logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Episode 6

Ken tersenyum dan melambaikan tangan. Kemudian, ia mengucapkan "Terima kasih semuanya! Sampai bertemu di lain kesempatan."
Ken segera turun dari panggung dan mengambil air minum botol yang telah disiapkan untuknya. Ia bersandar pada kursi untuk melepas lelah tetapi pikirannya berpergian ke tempat lain.
Laporan keuangan pekan lalu membuatnya tidak bisa tidur beberapa waktu ini. Keadaan terhimpit seperti sekarang malah membuatnya semakin tidak produktif. Sebenarnya Ken merasa lelah. Tetapi keadaan di rumah tidak semenyenangkan seperti di awal pernikahan membuatnya semakin tertekan.
"Aku merasa Sandra berbeda." Ungkapnya dalam hati, Sandra adalah sesuatu yang belum ia selesaikan.
Ken merasa perlu membicarakan masalah ini dengan Sandra. Namun, ia menyadari bahwa dari awal ia bukanlah penghuni utama dalam hati Sandra. Ia tidak ingin mencari tahu lebih lanjut. Menjadi suami Sandra saja sudah cukup baginya.
Tetapi, Ken tetap merasa harus menanyakannya. "Nggak bisa diginiin terus. Walaupun Sandra masih memiliki perasaan untuk orang lain, tapi aku suaminya yang sah!" pikirnya.
Seseorang menepuk pundak Ken dengan keras. "Aw!!" keluh Ken. Ia menoleh ke belakang, ia mengenal siapa penepuk pundak tidak sopan itu. "Dilan?"
Dilan tersenyum, kemudian memeluk Ken yang masih tidak percaya. "Gimana kabarnya, bro?"
"Aku baik. Kamu ngapain di sini? Cari cewek?" tanya Ken pada Dilan.
Dilan tertawa,"Aku nyari uang aja lah."
"Songong banget!" kata Ken, "tahu dari mana aku di sini?"
"Aku habis dari kantormu. Katanya kamu ngisi materi di sini. Mass Speak terkenal juga, ya?" ujar Dilan.
"Yah, syukur lah. Walaupun terkenal tapi duit nggak ngalir apa gunanya?"
"Eh ya, omong-omong soal duit." Tiba-tiba Dilan teringat sesuatu. "Kamu udah terima proposal dari BEM kampus nggak?"
Ken terdiam untuk menggali ingatanya. "Oh ya. Anton sama Melani ke kantor buat ngasih proposal. Aku belum buka lagi sih."
"Terima aja. Aku bantuin kamu buat ngurus ke kampus." pinta Dilan dengan penuh keyakinan.
"Bukannya mereka minta sponsor? Aku nggak bisa ngasih apa-apa kalau masalah materi."
"Sponsor kan nggak harus materi. Kamu bisa minta stan bazar dan jadi pemateri saja mereka seneng. Sambil jalan, Mass Speak harus dikenal orang banyak dulu setelah itu kita mikirin cash flow kantor." Jelas Dilan.
Setengah pikiran Ken masih menetap pada masalah rumah tangganya. Bisa-bisanya Ken memikirkan rumah tangganya di saat kantornya pun berada di ujung tanduk.
"Kenapa mukamu? Masalah Sandra, ya?" tanya Dilan.
Ken hanya tersenyum. Tidak bisa disangkal jika memang demikian. Tetapi, apakah pantas jika Ken menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangganya?
"Nggak lah. By the way, kamu udah makan? Ayo kota cari makan! Sekalian ngobrol lebih nyantai." Dengan sigap, Ken memeluk Dilan dari belakang. "Ayolah.." rayuan Ken terdengar menggelikan bagi Dilan.
Mereka berdua pun meninggalkan backstage panggung, sedangkan Ken berusaha mengendalikan perasaannya agar tidak terlihat sedang memikirkan sesuatu.
--
Mae terbangun karena alarm ponselnya berdering. Kepalanya terasa berat. Ia menoleh ke tempat tidur namun mendapati Juni sudah tidak ada. "Ke mana dia sepagi ini?" Ia meraih ponselnya lagi untuk memeriksa waktu. "Astaga udah jam delapan!"
Mae beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk mandi. Sesaat akan masuk, terdengar pintu kamarnya diketuk. Mae membuka pintu tersebut.
"Bagus deh kalau udah bangun." Ketukan pintu itu ternyata dari Juni yang keluar untuk mencari makan.
"Kamu beli apa Jun? Wow, ayam lagi?" Mae terkejut dengan apa yang dibawa Juni.
"Udahlah, mandi dulu aja. Nanti makan bareng. Keburu Sandra jemput kita."
Mae hanya cemberut. Sebenarnya, ia ingin sekali makan nasi pecel sebagai sarapan. Tapi ayam goreng juga sepertinya enak.
"Dia juga ngajak Sabda, makanya aku beli banyak. Ngomong-ngomong makasih ya kartu kreditnya. Hahaha."
Ia tahu pasti Juni memakai kartu kreditnya. Mae sendiri tidak khawatir dengan kartu kreditnya dipakai oleh Juni. Ia tahu bahwa Juni pasti memakai kartu kreditnya hanya untuk makanan. Juni tidak tertarik dengan hal-hal seperti aksesoris, baju, atau yang barang mahal. Memakan sesuatu yang enak adalah kebahagiaan untuk Juni. Kecuali pakaiannya tiba-tiba hilang atau terbakar semua, mungkin dia akan mempertimbangkan memakai kartu kredit Mae untuk membeli baju setelah ia tidak mendapatkan baju bekas dari Mae atau Sandra.
"Kenapa diem di situ, Mae? Kamu nggak jadi mandi?" tanya Juni yang akan menggigit salah satu paha ayam goreng yang dibelinya tadi.
"Hmm, aku lagi mikirin bayar kartu kredit gimana ini? Kayaknya bakalan bengkak, apalagi nafsu mangkakmu juga membengkak kayak gini?" Kata Mae dengan mimik pura-pura bingung.
Paha ayam goreng yang hendak mendarat ke mulut Juni mendadak urung. Wajahnya pun berubah.
"Hei, aku bercanda! Lagian, sejak kapan sih kamu mikirin apa yang aku omongin? Biasanya juga kamu kayak nggak denger apa-apa."
Juni menatap Mae dengan pandangan yanh dalam. Di benaknya, Juni berkata,"Andai waktu itu aku dengerin kamu buat nggak nerima Bambang. Hidupku mungkin nggak semenderita ini."
"Hei? Halo?" Tangan Mae melambai-lambai tepat di depan wajah Juni yang pandangannya kini menjadi kosong.
"Juni!" Ketidaksabaran Mae untuk menunggu respon Juni berakhir dengan tamparan pada pipi Juni.
Juni menunduk. Ia berkata,"Kalau aku dengerin kamu buat hati-hati sama Bambang, mungkin aku nggak kayak gini sekarang." Mata Juni pun berkaca-kaca.
Mae merasa bersalah menggoda Juni dengan masalah kartu kredit. Ia mungkin lupa bahwa teman karibnya ini sedang tidak baik-baik saja. Walaupun nafsu makannya sebesar dulu, Juni yang sekarang tidaklah Juni yang dulu. Ia memeluk Juni sembari berkata,"Apapun yang terjadi, sekarang aku ada di sini. Sandra juga di sini. Kamu nggak sendirian. Semuanya bisa dilewati. Kamu mungkin bukan Juni yang dulu. Tapi kamu bisa memilih menjadi Juni yang lebih baik, kan?"
Tangis Juni pecah. Mae tahu bahwa Juni juga sedang menahan perasaan sakitnya.
"Yang lebih sakit itu bukan perselingkuhannya saja, Mae. Tapi kehilangan janin setelah mengetahui hal itu membuatku merasa nggak berguna. Kita belum genap setahun menikah. aku bahkan sudah hamil walaupun saat usia pernikahan enam bulan. Dan aku yang disalahkan karena perselingkuhan Bambang? Ini nggak adil Mae!" Tangisnya telah bercampur dengan teriakan dan amarah. Sakit hatinya mungkin kini telah menyeruak.
Mae hanya terdiam, ia sudah menduga suatu saat Juni akan histeris seperti ini. Berbulan-bulan ia hanya menahan diri dari kemarahan yang membara. Kekuatannya tentu berbatas. Mae bersyukur karena di saat kondisi seperti ini ia bisa menemani Juni menghadapinya.
"Aku nggak apa-apa, Mae. Aku bisa kuat." ungkap Juni kemudian menyeka air matanya.
"Kamu nggak apa-apa nggak kuat di hadapanku, Jun. Aku temanmu. aku unnie-mu. Aku akan berusaha melindungimu."
Tangis Juni kembali jatuh walaupun perlahan. Mae memeluknya.
Apakah pernikahan semenakutkan ini? Pertanyaan itu membuatnya melayang ke masa lalu.
"Apakah kau bahagia bersamanya?" tanya Mae dalam hati.

Bình Luận Sách (120)

  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus hanya akhirnya Sandra belum selesai...

    29/11

      0
  • avatar
    RahmawatiFitria

    sangat lah bagus

    02/10

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất