logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Episode 5

“Bisa nggak sih kita mampir ke MaxD buat beli kentang goreng?” tanya Juni kepada teman-temannya dengan menatap satu per satu wajah mereka.
“Wow, Jun! Kamu nggak berubah ya? Masih suka ngemil, Hahaha. Aku juga pingin soda sih, Eh Sabda gimana? Mau Kentang juga?” tanya Sandra kepada anaknya yang sedang duduk di belakang bersama Mae.
Sabda mengangguk dan tersenyum.
“Ah, kalau Sabda mau, aku juga mau. Ya kan cakep?” goda Mae pada Sabda sambil memeluk. “Anakmu lucu banget, San. Ganteng lagi.”
“Iya, kayak bapaknya.” Imbuh Juni.
“Ya, dari ibunya lah. Ibunya cantik. Emang kegantengan harus dari laki-laki ya? Kalo ibunya cantik kan anaknya juga cakep. Hu!” jawab Mae dengan ekspresi sebal.
Mereka telah sampai di depan MaxD, sebuah restoran cepat saji. Mereka memilih membeli dengan cara drive thru, di mana mereka memesan makanan dengan jalur khusus tanpa perlu turun dari mobil.
Juni ternyata tidak hanya memilih kentang. Ia juga memesan nugget dan soda ukuran besar. Mae hanya terpana melihat pesanan Juni.
“Jun? Kamu kan baru makan soto di bandara?” tanya Mae.
“Kan aku udah bilang, porsinya kecil. Nasinya Cuma tiga sendok makan, Mae! Coba bayangkan di mana logikanya aku bisa kenyang?” tukas Juni meyakinkan.
Tiga wanita yang akan berusia tiga puluhan itu tertawa bersama. Bahkan, Sabda pun ikut tertawa melihat mereka tertawa.
“Ih! Sabda juga ikutan ketawa!” Mae merasa gemas dan menyubit kedua pipi Sabda.
Pesanan mereka telah selesai dan meninggalkan MaxD menuju hotel yang telah dipesan oleh Mae. Dalam perjalanan, mereka membuka makanan dan menikmatinya. Sabda pun mampu mengikuti gaya teman-teman ibunya. Ia memang mudah beradaptasi dengan lingkungan, seperti ayahnya.
Mae ternyata memilih hotel yang cukup jauh dari bandara. Sabda mulai rewel karena bosan di mobil. Mereka bertiga mulai bingung dengan rengekan Sabda yang tidak berhenti. Sandra menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat taman kota. Ia menenangkan Sabda dengan menggendongnya.
“Aku coba beli makanan ringan di supermarket sana ya?” tawar Mae kemudian bergegas pergi.
“Hei sayang, kenapa? Nggak nyaman ya di mobil lama-lama?” Sandra menggendong Sabda sambil mengelus pundaknya. Sabda masih belum terlihat untuk tenang.
“Kalau Sabda lagi rewel memang seperti ini?” tanya Juni.
Sandra hanya menggeleng. "Biasanya nggak sampai separah ini."
“Coba, sini sama aku.” Juni menawarkan gendongan pada Sabda. “Lihat burung di sana yuk!” Sabda menerima tawaran Juni walaupun masih menangis.
Setiap Sabda menangis atau tantrum seperti ini, perasaan Sandra menjadi kacau dengan sangat cepat. Perubahan suasana hati ini sering mengganggunya dalam kesehariannya. Begitu juga dengan sekarang, Sabda menangis lebih parah daripada biasanya. Perasaan kacau itu menghantam Sandra, juga kewarasannya.
Pandangan Sandra kabur, kepalanya terasa memutar. Ia merasa tidak sanggup mengendalikan diri. Dadanya terasa sesak, seakan-akan udara tidak dapat memasuki rongga hidungnya walaupun Sandra beberapa kali menarik nafas.
Sandra terjatuh dalam keadaan setengah sadar. Hal itu terbukti dengan Ia menyadari bahwa dirinya jatuh terduduk. Ia melihat anaknya bersama Juni mulai tenang, putaran yang dirasa dalam kepalanya mulai berkurang.
“Ayolah, San! Kamu pasti bisa menghadapi dan menyelesaikan ini!” gumam Sandra dalam hati.
“San? Kamu nggak apa-apa?” tanya Juni yang kembali setelah menenangkan Sabda.
“Nggak apa-apa kok.”
“Tapi wajahmu pucat lo, San?” ungkap Juni memastikan.
“Sabda gimana?”
“Kayaknya dia bosen deh, San. Tuh dia main-main di sana.” Kata Juni sambil menunjuk ke arah Sabda yang mengejar kucing di taman.
“Syukurlah.” Kali ini Sandra merasa tenang sepenuhnya.
“Kamu.. kena serangan panik?” tanya Juni pada Sandra.
“Ha? Serangan panik? Apa itu?”
“Ah, nggak apa-apa. Aku pernah lihat salah satu sepupu Bambang panik kalau anaknya rewel. Paniknya nggak biasa aja. Sampai keringat dingin gitu, terus dia juga sering murung tanpa sebab. Dia akhirnya konsultasi ke psikolog. Aku lupa sih apa aja masalahnya. Tapi salah satu hasil konsultasi beberapa kali dengan psikolog itu, dia terkena depresi setelah melahirkan? Mungkin gitu sih.” cerita dari Juni membuat Sandra mencurigai dirinya.
“Emang anak dari sepupunya Bambang usianya berapa tahun?” Sandra pun penasaran.
“Tiga tahun, seusia Sabda bukan?”
Sandra diam. Ia tidak ingin merespon apa yang dia dengar dari Juni, walaupun ia merasa ada kemiripan dengan sepupunya Bambang.
“Hai guys! Sorry lama. Ini makanannya..” Mae datang dan memberikan sekumpulan makanan ringan yang ia bawa dengan kantong plastik yang besar.
“Mae, kamu mau jualan apa gimana?” goda Juni yang terkesima dengan seberapa banyak makanan yang dibawa Mae.
“Kan aku nggak tahu Sabda suka yang mana.”
Mereka bertiga pun menyusul Sabda yang tidak jauh dari mereka. Sabda masih asyik mengejar kucing.
“Sabda sayang.. tante Mae bawa sesuatu nih..” kata Mae sedikit berteriak. Sabda masih enggan mengalihkan pandangannya dari kucing yang mencari makan.
“Sabda, sini sayang!” panggil Sandra, Sabda pun menoleh dan menghampiri Sandra dengan berlari.
“Langsung ke hotel aja yuk.” Ajak Sandra kepada mereka.
“Oke.” Juni dan Sandra setuju tanpa membantah.
--
Pria dengan kaos berkerah merasa bingung setelah menghadiri rapat bersama stafnya. Staf di bawahnya tidak lebih dari lima orang. Ia memang ingin menjalankan bisnisnya dengan jumlah karyawan yang tidak banyak, untuk meminimalisir adanya kesalahpahaman.
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. “Masuk!”
“Mas Ken, ada tamu dari kampusnya mas Ken.”
“Dari kampusku?”
“Iya mas, katanya dia anggota BEM di kampusnya mas Ken.”
Ken merasa heran, untuk apa tiba-tiba ke sini tanpa pemberitahuan? Namun Ken merasa tidak akan menemukan jawaban akan pertanyaan itu jika tidak mengajaknya masuk. “Baik, persilakan mereka masuk.”
Dua orang masuk dengan pakaian standar mahasiswa, kemeja dan celana jeans. Tidak lupa mereka juga mengenakan sepatu seperti peraturan di kampus pada umumnya.
“Selamat sore mas Ken, maaf sebelumnya langsung ke sini tanpa pemberitahuan apapun. “ kata salah satu dari mereka.
“Oh ya, kebetulan saya juga lagi luang. Ada perlu apa? Oh ya, silakan duduk.” Kata Ken kepada mereka.
Mereka berdua pun duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Ken. Mereka belum segera mengutarakan apa tujuan mereka untuk datang ke kantor Ken. Mereka masih mengamati interior ruangan yang ada di sekeliling mereka.
“Ruangan ini dirancang oleh istri saya.” Ungkap Ken terhadap dua mahasiswa tersebut. “Istri saya suka warna-warna gelap yang dipadu dengan warna pastel.”
Mereka berdua mengangguk, kemudian mereka baru tersadar akan tujuannya menemui Ken. “Maaf mas Ken, kami jadi gugup mau ngomong ini.”
Ken tersenyum. “Jadi adik-adik ini ada perlu apa? Apa yang bisa saya bantu?”
“Mas Ken, saya Anton. Ini teman saya Melani. Kami disarankan ke sini oleh Mas Dilan.”
“Ada hubungan apa kalian sama Dilan?”
“Mas Dilan habis berkunjung ke Sekre BEM pekan lalu. Kami juga sharing masalah program kerja BEM. Kami berniat mengadakan pelatihan Media antarkampus skala provinsi. Kami butuh pemateri seperti mas Ken.”
Ken terdiam dan berpikir.
“Kami menawarkan kerjasama, Mas. Tidak hanya pemateri, tapi juga yang lainnya. Kami mungkin akan menjadikan Mass Speak sebagai media utama. Mengingat mas Ken juga alumni dari kampus kami.”
Ken tersenyum. “Ada Proposalnya?”
Mereka berdua menyerahkan proposal yang dimaksud.
“Baik, makasih ya. Mohon maaf saya harus ada yang diselesaikan. Tapi penjelasan kalian sangat menarik. Saya akan kabari secepatnya.”
Ken menarik nafas dalam setelah dua mahasiswa itu meninggalkan ruangannya. Ken memang tidak sedang baik-baik saja. pemasukan untuk kantornya masih stagnan, sedangkan kebutuhan akan melaju untuk ‘bertanding’ dengan media yang lain semakin besar. Tentu semua itu butuh dana yang tidak sedikit.
Tidak hanya itu, ia juga merasa ada yang salah dengan istrinya. Sejak kelahiran Sabda, Sandra memang ‘terasa’ berbeda dari banyak hal. Bahkan senyuman Sandra pada dirinya pun terasa tak menyejukkan lagi.
“Kenapa ya? Padahal pernikahan kita baru berjalan empat tahun.”

Bình Luận Sách (120)

  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus hanya akhirnya Sandra belum selesai...

    29/11

      0
  • avatar
    RahmawatiFitria

    sangat lah bagus

    02/10

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất