“Daripada bengong tak guna, sebaiknya kau gunakan otakmu untuk menjalin kata-kata!” suara hati A meneriaki Pratnya yang telah berkali-kali menatap jeruji loket yang selalu menyisakan lubang seperti mata mengancam. “Aku sedang kehilangan kata-kata,” sahut suara hati B. “Tidak ada inspirasi untuk menulis.” “Tapi hatimu selalu berkata-kata.” “Hanya itu yang bisa menghiburku.” “Omong kosong, kamu hanya melarikan diri dari mimpi.” “Mimpi apa? Mimpi omong kosong ingin jadi penulis? Ah, terbanglah! Itu hanya cita-cita bocah ingusan yang tak mengerti apa itu hidup.” “Jadi apa arti hidup bagimu?” tanya suara hati A. “Hidup merupakan sekumpulan penderitaan, kekalahan dan kekecewaan.” “Kau sungguh manusia yang tak pandai bersyukur!” runtuk suara hati A keras. “Apa?” “Setidaknya kau masih bisa makan dengan tenang, setidaknya kau masih bisa berpakaian layak, bahkan kau pun punya ponsel terkini, demikian juga dengan penggunaan fasilitas wifi di tempat kerja yang bisa menghemat kuota data. Apalagi yang tidak bisa kau syukuri dari itu semua?” “Aku tidak bisa hidup seperti impianku dulu,” balas suara B masih bisa berkelit. “Oh ya? Kau sendiri yang membuangnya, bukan?” “Keadaan yang membuangnya.” “Kau sama sekali tidak punya motivasi.” “Seandainya aku ini seorang penulis terkenal, punya karya fenomenal dan kaya raya seperti J.K Rowling.” “Kau sungguh hanya pandai bermimpi.” “Begitulah,” “Bukan begitulah, ayo wujudkan mimpi itu. Menulis mulai sekarang!” seru suara A dengan menggebu. “Apa yang mau aku tulis?” “Semua bentuk khayalan yang berkeliaran di kepalamu, tentu.” “Bisakah aku?” Pratnya tertunduk lunglai. Gerak selanjutnya dia mulai membuka menu word pada layar monitor di depan. Kelip krusor masih menanti huruf yang akan muncul di sana. Tapi jemari Pratnya sama sekali belum mengetuk satu huruf pun. “Assalamualaikum!” Sebuah suara memecah konsentrasi Pratnya, mungkin tepatnya lamunan Pratnya. “Ada apa?” toleh Pratnya tak mau berbasa-basi lama pada si pemilik suara. Seorang gadis dengan rambut panjang tergerai liar mengerucutkan mulutnya. “Kak Anya sedang ngapain di sini? Sedang tidak ada yang bayar, kan? Kenapa nggak keluar menemani aku.” rengek Dyah Ayu, nama gadis yang usianya jauh lebih muda dari Pratnya. Dan sikap manjanya itu sangat tidak disukai oleh Pratnya. “Orang-orang pada kemana?” tanya Pratnya. “Pak Hasan dan Pak Sono ke dinas pendidikan. Bu Hening dan Bu Ranti ke bank, terus Pak Adi dan Pak Trio entah ngilang kemana. Bu Rana tadi pamit mau sarapan ke kantin. Tinggal aku sendirian di sana.” terang Dyah Ayu yang masih berdiri di ambang pintu, menyandar pada kusen pintu. Pratnya mengangguk lalu mulai memetakan urusan dari masing-masing personal awak TU. Pak Sono yang mengurusi kepegawaian sepertinya sedang setor SKP_Sasaran Kerja Pegawai, Pak Hasan sebagai Kasubag Tata Usaha nampaknya menemani bila ada pertanyaan dari orang cabang dinas. Lalu Bu Hening, bendahara gaji dan SPP pastilah sedang menyetor rincian potongan gaji ke bank. Kalau Bu Ranti, bendahara BOS bisa jadi mengambil dana tersebut untuk menopang kehidupan sekolah. Adapun Pak Adi dan Pak Trio, duo honorer yang bertugas membantu keuangan dan satunya membantu kesiswaan memang jarang meletakkan pantat di kursi mereka kecuali jika ada pekerjaan. Entahlah, kenapa mereka tidak suka duduk di tempatnya. Mungkin kursi mereka panas, atau ada paku yang mencuat di sana. Sementara Bu Rana, seorang bendahara barang yang tambun. Sudah pasti tak bisa menahan perutnya yang selalu kelaparan. Untuk Dyah Ayu, si anak baru, yang masuk ke SMA bersamaan dengan Reki mendapat tugas sebagai agendaris. Mengurusi surat-menyurat dan pengarsipan dokumen. Sebenarnya masih ada beberapa personel tata usaha lagi. Namun tempat duduk mereka bukan di kantor TU. Seperti petugas perpustakaan Bu Naning dan Pak Ridwan. Lalu pembantu kurikulum Pak Naswan yang lebih sering sibuk di ruang kurikulum. Adalagi Pak Fendi penjaga gudang, bertugas mengurusi peralatan dan perlengkapan sekolah. Dan, Mas Bandi driver sekolah yang lebih sering bersemayam di pos satpam. “Jadi pekerjaan Kak Anya cuma sebagai kasir pembayaran, ya?” tanya Dyah Ayu. Meski sudah dua bulan bekerja di tempat yang sama, namun antara Pratnya dan Dyah Ayu memang jarang berbincang secara personal. “Yah, semua bentuk pembayaran. Termasuk mengepul rapot. Anak-anak setelah menerima rapot, harus mengumpulkan lagi untuk diisi dengan lembar semester berikutnya.” terang Pratnya. “Sepertinya tidak terlalu sibuk. yah, kayak aku, tiap hari ada surat masuk dan harus bikin surat atau legalisir. Hari ini kebetulan lagi sepi kerjaan, jadi bisa main ke loket, deh.” kata-katanya melambai di akhir. Tanpa dipersilakan masuk, Dyah Ayu telah duduk di kursi yang kosong di samping meja sebelah kanan. “Tapi kantor kosong lho, kalau ada yang cari gimana?” Pratnya tidak mempedulikan komentar Dyah Ayu mengenai pekerjaannya yang terlihat santai. Meski kenyataannya kalau lagi banyak yang bayar dia sendiri sering kerepotan. Dia lebih peduli, pada perasaan tidak nyaman dengan kehadiran gadis manis manja grup ini. “Biarin. Nanti kalau ada yang memanggil, baru keluar. Hihi....” tawa Dyah Ayu sungguh mirip Mbak Kunti. “Terserahlah,” sahut Pratnya enggan berdebat. Lagipula, sejak awal pertemuan dengan Dyah Ayu, yang nama lengkapnya Raden Roro Dyah Ayu Prasetyorini, yang sering disingkat Rr. pada nama depannya, entah mengapa Pratnya merasa tidak cocok dengan gadis itu. Menurut Pratnya mereka seperti dua kutub magnet yang berlawanan namun tidak saling tarik-menarik. Dyah Ayu tipe gadis yang lembut, manja, ramah, suka bicara dan disukai banyak orang. Sangat berbeda dengan Pratnya yang tak suka banyak bicara, lebih senang menyendiri, dan tidak bisa berbasa-basi. “Aku tuh, lagi sebel sama pacar aku. Masa dia selalu sibuk sama pekerjaannya. Dia lebih mentingin pasiennya daripada aku. Ih, kalau menikah nanti gimana?” Tiba-tiba Dyah Ayu curhat. “Dokter?” “Iya, selain kerja di rumah sakit. Dia juga buka praktek bareng ayahnya. Pokoknya pulang kerja dia sudah kerja lagi di klinik praktek sendiri. Terus kapan dong waktunya buat aku?” “Demi masa depan cerah terjamin sejahtera tak apa, kan?” balas Pratnya. “Tapi,” aksi merajuknya tertampil sempurna. Hampir saja Pratnya muntah karenanya. Untung seseorang telah muncul di lubang loket. “Tumben berdua? Biasanya sendiri.” Lagi-lagi Reki nongol tanpa diundang. “Halo, Pak Reki!” salam hangat Dyah Ayu langsung menyerbu Reki. “Hai, Dyah Ayu. Kamu jangan nakali Bu Anya, ya.” ucapnya membuat Dyah Ayu manyun. “Masa aku nakal. Aku cuma curhat sama Kak Anya.” “Curhat apaan tuh?” “Soal pacar.” “Memang Bu Anya udah punya pacar?” tanya Reki memandang Pratnya yang sedari tadi melongo melihat percakapan renyah keduanya. “Belum sih,” sahut Pratnya terus terang. “Masa sih? Umur Kak Anya kelihatannya jauh dari aku, masa belum punya pacar?” Dyah Ayu menelaah Pratnya. Roman muka Pratnya berubah ungu. Dia merasa tersentil kata-kata Dyah Ayu. Akhirnya senyum ngilu tertampil untuk membalas pertanyaan tersebut. “Kalau saya belum menikah, saya mau jadi pacarnya.” ucap Reki tak terduga. “Oh ya, wah, suit suit. Beneran itu?” Dyah Ayu membelalakkan mata ke arah Reki. “Haha...” Reki tertawa. Matanya menghunus Pratnya yang wajahnya telah berganti warna merah jambu. “Bercanda,” selorohnya lalu berlalu begitu saja. “Yuk, ah!” Gejala Hiposekmia mencekik Pratnya. Sungguh saat itu juga dia perlu tabung oksigen untuk menyambung napasnya. “Ih, Pak Reki ada-ada aja, deh.” komentar Dyah Ayu selepas Reki berlalu. “Mm, tapi pandangan Pak Reki seperti beda, ya, sama Kak Anya.” “Beda apanya?” Pratnya langsung ingin menghalau pikiran buruk Dyah Ayu. “Jangan-jangan Pak Reki memang suka sama Kak Anya.” “Nggak mungkinlah. Dia sudah punya istri. Dan aku nggak mau jadi pelakor.” “Kak Anya suka juga sama Pak Reki?” buru Dyah Ayu tambah melantur. Duh nih anak! Seketika Pratnya ingin menggetok kepala Dyah Ayu pakai stempel ala kantor pos. “Hah? Dapat teori darimana?” “Mata kalian yang bicara.” Dyah Ayu mengatakan itu dengan penuh arti. Pratnya meneguk ludah. Apa iya, bisa ketahuan dari pancaran mata. Pasti Dyah Ayu cuma mengarang cerita. “Padahal istrinya sedang hamil muda. Kok bisa, ya, menggodai perempuan lain.” ucap Dyah Ayu sambil mengerutkan alisnya. “Kamu jangan mudah berprasangka buruk.” ucap Pratnya mengingatkan. “Kamu enggak tahu watak pasti seseorang, kan? Setahuku Pak Reki memang orangnya seperti itu, suka becanda kelewatan, kayak tadi.” “Kak Anya sepertinya tahu banyak tentang Pak Reki,” Pratnya memutar mata. “Dulu dia kakak kelasku sewaktu SMA.” Tak bisa bohong. “Pantas seperti ada sesuatu gitu.” cetus Dyah Ayu. “Sesuatu apa?” Pratnya merasa menyesal telah bilang tentang Reki di masa lalu, sebagai kakak kelasnya. “Sesuatu, yah, sesuatu...” Tawa menyeramkan Dyah Ayu menggema lagi membuat Pratnya merinding. Adakah itu suatu pertanda buruk?
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
baguss
14/04/2025
0ceritanyaa bagus bangett kakkk,, semangatt nulisnyaa😍😍
18/03/2025
1😍😍😍
03/12/2024
0Xem tất cả