Hari demi hari berlalu. Sejak kejadian itu, suasana di pesantren berubah menjadi arena perang kecil antara Alya dan tiga orang itu—Riska, Raina, dan Fira. Setiap hari selalu ada saja yang mereka lakukan. Barang-barang Alya kerap menjadi sasaran: sandal disembunyikan, baju dipindahkan ke kamar lain, atau bukunya diganti dengan buku kosong. Alya masih mencoba melawan di awal, membalas dengan menyembunyikan barang-barang mereka. Namun lambat laun, pertarungan itu terasa makin tidak seimbang. Lawannya bertiga, sementara ia sendirian. Rasanya capek… melelahkan. Suatu hari, Alya dipanggil ustadzah karena ada yang melapor bahwa ia mencuri barang Raina. Padahal Alya hanya membalas perbuatan Raina yang lebih dulu menyembunyikan barangnya. Saat itu, Alya tahu persis siapa dalangnya. Namun membela diri pun terasa percuma. Karena terlalu sering terkena masalah gara-gara ulah mereka, kini suaranya tak pernah dipercaya, sementara lawan-lawannya selalu kompak mengelak dan berpura-pura polos. Hari-hari Alya di pesantren kian berat. Bukan cuma soal barangnya yang disembunyikan. Riska, Raina, dan Fira semakin pintar mencari cara menjatuhkannya. Mereka menyiapkan jebakan, membuat Alya malu di depan teman-teman, bahkan menyebarkan fitnah. Awalnya Alya masih bisa membela diri. Namun lama-kelamaan, fitnah itu menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Santri lain mulai percaya bahwa Alya memang pembuat masalah. Yang paling menyakitkan, guru pertamanya—sosok yang dulu selalu membela dan menyayanginya—pun ikut termakan omongan. Guru yang tadinya selalu tersenyum hangat setiap kali melihat Alya, kini memandangnya dengan dingin. Tak ada lagi pelukan, tak ada lagi belaian lembut. Yang ada hanyalah teguran, kecurigaan, bahkan kekecewaan. Sikap orang-orang di sekitar Alya berubah drastis. Jika tadinya ia bisa duduk dengan tenang sambil mendengar candaan teman-temannya, kini setiap kali ia datang, suasana langsung hening. Wajah-wajah yang tadi penuh tawa seketika kecut, seolah kehadiran Alya adalah beban. Bisikan-bisikan mulai terdengar di telinganya. “Eh, itu Alya. Katanya kemarin bikin ribut lagi.” “Dia tuh kasar, pantas aja nggak ada yang mau dekat.” “Udah dibilangin, orang kayak gitu nggak bakal berubah.” Sindiran pun dilemparkan tanpa ragu. Kadang terang-terangan, kadang setengah berbisik. Namun semuanya menghantam hati Alya dengan keras. Perlahan, ia merasa semakin sendirian. Tak ada lagi yang percaya padanya. Tak ada lagi yang mau mendengar pembelaannya. Semuanya berubah menjadi dingin, seolah dunia pesantren bersekongkol untuk melawannya. Dan malam-malam Alya pun penuh tangis yang ia sembunyikan di balik selimut, tanpa seorang pun tahu. Sejak saat itu, Alya mulai menyerah. Ia tak lagi membalas. Setiap kali barangnya dihilangkan, ia hanya menarik napas panjang. Setiap kali difitnah, ia hanya bisa diam meski hatinya menjerit. Hari demi hari, mentalnya terkikis. Anak yang dulu dikenal galak dan berani melawan siapa pun kini lebih sering menunduk dan pasrah. Ia lelah. Hidup di pesantren tanpa satu pun teman di sisinya membuatnya seperti berjalan sendirian dalam kegelapan. Hari itu, Alya dipanggil oleh ustadzah bagian keuangan. Selembar amplop cokelat kecil diserahkan kepadanya. Isinya uang kiriman orang tua, tetapi hanya setengah dari biasanya. Terselip pula selembar surat dengan tulisan tangan yang begitu dikenalnya. Dengan hati berdebar, Alya membuka surat itu. Tulisan sederhana, agak miring, memenuhi kertas bergaris: “Maaf ya, Al… Ayah sama Mama telat kirim uang. Ini baru ada setengahnya. Nggak apa-apa, ya. Nanti kalau ada rezeki lagi, Ayah sama Mama kirim lagi secepatnya. Doakan kami ya, Al. Kami sekeluarga sayang dan rindu kamu. Semoga kamu betah di sana. Kami selalu mendoakanmu.” Begitu membaca kalimat itu, tenggorokan Alya tercekat. Ia menutup mulut dengan tangannya, menahan tangis agar tidak pecah di hadapan orang lain. Di balik semua kelelahan dan fitnah yang menjeratnya di pesantren, surat itu seakan menampar hatinya dengan kenyataan: orang tuanya berjuang keras, bahkan untuk sekadar bisa mengirimkan bekal. Alya memeluk surat itu ke dadanya. Air matanya jatuh meski berusaha ia tahan. “Enggak… gue nggak boleh nyerah,” gumamnya lirih. “Hampir setahun gue di sini. Tiga bulan lagi udah mau libur. Sayang banget kalau gue pulang sekarang. Gue harus bertahan, demi Ayah dan Mama. Biar kuikuti alur hidup ini… biar kulihat takdir akan membawaku ke mana.” “Dari dulu sampai sekarang, masih kugenggam erat prinsipku yang satu ini: ‘Apa pun yang menjadi takdirku, maka akan kuperjuangkan. Aku percaya pada-Mu, Tuhan…’ Maaf baru mengingat-Mu sekarang…” Dengan tegar, Alya kembali ke asrama. Surat itu ia lipat rapi dan simpan di dalam saku bajunya—akan selalu ia bawa. Surat itu seolah menjadi penguat yang bisa ia baca setiap kali hatinya melemah. Saat melangkah masuk ke kamar, suara tawa santri lain langsung terdengar. Beberapa menoleh, tetapi begitu melihat Alya, ekspresi mereka berubah datar. Ada yang pura-pura sibuk, ada pula yang saling berbisik. Alya menelan pahitnya suasana itu, tetapi kali ini ia tidak menunduk. Dalam hati ia berucap, Terserah kalian mau ngomong apa… gue bakal tetap berdiri di sini. Gue udah janji sama diri gue sendiri, sama Ayah dan Mama juga. Gue bakal bertahan. Setidaknya tiga bulan lagi… gue harus pulang dengan kepala tegak. Di malam hari, ketika semua sudah tidur, Alya menatap langit-langit asrama yang gelap. Hatinya masih terasa berat, tetapi tekad itu menghangatkannya. Ia sadar, jalan ini memang tidak mudah, tetapi ia tidak lagi sendirian—ada doa orang tuanya yang selalu menyertai. Keesokan harinya, pagi itu suasana asrama putri masih sibuk. Beberapa santri baru saja selesai membersihkan kamar, sebagian lagi bersiap ke kelas. Alya duduk di tepi ranjangnya, merapikan lemari dan tempat tidurnya. Ia membuka koper yang biasa ia simpan di bawah ranjang, memastikan semua barang berharga ada di sana. Namun seketika jantungnya berdegup kencang. “Kok… nggak ada? Uang gue… hilang?” Alya membongkar lagi koper itu, menyibak pakaian satu per satu, bahkan menyelipkan tangannya ke dalam setiap lipatan. Tidak ada. Ia berdiri, menatap sekeliling kamar, menyisir tiap sudut dengan harapan uang itu hanya terselip. Namun tetap saja kosong. Pelan-pelan wajahnya berubah. Napasnya semakin berat. Matanya menajam menatap teman-teman sekamarnya yang sibuk berpura-pura tidak melihat. Alya melangkah maju, auranya menekan. “Siapa yang lihat uang gue?” tanyanya pelan—tenang, tetapi berisi ancaman. Tak ada yang menjawab. Alya tersenyum getir. Ia mendekati salah satu teman sekamarnya, lalu dengan santai mencengkeram dagunya dan mengangkat wajahnya. “Hei… lo lihat uang gue?” bisiknya dingin. Gadis itu gemetar. “E-en… nggak. Aku nggak lihat. Tolong lepasin aku.” Alya melepaskan cengkeramannya lalu berdiri tegak. Napasnya kini memburu. Ia menatap seluruh isi kamar. “Sekali lagi gue tanya,” suaranya meninggi, “ADA yang lihat uang gue?!” Hening. Tiba-tiba salah seorang memberanikan diri menjawab, meski suaranya gemetar. “Nggak ada yang lihat. Yang ada… kita cuma lihat ada orang buka-buka lemari sama ngacak-ngacak kasur kamu tadi malam.” Alya menoleh cepat. “Siapa orangnya!? SIAPA?!” Santri itu menelan ludah. “Siapa lagi… kalau bukan musuh kamu.” Alya menyeringai. Senyum sinis menghiasi wajahnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung keluar dari kamar, melangkah cepat menuju kamar Riska, Raina, dan Fira. BRAK! Pintu kamar digedor keras, nyaris terbuka paksa. Alya masuk tanpa hijab, wajahnya benar-benar menakutkan. “RISKA!!!” Riska dan dua temannya langsung panik. Sebelum sempat bereaksi, Alya sudah menarik kerudung Riska hingga hampir tercekik. “Lo ngambil uang gue!?” Riska ketakutan. “Ng-ngomong apa sih!? Tiba-tiba aja marah-marah nuduh-nuduh!” Alya menatap tajam, matanya berkaca-kaca. “Jangan BOHONG! Teman sekamar gue bilang lo yang bawa duit gue!” Raina dan Fira justru tertawa kecil, senang melihat Alya kehilangan kendali. Salah satunya diam-diam melangkah keluar, menuju pengurus asrama. Alya makin terbakar. Tangannya hampir terangkat, siap memukul. Namun sebelum sempat terjadi apa pun, suara keras menghentikan langkahnya. “Apa-apaan ini!?” Pengurus santri putri baru saja datang dan langsung menahan Alya. Alya berontak, napasnya tersengal, tatapannya penuh amarah. “KAMU LAGI, ALYA!? Nggak kapok-kapok bikin masalah!” bentak pengurus itu. “Ada aja tiap hari! Sejak ada kamu, ribut terus, tahu nggak!? Bertahun-tahun saya ngurus santri, nggak pernah ada yang bikin masalah separah dan sesering kamu! Kamu itu bikin saya MUAK!” Kata-kata itu menghantam dada Alya dengan keras. Ia terpaku. Matanya panas dan berkaca-kaca. Bukan hanya karena dimarahi, tetapi karena jebakan Riska dan teman-temannya kembali berhasil. Alya menggigit bibirnya, lalu melepaskan diri dengan kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan cepat kembali ke kamarnya. Sesampainya di sana, tangannya gemetar. Dengan air mata yang nyaris jatuh, ia menarik ransel hitam kecil dari bawah ranjang, lalu mulai memasukkan beberapa pakaian dan barang penting ke dalamnya. Gerakannya cepat, seolah hanya ada satu hal di kepalanya: pergi. Apakah Alya benar-benar akan pergi? Ataukah ia akan bertahan?
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
ok bangetlah
06/03
0sayasuka gems ini
15/02
0bagus
11/02
0Xem tất cả