logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

06 - Enigma

Pintu kamar Reva berderit pelan, terbuka, menunjukan sosok Vero yang berjalan perlahan memasuki kamar gadis cantik itu. Senyum manis seketika memeta di bingkai birai Vero kala pribadi tampan itu menolehkan pandangan ke arah ranjang.
Vero kembali menutup pintu kamar, setelahnya memokuskan atensi untuk berjalan, menghampiri tempat tidur. "Kamu udah bangun ternyata."
Reva masih dalam proses mengumpulkan nyawa selepas tertidur pulas dari siang tadi, sebab lelah tak hentinya ia menangis. Gadis cantik yang tengah duduk linglung itu menoleh ke arah Vero, menatapnya bingung. "Kok aku bisa di sini? Perasaan tadi ...."
Vero memetakan senyum manis itu lagi. Ia mendudukan dirinya di tepian ranjang, tepat di samping tubuh Reva. "Tadi kamu ketiduran di kamar mandi, terus Mas pindahin ke sini."
Kening Reva mengernyit, menemani matanya yang memicing, menatap Vero nanar. Ia kemudian menoleh singkat ke arah pintu kamarnya. "Tapi-" "Iya Mas tahu. Pintu kamar kamu tadi siang kamu kunci. Mas minta maaf. Mas khawatir sama kamu. Udah manggil kamu sambil ngetok-ngetok pintu nggak ada jawaban, yaudah Mas terpaksa buka pintunya pake kunci cadangan."
Penuturannya disela oleh celotehan Vero yang seketika menjelaskan tindakan yang telah dilakukan, Reva seketika terdiam dengan mulut mungilnya yang masih menganga. Gadis cantik itu mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang.
Vero terkekeh gemas, menundukan pandangan sekilas, kemudian salah satu tangannya ia ulurkan, hingga berlabuh di kepala Reva, mengusap sayang surai gadis itu. "Maaf, ya?"
Reva mengerjapkan pelupuk matanya lagi dengan lugunya, membuat Vero semakin merasa gemas, sampai tidak bisa menahan birainya untuk tidak lagi merenggang, sekadar mengulas senyum.
"Mas udah pesenin makanan buat makan malem. Kamu mau Mas bawain makanannya ke sini?"
"Malem?" Reva terkejut, sama sekali tidak mengira jika dirinya sudah tertidur begitu lama, padahal ia kembali dari apartemen Julian saat matahari masih dalam keadaan terang-terangnya.
"Iya. Sekarang udah malem. Mau jam delapan."
Reva mengedarkan pandangan, membiarkan matanya yang membola menilik keadaan sekitar. Semua tirai jendela di kamarnya sudah tertutup dengan sempurna.
"Kamu tadi tidurnya pules banget. Lama lagi. Mungkin kamu kecapek'an, abis nangis." Vero bertutur sembari membiarkan seluruh atensinya tertuju pada Reva. Manik mata jelaga indahnya, menatap sosok gadis di hadapannya, lamat.
Reva yang mendengar penuturan Vero mengecai rungu dengan begitu sopannya pun, seketika menoleh. Ia menelan ludahnya kasar dengan susah payah. "K-kok Mas Vero bisa tahu, kalau aku a-abis nangis tadi?"
Vero terkekeh ringan. "Ya gimana nggak tahu, orang kelopak mata kamu aja sembab. Tuh liat, sekarang malah bengkak."
Pria tampan itu mengusap lembut kening Reva, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi paras cantik gadis itu. Ibu jari tangannya mengusap sayang ujung alis sebelah kanan Reva secara berulang.
Reva seketika mamaku, mengalihkan atensi, membiarkan pandangannya tertunduk selagi benaknya memberikan sebuah gambaran jelas, terkait kejadian yang menimpanya siang tadi.
Pertemuannya dengan Julian dan sang adik, menjadi momen yang begitu menghunus relung, membuat Reva tergugu, mengingat kembali alasan dirinya tadi siang menangis di kamar mandi.
"Makan yu?"
Suara lembut Vero menginterupsi lamunan Reva, membawa gadis cantik itu kembali dari angan-angannya yang begitu nyata. Ia sedikit terhenyak, seketika menengadahkan pandangan, balas menatap Vero yang sedari tadi agaknya tak pernah bosan menatap dirinya.
Vero tersenyum. "Kamu butuh banyak tenaga buat tetep bertahan dalam segala keadaan, Rev. Mas nggak tahu masalah apa yang sekarang ini lagi kamu hadepin. Buat sekarang, jangan dulu dipikirin. Semua masalah pasti bakal ada jalan keluarnya, meskipun nggak semuanya instan."
Reva tertegun, menatap Vero lamat. Sementara Vero lagi-lagi menorehkan senyumnya, sedang tangannya ia biarkan membelai wajah bantal Reva, mengusap pipi tirusnya. "Mas bawain makanannya ke sini, mau?"
Reva berdehem singkat, memundurkan kepala, hingga tangan besar Vero tidak lagi melakukan kontak dengannya. Ia tersenyum tipis. "Nggak usah, Mas."
Lantas tindakan Reva tadi membuat Vero sempat terdiam beberapa saat, sebelum menarik tangannya, untuk ia jauhkan dari Reva.
"Aku mau mandi dulu. Mas tunggu aku di meja makan aja. Atau makan duluan. Ntar aku nyusul."
Vero mengangguk patuh. Mengatupkan belahan birainya rapat-rapat, kemudian tersenyum simpul. "Ok. Kalau gitu, Mas tunggu di meja makan. Mas nggak bakalan makan, sebelum kamu nyusulin Mas. Kita makan bareng."
Vero menghela napas dalam, mengembuskannya pelan, kemudian ia membangkitkan diri dari duduknya, berdiri di samping tempat tidur, diikuti oleh pandangan Reva yang menilik setiap geriknya. "Mas ke luar dulu."
Reva mengangguk sambil tersenyum. "Hemmm."
Memberi Reva senyuman manis terakhir, tanpa ingin mengulur lebih banyak waktu lagi, takutnya malah membuat Reva tidak nyaman, Vero pun memutuskan untuk segera berlalu dari sana, meninggalkan tunangannya itu sendiri, memberinya ruang dan waktu.
Manik mata hazel indah berbingkaikan pelupuk yang berwarna merah muda sedikit sembab milik Reva tak teralihkan, ia biarkan untuk menatap sosok Vero sampai benar-benar menghilang di balik daun pintu kamarnya.
Reva menghela napas panjang, menundukan pandangan, kemudian mengembuskan napasnya dalam satu kali hentakan kasar. Bibir ranum gadis cantik itu mencebik. "Kenyataan, emang kadang tidak selalu sejalan dengan angan-angan."
Reva tidak memungkiri, bahwa saat ini dirinya tengah benar-benar terpuruk. Betapa tidak, kebahagiaan yang tadi pagi baru ia rasakan, seketika sirna bersama dengan sebuah kenyataan pahit yang menghantam, muncul ke permukaan begitu saja.
Bohong, jika dirinya sama sekali tidak merasa bahagia saat setiap langkah demi langkah ia ambil, menuju apartemen Julian, guna menggaumkan berita pada sang kekasih.
Reva bahkan sudah memiliki gambarannya sendiri, terkait bagaimana kehidupan pernikahannya nanti dengan Julian. Meskipun banyak orang akan dikagetkan dengan pergantian mempelai pria di hari pernikahan yang seharusnya terjadi antara dirinya dan Vero, Reva sudah sangat siap menerima segala konsekuensi yang menantinya.
Namun, takdir berkata lain. Semesta belum mengijinkan Reva untuk merasakan kebahagiaan yang ia idam-idamkan. Mungkin tidak untuk sekarang. Tidak dengan Julian.
***
"Hallo, dengan siapa ini?" Vero berjalan mengitari meja makan, tengah menyiapkan segala hidangan makan malam yang telah ia pesan sebelumnya.
Tadi, di tengah kesibukannya menata meja, Vero dikagetkan dengan ponselnya yang tiba-tiba saja berdering, mendapatkan sebuah notifikasi panggilan suara.
Pria tampan itu sempat keheranan sendiri, sebab nomor yang tercantum di layar ponselnya saat itu, tidak memiliki nama.
Daripada merasa penasaran dan menerka-nerka, siapa gerangan pemilik nomor baru yang menghubunginya tersebut, Vero pun menjawabnya.
"Bang Vero?"
Vero mengernyit, menjauhkan ponsel dari daun telinga, menatapnya bingung, untuk sesaat. "Iya. Ini siapa?"
Terdengar seseorang di sebrang sambungan sana membuang napas kasar. "Ini Alex, Bang. Adeknya Reva."
"Oh, Alex. Iya, ada apa Lex?"
"Cuman mau nanya aja sih, Bang. Abang lagi sama Reva sekarang?"
Vero melirik pintu kamar Reva yang sedikit terlihat dari area dapur. "Reva lagi mandi deh kayaknya. Kenapa emang?"
Terdengar di sebrang sana Alex membuang napas kasar lagi. "Syukurlah kalau dia lagi sama Abang. Gue cuman khawatir. Takut dia kenapa-napa. Gue telponin dari tadi siang, nggak diangkat sama sekali soalnya."
"Mungkin kamu nelpon dia pas dia lagi tidur, Lex. Soalnya Kakak kamu baru bangun banget, dari siang tadi dia tidur."
"Oh, iya-iya, Bang. Tanks ya. infonya."
"Nggak masalah."
"Btw, Reva ada cerita soal masalah dia sama pacarnya nggak, ke Bang Vero."
"Masalah apa?"
Alex di sebrang sambungan sana berdehem kikuk. "Reva udah ngasih tahu Abang kan, kalau dia udah ada pacar sebelum dijodohin sama Abang?"
"Iya. Dia ngasih tahu." Vero mendudukan diri di salah satu kursi yang menghadap ke arah meja pantry. Matanya sempat mengerling, melirik arah pintu kamar Reva yang masih setia tertutup.
"Gue nggak tahu, gue mesti ngasih tahu Abang apa nggak. Gue juga bingung mau ngomongnya gimana. Intinya, sekarang Reva lagi ada masalah sama cowoknya. Gue khawatir dia ngelakuin hal yang enggak-enggak, jadi maksud gue nelpon Abang, gue mau minta tolong."
"Ok. Minta tolong apa?" Vero berusaha bertutur dengan suara yang terdengar setenang mungkin, di mana saat itu tiba-tiba hatinya merasa khawatir.
Benaknya pun dibuat ikut menerka. Terutama tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Reva dan kekasihnya.
"Tolong jagain Reva. Pastiin dia baik-baik aja, Bang."
Vero tersenyum gemas mendengar penuturan Alex yang terdengar jelas sekali menyelipkan rasa cemas yang begitu berarti. Padahal, di jaman sekarang ini, jarang sekali ada kakak beradik yang berani terang-terangan menunjukan efeksi seperti apa yang sedang Alex lakukan. "Hemmm. Kamu nggak usah khawatir. Saya pasti jagain kakak kamu, tanpa kamu minta sekalipun, Lex."
Tbc ....

Bình Luận Sách (131)

  • avatar
    MputMnms

    Ceritanya menarik banget. Penasaran sama kehidupan Vero & Reva setelah nikah nanti bakal kayak apa.

    10/06/2022

      3
  • avatar
    Itsmetata

    baguss

    29/03

      0
  • avatar
    WandaWandi

    menyenang kan

    12/10

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất