logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Episode 3

Matahari belum sepenuhnya muncul, namun Sandra telah beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengucek kedua matanya yang masih enggan untuk membuka. Tetapi, ia mengharuskan dirinya untuk bangun agar semuanya dapat terselesaikan lebih cepat. Ia membuka pintu kamar mandi, melepaskan bajunya, menyalakan keran shower, dan membiarkan air dari atas mengucur pelan membilas wajahnya dengan air.
“Mengapa aku memimpikan hal itu lagi?” tanyanya dalam hati.
Sandra tidak habis pikir. Mimpi akan peristiwa masa lalunya masih terasa begitu nyata. Seakan-akan ia kembali ke masa itu dan hendak untuk membuat keputusan yang lain. Namun, pertanyaan yang ia rasa belum pernah terjawab, kembali terbayang.
“Kalaupun apa yang kucurigai semuanya tidak benar, apakah cerita hidupku akan berubah? Apakah aku akan tetap bersamanya?” pertanyaan-pertanyaan akan masa lalunya hinggap dalam benaknya.
Perasaan Sandra di masa kini sedikit terangkat. Namun ia lebih mudah mengendalikannya sekarang. Dengan posisi yang ia hadapi, ia tak boleh gegabah dalam membuat penilaian.
Ah, sudahlah! Ini sudah tujuh tahunan, mengapa aku mengkhawatirkan sesuatu yang itu sudah kulalui?
Tiba-tiba saja, pintu kamar mandi terbuka. Sandra terkejut, ia lupa menguncinya.
“Sayang? Tumben sepagi ini udah bangun?” tanya seorang pria yang membuka pintu kamar mandi tadi.
Saking terkejutnya Sandra, ia harus mengambil nafas berkali-kali untuk menenangkannya.
“Kok nggak ketuk sih?!”
“Hehe, kukira nggak ada orang. Kupikir kamu juga udah di dapur.”
Percakapan mereka mendadak berhenti ketika mendengar suara gerimis bergemuruh di atas atap rumah. “Eh, sepertinya hujan lagi. Kedengarannya hujan hari ini akan berlangsung seharian.” Ujar pria itu kepada Sandra. “Dari kemarin mendung terus tapi nggak hujan-hujan.” Imbuhnya lagi. Sandra hanya mengangguk. Pria itu kemudian menutup pintu kamar mandi dan meninggalkan Sandra untuk melakukan apa yang hendak dilakukannya.
Sejenak, ia tersenyum dan berkata dalam hati,“Aku harusnya bersyukur. Aku punya suami yang sayang banget. Aku punya anak yang sehat, kenapa sih masih mikirin hal itu, San?”
Sandra masih bingung dengan dirinya sendiri. Entah perasaannya , entah pertanyaan yang dari dulu ingin sekali ia cari jawabannya. Walaupun ia sadar bahwa peristiwa itu telah ia lalui, namun di dalam ruang hati yang tak terjamah logikanya, ada rasa penasaran yang ingin bertaruh bersama waktu.
Setelah selesai mandi, Sandra langsung menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Ia memang tidak pandai memasak, ia sadar akan hal itu. Tapi selama suami dan anaknya mau menghabiskan masakan Sandra, buat apa meragukan kemampuannya untuk meramu makanan? Baginya masak adalah kemampuan dan kemampuan akan semakin baik jika diasah terus menerus.
“Mau masak apa hari ini?” tanya suaminya yang tiba-tiba memeluk dari belakang ,”aku bisa bantu apa?”
“Aku mau masak semur terong, gimana?”
Suami hanya membelalakkan matanya, seakan-akan trauma akan sesuatu. “Okay, asal bisa bedakan ketumbar sama merica ya?” Sandra hanya tertawa. Terakhir masak semur terong, ia memasukkan merica terlalu banyak.
“Hari ini agendamu ngapain, yang?” tanya Sandra pada suaminya.
“Biasa aja sih. Pagi meeting, ngedit, meeting, ngedit. Semembosankan itu.”
“Sabda bilang dia mau ikut aku buat jemput Mae di bandara.”
“Oh ya, Mae jadi pindah ke sini?”
“Yap, dia mau tinggal di apartemen dulu untuk beberapa bulan ke depan. Setelah itu, dia nyari kontrakan rumah.”
Suaminya memasang mimik keheranan, “Emang Mae nggak apa-apa tinggal sendirian di rumah? Kalau apartemen kan mungkin lebih nyaman untuk tinggal sendirian..”
“Nanti dia tinggal sama Juni.”
“Juni sama suaminya tinggal sama Mae? Hati-hati teman makan teman!”
Sandra menghela nafasnya sembari mengatakan,”Juni lagi proses sidang cerai sama suaminya.”
“Juni sama suaminya mau cerai?”
“Ya. Juni juga diusir sama mertuanya. Juni kan yatim piatu. Kebetulan Mae juga sudah selesai kontrak dinas di pusat, jadi dia sekarang bisa milih mau ambil cabang yang mana. Sekalian deh pindah ke sini biar bisa barengan sama aku, dan Mae ngajak Juni juga buat tinggal bareng.”
“Sampe kapan?”
“Entahlah. Aku juga belum bisa memastikan.” ujar Sandra, “By the way, kamu nggak ikut sekalian jemput Mae? Katanya kerjaanmu membosankan. Lagian, kamu kan pimpinan di sana. Nggak ke kantor nggak apa-apa kan?”
Suaminya hanya tergelak. Wajahnya tidak lagi menyenangkan seperti sebelumnya. walaupun ia menikahi Sandra, tapi ia memilih untuk tidak dekat dengan teman-teman Sandra.
“Ah, tapi terakhir kamu ketemu Mae waktu wisuda, kamu sama dia malah kayak kucing dan tikus. Debat nggak jelas.” Kata Sandra dan melanjutkan, “Debat tentang patriarki atau segala macam yang aku nggak pingin dengar itu..” Sandra diam sejenak,”aku jadi kangen zaman kuliah kita dulu.”
Suami Sandra itu hanya memberikan senyuman. Ia tidak ingin memancing topik itu lebih dalam lagi. Terlebih jika itu tentang Mae.
“Tapi kan ini sudah berjalan bertahun-tahun, Mae pasti udah berubah. Ya kan?” kali ini Sandra seperti akan merajuk. “Ayolah, yang.. ikut ya? Lagian kan kamu kenal sama temen-temenku.”
“Nggak dulu lah. Kapan-kapan aja ya ngumpul barengnya. Meeting di kantor memang ngebosenin. Tapi topik yang akan dibahas cukup penting. Makanya harus aku selesaikan secepatnya.”
“Baiklah.” Sandra mengalah.
“Oh ya, tahu ID card-ku nggak? Sabtu kemarin pas mau ke kantor malah kelupaan bawa dan nggak bisa masuk kantor jadinya.”
“Di atas kulkas, yang. kamu sendiri yang beresin habis dimainin Sabda.” Ujar Sandra sambil menunjuk ke arah kulkas.
Tanpa basa-basi, suami Sandra mencari di bagian atas kulkas dan menemukan sebuah ID card atas nama ‘Kenandra Kaff’.
“Makasih ya, aku mandi dulu. Habis mandi aku langsung bantuin cuci piring.” Katanya dan mencium kening Sandra.
Entah mengapa, rasanya sekarang, kecupan dari Suaminya terasa begitu hambar untuk Sandra.
**
Mengagumi memang mudah. Terkadang, jatuh cinta adalah muara dari kekaguman itu sendiri. Jika dipupuk dengan benar, cinta itu akan menjadi sebuah kekuatan. Tetapi Juni, justru merasakan kekecewaan yang menghimpit hatinya. Ia merasakan cinta yang ia pupuk dengan kepercayaan, malah membuatnya begitu lemah. Kekuatan? Mungkin bagi Juni hanya terasa di awal saja. ia telah mencintai dengan sepenuh hati. Dan ia merasa semakin lemah.
“Jun! Kamu ngelamun lagi?!” ujar Mae yang duduk di sebelahnya sambil minum satu gelas iced americano. “Kenapa ngelihatnya kayak gitu? Kamu mau?” tawar Mae kepada Juni yang menatap minumannya dengan tatapan kosong. Namun, juni hanya menggeleng kemudian tersenyum simpul.
“Kuatkan hati ya, Jun! Ini bisa kita lewati.” Kata Mae dalam hati sambil mengelus pundak Juni.
Mae memeluk bahu Juni dari samping. Ia berusaha menguatkan sahabatnya yang masih terguncang, yang mungkin guncangannya belum pernah dirasakan oleh wanita yang memilih tidak menikah seperti Mae.
“Caramel latte blended tanpa kopi?” Mae menawarkan minuman yang mungkin Juni mau. Benar dugaannya, Juni mengangguk. Segera Mae memanggil pelayan kafe bandara untuk memesan.
“Ini delaynya sejam ya?” tanya Juni pada Mae.
Mae mengagguk kemudian ia berkata,”santai dulu, makan enak di sini dulu. Lagian, Sandra paling telat jemput kita. Seperti biasa. Hahaha.”
Juni tersenyum, ia menatap jam tangannya kemudian menarik nafas yang cukup dalam. Aku akan memulai hidup dari awal, janji Juni.

Bình Luận Sách (120)

  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus hanya akhirnya Sandra belum selesai...

    29/11

      0
  • avatar
    RahmawatiFitria

    sangat lah bagus

    02/10

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất