Trang Chủ/Yang bertanggung jawab dalam Senyum dan Tangisku/
Yang bertanggung jawab dalam Senyum dan Tangisku
Zar'z Al Farabhy
Chương 1 Lelaki Yatim yang menjerit
Farabhy dia adalah lelaki yang tinggal bersama bapak dan nenek. Tinggal di desa yang nyaman dan tentram namun, kehidupannya serba kekurangan. Suatu ketika, Farabhy menghampiri temannya untuk bergabung bermain. “Mau kemana kau, Ahmad?” tanya Farabhy. “Ah kau ini, selalu banya bicara! Mana sepedamu?” sahutnya. "Ahmad bonceng donk!" rengek Bhy kepada Ahmad sahabatnya "Ngapain bonceng! Minta sepeda sendiri sana!" jawab Ahmad dengan ketus. "Hei! Tengoklah kami", sambil menunjuk kearah sepedanya, "tidakkah kau melihatnya! hanya kau disini sepeda pun tak punya." "Ha ha ha," tertawa terbahak mereka semua. Masa itu terlintas dalam fikiran Farabhy tentang segala keinginan dunia, tetapi bapak ( kakek ) mengajarkan kerohanian yang cukup matang sehingga kebutuhan-kebutuhan dan keinginan hidup mungkin dapat terbendung dengan tenang tanpa bergejolak menginginkan sesuatu yang aneh supaya terwujud. “Kenapa kamu kembali, nak?” tanya bapak. “Sudah sore bapak, waktunya mandi dan pergi ke musholah.” Jawab Farabhy dengan lesu. “Farabhy, kesinilah sebentar nak, ada apa denganmu hari ini?” Menangis dan merangkul bapak menjadi jawaban baginya. “ada apa nak?” jelaskan pada bapak. Farabhy menatap bapak. Menjadi tanda bahwa ia membutuhkan sesuatu hal. “ Mengapa menatap bapak seperti itu?”. Tangan yang halus itu memegang erat pundak seorang anak yang sedang bersedih ini. “Jika hari ini kau tidak menjelaskannya, bapak akan selalu menunggu sampai kau membuka suara”. Dalam hatinya, Farabhy berharap jikalau mengadu pada bapak, akankah hari ini bisa tewujud?. Dengan ekspresi lesu, Farabhy beranjak menuju kamar mandi. “Jebur” suara dalam kamar mandi. “Bhyyyyyyyyy!!” teriakan nenek. “Farabhy kaget” suara gayung dan air memercik pelan-pelan. Seusai mandi, “Nek, baju Farabhy mana!!” pinta cetus. “Nenek kaget.” Bediri tegap sembari mengelus dadanya perlahan. “He he he”. Maaf nek. “Bisakah suara itu lebih lembut lagi Bhy?” sahut nenek. “He he he”, “nenek jangan marah ya.” sembari tersenyum tepat di hadapan nenek. Dengan spontan, tangan keriputnya menjewer kedua pipi. “Aaawwwwwww”. Teriak. “Ha ha ha ha,” nenek tertawa girang melihat Farabhy menjerit kesakitan. “Cepatlah kenakan bajumu itu Bhy! Sudah sore.” sambil memegang baju yang akan dikenakan setelah mandi. “Baik nek.” jawab Farabhy. “Nenek, malam ini makan apa? buatkan telur setengah matang ya?” “Tumben kau meminta hidangan itu Bhy?” “Sore tadi sebelum berangkat bermain, Riko menyodorkan plastik dalam mulutnya”. “Ko makan apa sih?” tanya padanya. “Telur setengah Matang Bhy!” Sahutnya “Emm”. Farabhy menggigit bibirnya menandakan rasa penasaran dengan yang dimakan sahabatnya itu. “yasudah”, besok nenek buatkan buatmu. Sekarang makan sayur bening saja ya. Angkat wadah sayur itu tanpa mengucap sepatah kata pada nenek. “Bhy, kau marah?” nenek menghampiri Farabhy. “Farabhy berdiri” mengambil piring dan membuka tudung saji di hadapannya itu. Makan malam tanpa bapak hanya di temani nenek. “Bhy, bisakah kau mendengarkan nenek?” tanya nenek pada Farabhy. “Mengangguk” bertanda meng iyakan pertanyaannya. “Nenek ingat dengan penyakit pada kulitmu itu” sembari menghembuskan nafas pendeknya. Farabhy tetap menyantap makanan di depannya, namun setengah terdiam. Kehidupan saat itu membuat Farabhy setengah menelan ludah kebencian. Dengan tubuh yang mungil kurus sangat mudah terkena penyakit, meskipun tiap harinya selalu berkeringat seperti olahragawan, tetapi segala jenis penyakit rasa-rasanya sudah tercicipi yang orang lain seumurannya waktu itu bersih tak terkena penyakit. Tubuh mungil dan kurus ini meskipun telah diasupi segala protein, namun tetap saja kurus dan mungil. Begitu ungkapan nenek. Setelah makan itu, barulah teringat semua tentang penyakit kulit yang hinggap dalam tubuh sehingga, Farabhy sampai malu untuk mengirimkan surat kepada gurunya. Keesokan harinya, datanglah perempuan hijab kerumah. Menyapa dan berdiam dalam ruang tamu sedang berbincang-bincang dengan bapak. “Bhy, sini nak, ada mbak Irin ingin bertemu denganmu.” “Assalamualaikum, adek?” muka manis menyapa. “Waalaikumsalam”, tangan julurkan kepadanya, menandakan adab kesopanan pada seorang tamu. “adek besok ndak sekolah kan?” bertanya kepada Farabhy. “Emm” Farabhy menggelengkan kepalanya saja tanpa bersuara. “Alhamdulillah, sahutnya”. Jeritan teman-teman di luar rumah membut tak menunggunya hingga pergi. “klop klop klop” suara sandal jepit menghampiri teman yang sedang asik bermain kelereng. “Haaann!” Ucap Farabhy. “Dari mana Bhy! Baru kali ini kau terlambat datang”. “Di rumah masih ada tamu”. “Siapa? tanya Raihan pada Farabhy. “Mbak Irin namanya.” “Raihan melongo” ingin seperti menanggapinya namun, ekspresi wajahnya yang kebingungan dengan nama Mbak Irin, seraya berkata, “aku tak tahu Bhy.” Yasudahlah sini kumpul bermain. Bermain di bawah bambu yang lebat dengan angin yang kencang “Wuushhh” dingin rasanya sambil bersila menggunakan alas dedaunan. Sembari melihat teman-teman asik bermain kelereng. Suasana yang sudah setengah gelap “Teman-teman yuk pulang!”. Sembari berdiri bersiap untuk pulang. “Hmm kau ini! Sudahlah terlambat, tapi keburu pulang.” Ucap Iqbal. “Ha ha ha.” Serontak Iqbal dan Raihan tertawa mengejek. Tanpa mempedulikan mereka, Farabhy berpamitan dan berbalik arah menuju rumahnya. Sesampainya di rumah terlihat bapak dan nenek masih duduk santai di ruang tamu seperti ada sesuatu hal penting yang mereka omongin. “Sudah pulang Bhy?” tanya bapak. “Kemari nak,?” Melepas sendal jepitnya dan duduk bersebelahan dengan bapak. “Ada apa bapak?” “Besok kan libur, mbak Irin ingin mengajakmu pergi”. “Kemana?” ucap Farabhy pada bapak. Bapak tidak tahu, tetapi mbak Irin mengajakmu di acara menyambut bulan “Muharram.” Bhy mengeluarkan nafas dari hidungnya, “Hmm” menandakan ia tidak mau kemana-mana, bapak kan tahu sendiri kalau farabhy tidak suka diajak orang yang tak dikenal itu. “Bukankah tadi kau sudah berkenalan?” ucap nenek pada Farabhy . “Hanya tahu nama saja nekk. Tapi tidak kenal!.” Tangan bapak menepuk pundak farabhy, “ikut saja nanti bakalan kau mengenalinya.” Ucapnya. Farabhy mengangguk saja. Menandakan iya bersedia. “Nanti disana, kamu bersama dengan mas Tole, om Bina, mbak Dila. Kata bapak menjelaskannya pada Farabhy.” “cepatlah mandi, Bhy!” ucap bapak padanya. Selepas mandi, nenek telah menyiapkan makan malam untuk kita semua. Terlihat lengkap dalam sajian di meja makan. “Tidak perlu bermuka begitu Bhy!” ucap nenek. “Kletek” mengambil sendok dan piring. “Bapak, nenek ayo makan!” ucapnya. Ekspresi wajah menekuk pada Farabhy nampak bahwa ia memang benar tidak mau berangkat menuju acara tersebut akan tetapi, bapak dan nenek yang memohon padanya untuk bisa belajar menghargai seseorang telah bertamu pada kita dan memberikan undangan khusus darinya alangkah bahagaia orang tersebut ketika kita bisa datang memeriahkan acaranya. Keesokan harinya. “Kkuukuuruyuuuk” suara ayam saling bersahut sahutan, menunjukkan sebentar lagi pasti waktu subuh. Dengan selimut tebal di tubuhku, gelapnya kamar rasa-rasanya “akh!” malas sekali untuk bangun, mengingat hari ini harus pergi dengan wanita itu. Menggerutu dalam hatinya, memang pada kenyataannya tidak suka dengan undangan itu. “Undangan apa sih kah!”, “acara ini segala” bisa bisanya sampai ke rumah, emangnya rumah dia dimana to? Disini tak ada yang kenal dengannya.” sahut sahutan dalam dirinya sendiri. “Bhyyy! Ayo bangun,” tengtengteng, bunyi alarm manual “panci” berkumandang. “Bhyyy! Bangunnn, sholat subuh, mandi dan siap berangkat. Sebentar lagi mbak Irin datang menjemputmu. Bhyyyyy!” suara nenek yang menggelegar di telinga. Selimut di campakkan, terbangun menuju kamar mandi, “hmm, dingin nekk” ucap Farabhy. “Bhy, nenek sudah menyiapkan air hangat buatmu mandi.” Wah wah rupanya telah disiapkan, “kenapa sih bapak dan nenek sangat mengharuskan pergi?” bergumam dalam hatinya. Tanpa banyak tingkah, masuklah ke kamar mandi. Tepat pukul 08.00 pagi, datanglah wanita itu menjemput, bersama dengan dua temanya yang telah menjemput mas Tole, om Bina, mbak Dila. “Ayo Bhy” ajakan mas Tole. “nanti ada makanan enak,lho” ucap mbak Irin. “haah! Makanan? Dari dulu bapak dan nenek selalu memberi makan Farabhy.” Jawab ketus. “Farabhy memang tak di anggap oleh ayah kandung, bukan berarti kekurangan makan.” Jawab serasa tidak terima dengan ajakannya. “kalau mbak belum makan, nenek sudah menyiapkan makanan sejak pagi tadi” jawab tegas. “Disini, Farabhy sudah cukup untuk makan, apa maksudnya meng iming imingi dengan makanan?” ucapnya, sembari menunjuk ke arah mbak Irin. “Jangan lantaran makanan, seenaknya ajak kami seolah-olah kami geragas di suguhi makan”. Jawab dengan marah. “Bhy!, disana kamu akan bertemu dengan banyak teman” ucap nenek. “Disana akan banyak teman yang mau bersama denganmu, bukankah disini temanmu terbatas?” ucap bapak. “Kamu akan merasakan bagaimana bersama mereka bahkan nanti mungkin berkumpul makan bersama-sama, bukan begitu mbak Irin?” ucap bapak. “begitu, bapak” jawab mbak Irin merendah. Mengelus dada Farabhy “sana ikut, nanti kalau sudah pulang, cerita ke bapak, melakukan apa saja dissana”. Tutur bapak dengan menenangkan. Menetes air mata, “baik Bapak” jawabnya. Setelah itu kami berpamitan dengan bapak dan nenek untuk bergegas pergi bersama mereka.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 34 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (123)
Gondo KusumaYuliawati
beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..
beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..
09/06
0sangat baik
05/02
0bagus
17/08
0Xem tất cả