logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

05 - Dilema

Hari sudah sore, menjelang senja.
Vero tampak tengah berdiri di ruang utama, dekat jendela sembari berbincang dengan seseorang melalui sambungan suara, membahas pekerjaan yang cukup mendesak, sebab perlu dibahas saat itu juga, meskipun hari ini merupakan hari liburnya.
Di sela perbincangannya, sesekali Vero menoleh ke arah lantai dua, lebih tepatnya ke arah di mana pintu kamar yang ditempati Reva terletak, berada.
Tak dapat dipungkiri, rasa cemas yang menghampiri relung Vero setiap detiknya kian membumbung tinggi. Betapa tidak, seusai dirinya mendengar isak tangis dari dalam kamar Reva siang tadi, hingga sampai saat ini, Vero belum juga bertemu dengan gadis itu.
Vero tentu merasa cemas dan khawatir. Terlebih ia tidak tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi, sampai Reva mengurung dirinya di kamar, seharian ini.
Mencoba berfikir positif, sampai bersabar, menunggu setidaknya sampai Reva ke luar dari kamar, malah membuat Vero semakin merasa cemas, akan kondisi gadis cantik itu.
Dari mulai alasan kenapa Reva kembali cepat, kemudian menangis, bahkan sampai sudahkah gadis itu makan, tak luput dari kecemasan Vero.
Vero yang perlahan mulai merasa putus asa pun bimbang, membuang napas kasar seraya menundukan pandangan dan mengusap pelan pelipisnya. "Ok. Siapin aja berkas buat pertemuan besok. Kalau nggak ada hal lain yang mau kamu bicarakan, saya tutup dulu telponnya."
Menunggu sepersekian detik orang di sebrang sana memberi respon, akhirnya Vero pun memutuskan sambungan telpon tersebut. Menaruh ponselnya ke atas meja, kemudian menolehkan kepalanya lagi untuk yang kesekian kali, ke arah kamar Reva.
Kening Vero mengernyit. Ia menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan. "Nggak bisa dibiarin."
Pria tampan bertubuh jangkung nan gagah itu, hilang kesabaran. Ia sudah tidak ingin lagi hanya duduk diam, dan membiarkan keadaan semakin terasa tidak tenang.
Setelah hampir seharian bergelut dengan perasaan cemas pun khawatir, akhirnya Vero memutuskan untuk mendatangi Reva kali ini.
Tanpa menunggu sang penghuni membuka pintu kamar, Vero mengambil tindakan nyata dengan membuka kunci pintu kamar Reva tersebut dengan kunci cadangan.
Begitu pintu terbuka, Vero disambut dengan keadaan kamar yang gelap gulita, ditemani langit senja yang tersuguhkan dari arah jendela dengan tirai besar yang terbuka.
Vero mengedarkan pandangan. "Reva?"
Pria tampan itu melangkah masuk, kemudian kembali menutup pintu kamar Reva tersebut. Menghidupkan lampu, setelahnya berjalan ke arah tempat tidur yang tampak berantakan, dengan ponsel milik Reva yang berada di atasnya.
Ponsel Reva menyala dalam keadaan terbalik, mengeluarkan suara getaran, sebab mendapatkan notifikasi panggilan secara berulang, sepertinya.
Kening Vero kembali mengernyit, keheranan. Sebab kamar Reva nampak kosong, tak berpenghuni. Ia tidak menemukan sosok Reva di sudut ruang manapun.
Sampai kemudian, Vero mengambil langkah, mendekat ke arah pintu kamar mandi. Ia sedikit membungkukan tubuh, menempelkan salah satu daun telinga di permukaan pintu tersebut, kemudian mengetuknya pelan dengan punggung tangan. "Reva? Kamu di dalem?"
Hening. Tidak ada suara apa pun yang terdengar dari arah dalam kamar mandi sana. Vero kembali mengetuk pintu. "Rev?"
Kali ini, tangan Vero meraih knob pintu tersebut dan memutarnya secara perlahan. Siapa kira, pintu tersebut langsung terbuka begitu saja, tidak dikunci sama sekali.
Vero pun tidak ingin membuang lebih banyak waktu. Ia masuk dan langsung menghidupkan lampu. Selepas cahaya lampu memberi penerangan pada setiap sudut ruang, Vero dikagetkan oleh sosok Reva yang terduduk di dekat kakinya.
"Reva?" Vero berbisik sembari berlutut cepat di samping tubuh Reva.
Pria tampan itu menelisik penampilan gadis cantik itu. Ada sensasi lega luar biasa, mendapati Reva baik-baik saja, meskipun wajah gadis itu tampak pucat dengan ujung hidung kecilnya yang sedikit memerah, pun pelupuk matanya sembab.
Reva tertidur, selepas hampir seharian ini menangis, merenungi kepedihan yang bisa ia rasakan sendiri selepas mengetahui kebenaran dibalik hubungan indah yang selama ia eluh-eluhkan.
Tangan Vero terulur dengan sendirinya, meraih bahu lunglai Reva, menyentuhnya penuh kelembutan. Selagi manik mata legam indahnya menatap wajah cantik Reva dengan tatapan lembut, bibirnya mengulas senyum gemas, mendapati Reva tampak begitu manis, meskipun tengah tertidur, habis menangis.
Tangan Vero mengusap lembut pipi Reva, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik gadis itu. Vero membuang napas kasar dari sebuah rasa lega, kemudian tersenyum. "Bikin khawatir aja."
Tidak ingin gadisnya dilanda rasa pegal karena terlalu lama tidur di lantai, tanpa berpikir panjang, Vero menggendong tubuh mungil Reva dengan kedua lengan kokohnya, menggunakan gaya khas pengantin.
Perlahan pun penuh kelembutan, pergerakan Vero begitu dipenuhi dengan kehati-hatian, memastikan tidur Reva tidak terganggu sama sekali, meskipun gadis itu sempat merengek pelan, kala tubuhnya sudah berada dalam dekapan Vero.
Vero hanya tersenyum simpul, kemudian membawa Reva menuju kamar tidur, perlahan membaringkan tubuhnya di permukaan ranjang yang jelas jauh lebih empuk dan nyaman.
Pria tampan itu pun tak lupa menyelimuti tubuh mungil Reva yang tampak begitu rapuh itu.
Vero mendudukan diri di tepian ranjang, setelah memastikan Reva tertidur dalam posisi ternyaman. Senyum penuh rasa kagum dan mendamba itu tercipta di belahan birainya yang menawan.
Tangan Vero berlabuh di puncak kepala Reva, mengusapnya lembut penuh kasih. "Aku nggak tahu, apa yang bikin kamu nangis sampe mata kamu sembab kayak gini. Tapi apa pun itu, aku yakin, kamu bisa lewatin dengan tegar dan kuat."
Vero tersenyum lagi, kemudian perlahan mencondongkan tubuhnya ke arah Reva, melabuhkan kecupan hangat di kening gadis cantik itu, sesaat.
Pria tampan itu menatap sendu wajah damai Reva. Ia tersenyum lirih. "Seandainya aku bisa milikin kamu seutuhnya, aku pasti bakalan memperlakukan kamu layaknya seorang ratu."
***
Gelak tawa menggema di kamar megah milih Julian yang sebelumnya terasa begitu mencekam, dikuasai oleh keheningan.
Sang empunya menatap jengah, penuh ketidak sukaan sesosok pria yang masih setia menggaumkan gelak tawa tanpa dosanya. "Puas lo?"
Devan - sahabat Julian berhenti tertawa, memokuskan seluruh atensi pada wajah tampan Julian yang tampak begitu masam. Ia tersenyum simpul. "Lo marah?"
Julian memutar bola matanya malas, tidak memiliki selera untuk menggubris pertanyaan Devan yang entah kenapa, mengecai rungunya dengan nada yang terkesan begitu sarkastik.
Devan mendengkus sembari tersenyum miring, meremehkan. "Lagian, lo udah diingetin sama si Alex berkali-kali, nggak pernah lo dengerin."
"Ya gue nggak tahu, kalo gue bakal ke cyduk kayak tadi, bego."
Devan lagi-lagi tersenyum. "Bukan salah gue dong."
Julian melirik sinis sahabatnya yang mendudukan diri di tepian tempat tidur. "Salah lo lah, kan lo yang ngajak taruhan."
Devan membuang napas kasar, berniat menanggapi sahabatnya dengan sedikit lebih serius, kali ini. "Belum terlambat. Lo bisa minta maaf sama Reva."
"Gila. Dia marah besar sama gue, bangke."
"Ya maka dari itu, lo kudu minta maaf sama dia."
Julian menatap Devan beberapa saat, mendapatkan respon sebuah gerakan alis naik turun beberapa kali dari sahabatnya itu, kemudian ia mengalihkan pandangan. Membuang napas kasar, Devan menunduk. "Nggak tahu gue. Ngebiarin dia nikah sama cowok pilihan ortunya, kayaknya lebih tepat nggak sih?"
"Kenapa lo mikir kayak gitu?"
Julian mengindikan bahu. "Entah. Mungkin gue ngerasa, kalo gue nggak pantes buat Reva."
Tatapan Devan meluruh. Ia menatap lembut penuh kesungguhan sosok Julian. "Lo sesayang itu ya, sama dia?"
Julian melirik Devan sembari menorehkan senyum lirih. "Hemmm."
Tbc ....

Bình Luận Sách (131)

  • avatar
    MputMnms

    Ceritanya menarik banget. Penasaran sama kehidupan Vero & Reva setelah nikah nanti bakal kayak apa.

    10/06/2022

      3
  • avatar
    Itsmetata

    baguss

    29/03

      0
  • avatar
    WandaWandi

    menyenang kan

    12/10

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất