Tatapan Pratnya kali ini lebih ceria. Masih setia menatap lubang setengah lingkaran di depan. Bibirnya menyabit ke atas membentuk lengkung tak seirama dengan mulut loket yang melengkung ke bawah. Apa pasal? Sebab tadi pagi Pratnya serasa sedang bermain dorama Jepang dan dipasangkan dengan Kamio Fuju. Itu tuh, bintang muda Jepang yang memiliki alis mata bak nyiur kelapa dari kejauhan. Seorang anak muda yang memiliki senyum air nira nan memabukkan. Lalu sorot matanya niscaya anak kucing tanpa dosa. Ah, sungguh melelehkan air liur. Tidak salah lagi. Cowok yang menolongnya tadi Kamio Fuju. Di kala Pratnya tengah kepayahan mendorong motor, secara tak terduga muncullah sang pahlawan. Kamio Fuju KW super secara tidak terduga menawarkan bantuan menyetut motor hingga POM bensin di terdekat. Malu tapi mau Pratnya jadinya. Bagaimana tidak malu kalau mendadak di tengah jalan dia kehabisan bensin. Kentara sekali miskin, atau mencirikan seorang perempuan yang teledor. Dengan mengesampingkan tengsin, Pratnya mengiyakan tawaran indah tersebut. Daripada sampai sekolah kebanjiran keringat. “Apakah ada takdir bagi kami untuk berjumpa lagi dalam tali perjodohan.” suara hati B menjadi biang keladi cetusan senyum Pratnya. “Hush, jangan mimpi. Segera turun ke bumi! Kenal aja enggak, dia hanya orang lewat acak yang kemungkinan bertemu kembali satu banding seribu.” banting suara hati A. “Tapi kemungkinan selalu ada, kan?” Pratnya semakin terbang tak terkendali. Dia sama sekali tak menyadari ada seseorang yang tengah berdiri depan loket. Memperhatikan muka pengennya yang sedikit menjijikkan. “Sepertinya kamu benar-benar naksir aku.” Sebuah suara berhasil menghempaskan diri Pratnya ke tempat duduknya. Pendaratan yang keras hingga memunculkan bekas memerah yang menjalar ke muka. “Apa?” Pratnya kaget melihat Reki kembali memergoki dirinya saat sedang tidak berada di alam nyata. “Bukan gitu maksud saya,” “Kamu sering ketahuan memperhatikanku. Seperti tadi.” “Ouh itu...” Pratnya baru menyadari kalau kebiasaannya asyik berkhayal, tanpa dapat mengontrol arah tatapan mata telah menyulut salah paham. “Aku sudah menikah lho,” tekan Reki. “Yes Sir,” hormat Pratnya pada guru Bahasa Inggris bernama Reki. Guru baru yang datang dua bulan lalu. Awal kedatangan Reki memang sempat menjadi sesuatu bagi Pratnya. Terkenang dia pada wajah tengil yang sewaktu SMA begitu dia damba. Muka bersenyum seorang kakak kelas yang selalu mampir untuknya. Sayang seribu sayang, Pratnya bertepuk sebelah tangan. Cinta Pratnya sebatas secret admirer yang bermimpi pacaran. Tahukah kau, kalau Pratnya sebenarnya hanya kege-eran karena mendapat senyuman dari kakak itu. Pada kenyataannya dia tidak hanya ramah pada dirinya. Kakak kelas bernama Reki Baehaki memang terkenal senantiasa menebar senyum pada setiap orang. Wajah bersenyum itu merupakan watak paten ramah sedari lahir. Pupus. Dan semakin pupus lagi kini, setelah tahu Reki telah berstatus double. Malah katanya hampir triple. Istrinya sedang hamil muda anak pertama mereka. “Jadi, tolong kondisikan hati agar tidak naksir aku lagi.” ucapnya meringis sambil berlalu. Pratnya menghembus nafas lega. Adegan berbahaya lagi-lagi menempeleng pikiran. Dan sudah pasti jantungnya selalu hampir menggelinding jatuh lalu tumbuh sayap dan terbang. Meski tahu Reki telah beristri, sepertinya tak menyurutkan diri Pratnya untuk menjadi seorang pengagum rahasia kembali. Tak dipungkiri kadang Pratnya masih suka memandangi Reki secara sadar dari balik loket yang menurutnya aman dari pandangan luar. Sungguh asli tanpa tedensi apapun. Tidak berharap apapun. Yah, hanya suka. Seperti sukanya penggemar pada sang artis idola. Lalu kejadian barusan merupakan salah satu jilid dari sebuah kecelakaan berantai. Matanya yang nakal tak sengaja menumbuk Reki meski pikirannya sedang bepergian ke Jepang. “Makanya jangan suka melihat orang secara intens!” tegur suara hati si A. “Mestinya kamu tahu, kalau maksudku bukan menjurus seperti itu. Tadi aku justru sedang memikirkan orang lain.” “Iya, tapi kamu punya kebiasaan buruk memperhatikan orang sangat lama. Itu tidak sopan tahu!” “Kalau soal itu, aku sedang melakukan observasi mengenai watak, kepribadian seseorang. Melakukan analisa mengenai kehidupannya. Yah, siapa tahu nanti dia bisa jadi salah satu tokoh dalam ceritaku. Tolong pahamkan itu!” bantah suara B. “Tapi enggak dengan tatapan melotot tak berkedip macam tadi.” “Hei, hei... yang barusan pengecualian. Sudah kubilang tadi aku sedang bersenang-senang dengan Kamio Fuju. Meski kenyataannya yang muncul di depan, suami orang yang kege-eran.” “Tapi kamu suka, kan?” “Meski aku bukan wanita berhati bidadari, tapi jangan sampai aku jadi pelakor.” “Baguslah, kalau begitu. Jadikan itu pegangan dalam langkah percintaan.” suara hati A nampaknya sedikit lega. Jam istirahat pertama berdentang. Pratnya lalu berusaha fokus pada para pelanggan yang akan membayar. Semoga tidak berjubelan. *** “Uhm, ganteng juga pacarmu.” tegur seseorang dari balik bahu Pratnya. Spontan Pratnya menoleh hampir berbenturan dengan wajah si penyapa. Segera Pratnya memundurkan tubuh, karena orang tersebut tak bergerak dari posisinya membungkuk. “Bukan, ini artis Jepang kok,” Pratnya tersenyum malu. “Namanya Kamio Fuju.” “Artis Jepang?” Pak Reki yang iseng mengintip smartphone Pratnya lalu mengambil tempat duduk di depan Pratnya. “Bukan Korea? Lee Min Ho?” Pratnya meletakkan HP lalu mencoba konsentrasi pada gado-gado yang masih setengah piring. Matanya sempat mengitari sekeliling. Sepi, cuma mereka berdua yang berjuluk pelanggan. Kantin sekolah memang sepi pada jam pelajaran. Kesempatan itulah yang Pratnya pakai untuk beristirahat sholat dan makan siang. Tahu, kan. Pratnya justru harus bekerja dalam arti sebenarnya, pada saat jam istirahat siswa dan guru. “Saya lebih suka drama Jepang.” “Kok lain dari pada yang lain?” “Karena drama Jepang memang suka lain dari yang lain.” sahut Pratnya. “Banyak pesan humanis terselip.” “Bukan karena pemainnya? Padahal istriku nge-fans banget sama Lee Min Ho. Setiap ada drama dia yang main selalu ditonton.” “Entah kenapa saya tidak suka dengan penampilan yang terlalu kinclong. Menurut saya, pemain drama Jepang punya wajah yang lebih natural.” “Anti mainstream rupanya. Bagaimana denganku?” “Maksudnya?” “Termasuk yang alami atau kinclong?” tunjuk Reki pada diri sendiri. “Wah, itu saya enggak bisa jawab.” Pratnya menekuni sajian dari piringnya. “Tapi aku ingin tahu?” “Untuk apa?” Pratnya menegakkan kepala memandang Reki dengan kening sedikit mengerut. “Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya kamu masih suka aku, kan?” Mendadak Pratnya keseretan. Tangannya segera meraih gelas air mineral dan menyedotnya dalam-dalam. “Dulu sewaktu SMA kamu suka padaku. Maksudku itu, bukan waktu sekarang.” “Tahu darimana?” gantian Pratnya yang penasaran dengan nada ingin bertahan. “Aku enggak buta, gerak-gerik kamu selalu aneh dan tak terduga. Seperti salah tingkah, atau jadi bersemu merah. Bukankah itu indikasi cinta?” “Pak Reki salah mengenali orang, barangkali?” “Kamu Anonymos dengan puisi Secret Admirer?” Pratnya terhenyak, bagaimana Reki bisa tahu tentang hal itu. “Kamu lupa atau tidak tahu. Aku dulu tim redaksi mading sekolah?” “Benarkah? Soal puisi itu, mungkin Pak Reki salah paham.” elak Pratnya. “Tapi puisimu menjurus padaku. Anak satu sekolah yang memakai tas dan sepatu dengan merek sama waktu itu cuma aku.” “Apa Pak Reki tidak terlalu kege-eran, yah?” Pratnya merasa gerah dengan cecaran kisah masa lalunya yang terbilang cupu. “Baiklah, tapi kamu Anonymos itu?” “Mungkin, saya lupa. Ngomong-ngomong, Pak Reki nggak mengajar?” Pratnya menyetir arah obrolan. “Jam terakhir kosong. Mau pulang duluan jelas nggak mungkin, harus patuh absensi sekarang. Daripada bengong di kantor yang kosong, mending kemari. Ternyata ketemu Bu Anya.” tawa Reki bergulung-gulung. Pratnya mendadak mau muntah. Ketegangan yang terpicu perkara hati selalu membuat pencernaan Pratnya bermasalah. Aneh memang. “Oh ya, rambut kamu masih panjang, lembut, legam bercahaya?” tanya Reki mengidentifikasi rambut Pratnya secara lengkap mirip pengiklan sampo. “Itu rahasia.” sahut Pratnya yang kini memang telah mengenakan hijab. Rambut panjangnya jelas masih ada. Itu menjadi aset kecantikan Pratnya, yang bukan dari muka. “Dulu saya suka melihat rambut panjangmu itu.” Kalau saja Pratnya tidak bisa mengendalikan diri, dia pasti sudah jatuh berkali-kali. Melupakan logika dan bersedia menjadi wanita kedua bagi pria di depannya. “Hayo, yang lagi berduaan!” Bu Hening bertandang. “Hati-hati yang ketiga setan.” lanjutnya yang turun dari minimarket sekolah yang berdekatan dengan lapak gado-gado. Dia habis membeli teh botol. “Berarti setannya Bu Hening, dong.” balas Reki tertawa gembira. “Waduh, kenapa saya jadi setan?” ujar Bu Hening. “Satu, dua,” Pak Reki menunjuk dirinya lalu Pratnya dan, “tiga.” terarah pada Bu Hening. “Ya deh, saya menyingkir.” selorohnya berangkat pergi. “Tunggu, Bu!” panggil Pratnya. “Kita balik bareng.” Pratnya melihat kesempatan untuk melarikan diri. Dengan tergesa menghampiri Bu Inah, penunggu lapak gado-gado. “Lah udahan?” tanya Bu Hening. “Sudah kenyang, Bu.” tanggap Pratnya seraya mengelus perutnya. “Mari Pak Reki, saya ke kantor dulu.” pamit Pratnya pada Reki yang menatapnya dengan roman tersia-sia. Lega rasanya bisa kabur dari tempat itu. Kedatangan Bu Hening menjadi momen yang membawanya bisa merdeka dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Yeah, sangat tepat waktu sebelum hatinya jatuh pada tempat yang tidak semestinya. *** Secret Admirer Senyum ramahnya menusuk jantungku berkali-kali Derap langkahnya menghiasi gendang telinga serupa kidung cinta Demikian pula aroma musk telah tega mencocok hidung untuk menciuminya Gerangan cinta apa? Hanya bisa menatap dalam dosa Wahai lelaki yang menuju utara Sudikah Engkau tak lagi memunggungi pijar selatan? teruntuk seseorang dengan tas dan sepatu senada #Anonymos
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
baguss
14/04/2025
0ceritanyaa bagus bangett kakkk,, semangatt nulisnyaa😍😍
18/03/2025
1😍😍😍
03/12/2024
0Xem tất cả