Suara hujan masih terdengar walaupun Sandra berada di dalam mobilnya. Ia mengamati sekelilingnya. Banyak kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah menyala. Ia melihat para pedagang kaki lima yang terhuyung mencari tempat berteduh. Ia juga melihat pengamen anak-anak menikmati guyuran hujan sambil berlarian ceria, seolah-olah dunia hanya berisi kebahagiaan dan tidak ada kesedihan yang berhak merampas keceriaan mereka. Betapa menyenangkannya menjadi anak kecil, mereka tidak memikirkan hal-hal yang berat seperti orang dewasa, gumam Sandra. Sandra tersenyum. Lampu merah yang berada di perempatan jalan A. Yani Surabaya memang terkenal paling lama menyala, namun tidak diimbangi dengan lampu hijau yang memiliki durasi lebih sebentar untuk menyala. Akibatnya, banyak mobil bahkan motor bertumpuk dan mengular ke belakang. Tetapi bagi Sandra, mengamati dan menikmati perjalanan adalah meditasi. Terdengar kontradiksi, namun begitulah Sandra yang menyukai jalan raya. Banyak hal yang mungkin orang lain atau sahabat-sahabatnya tidak memahaminya, bahkan untuk dirinya sendiri. Ponselnya hanya bergetar, tetapi getarannya menimbulkan bunyi yang cukup terdengar dalam ruang mobil Sandra. “Hai Mae, udah sampai di bandara?” “Sudah San, kamu nyampe mana? Jangan bilang kamu terjebak di A. Yani?!” Sandra menyunggingkan mulutnya. Sahabatnya satu ini tidak berubah. Firasatnya selalu kuat tentang apa yang sedang terjadi dengan dirinya “Sory, Mae. Aku memang lagi di A. Yani. Sabar ya!” “Oke deh. Aku tunggu di kafe..” perkataannya berhenti sejenak, “you know lah aku mau ke kafe apa. Bye!” ujar Mae yang disusul dengan terputusnya panggilan di antara mereka. Sandra mengingat kafe apa yang dimaksud Mae. Butuh waktu beberapa menit hingga Sandra mengetahui kafe apa yang dimaksud. “Mae memang tidak berubah.” Aku Sandra dalam hati. Sandra mengingat kembali momen ketika mereka bersama di masa kuliah. Sandra merasa dirinya masih muda ketika mengingat zaman muda di kampus. Mae adalah perempuan penggemar kopi. Dia terbiasa minum double shot espresso untuk lattenya. Walaupun ia sanggup melahap sempurna triple shot, tapi ia memilih untuk membatasi diri dengan konsumsi kopi maksimal dua shot espresso. Dan Sandra pun tahu latte di kafe mana yang Mae sukai. ** Mae mematikan ponselnya dengan wajah kesal. Ia menatap Juni yang sedang mendorong koper-koper mereka dengan trolley. “Ah! Sial! Kenapa Sandra telat sih?! Aku sudah membayangkan tidur di hotel habis dari bandara. sial!” “Bukannya kamu sudah memperkirakan kalau Sandra bakalan telat ya?” “Kita kena delay satu jam, sedangkan aku nggak ngomong sama dia. Harusnya dia bisa on time dong. Artinya dia bisa telat dua jam kalau kita nggak jadi delay.” “Sabar ya.” Kata Juni sambil menepuk pundak Mae. “Ah! Udahlah! Kita ke kafe itu aja yuk! Aku butuh kopi!” tukas Mae. Juni hanya menoleh ke arah ujung telunjuk Mae. “Baiklah, aku juga mau coba caramel latte blended.” Ujar Juni. “Tanpa kopi?” tanya Mae. “Pakai kopi!” jawab Juni tegas dan meyakinkan. Mae menunjukkan ekspresi meragukan. “Jangan salahkan aku kalau kamu nggak bisa tidur.” “Siap!” ** Sandra memarkir mobilnya, menelepon Mae, dan bergegas menuju kafe yang dimaksud. Walaupun ia tahu nama kafe tersebut, Sandra membutuhkan waktu untuk menemukannya. Sandra kesulitan untuk memahami arah yang dijelaskan oleh satpam bandara. Sungguh, Sandra paling benci mencari lokasi yang ia belum pernah lalui sebelumnya. “Sandra!!” kata Mae melambaikan tangan. Sandra setengah berlari menuju Mae kemudian memeluknya. “oh.. oh.. santai bos!” kata Mae terkejut dengan pelukan Sandra yang dirasa dramatis. “Mana Juni?” tanya Sandra “Beli soto di warung sebelah.” Jawab Mae. “kalau di bandara, harganya bukan kelas warung!” “tetap aja, rumah makan sama dengan warung.” “Terserah lah.. kamu nggak mesenin aku sesuatu?” tanya Sandra. “Mesenin lah. Tuh udah ada teh kamomil.” “Wah! Asyik!” kata Sandra yang senang melihat teh kamomil dingin di depannya,“eh, jadi kasusnya Juni sampai mana?” “Udah selesai kok kemarin. Talak juga sudah jatuh.” Jawab Mae datar. “Memangnya, hanya karena Juni belum hamil? Kan mereka belum genap satu tahun menikah? Ya wajar kan kalau belum punya anak? Aku hamil Sabda juga baru dua bulan menikah!” “Dua bulan itu cepet keles! Mertuanya Juni nggak mau tahu. Mana suaminya kan ketahuan selingkuh. Kata Juni, selingkuhannya ini mantan pacar suaminya pas SMA. Memang sih, kalau sudah nikah, lebih baik putuskan hubungan dengan mantan apapun yang terjadi!” Sandra merasa tiba-tiba nafasnya terhenti. Ia tersedak dan batuk. “Uhuk! Uhuk!” “San? Apaan sih pakai acara batuk-batuk segala?” Mae terkejut yang mendapati Sandra tiba-tiba tersedak. Ia memukul punggung dan memijat leher Sandra. Tidak berlangsung lama, keadaan Sandra mulai normal. “Kamu shock karena masalah Juni?” “Aku kaget aja. Juni waktu cerita kan sambil nangis, aku nggak bisa memahami apa yang dia ceritain.” Ujar Sandra namun memikirkan hal lain. “Hari di saat Juni tahu si Bambang selingkuh adalah hari di mana Juni mau kasih kabar kalau dia sudah hamil.” Mae berhenti sejenak dan menyeruput iced latte-nya, “dia mau kasih kejutan ke Bambang. Ditunggu-tunggu nggak pulang. Akhirnya Juni inisiatif ke kantornya, liat mobilnya Bambang baru keluar, diikutin sama Juni.” Mae berhenti untuk menarik nafas dan mengambil kentang goreng untuk dimakan. “Terus?” tanya Sandra. “Bentar, masih ngunyah.” Mae menyegerakan kunyahannya kemudian melanjutkan,”Mobilnya nggak pergi ke arah rumahnya, tapi ke rumah lain. Yang Juni tahu, itu rumahnya kerabat jauhnya Bambang. Terus nongol deh tuh pelakor dengan perut gedenya sambil peluk dan cipika cipiki Bambang.” “Aku nggak tahu deh kalau jadi Juni rasanya gimana. Kayaknya tuh pelakor udah kujambak-jambak.” “Emang kamu berani ngejambak? Kamu sama Juni kan setipe, diem aja kalau digituin. Hahaha.” Kata Mae sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya. “Eh, mesti ngeledek kan! Terusin lanjutannya!” pinta Sandra. “Juni ketuk-ketuk rumahnya si pelakor, terus sambil senyum bilang ke mbak pelakornya ‘permisi teh, saya mau jemput suami saya!’ Juni berpikir kalau suaminya nolong janda yang kesulitan.” “Juni emang.. astaga!” sandra pun terlihat emosi mendengar cerita dari Mae. “Hai San!” tiba-tiba Juni memeluk Sandra dari belakang dengan senyum yang sangat lebar. “Eh.. ada apa ini? tiba-tiba senyumnya kayak gitu? Perasaan sepanjang perjalanan nggak kayak gini?” tanya Mae pada Juni, “Nemu cowok cakep?” Juni menggeleng, kemudian berkata, “Aku kangen banget sama soto di Jawa Timur. Ah, surga sekali!” Juni merentangkan tangannya sambil memejamkan mata seakan-akan ia telah menemukan kebahagiaan yang sudah lam tidak ia rasakan. “Kalau soto membuatmu bahagia, setiap hari kita beli soto!” ujar Mae sambil tertawa. “Eh, aku serius! Soto di jawa timur tidak sama dengan yang lain!” kata Juni. “Terserah kamu deh Jun, tapi sekarang kamu udah kenyang kan?” “Nggak juga. Di sini porsinya sedikit, berasa cemilan. Ayo kita cari soto lain!” “Baiklah. Ayo deh, mau ke mana sekarang?” tanya Sandra. “Ke hotel San. Aku pegel banget ini.” kata Mae. Mereka bertiga berjalan dengan Juni yang mengambil posisi mempin. Ia ingin bergegas menuju mobil agar dia bisa mendapatkan kursi di depan, mengingat dia sering mabuk darat jika menaiki mobil. “Mae, Maaf belum bisa ngajak Ken. Dia lagi sibuk sama kerjaannya.” Ujar Sandra. “It’s okay. Nggak masalah.” Memang lebih baik mereka tidak bertemu lagi.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
good
14/01
0bagus hanya akhirnya Sandra belum selesai...
29/11
0sangat lah bagus
02/10
0Xem tất cả