"Maaf, Dok ...." Pagi itu seorang ibu paruh baya menegurku, "Toilet di mana ya?" Tadinya aku ingin menjelaskan sesuatu, tapi lidahku mengurungkannya. "Lurus, terus belok kiri aja, Bu." "Makasi ya, Dok." "Iya, sama-sama." Kulemparkan senyum untuk Si Ibu. Sebenarnya aku bukan seorang dokter, tapi Sang Ibu tampaknya sudah sangat ingin ke toilet. Pagi-pagi begini sudah ada yang salah sapa. Yah, wajar saja, ini adalah puskesmas 24 jam. Kembali kufokuskan mataku pada lembaran-lembaran file power point di layar laptopku yang berisi poin-poin untuk acuan bicaraku saat menjadi narasumber nanti. Niatnya aku ingin menikmati udara pagi di taman puskesmas, mempelajari ulang bahan seminarku sambil menunggu jemputan dari sebuah kantor kelurahan. Namun, sekarang rasanya kepalaku sedang susah diajak fokus. Bukan karena hal-hal yang mengganggu, kali ini justru karena perasaan sangat bahagia yang hinggap di hatiku. Mungkin ini termasuk gangguan juga ya kalau akhirnya membuatku tak fokus? Hihi. Akan tetapi, biarlah. Aku hanya perlu mengulang apa yang dua hari kemarin kulakukan. Jadi insya Allah ini tidak akan sulit. Ku-minimize lembar kerjaku dan aku malah membuka foto-foto masa laluku. Beruntung aku selalu men-scan foto-foto lamaku. Jadi sekarang, aku bisa membukanya dalam laptopku kapanpun aku mau. Ah ... aku terhanyut. Kupandangi fotoku saat bayi. Aku pun terbawa lagi ke dalam kenangan saat pertama kali mendapatkan foto itu, membuatku tertawa-tawa untuk sesaat. Namun, di saat yang sama foto itu juga berhasil membuatku sedih. Sosok wanita yang menggendongku dalam foto itu, aku tak ingat pernah hidup bersamanya. Padahal tentulah ia seorang yang sangat berarti di hidupku, karena beliau adalah ibuku. Begitu juga dengan potret ayahku dan kedua orang kakak angkatku di dalamnya, membuatku seketika ditikam oleh rasa rindu. Aku beralih ke foto-foto lainnya. Fotoku bersama mantan 'ayah asuhku' di sebuah pantai di Kepulauan Karimunjawa, lagi-lagi aku tertawa mengingat bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan foto itu. Dia jugalah yang mengambil foto-foto candid di masa remajaku. Saat itu aku masih remaja tingkat awal, masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tak kusangka waktu akan begitu cepat sekali berlalu, seperti baru kemarin saja aku mengalami kejadian itu. Padahal kini aku sudah memiliki seorang anak dan akan menjadi ibu dari dua orang anak. Yah, itulah sebenarnya yang membuatku sedari tadi tak bisa konsentrasi mengkaji ulang materiku, aku terlalu bahagia dengan kehamilan baruku. Kalau anak-anakku sudah agak besar nanti, mungkin mereka akan penasaran dengan cerita-cerita romantis masa lalu orangtuanya dan akan menanyakannya. Namun, sejak sekarang, aku sudah terbayang bagaimana reaksi mereka nanti ketika mendengar dengan siapa ibunya pernah jatuh cinta. Yah, dialah satu-satunya laki-laki yang mengisi masa-masa remajaku dengan cinta. Mas Akbar, seseorang yang sangat berjasa di hidupku. Dulunya, ia adalah kakak angkatku yang tak pernah kuketahui dan kukenal. Lebih tepatnya, aku sudah melupakannya karena terakhir kali kami bertemu usiaku baru tiga tahun dan baru bertemu lagi saat aku kelas enam SD. Sebelum meninggal, ayahku meminta sesuatu yang sangat besar darinya, dari Mas Akbar. Ia meminta Mas Akbar untuk menggantikan dirinya menjadi wali asuhku, dan, masih banyak lagi permintaan-permintaan ayahku yang kala itu kuanggap sangat tak masuk akal. Seperti memuhrimkan aku dan Mas Akbar misalnya. Aku tak pernah tahu kalau ayahku menyimpan sesuatu di balik semua permintaan itu. Bahwa ia sedang berusaha menunaikan kewajibannya sebagai waliku di kesempatannya yang terakhir, untuk memberikan jodoh yang baik untukku. Namun, karena aku belum dewasa, ayahku membalutnya dengan permintaan untuk menjadikan Mas Akbar sebagai wali asuhku. Sungguh, itu sama sekali tak terbaca olehku, keinginannya untuk menjodohkanku dengan Mas Akbar. Alhasil, ditambah Mas Akbar selalu menyembunyikan perasaannya padaku demi pengasuhanku, aku semakin tak pernah berpikir ke arah sana dan mungkin sudah sering membuatnya sakit hati atau cemburu. Meski begitu, aku sangat bangga padanya, orang yang membesarkan aku dari remaja hingga dewasa itu. Ia telah memenuhi semua kewajibannya untuk menjalankan amanat dari almarhum ayahku. Jika itu bukan Mas Akbar yang pandai sekali menjaga dirinya dan diriku, aku mungkin tak akan bisa sampai di titik ini. Bahagia dan bersyukur, itulah yang kurasakan sekarang. Sangat bahagia, karena dulu sudah dipertemukan dengan Mas Akbar. Laki-laki lembut dan penyayang yang kadang suka berubah jadi super jail, galak, dan, sangat menyebalkan, tapi semua sikapnya itu dilandasi oleh perasaan sayang. Mas Akbar galak hanya karena ingin melindungiku. Berterimakasih rasanya tak akan cukup untuk mengungkapkan rasa syukurku akan keberadaannya. Untuk semua dukungan, kesabaran, penjagaan, dan pengorbanan yang diberikannya. Ia bahkan merelakan kuliahnya dan umurnya untuk memenuhi wasiat ayah demi menjagaku. Terima kasih 'ayah mudaku', untuk semua perhatian yang kau curahkan selama bertahun-tahun lamanya. Sampai aku tak pernah lagi merasa kehilangan sosok ayahku dulu, karena dalam setiap hembusan napas Mas Akbar, aku juga merasakan kasih sayang dari ayahku melaluinya. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baiknya balasan, Mas Akbar .... Bisa mengenalmu adalah anugerah terindah setelah kedua orang tuaku tiada .... Terima kasih, sebanyak-banyaknya .... . . . . . Ada sangat banyak cerita di dunia ini, setiap orang mempunyai ceritanya masing-masing. Bagiku ... cerita hidupku cukup aneh. Meskipun begitu, ini adalah cerita yang sangat spesial untukku. °°•°°
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 18 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (89)
Intann
karena seruu bgttt
17/09
0
Jaiza Safika
bagus
12/07/2025
0
YunitaDestynn
bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt
karena seruu bgttt
17/09
0bagus
12/07/2025
0bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt
01/07/2025
0Xem tất cả