klien penting yang selama ini ia jalin relasi baik. Berkali-kali, dering yang sama, akhirnya berujung pada pesan suara atau jawaban dingin dari asisten. "Nona Valeria, pihak kami membatalkan seluruh proyek." "Terima kasih atas kerja sama Anda selama ini. Sayangnya, kontrak kami terpaksa kami putuskan." "Kami mendengar kabar mengenai Anda. Maaf, kami tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini." Suara-suara itu seperti ribuan pisau kecil yang menusuk satu per satu sisa harga dirinya. Valeria menjatuhkan diri di depan pintu apartemennya. Kaki dan tangannya terasa dingin sekali. Di mana ia akan tidur malam ini? Ke mana ia harus pergi? Petugas keamanan gedung, Pak Hadi, muncul di ujung koridor, berjalan mendekat dengan tatapan tidak nyaman. "Nona Valeria, ada apa?" Valeria mendongak, matanya sembap. "Pak Hadi, pintu apartemen saya kenapa? Saya tidak bisa masuk." Pak Hadi menggaruk belakang kepalanya. "Maaf, Nona. Ada perintah dari manajemen. Apartemen Anda disita." Jantung Valeria serasa berhenti berdetak. "Disita? Apa maksud Anda? Atas dasar apa?" "Terkait dengan utang Anda kepada Suryadi Group, Nona." Pak Hadi membuang muka. "Ada surat perintah penyitaan dari pengadilan, sudah ditempel di pintu." Ia menunjuk selembar kertas yang memang kini terpampang jelas di ambang pintu, tertulis nama Suryadi Group sebagai penggugat, dan namanya sebagai tergugat, serta sejumlah angka gila yang menunjukkan nominal hutang yang diklaim akibat fitnah itu. "Katanya ada uang perusahaan yang Anda pakai untuk membeli apartemen ini." "Apa? Ini bohong! Apartemen ini saya beli sendiri!" teriak Valeria. Air matanya kembali tumpah, bukan lagi isak tangis, melainkan ratapan kemarahan. "Maaf, Nona. Saya tidak tahu menahu. Saya hanya menjalankan tugas." Pak Hadi menunjuk lift. "Sebaiknya Anda segera pergi sebelum saya harus memanggil polisi." Valeria tidak membantah. Apa gunanya? Semua seolah sudah diatur. Setiap sudut dunia berkonspirasi untuk mengenyahkannya. Dengan berat hati, ia bangkit, memeluk kotak basah berisi kenangannya, dan melangkah lesu menuju lift. Lampu di dalam lift terasa terlalu terang, mencerminkan wajahnya yang tampak menyedihkan. Ketika ia keluar dari gedung, hujan sudah sedikit reda, berubah menjadi gerimis dingin. Ia menarik napas dalam-dalam. Ke mana lagi ia akan pergi? Ia meraih ponselnya lagi, mencari aplikasi bank. Saldo nol. Kartu kredit ditolak. Semua dibekukan. Adrián benar-benar memastikan ia kehilangan segalanya. Dingin menusuk hingga tulang, namun otaknya mulai berputar. Rumahnya disita, banknya dibekukan, sahabatnya memunggunginya, klien-kliennya membatalkan semua proyek, dan yang lebih buruk lagi, reputasinya hancur lebur di mata publik. Media daring, majalah gosip, semuanya sibuk menyiarkan "Skandal Desainer Cantik Pengkhianat". Namanya, Valeria, kini sinonim dengan pengkhianat dan pencuri. Seluruh impiannya hancur. Karier yang dibangunnya dengan susah payah lenyap begitu saja, tinggal puing-puing. Ia berhenti di depan sebuah kios surat kabar yang masih buka, melirik halaman depan koran utama. Gambarnya terpampang jelas di sana, disandingkan dengan foto Adrian yang tampak murung dan sedih—akting luar biasa. Judul berita itu sungguh menyakitkan: "Kecantikan Menipu: Desainer Valeria Terbukti Korupsi Miliaran, Keluarga Suryadi Terkejut!" Ia bisa mendengar bisikan orang-orang di sekelilingnya saat membaca koran, melontarkan cacian, jijik, atau kasihan semu. Hatinya seperti diiris sembilu. Sebuah bayangan hitam tiba-tiba mendekat, menawarinya payung. Itu sopir taksi langganannya, Pak Bambang. "Nona Valeria? Ya ampun, apa yang terjadi?" Pak Bambang tampak terkejut. "Saya membaca berita, tapi ini..." Ia menunjuk ke arah Valeria yang basah kuyup. "Ini sungguh mengerikan." "Pak Bambang," suara Valeria nyaris tak terdengar. Ia melihat ada secercah kepedulian di mata pria paruh baya itu. "Bawa saya pulang. Ke rumah ayah." Pak Bambang mengangguk sedih. "Mari, Nona. Masuk." Perjalanan terasa sunyi dan panjang. Air matanya mengering, terganti oleh bara api di dadanya. Dendam mulai tumbuh, membakar setiap sel di tubuhnya. Ia sudah tahu rumahnya akan disita, ia sudah menduga banknya akan dibekukan, namun reaksi Adrian terhadap wasiat kakeknya membuatnya bertanya-tanya. Wasiat yang akan memberikannya sebagian saham Suryadi Group—seperti kesepakatan bisnis di masa lalu—benar-benar menjadi momok Adrian. Adrian tidak pernah peduli cinta atau reputasi. Yang ia inginkan adalah uang dan kekuasaan mutlak. Ayahnya, Papa Danu, tinggal di rumah kecil warisan di pinggir kota. Ia harus menjauhkannya dari segala kekacauan ini. Tetapi sekarang, tidak ada lagi uang untuk menyewa apartemen mewah atau mendatangkan asisten pribadi. Ia kehilangan semua aset dan klien yang sudah ia kumpulkan bertahun-tahun. Desainer terkenal Valeria sudah mati. Yang tersisa hanyalah seorang wanita tanpa tempat tujuan, tanpa nama baik, tanpa masa depan yang terlihat. Saat taksi melaju di jalanan basah, Valeria menatap ke luar jendela. Langit tampak begitu gelap, seperti bayangan yang mengikuti hidupnya. Dulu, ia selalu melihat bintang, melihat masa depan cerah. Sekarang, ia hanya melihat kegelapan, lubang yang tak berdasar. Bagaimana ia bisa keluar dari sana? "Nona, kita sudah sampai." Pak Bambang menoleh, ekspresinya prihatin. "Maaf, ini uang yang Bapak pesan." Ia menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada Valeria. "Uang apa, Pak Bambang?" Valeria bingung. "Tadi, saat Bapak mencari Anda ke apartemen, Bapak Danu menelepon saya. Beliau bilang, kalau saya bertemu Anda dan Anda membutuhkan uang, ini ada sedikit simpanan beliau." Pak Bambang tersenyum tipis. "Beliau sangat khawatir." Air mata Valeria kembali tumpah. Bukan lagi karena marah atau sedih akan Adrian, tapi karena rasa haru pada ayahnya. Dalam kekacauan ini, hanya ayahnya yang masih mempercayainya, yang masih peduli. Hati Valeria menghangat, namun sekaligus tersayat perih. Ayahnya tidak boleh ikut hancur. Ia turun dari taksi. Di depan rumah kecil itu, taman yang dulu rapi kini terlihat sedikit layu karena ia tidak punya waktu mengurusnya. Ini semua ulah Adrian. Ia bersumpah akan membuat Adrian membayar semuanya. Membuat Saras menyesal karena telah ikut menghinanya. Ia memeluk kotak basah itu erat, darah di jarinya masih terasa perih, mengingatkannya akan sebuah kecerobohan kecil yang telah memicu kejatuhan raksasanya. Ini bukanlah akhir bagi Valeria, melainkan api baru untuk misi pembalasannya. Semangat itu menyala terang di dalam dadanya, menggantikan dingin yang menusuk. Ia bukan lagi Valeria yang polos. Ia adalah calon Ria yang baru. Ria yang akan menaklukkan badai.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Sangat baguss ceritanyaa🥰
02/05
0bagus banget
19/04
0ceritanya menarik utk dibaca
12/04
0Xem tất cả