logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Hei, I'm Not Pelakor

Hei, I'm Not Pelakor

Xie Nur


Chương 1 Kerangkeng Imaji

Mendekam selama tiga tahun dibalik jeruji ternyata sangat tidak menyenangkan. Apa yang bisa kau lihat selain pagar jeruji yang tidak menjanjikan kebebasan. Atau terkadang kau hanya ingin mengintip dari lubang setengah lingkar yang selalu seakan menatap balik dengan bola mata tidak ada manis-manisnya. Bila mau bergeser satu langkah memang terdapat gerbang yang kadang terbuka. Namun bisakah dia keluar untuk selama-lamanya?
Jawabnya; tidak semudah itu Esmeralda! Tuan Baron selalu mengincar gerak-gerikmu. Dia tidak akan segan melibasmu dengan sindiran ‘mesra’. Lalu, akhirnya pasrah.
Bosan, pasti. Nelangsa, tidak terlalu sih. Penuh penyesalan, terkadang. Ingin keluar, belum bertemu cara mengelabui penjaga CCTV. Jadi yang bisa dilakukan setiap hari adalah meratapi. Ini bukan hidup yang kuingin.
“Hhh...” desah wanita itu kembali memantul dari sisi-sisi tembok yang pengap. 
“Apa? Ini dulu pilihanmu, kan?” suara hati A_atau singkatan dari ‘apik’ yang selalu positif sepertinya sebal mendengar bunyi desah yang terhempas.
“Tapi enggak gini juga, kali!” suara hati B_yang berarti ‘buruk’ produk dari pikiran negatif membalas.
“Kau sendiri yang melamar kemari. Tunggu, tepatnya kau merengek pada Ayah tirimu agar kau bisa berada di sini.”
“Oh, oke. Benar, aku yang ingin berada di sini. Tapi kupikir ini hanya untuk sementara selagi aku bertempur dengan mimpi yang sesungguhnya. Kenyataannya, bueh... aku malah seperti terdampar dan tak tahu jalan pulang. Tahu maksudku? Yeah, aku tak bisa lagi menari bebas dengan aneka kata lewat nada tuts dari keyboard.” si B tak mau kalah.
“Kalau begitu ini salah siapa? Salah Ayahmu yang berhasil meletakkan dirimu dalam kotak jeruji ini? Bukan sayang, ini bukan salahnya. Ini adalah pilihanmu. Dan kau harus bisa berdamai dengan itu.”
“Tapi aku sungguh merasa terjebak!” seru si B. “Ini sungguh tidak nyaman. Aku ingin bebas terbang. Haruskah aku menyelinap keluar?”
“Bila kau keluar, apa rasa Ayahmu nanti? Apakah dia tidak akan merasa sia-sia atas usahanya melakukan nepotisme ini?”
“Nah, itu pula dulu yang tidak aku sadari. Kupikir, aku cuma ingin menanyakan adakah lowongan pekerjaan. Tak disangka mereka langsung menerimaku, aku tak berpikir semua itu karena Ayah. Aku hanya berpikir mereka menerimaku karena memang butuh karyawan baru. Sungguh! Meski pada akhirnya aku mulai tidak menikmati pekerjaan ini.”
“Kamu sungguh manusia yang tidak pandai bersyukur.” si A mengecam.
“Apa yang harus aku syukuri? Gaji yang tak cukup untuk sekedar beli bedak? Tidak cukup untuk membeli bensin? Tak bisa untuk beli kuota data?”
“Setidaknya kau bekerja. Tidak berstatus pengangguran.”
“Pekerjaanku sekarang tidak beda dengan pengangguran.”
“Iya, kau banyak bengong tak guna!”
“Aku hanya berpikir, bukan bengong!”
“Sama aja.”
“Enggak!”
Stop!
Diri si wanita yang utuh menghentikan pertengkaran batin tersebut. Bolehkah sedikit meluruskan? Biar tidak pada bingung mengenai perdebatan dua kubu pikiran tersebut.
Baiklah,
Nama wanita galau itu; Pratnya. Lengkapnya Pratnya Angela. Umur dua puluh sembilan tahun pada sebulan yang lalu. Status; single jones. Pekerjaan; karyawan honorer. Lebih spesifik staf Tata Usaha dan bertugas menjadi tukang tagih bayaran SPP alias debt collector. Bahasa kerennya petugas loket pembayaran SPP siswa SMA Perwira.
Dari segi penampilan, di bawah rata-rata. Maksudnya hidung rata, dada rata dan pantat juga rata. Hal yang menarik dari Pratnya adalah matanya yang mirip ikan maskoki. Kulit jangan tanya, cokelat gula jawa. Masih beruntung cokelatnya gula jawa, jadi ada manisnya gitu. Bukan cokelat sawo matang yang kadang sepat.
Lalu kenapa sampai ada perang batin tersebut?
Hei kawan, pernahkah kau merasa kalau hidupmu terasa salah selama ini? Bukan bermaksud melawan takdir. Tapi, hidupmu sungguh menyimpang dari tujuan awal sebuah cita-cita.
Mari kita sejenak flashback masa-masa sekolah Pratnya dulu. Bocah bernama Pratnya yang bimbang. 
Begitu tahu otak kirinya kalah dari otak kanan, sehingga tidak mungkin jadi insinyur. Otak kanan terus mendominasi, mengajaknya terus bertamasya ke negeri imaji ciptaan sendiri. Nah, sejak itulah dia berkeinginan ingin menjadi seorang seperti Enid Blyton yang menciptakan Lima Sekawan, Robert Arthur. Jr perintis novel Trio Detektif, atau Hilman dengan Lupus-nya. Bahkan yang lebih ngeri ingin seperti N.H Dini bersama salah satu karya legendaris Pada Sebuah Kapal. Buku-buku lama yang dia lahap dari gudang rumah, tumpukan buku yang telah compang-camping oleh rayap. 
Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba Pratnya memproklamirkan diri ingin jadi penulis. Entah cerpenis atau novelis. Mencengangkan bukan!
Berkat ide ajaib tersebut, Pratnya jadi suka mendekam di perpustakaan. Membaca berbagai jenis genre novel. Dari novel ringan, hingga novel berat yang berjuluk sastra. Sesekali dia pun menulis puisi.  Meski berkoar ingin jadi penulis, tapi Pratnya belum berani menulis cerpen apalagi novel. Puisinya sesekali menempel pada majalah dinding sekolah. Itu cukup membanggakan.
Hingga suatu kali dia sering membaca majalah remaja. Dari situlah, ada keinginan untuk menulis cerpen. Semakin banyak cerpen yang ditulis, muncul ide mengirimkan ke majalah remaja yang biasa dia baca. Sayang seribu sayang, kawan. Cerpen yang dia kirim tak pernah mendarat pada lembar majalah itu. 
Sempat menyerah. Apalagi Pratnya gagal masuk fakultas keguruan prodi Bahasa Inggris. Ini akhirnya menjadi cita-cita sampingan. Dia mendapat ide ingin menjadi guru Bahasa Inggris mendasarkan pada saran Ayah tiri yang diamini oleh Mama. Ayah melihat potensi putri sambungnya di bidang bahasa asing tersebut. Pratnya setuju, karena pada dasarnya dia memang suka pada Bahasa Inggris. Sementara orang tua pasti ingin anaknya menjadi guru sebagai penerus pekerjaan mereka. Pratnya juga berpikir menjadi guru dan penulis bisa jadi kombinasi yang sempurna. Sejoli yang asyik. Mendaftarlah dia, mengikuti tes.
Namun apa yang terjadi, Pratnya justru terdampar di FISIPOL jurusan Administrasi Negara. Pratnya menjadi oleng. Semangat menulis memburam. Dia mulai sibuk ke sana kemari mengikuti berbagai kegiatan mahasiswa untuk menghibur diri. Sebagai ganti menulis cerpen, Pratnya rajin menulis diari. Diari berisi keluh kesah sehari-hari.
Pada akhirnya tugas akhir skripsi kembali menumbuhkan tunas baru dunia menulis Pratnya. Dia mulai menulis novel. Mencoba mengirim lagi, dan gagal berkali-kali.
Akankah dia menyerah?
Belum.
Selama enam bulan menganggur selepas wisuda, dia berhasil melahirkan enam novel. Deretan kisah yang tersemat dalam file laptop menjadi bacaan sendiri kala itu. Sesekali mengirim, lalu berakhir tanpa kabar balasan.
Pratnya menjadi lelah. Dalih pekerjaan di sekolah membuatnya kembali berhenti menguntai cerita. Dia hanya senang bercakap dalam pikiran dengan tatapan mata yang menghakimi jeruji besi berlapis kaca di depannya. 
”Hai!” sapa seseorang menghidupkan kembali mata Pratnya yang mengawang. Seorang pria bermata kecil, dengan kumis tipis manis telah bertengger di penampang luar lubang loketnya. Hidungnya yang panjang bercuping kecil kini terlihat sedikit melebar serasi dengan lengkungan bibir ala pepsodent. Ah, biarin ngiklan.
Rona merah serta merta menyergap pipi Pratnya. 
“Kamu masih naksir aku?” Dengan pe-de pria itu melontari Pratnya pertanyaan yang sudah pasti sukar untuk dijawab.
“Eng_gak lah,” sahut Pratnya tergagap.
“Dari tadi kamu terus liatin aku.”
“Oh ya?” Pratnya jadi teringat beberapa saat lalu memang matanya memandang keluar pada satu objek. Namun sejatinya dalam pikiran Pratnya yang hadir bukan proyeksi orang tersebut. Mata Pratnya kala itu sedang berpiknik ke suatu negeri antah berantah, sejalan dengan pikirannya.
“Hati-hati nanti kamu bisa jatuh cinta lagi sama aku.” ucapnya terus ngeloyor pergi. 
Pratnya mengerjapkan mata seolah baru bangun dari tidur. Rambut ikal pria itu melambai-lambai mengucapkan selamat tinggal dengan anggun.
Reki kini terlihat matang dan cemerlang. Bisik hati Pratnya.
Ya, iyalah, sudah ada yang merawatnya. Balas bisikan yang lain.
“Hhh... baiklah.”
***
“Bu, bayar!” Seorang anak menyodorkan kartu pembayaran melalui celah kaca setengah lingkaran. “Bu!” seru anak itu manakala Pratnya masih asyik berkelana dalam dunianya sendiri.
“Oh,” Pratnya terhenyak segera mengambil kartu berwarna hijau yang terulur padanya.
Dia segera memproses melalui komputer yang duduk manis di atas pangkuannya. Memberi kembalian lalu menyerahkan kartu tersebut pada anak yang setia menunggu di luar.
“Makasih, Bu.” ucap anak perempuan itu.
Pratnya mengangguk bersama seutas senyum tanggung. Anak baik. Batin Pratnya. Memang tak semua anak mau bersopan santun demikian. Awal bekerja Pratnya pernah kena maki seorang anak yang enggan membayar. 
Belum para orang tua yang protes karena merasa sudah memberi uang SPP namun tak sampai ke loket pembayaran. Kenapa tidak bertanya ke anaknya langsung coba? Kenapa malah marah-marah depan petugas loket yang menawarkan bukti konkrit kertas pembayaran SPP masih blank.
Dan sederet resiko pekerjaan, seperti uang setoran kurang, hingga nombok. Atau malah ada selisih lebih yang membingungkan. 
“Bu Anya, betah banget ya di ruang pengap?” Bu Hening melongok area kerja Pratnya yang memang hampir tertutup rapat. Jendela sisi kiri Pratnya memang lebar, tapi diberi kerai transparan agar tidak nampak seperti ikan dalam aquarium. Jendela lain berupa lubang loket yang menghadap ruang lobi.
“Bukan gitu, Bu. Takutnya kalau saya tinggal keluar ada yang bayar.” dalih Pratnya yang tidak mengada-ada.
Namanya anak-anak, meski bukan jam istirahat terkadang nyelonong ke loket untuk membayar. Mungkin untuk menghindari antrian. Yang sering sih, terlihat mereka habis pelajaran olah raga dan ada jeda sebelum jam berikutnya dimulai. 
“Ayo sini, kita mengobrol di luar biar dapat udara segar.” Bu Hening pantang menyerah. 
Bagaimana pun Pratnya memang lebih suka menghabiskan waktu dalam loket dari pada duduk di ruang kantor bersama yang lain. Bukan berarti Pratnya anti sosial. Bukan berarti Pratnya enggan bergaul. Alasan pasti, karena dia tidak mau tenggelam dalam celotehan gosip yang senantiasa bertebaran. Menjelek-jelekkan orang, berbisik-bisik mengenai aib yang lain dan sebagainya dan sebagainya yang berjudul gibah.
“Bayar Bu!” Pratnya memaling ke arah suara. Tidak biasa dia menguntai senyum sangat lebar. Pratnya merasa terselamatkan oleh anak laki-laki itu.
“Nanti ya, Bu. Ada yang bayar!” Senyum Pratnya mengembang lebar. Yes!
“Saya tunggu.” ucap Bu Hening yang segera menghilang.
Pratnya kembali tenang.

Bình Luận Sách (31)

  • avatar
    ana nabila

    baguss

    14/04/2025

      0
  • avatar
    YusufAcichaa

    ceritanyaa bagus bangett kakkk,, semangatt nulisnyaa😍😍

    18/03/2025

      1
  • avatar
    Yuni II

    😍😍😍

    03/12/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất