Chương 6 Fatima 2 (Ayah, satu-satunya yang kupunya)
Yogyakarta, 12 Januari 2010. Aku berlarian senang menuju ruang tamu setelah mendengar suara mobil Ayah parkir dan melihatnya memasuki rumah. "Ayaaah!" "Iya, Sayang. Udah pulang?" Ia mengulurkan tangan kanannya dan kusambut dengan tanganku yang kemudian kucium punggung tangannya. "Kalau keluar rumah kenapa gak sekalian jemput aku?" keluhku bercanda. "Ayah dari rumah sakit kok." Ayah melanjutkan jalannya ke arah kamarnya dan aku mengikutinya. "Nggak apa-apa, Ayah kan bisa jemput aku setelah pulang dari rumah sakit," jawabku tak mau kalah. Ia menggeleng 'tobat' dengan kelakuanku yang selalu nginthil ingin bersamanya. "Kan ayah gak tahu periksanya bakal cepet apa nggak ...?" ucapnya dengan tertawa kecil. "Kalau Ayah yang jemput, aku gak papa kok kalau harus nungguin. Sejam pun gak masalah," ujarku enteng. Ia menggelengkan kepala lagi dengan ekspresi 'tobat'nya dan membuka pintu kamarnya. "Udaaah ... yang penting nyampe rumah." Ayah melepas trench coat-nya yang kemudian ia gantungkan ke gantungan baju. Sejak setahun yang lalu Ayah sudah tak berani lagi menyetir mobil dan memilih untuk mempekerjakan sopir. Aku sudah sangat merindukan duduk satu mobil dengannya karena kami sudah tak pernah lagi bepergian berdua. Kuhela napas. "Iya ...." Aku menyerah. "Gimana tadi hasil periksanya?" "Hmm, hasilnya cuma ... ayah butuh istirahat lebih banyak dari yang biasanya," ujar Ayah yang masih berdiri melepas jam tangan. "Oh ... gitu ya ...." Aku merasa kecewa. 'Istirahat lebih' mungkin adalah sindiran untukku yang hampir selalu dan setiap saat mengajaknya mengobrol. "Oke, aku nggak akan ganggu Ayah lagi. Ayah istirahat ya," ujarku sambil berjalan mundur menuju ke luar, ke arah pintu kamar Ayah yang masih terbuka lebar itu. Ia terkekeh. "Jadi ceritanya sekarang kamu lagi gangguin ayah?" Kuhentikan langkahku. "Mm ... gak niat ganggu sih ... tapi Ayah jadi gak bisa istirahat gara-gara aku terus-terusan ngajakin ngobrol kan?" "Hihi, sini ayah kasih tahu sesuatu." Ia duduk di pinggiran ranjangnya. "Apa?" Aku mendekatinya dan berdiri tepat di depannya. Ia menarik kedua lenganku dan mendudukkanku di sampingnya, menghadapkan badannya ke arahku. "Ayah itu bahagia banget bisa liat kamu cerewet trus bersemangat kayak gini," ujar Ayah. Aku tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Aku malu dibilang cerewet tapi tersipu juga ketika dibilang bersemangat. "Hehe." Akhirnya aku hanya bisa tertawa. "Kamu harus tetep bahagia dan bersemangat kayak gini ya? Sampai dewasa nanti?" tanya beliau kemudian. "Pastinya." Aku tersenyum lebar menunjukkan gigi-gigiku pada Ayah. "Bilang insya Allah aja, atau perkataanmu bakal diuji nantinya?" Ayah menarik hidungku dengan jail. "Iyaaa. Insya Allah ...." Aku tangkap tangan ayahku yang masih saja mengganggu hidungku dan menariknya ke bawah. Ia tersenyum, tanganku digenggamnya erat-erat. "Ayah punya banyak masalah, boleh gak kalau ayah ceritain ini ke kamu? Dulu ayah selalu berbagi suka dan duka sama bundamu. Sekarang, mau gak kamu menggantikan Bunda?" "Iya dong! Seharusnya udah dari dulu Ayah juga udah berbagi suka dan duka sama aku." Aku jadi sangat bersemangat merasa memiliki 'arti' di matanya. "Tapi apa itu bakal ngerubah sifat periang dan semangatmu ini?" tanya Ayah yang berwajah tak rela. Aku menghela napas. "Ayah ... bukannya sedih karena sesuatu yang menyedihkan dan berbahagia karena sesuatu yang menyenangkan itu memang udah sewajarnya? Apa aku harus tetep riang gembira waktu Ayah lagi susah?" "Iya, ayah tahu ...." Ayah terdiam sebentar memandangiku dalam-dalam. "Tapi ayah gak mau kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan jadi anak yang pemurung." Aku menarik napas panjang, menggeleng, dan tersenyum pada Ayah, berusaha meyakinkannya tanpa harus mengatakan apa-apa. Ia membalas senyumku seperti tidak menyangka bahwa aku sudah bisa bersikap dewasa dan berhasil menenangkannya. Ia pun melanjutkan kalimatnya. "Ayah dulu yang jadi penyebab bundamu sakit dan kali ini ayah juga sakit. Ayah ngerasa sangat berdosa sama bundamu, juga sama kamu yang pada akhirnya harus nanggung semua ini. Ayah pengen menebusnya meskipun mungkin itu gak akan benar-benar bisa menebus kesalahan ayah. Ayah sudah memikirkan semua hal setelah ayah meninggal, tapi sebelum ayah menjadikannya sebagai wasiat, ayah ingin meminta kerelaanmu─" Aku buru-buru menyela kalimatnya sebelum ia berbicara panjang lebar lagi. "Gimana aku nggak jadi pemurung kalau Ayah juga gak bisa maafin diri Ayah sendiri??" Kugenggam erat tangannya dengan kedua tanganku. "Ayah cuma harus jaga kesehatan Ayah sekarang. Itu yang seharusnya Ayah pikirkan. Bukan menyesali soal meninggalnya Bunda dan mikirin hal-hal lainnya," keluhku yang lebih seperti protes. Aku tahu ia merasa sangat bersalah atas meninggalnya Bunda dikarenakan sakit kanker paru-paru yang diderita Bunda adalah karena Ayah perokok berat. Akan tetapi aku tidak mungkin juga membenci Ayah karena itu. Ia satu-satunya yang kupunya sekarang. Selain itu, aku juga tak pernah melihatnya merokok lagi. "Sebenernya penyakit ayah gak seperti yang selama ini kamu tahu, Fatima. Ini sudah sangat parah." Ayah memandangku dengan kilatan air di matanya. Aku memahami ke mana arah bicaranya. "Aku nggak suka ngeliat Ayah yang kayak gini. Kenapa Ayah nyuruh aku bersemangat kalau Ayah sendiri malah berpikiran pesimis?" Nada bicaraku agak meninggi. "Semua penyakit bisa diobati ... kita gak boleh putus asa ...." Aku memandangnya penuh harap akan mendapat jawaban afirmasi. "Ayah bukan putus asa, Fatima, tapi ayah bisa merasakan waktu ayah sudah sangat dekat." "Udah, Ayah! Kalo kayak gini aku nggak mau dengerin lagi!" Aku tidak sadar sepenuhnya dengan kalimatku karena kepanikanku ketika mendengar jawabannya. Ayah hanya menatapku seperti tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku jadi merasa bersalah dengan tatapannya. Ia tadi mengharapkanku untuk mendengarkan keluh kesahnya, tapi aku mencegatnya. Mungkin aku terlalu takut mendengar hal-hal menyedihkan. "Ayah bakal baik-baik aja." Nada suaraku merendah. "Percaya deh," pintaku dengan wajah memohon. Ayah tersenyum dan mengangguk, tapi senyumannya hanya sebatas pada bibirnya saja. Sorot matanya tetap terlihat sedih. °°•°°
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 20 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (89)
Intann
karena seruu bgttt
17/09
0
Jaiza Safika
bagus
12/07/2025
0
YunitaDestynn
bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt
karena seruu bgttt
17/09
0bagus
12/07/2025
0bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt
01/07/2025
0Xem tất cả