logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 7 Fatima 2 (Jumpa pertama setelah sekian lama)

"Yah, Ayah lagi tidur gak?" tanyaku seraya mengetuk pintu kamar Ayah.
"Nggak kok, masuk aja." Kudengar suara Ayah dari dalam.
Aku melongokkan kepala ke dalam kamar Ayah setelah pintunya kubuka sedikit. "Makan yuk. Aku udah masakin rendang kesukaan Ayah lho."
Ayah tertawa jail mengejek. "Kamu apa Bi Ratni yang masak?"
"Yaa ... Bi Ratni juga bantuin sih ...." Aku meletakkan nampan berisi nasi, daging rendang, dan sayur daun ketela di samping kasur Ayah. Ayah terkekeh lagi karena ia tahu bahwa pasti Bi Ratnilah yang memasaknya dan akulah yang hanya membantu.
"Gak perlu dibawain. Ayah bisa ngambil sendiri kok."
"Cuma ganti baju aja sekarang Ayah udah ngos-ngosan. Aku udah bersyukur banget kalau Ayah masih dibolehin rawat jalan walaupun persyaratannya juga seabrek, tapi itu bukan berarti Ayah masih bisa ngelakuin segala aktifitas Ayah kayak dulu lagi. Apalagi aku udah janji sama Dokter buat jagain Ayah jangan sampai kecapekan," omelku.
Aku kemudian merubah wajah 'memperingatkan'ku dengan wajah ramah. Ayah hanya tersenyum dan disusul dengan tertawa sedikit. Sebenarnya aku sangat senang bisa merawatnya.
Ayah tersenyum-senyum melihatku sangat perhatian padanya. "Begitulah anak baik, gak pernah ditawarin makan bareng aja pasti udah selalu ngebarengin makan."
Ekspresiku berubah seketika mendengar kalimatnya. "Ya udah, aku makan di luar aja!" sewotku.
"Haha, orang ayah bilangnya anak baik kok malah ngambek?" bujuknya.
Aku mendengus pura-pura marah, tapi setelah itu aku tersenyum juga dengan ekspresi wajah yang mengucapkan 'dasar Ayah!' dan ia membalas dengan tawa pelan.
"Makasih, Sayang," ucap Ayah kemudian.
Aku mengangguk. "Kalau butuh apapun, bilang aja ya." Kuletakkan bed tray atau baki makan lipat untuk tempat tidur yang kubawa tadi di hadapannya yang masih berbaring di atas kasur.
"Kalo udah bilang? Trus bakal dicariin?" Ayah mengecek kesungguhan dalam ucapanku.
"Mm ... pokoknya bilang aja. Gak tahu deh bakal dicariin apa nggak." Aku mengangkat bahu dengan wajah sok-sokan.
Ayah mengacungkan kepalan tangan mengancamku dengan bercanda dan kubalas dengan juluran lidah. Kami lalu menghabiskan makanan kami sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Ketika aku sedang membereskan piring kami, terdengar bel pintu rumah dibunyikan.
"Mau nggak bukain pintunya buat ayah?" Senyuman Ayah seperti sedang memohon pada putri raja.
Aku mengangguk dalam seperti sedang mengiyakan perintah paduka raja. "Siap."
Kuletakkan piring kotor di tempat cuci piring dan buru-buru menghambur ke arah ruang tamu.
"Assalamualaikum ...," sapa seseorang di balik pintu setelah kubukakan.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Di balik pintu yang kubuka ada seorang pria paruh baya, Om Beni namanya. Dia adalah teman baik Ayah sejak masa-masa kuliahnya. Padahal, jurusan dan universitas mereka berbeda, entah dari mana mereka bisa dipertemukan. Om Beni mengambil hukum dan kini menjadi pengacara. Sedangkan ayahku ia mengambil PGSD dan menjadi guru sekolah dasar.
Di belakangnya ada seorang pemuda. Aku tak mengenalnya. Ia tersenyum padaku saat kami bertemu pandang. Aku menganggukkan kepala dan membalas senyumnya sebagai tanda menghormati tamu.
"Fatima, apa ayahmu ada di rumah?" tanya Om Beni.
Aku terpaku sebentar, heran dengan tingkah basa-basi Om Beni padaku. "Ada kok ...."
"Bisa minta tolong panggilkan?" tanya Om Beni lembut, membuatku ingin terbahak tapi kutahan.
"Oh ... oke ... silakan masuk dulu," kataku, balas menggoda basa-basi dari Om Beni dengan menahan tawa. Untuk Om Beni, rumah ini sudah seperti rumahnya sendiri karena sangat seringnya ia mengunjungi Ayah. Saat ini kami jadi terlihat seperti berpura-pura menjadi tamu dan tuan rumah.
"Oke, Nona." Om Beni membalas sindiranku dengan senyuman jail, karena biasanya ia memang tak pernah menunggu dipersilakan. Biasanya Om Beni malah yang akan langsung mendatangi Ayah. Jadi, baru kali ini ia duduk manis di ruang tamu. Mungkin karena ia membawa seseorang.
Aku memberitahu Ayah siapa yang datang. "Om Beni kok, sama ... gak tahu tu siapanya Om Beni."
Wajah Ayah berubah sumringah. "Oke, tanyain dulu mereka mau minum apa. Ayah mau ganti baju dulu."
Aku agak heran dengan perubahan tingkah dua sekawan itu, Ayah dan Om Beni. Kenapa Ayah jadi begitu semangat sekali? Aku kembali menuju ruang tamu. "Om Beni mau minum apa? Kopi? Teh? Sirup?"
"Akbar, kamu kepengen minum apa? Yang anget atau yang dingin?" Om Beni menanyai pemuda yang memilih untuk duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu itu.
"Apa aja boleh kok." Walaupun tersenyum, pemuda itu tampak kelelahan dan banyak pikiran.
Om Beni menengok ke arahku. "Apa aja boleh, Fat, tapi jangan yang aneh-aneh ya." Ia memicingkan mata.
"Aneh-aneh apa Om Beni? Air akuarium?" Aku berbalik meninggalkan Om Beni yang tertawa mendengar jawabanku dan menghampiri Bi Ratni yang sedari tadi masih sibuk di dapur.
"Bi, mau dikasih minum apa ya? Katanya boleh apa aja kok," tanyaku.
"Itu, Non, udah tak siapin es sirup nata de coco. Sekarang kan hawanya lagi panas," jawab Bi Ratni.
"Oh, oke." Kubawa nampan berisi tiga gelas yang disiapkan Bi Ratni.
"Kenapa cuma tiga, Fat? Mana yang buat kamu?" Ayah sudah keluar dari kamarnya, tampak lebih sehat dan segar.
"Itu, punyaku sebaskom." Aku menunjuk ke arah mangkok besar berisi es sirup dengan mataku. Bi Ratni hanya geleng-geleng dan tertawa kecil.
"Hmm ...." Ayah menanggapi guyonanku dengan ekspresi seperti biasanya, ekspresi 'tobat'. Ia kemudian berjalan ke arah ruang tamu dan aku mengikutinya di belakangnya membawakan minuman.
"Ahlan wa sahlan Akbar. Selamat datang Akbar." Ayah membuka tangannya, mengajak berpelukan. Orang yang disebut namanya oleh Ayah itupun bergegas berdiri dan menyambut pelukan Ayah.
"Gimana? Ke Jakarta dulu?" tanya Ayah pada Sang Pemuda.
"Alhamdulillah tadi dari Singapura langsung ke Jogja kok," jawab Pemuda itu.
Setelah gelas kuletakkan satu per satu di depan masing-masing orang yang duduk di ruang tamu itu, aku berbalik badan untuk menuju ke semangkok besar es sirup yang sudah menantiku di dapur, meski sebenarnya aku hanya akan meminum sebagiannya saja.
"Fat, mau ke mana? Sini duduk dulu." Ayah memanggilku.
Aku berbalik karena dipanggil, tapi hanya berdiri kebingungan. Apa aku salah dengar? Untuk apa Ayah menyuruh aku ikut-ikutan duduk di sana?
"Ayo duduk dulu, Fatima." Om Beni berusaha meyakinkanku bahwa aku tak sedang salah dengar. Meski agak ragu, akhirnya aku pun ikut duduk. Berseberangan dengan pemuda yang dipanggil Akbar itu.
"Makasih ya, Ben, udah gantiin aku jemput Akbar di bandara," ujar Ayah tiba-tiba.
Aku memandangi Ayah merasa tak jelas dengan kalimat yang baru ia katakan tadi. Menggantikan Ayah? Kenapa harus Ayah yang menjemput orang ini? Memang dia siapa? Ayah sedang sakit, tak mungkin seseorang menyuruhnya untuk menjemput orang ini di bandara. Namun, kenapa Ayah mengucapkan terima kasih seperti Om Beni telah menggantikannya melakukan tugasnya?
"Gak masalah, Rid. Selama bisa, opo wae tak lakoni, apa saja kulakukan." Om Beni tertawa dan mengambil gelas es sirupnya. "Gimana, Bos badannya?" Wajah Om Beni sekarang jadi lebih serius.
"Dari waktu Fatima ngasih tahu kalau kalian udah sampai, aku jadi ngerasa lebih enakan." Ayah kemudian memalingkan wajah ke pemuda di seberangku, bertukar senyum dengannya. "Akhirnya kamu pulang ke rumah juga, Akbar." Ayah memandanginya dengan senyuman bangga.
Orang itu ikut tersenyum ke Ayah, matanya menyipit karena senyum lebarnya. Aku semakin tak mengerti. Rumah?? Dan senyuman kebanggaan itu ... itu adalah sesuatu yang seharusnya menjadi milikku seorang!

Bình Luận Sách (89)

  • avatar
    Intann

    karena seruu bgttt

    17/09

      0
  • avatar
    Jaiza Safika

    bagus

    12/07/2025

      0
  • avatar
    YunitaDestynn

    bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt

    01/07/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất