Yang datang akan pergi, yang dipertemukan pasti akan dipisahkan. Tuhan memberikan pertemuan tapi ia juga memberikan perpisahan, lantas kenapa harus ada pertemuan jika akhirnya akan berpisah? – Anaya Tabitha Davinson. *** Pagi telah menyapa, hari ini adalah hari terakhir Anaya di kota yang telah ia tempati sekitar kurang lebih lima belas tahun. Hari ini ialah hari terakhirnya untuk bertemu teman-temannya. Kenapa rasanya susah banget ya, mungkin sebagian besar teman sekelasnya kali ini udah deket sama dia semenjak sekolah dasar ada juga yang dari menengah pertama. Anaya mengusap wajahnya gusar, boleh gak sih dia egois? Anaya gak pengen pindah, dia gak mau ninggalin tempat ini! Meskipun di Jakarta adalah tempat seharusnya ia berada, karena banyak saudara-saudaranya yang tinggal di sana dan menginginkan agar Anaya tinggal di sana bersama dengan mereka. Tapi jujur ia tak ingin melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini, bahkan kota ini. Disini banyak menyimpan memori kenangan, banyak kenangan yang sudah berlalu di sini. Lima belas tahun berada di kota Bandung bukanlah waktu yang singkat, hari-hari sudah terlalui di sini, pahit dan manisnya sebuah kenangan menjadi satu dalam hidup Anaya. Baginya Bandung memiliki kenangan tersendiri, di sini ia tumbuh menjadi remaja seperti sekarang. Walaupun, ini bukanlah tempat kelahirannya. Disini dia mulai merangkak, di rumah ini dia mulai belajar, intinya rumah ini dan Bandung punya kisahnya sendiri. Setelah lama termenung akhirnya Anaya memutuskan untuk membasuh tubuhnya menggunakan air, agar terlihat lebih segar. Dua puluh lima menit berlalu, Anaya sudah nampak lebih segar dan rapih dengan pakaian sekolahnya. Hari ini dia pengen seneng - seneng sama temen-temennya pokonya. "Pagi," sapa Anaya dengan lesu seakan tak ada gairah sama sekali. "Pagi sayang," balas kedua orangtuanya dengan serempak. "Morning too my sis," balas Kevin adik Anaya. Sarapan terjadi sangat khidmat tanpa adanya obrolan antara mereka. Selepas melakukan sarapan Anaya berpamitan kepada kedua orang tuanya dan langsung berangkat ke sekolah. Lima belas menit telah berlalu, Anaya telah sampai di depan gerbang sekolah. Ia menghembuskan nafasnya berat sebelum kembali melangkah memasuki area sekolah. Sekolah udah mulai rame karena bentar lagi bel masuk udah mau bunyi. Setelah memasuki area sekolah Anaya melihat beberapa teman sekelasnya yang melambaikan tangannya. Ia tersenyum paksa kemudian melangkah menuju ke arah mereka. "Kenapa cemberut gitu?" tanya salah satu dari mereka yang ber–name tag Nika Saputri. Anaya hanya memandangnya sekilas lalu menggeleng pelan. Ia sangat tak pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya, setiap ia berusaha menyembunyikan sesuatu pasti teman-temannya akan segera mengetahuinya dan meminta Anaya untuk bercerita semuanya. "Gue udah sering bilang, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Lo punya kita buat temen cerita, apa gunanya kita kalau gak bisa bantu lo?" tanya Selli dengan sedikit nada kesal. "Kalau lo pendam terus, masalah itu akan jadi penyakit dihidup lo, Ay," sambung Jesi lembut, diantara mereka Jesi yang paling lembut dan kalem. Mereka telah sampai di depan pintu kelas, semua yang berada di kelas menatap Anaya aneh. Biasanya gadis ini selalu ceria dan bibir yang selalu menyunggingkan senyuman manis, tapi kenapa sekarang berubah 180°? Apa dia mempunyai masalah? Itulah yang mereka pikirkan. Anaya langsung mendudukkan dirinya di bangkunya, teman-temannya pun sudah mengerubungi Anaya untuk mencari tahu ada apa dengan gadis ini. Anaya menghembuskan nafasnya pelan kemudian menatap mereka satu persatu, "Gue pindah ke Jakarta." Sontak ucapan Anaya membuat mereka semua melongo. "Gak usah bercanda deh, gak lucu tau!" ketus Nika dan diangguki oleh lainnya. Apa-apaan dia, baru saja bertemu beberapa bulan dan mulai dekat eh malah bilang mau pindah! "Gue gak bercanda," ujarnya dengan lesu. Teman-temannya Anaya sudah menampakkan raut wajah kecewa mereka. Disini Anaya sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri, bahkan mereka menganggap Anaya sebagai adik mereka sendiri, karena tingkah laku Anaya yang bisa dibilang seperti anak kecil sehingga membuat yang lain selalu ingin melindunginya. Kini semua sudah berkumpul mengerubungi Anaya, bahkan tadi yang tidak terlalu perduli kini mulai mendekat untuk mengetahui benar atau tidak yang mereka dengar barusan. "Ay, masa lo pindah sih!" "Lo rela ninggalin kita?" "Yah, nanti siapa dong yang harus kita jagain dan jailin?" Mereka melontarkan kata-katanya dengan raut wajah kecewa, jujur sebenarnya ia juga ingin tetap ada di sini dan berkumpul bersama mereka, tapi apalah daya Anaya? Terdengar tangisan kecil dari samping Anaya, sontak mereka langsung mengalihkan perhatiannya ke asal suara itu. Jesi dia sudah tak tahan lagi untuk tidak mengeluarkan air matanya, Anaya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri kini harus meninggalkannya begitu saja. Jesi adalah anak semata wayang yang membuat dirinya selalu merasa kesepian dan dengan datangnya Anaya dihidupnya membuat dia merasa memiliki saudara. Jesi langsung berhamburan ke pelukan Anaya. Oh tuhan! Ia tak ingin melepaskan gadis ini, bolehkan ia egois agar menjadikan Anaya sebagai adik kandungnya agar ia tak pernah kehilangan dia? Anaya yang mendapatkan serangan mendadak pun sempat terhiyung ke belakang, untung saja dia bisa menyeimbangkan tubuhnya. "Gue gak mau kehilangan lo. Lo tau 'kan kalau gue ini anak tunggal, gue gak punya adik ataupun kakak, cuma lo Ay yang gue anggap sebagai adik gue sendiri!" ujarnya sembari terisak di pelukan Anaya. "Kita juga gak mau kehilangan adik kecil kita," ucap salah satu teman Anaya kemudian ikut memeluknya dan diikuti oleh yang lain. Ya kelas Anaya memang terkenal akan solidaritasnya, disini tidak ada namanya teman sekelas tapi keluarga kedua. Dan di kelas ini, Anaya lah yang paling muda hingga membuat semua teman-temannya menganggapnya sebagai adik. "Gue juga gak mau kehilangan kakak-kakak brengsek gue, lo tau 'kan gue anak sulung, dan gak pernah ngerasain punya kakak, tapi semenjak gue kenal kalian ... gue ngerasa terlindungi dan punya banyak kakak," balasnya dengan air mata yang mulai meluruh membasahi pipinya. Anaya melepas pelukannya dan menghapus air matanya kemudian terkekeh singkat, "Ayolah, gue cuma pindah kota, bukan pindah negara atau pindah alam," ucapnya dengan memanyunkan bibirnya. Mereka menatap Anaya kesal, baru saja ia bersifat kalem dan lesu, eh malah kembali ke sifat asalnya. Pletak! "Sembarangan aja kalau ngomong! Kita itu lagi sedih karena lo gak bakal ada dikelas ini lagi dan kita bakal sulit buat ketemu sama lo, tapi malah lo kaya gini!" cerca Nika, ia sungguh kesal dengan sahabatnya ini. "Iya-iya gue tau, tapi kan kita masih bisa kontekan, jugaan nanti gue bakal sering-sering main ke sini deh atau kalian juga bisa main ke Jakarta." Anaya menatap mereka dengan senyum manis, Anaya yang biasanya telah kembali, senyum manis yang selalu tersungging di bibirnya sudah kembali. "Do you promise?" tanyanya pada gadis berkulit putih pucat tadi. Anaya tersenyum lembut, "Yes, i promise," ucap Anaya lantang dengan menaikkan jari kelingkingnya. Merekapun tersenyum kemudian kembali menyerang Anaya dengan pelukannya. Semuanya langsung berhamburan ke pelukan Anaya, bahkan para laki-laki pun ikut memeluknya karena sangking sayangnya mereka pada gadis itu. Anaya beruntung, beruntung sekali bisa bertemu dengan mereka, teman sekaligus saudara untuknya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 24 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (142)
Arif Karisma
Ceritanya sangat menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya semangat
Ceritanya sangat menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya semangat
14/06/2022
0terbaik
26/11
0semoga bermanfaat dan buat novel lebih bagus lagi
30/10
0Xem tất cả