logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 15 Perjuangan

Ini hari ketujuh aku berdiam diri di rumah dan merenungi nasib. Tidak ada kabar dari Riska, bahkan nomornya tidak aktif. Berulang kali aku datang ke tumah orang tuanya, tetapi diusir dan malah diancam oleh petugas keamanan.
Aku juga mencoba menelepon Ibu, tetapi diabaikan. Sepertinya beliau begitu terpukul dengan kejaian ini. Hanya Dina yang masih menghubungi dan menanyakan kabarku.
Aku tak tahu harus berbuat apa saat ini, hanya mondar-mandir tanpa tujuan. Setiap hari aku datang ke butik, berharap pintu bangunan itu terbuka sehingga bisa menemui Riska. Sayangnya, di kaca depannya masih tertulis kata 'closed' dengan pagar yang digembok.
Tabunganku mulai menipis, sementara kebutuhan hidup terus berlanjut. Akhirnya, aku nekat mencari pekerjaan, apa saja asalkan bisa menyambung hidup. Ijazahku masih tersimpan di lemari, tetapi usiaku sepertinya sudah tak memungkinkan untuk bekerja kantoran. Sempat terpikir untuk menjual mobil ini tetapi niatku urung.
Tanah bekas bangunan bengkel juga tak bisa dilelang karena merupakan hak milik Riska, begitu pula rumah ini. Aku sangat mencintainya sehingga semua materi yang kumiliki, kuhadiahkan semua untuknya. 
"Punya pengalaman kerja di bagian mesin?" tanya salah seorang pemilik bengkel ketika aku datang dan meminta bantuan.
Matanya menatap tajam sembari melirik mobil yang terparkir di depan, seperti tak yakin jika aku memang membutuhkan pekerjaan.
"Tentu saja, Pak. Apa saya harus praktik langsung?" tanyaku untuk meyakinkan.
Beliau mengangguk, lalu menunjuk sebuah motor bebek butut keluaran tahun 1991 yang teronggok di sudut bengkel dan mulai mengerjakannya.
"Saya minta waktu 3 hari buat ngerjainnya. Kalau ini bisa nyala, Bapak boleh pertimbangkan. Selama tiga hari ini saya gak usah digaji," pintaku setengah memelas.
Pemilik bengkel mengangguk lagi. Aku memeriksa seluruh komponen motor itu, lalu mulai mengutak-atiknya. Ada beberapa bagian yang harus diganti dengan alat baru dan akan memakan biaya yang cukup besar.
Entah ini motor siapa, yang pasti pemiliknya pasti sangat sayang sehingga masih mempertahankannya.
Aku mulai fokus membenahi satu per satu bagiannya. Keringat mengucur deras membasahi kaus sehingga menimbulkan bau asam. Padahal dulu, aku hanya duduk di meja kasir dan mengawal para karyawan yang bekerja.
Sejenak kulupakan semua permasalahan dan dendam yang membara di hati, lalu semakin fokus pada pekerjaan. Bayangan Sinta dan Fredy yang membuat tidurku tak nyenyak beberapa hari ini menghilang begitu saja.
Dua jam berkutat dengan mesin membuatku lelah. Staminaku sudah tak sekuat dulu. Mungkin karena faktor usia dan lebih banyak bekerja di belakang meja.
Setelah meneguk sebotol air mineral sembari duduk dan mengusap peluh dengan ujung kemeja, aku memutuskan untuk pulang. Saat hendak berpamitan dengan pemilik bengkel, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku.
"Om. Bisa bantu tambal motor aku? Bocor."
Aku menoleh dan terdiam untuk beberapa detik saat melihat seorang gadis manis dengan hijab panjang menunjuk ke arah motornya. Usianya masih muda, kutaksir mungkin sekitar dua puluh tahunan.
"Tapi saya mau pulang. Mungkin sama yang lain," tolakku halus.
"Tapi kayaknya semua sibuk. Tolong saya, Om. Udah telat, nih," pintanya memelas.
Aku menatap sekeliling. Benar saja kalau karyawan yang lain sedang asyik dengan pekerjaannya masing-masing.  
"Bantuin saja dulu. Upahnya buat kamu," sela pemilik bengkel.
Setelah cukup lama menimbang, akhirnya aku menyetujui itu lalu mulai mengerjakannya. Ternyata kebocorannya cukup banyak sehingga harus diganti.
"Terserah Om aja kalau gitu. Yang penting motor aku aman. Udah telat ini," katanya resah sembari menatap jam di tangan.
Aku mengerjakan penggantian ban itu dengan hati-hati sembari menahan lapar di perut. Napasku tersengal-sengal ketika memasang ban yang baru.
"Sudah," ucapku kepada gadis itu.
"Bayarnya berapa?"
"Di kasir," jawabku sembari menunjuk meja di mana pemilik bengkel sedang duduk di tahtanya.
Aku mencuci tangan di ember dan mengeringkannya dengan serbet basah. Serbet yang biasanya dipakai bersama oleh para pegawai bengkel.
"Makasih loh, Om," ucapnya setelah selesai melakukan pembayaran.
Aku hanya menganggapinya dengan anggukan, lalu berpamitan kepada pemilik bengkel.
"Ini upahnya," ucapnya sembari menyerahkan selembar uang sepuluh rubuan.
"Gak usah, Pak. Nanti saja kalau diterima."
"Kamu diterima."
"Loh, Pak? Cepat banget."
"Sudah mahir dari cara ganti ban."
"Alhamdulillah."
Aku menyalami pemilik bengkel ketika suara benda terjatuh terdengar cukup keras.
"Kamu gak apa-apa?" tanyaku kepada gadis tadi. Kupikir dia sudah pergi, tenyata malah terjatuh saat hendak mendorong motor.
"Sakit," keluhnya sembari memegang lutut.
Aku membantunya berdiri dan menepikan motor, lalu berkata, "Pak. Titip motor. Saya mau bawa di ke dokter."
Kupapah dia masuk ke mobil dan melajukannya ke rumah sakit terdekat. Untunglah dia tak rewel dan banyak bertanya. Momen seperti ini mengingatkanku saat membawa Fredy. Ah, lupakan. Ada masanya aku membuat perhitungan nanti.
"Kenapa tadi gak minta bantuan?" tanyaku membuka percakapan karena sejak tadi kami saling mendiamkan.
"Buru-buru. Udah telat."
"Memangnya mau ke mana?"
"Ke rumah teman. Ada tugas," jawabnya singkat.
"Kuliah?"
"Semester empat."
"Ambil jurusan apa?"
"Guru."
Kami kembali terdiam hingga tiba di rumah sakit. Aku menunggu di luar sementara seorang perawat membawanya ke dalam.
"Bapak suaminya?"
"Eh, bukan," jawabku ketika diminta ke dalam.
"Mbaknya cidera lutut."
"Jadi gimana?"
"Sudah boleh pulang. Habiskan obatnya. Kalau nyeri, bisa kembali lagi untuk diperiksa."
Aku menerima selembar resep lalu diminta menebus di apotik. Setelah membayarnya, aku membantu gadis itu berjalan menuju parkiran.
"Sakit," keluhnya lagi.
"Kalau gitu tunggu di sini. Saya ambil mobil. Kursi rodanya dipakai semua."
Aku bergegas menuju parkiran dan membukakan pintu mobil untuknya. Sepertinya gadis ini begitu manja, itu terlihat dari sikapnya yang masih kekanakan.
"Rumah kamu di mana?"
"Di jalan Belibis, Om."
"Kamu saya antar pulang, ya."
"Tapi motor aku--"
"Aman di bengkel. Besok saya antarkan."
Aku memutar setir dan berbelok arah ke jalan yang dia sebutkan tadi, hingga tiba di sebuah rumah sederhana. Di daerah sini, rata-rata memang dihuni oleh kepala keluarga menengah ke bawah. Berbeda dengan perumahan yang aku tempati.
"Sampai sini, ya."
"Om gak masuk?"
"Buat apa?"
"Jelasin ke Bapak kalau aku jatuh. Jadi gak dimarahin kalau motornya rusak."
Aku menyanggupi permintaannya, lalu melangkah ke dalam. Benar saja, begitu pintu terbuka, seorang laki-laki paruh baya berdiri sembari berkacak pinggang dan menatap kami dengan garang.
"Kakimu kenapa? Siapa yang antar pulang?"
"Jatuh dari motor, Pak. Om ini yang nolongin."
"Motornya?"
"Di bengkel, besok saya antar," ucapku meyakinkan.
"Masuk kamu! Jangan gampang percaya sama orang asing. Baru kenal juga," sungut laki-laki paruh baya itu.
Aku menggeleng karena tak habis pikir. Bukannya berterima kasih anaknya kuantar pulang, malah justeru bersikap seperti itu.
"Saya permisi, Pak. Tugas saya sudah selesai," pamitku sembari menyerahkan plastik berisi obat.
"Hem."
"Saya pulang dulu, Dek," pamitku pada gadis itu.
"Makasih ya Om, udah bantuin."
Aku mengangguk dan berjalan keluar, ketika terdengar suara bentakan.
"Masuk, Maira. Jangan ngintip!"
Pintu ditutup dengan kasar ketika langkahku sudah melewati pagar. Aku kembali ke mobil dan menuju pulang.
Sepanjang perjalanan hatiku gamang dengan perasaan yang kacau. Bayangan Riska muncul kembali dan menautkan rindu di hati. Aku tak hentinya mengucap doa agar kami diberikan jalan keluar yang terbaik untuk kembali bersama.
***
Kulangkahkan kaki memasuki rumah. Sepi, kosong, hampa dan segala perasaan tak nyaman berbaur menjadi satu.
Dengan gontai, kusandarkan tubuh di sofa sembari memejamkan mata. Teringat akan tubuh yang lengket karena peluh, aku memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum makan. Rasa lapar yang mendera sejak tadi telah menghilang entah ke mana.
Kuletakkan dompet dan kunci mobil di nakas ketika pandangan ini tertuju pada sebuah amplop. Seingatku tak ada apa pun di sana saat aku pergi tadi. Lalu, darimana surat ini?
Apakah tadi Riska pulang dan menyimpannya di sini?
Perlahan kubuka dan jantung ini berdegup kencang saat melihat isinya. Surat gugatan cerai dari pengadilan agama. Aku tergugu dengan sesak yang semakin menghebat di dada.
Aku memeriksa setiap sudut kamar dan mendapati bahwa hampir semua pakaian Riska lenyap bersamaan dengan beberapa koper yang menghilang.
Riska, kenapa harus begini, Sayang?

Bình Luận Sách (360)

  • avatar
    Sri Sunarti

    keren banget thor 👍👍👍

    3d

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , happy ending..

    29d

      0
  • avatar
    Selamit Selamit

    bagus banget🫰🫰🫰🫰🫰🫰

    21/01

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất