logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

ALVIANAYA

ALVIANAYA

Erlina


Chương 1 Deverodz

"Tuhan maha pengampun, tapi kami tak kenal ampun! Deverodz harga mati!"
️***
Deverodz, satu nama yang dapat menggemparkan sekolah. Siapa yang tidak tahu Deverodz, geng yang sudah memiliki nama dimana-mana, bahkan sampai ke daerah sekitar karena dikenal dengan anggotanya yang mempesona. Apalagi ketua mereka. Ketua yang dikenal blangsakan tapi ganteng, semua murid pasti tahu Alvian Aroyan.
Cowok berandal kesayangan guru BK, yang jadi incaran para siswi. ya gimana gak jadi kesayangan BK orang tiap hari aja kerjaannya masuk BK mulu, serasa punya tiket VIP buat masuk ruang Kramat itu.
Selain itu, Deverodz juga mempunyai enam anggota inti yaitu Alvian Aroyan Pratama, Dian Pramana, I Wayan Agung Adiputra, Raditya Arafa, Deo Purnama, dan Raden Artahana.
Deverodz merupakan perkumpulan remaja yang didirikan oleh murid-murid SMA Bima Sakti. Deverodz merupakan kumpulan orang-orang yang menyukai dunia motor. Akibat kesamaan hobi yang sama-sama pencinta motor, mereka akhirnya tergabung dan membentuk geng yang dinamakan Deverodz.
Geng ini sudah ada sejak angkatan ke dua puluh sembilan, yang artinya empat tahun lalu. Karena saat ini yang memimpin Deverodz adalah pemuda kelas sebelas angkatan tiga puluh tiga. Bisa dibilang geng ini udah ada sejak dahulu dan turun temurun ke setiap angkatan.
Tapi tenang kok, Deverodz gak cuma bisa bikin onar aja tapi kadang juga guna sebagai seksi keamanan dan bantu-bantu anggota OSIS. Soalnya hampir sebagian anggota OSIS itu juga anak Deverodz jadi yah saling bantu.
"Raka! Jadi tawuran gak!" teriak Radit saat semuanya sudah berbaris di depan markas musuh.
Gak ada adab emang, teriak-teriak kaya gini. Mending kalo teriak ngajak main, lah ini ngajak tawuran, emang epick sekali Radit dan kawan-kawannya ini.
"Assalamualaikum! Jadi tawuran gak nih?!" teriak Raden dan langsung mendapatkan pukulan dari Deo.
"Goblok! Lo kristen dodol!" umpat Deo kesal, sedangkan Raden hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Alvian hanya menggelengkan kepalanya frustasi lama-lama dia menjadi pemimpin dari orang-orang tidak waras seperti mereka, rasanya ia ingin resign saja.
Bagi yang ingin menggantikan Alvian sangat dipersilahkan, karena Alvian sudah tidak kuat menghadapi anak buah yang gak ada wibawanya sama sekali ini.
"Raka, main yuk!" teriak salah satu anggota Deverodz satu barisan belakang.
Sebenarnya ini bukan contoh yang baik bagi pelajar, tapi seperti yang selalu mereka ucapkan 'Masa muda hanya datang sekali jadi nikmatilah dengan sepenuh hati dan jiwa!' entah semboyan dari mana yang mereka dapatkan, tapi ya inilah mereka, Deverodz. Remaja dengan segala tingkah laku yang membuat orang geleng-geleng kepala.
Tapi kenyataannya mereka tidak akan melakukan semua ini jika tidak ada yang menantang Deverodz. Bagi mereka siapa yang menantang Deverodz, berarti mereka siap mati. Karena moto mereka adalah 'Tuhan maha pengampun, tapi kami tak kenal ampun! Deverodz harga mati!' itulah moto mereka yang sudah tertanam di dalam diri semua anggota.
"Woi! Mana tadi yang ngajak war, tapi giliran disamperin kagak keluar!" teriak salah satu dari mereka.
Mereka sudah mulai kesal karena dari tadi sang lawan tidak menampilkan batang hidungnya sama sekali. Udah dibelain panas-panasan tapi gak muncul-muncul, kan jadi kesel tuh mereka.
Deo mendengus kesal. "Dah lah, anak Mami gak ada yang berani!" sahut Deo dan membuat seluruh anggota Deverodz tertawa terbahak-bahak.
Mendengar tawa dari anggotanya, Alvian hanya tersenyum tipis. Jika sedang berada di keadaan seperti ini sikap tengil dan konyolnya akan tergantikan dengan sikap dingin dan datar jangan lupakan sorot mata elang yang tajam seolah-olah dapat membunuh lawan melewati tatapannya.
Tapi jangan heran, kalo keadaan gak lagi kaya gini dia tu gak ada bedanya sama monyet lepas. Kadang anggotanya aja bingung kenapa harus Alvian yang jadi ketua mereka, masalahnya bocah ini tuh gak ada wibawanya sama sekali woy!
Merasa direndahkan oleh musuh ketua Triton, Raka dan para anggotanya pun keluar dari dalam markasnya dan berhadapan langsung dengan ketua Deverodz. Raka langsung maju ke arah Alvian, dia udah natap remeh ke arah Alvian dan anggotanya.
"Datang juga ternyata kalian," ucap Raka dengan senyum miring.
Alvian terkekeh sinis lalu mendorong bahu Raka menggunakan tongkat baseball yang ada di tangannya. "Deverodz bukan pengecut yang lari dari tantangan!"
"Kali ini apalagi motif lo buat nantangin kita?" tanya Agung yang membuat Raka tersenyum sinis.
Yah, Triton emang hobi banget nyari masalah sama anak-anak Deverodz. Dan gak jarang juga mereka war kaya gini, walaupun mereka bakal tetep kalah. Kayaknya emang gak ada kapok-kapoknya ini Raka si ketua Triton.
"Tanya sama anggota lo, kenapa mereka buat anggota gue babak belur!" bentaknya hingga membuat semua urat lehernya terlihat.
Mereka sedikit ngeri liat Raka yang teriak sambil melotot gitu, takutnya nanti itu bola matanya lepas bingung mau ganti pakek apa, gak mungkin kalo diganti sama bola pingpong.
Alvian menautkan kedua alisnya bingung, "Maksud lo? Anak buah gue bikin masalah? Mereka gak mungkin buat masalah kalo kalian gak mancing duluan."
Raka ketawa sinis, dia maju terus dorong bahu Alvian. "Segitu percayanya lo sama anggota lo? Coba tanya sama anggota lo kenapa mereka buat Gara sama Farel sampe babak belur! Bahkan Gara sampe di rawat di Rumah Sakit!" teriaknya dengan lantang. Gak takut pita suara abis kali ya.
"Siapa yang mukul mereka?" tanya Alvian dingin dan membuat mereka bergidik ngeri. Akan tetapi, langsung ada dua remaja yang berjalan menghadap sang ketua tanpa menunggu perintah kedua.
Mereka gak bakal berani bantah perintah Alvian kalo lagi mode maung gini, kecuali kalo lagi mode meong mereka mah berani ngebabuin. Anak buah akhlakes emang.
"Kenapa?" tanyanya lagi dengan tatapan mengintimidasi, ia tak suka jika anggotanya ada yang semena-mena terhadap orang lain, mereka emang udah dicap sebagai anak nakal, tapi bukan berarti mereka nakal beneran.
Mungkin mereka terkenal nakal dan suka tawuran, tetapi sebenarnya bukan itu yang benar-benar terjadi. Alvian tidak akan pernah membiarkan anggotanya untuk membuat masalah, mereka hanya melakukan kekerasan apabila orang lain yang memulainya terlebih dahulu atau menganggu ketenangan mereka.
"Mereka yang ngikutin kita, awalnya kita gak niat buat lawan mereka, tapi karena mereka bawa-bawa Deverodz kita gak bisa tinggal diam," jelas salah satu dari mereka.
Alvian menyuruh mereka untuk kembali, kemudian netranya menatap Raka tajam. "Dengarkan apa yang mereka bilang?" ucap Alvian, dia maju ke arah Raka terus nunjuk-nunjuk mukanya. "anak buah lo duluan yang mulai bangsat!"
Raka tak dapat mengendalikan dirinya lagi, ia mengepalkan tangannya hingga kuku bukunya memutih. Meski yang dikatakan oleh keduanya memang ada benarnya, tetapi ia tetap tak terima jika anak buahnya ada yang dibuat babak belur oleh mereka.
"SERANG!!" teriakan Raka menggelegar di tempat tersebut. Bersamaan dengan itu para remaja tersebut berhamburan ke arah lawan untuk saling pukul.
Kali ini Deo menghadapi dua musuh sekaligus, dia sedikit kewalahan karena tadi belum sempat mengisi perutnya. Niatnya tadi pulang sekolah mau mampir ke warung emak dulu buat ngutang, tapi malah di diseret kesini. Mana panas-panas banget, kalo gini mah kasian kulit mulusnya yang kena matahari.
"Eh, bentar-bentar," ucap Deo menahan agar musuh tak membogem wajahnya. Yah kali ini kayaknya dia perlu pakek jurus tersembunyinya.
Kedua remaja didepannya menghentikan kepalan tangannya tepat di hadapan wajah lelaki ini, mereka menatap bingung ke arah Deo. Ini bukan lagi main-main woy tapi lagi serius malah suruh berhenti.
"Kenapa lo? Takut lo?" tanya cowok yang berdiri tepat di depannya, dia senyum miring ke arah Deo.
Deo menatap ke bawah seolah-olah sedang mencari sesuatu, "Bentar dulu ealah, ini duit gue jatoh keknya."
Mereka saling pandang dan menatap Deo kembali. Disaat-saat seperti ini masih sempat-sempatnya memikirkan uang, sungguh keduanya tak habis pikir dengan lelaki di hadapannya.
Dia tuh kelihatan banget kalo anak orang kaya, tumben banget mau nyariin duit jatuh. Biasanya juga tinggal gesek udah dapet satu gepok duit merah.
"Emang berapa duit lo yang ilang?" tanya lelaki dengan kulit sawo matang ke arah musuhnya, Deo.
"Dua ratus ribu, 'kan lumayan buat neraktir kalian berdua," ucap Deo dengan wajah semeyakinkan mungkin biar mereka berdua percaya.
"Lah beneran lo?" tanya salah satunya.
"Ya bener lah! Makannya bantu cari nanti gue traktir." Deo tetep berusaha nego biar mereka percaya. Dan begonya mereka percaya!
Merekapun mengangguk dan membantu Deo untuk mencari uang nya, saat sedang sibuk mencari uang lelaki tersebut. Tiba-tiba saja Deo memukul mereka menggunakan balok kayu yang ukurannya lumayan besar hingga membuat mereka terkapar di aspal.
Deo tertawa bahagia melihat kedua orang tadi sudah pingsan karena pukulan kayunya yang tak main-main. Bodohnya mereka hingga ditipu seperti itu saja langsung percaya, ya kali lagi tawuran malah mempermasalahkan duit yang jatuh 'kan bego.
"Gila, gue emang bego tapi ternyata musuh gue lebih bego," kata Deo sambil geleng-geleng kepala.
Berbeda halnya dengan Deo, Raden malah memilih untuk membeli es cendol yang dijual di tak jauh dari markas triton kemudian duduk di kursi yang di sediakan dan melihat pertarungan di sana dengan santai.
Capek dia tu disuruh baku hantam kaya gini, mending dia minum cendol aja.
"Mba cendolnya satu ya, jangan manis-manis soalnya yang buat aja udah ambis pakek banget," pesan Raden sekalian godain mbak-mbak yang jualan, tapi beneran yang jualan itu manis banget menurut Raden. Buat pacar online Raden jangan cemburu ya, masih manisan kalian kok (っ˘з(˘⌣˘ )
Saat sedang menikmati es cendol yang baru saja dibeli, ia dikagetkan oleh kedatangan remaja yang berpakaian sama sepertinya, sama-sama berantakan. Lelaki tersebut yang langsung duduk di bangku sampingnya.
"Kagak ikut tawuran lo? Lo kan anggota inti?" tanya Raden bingung, padahal mah dia juga anggota inti pren.
Cowok itu memesan cendol kepada sang penjual kemudian menghadap Raden. "Gak lah udah capek gue," ucapnya sembari mengelap peluh di dahinya. "lah lo sendiri gak ikut? Lo kan juga anggota inti bego!"
"Gak lah, bosen gue ikut mukulin anak orang mulu, sekali-kali lah minum cendol sama liat live kek gini," ucapnya santai dan mendapat anggukan kecil dari musuhnya tadi.
Kini mereka sama-sama menikmati es cendol sembari menatap teman-temannya yang kepanasan dan kewalahan. Bukan kah itu aneh? Anak buah disuruh ikut tawuran, dianya malah enak-enakan minum es cendol, mana sama musuh lagi!
Agung yang melihat Raden tengah duduk bersantai dengan es cendol ditangannya pun langsung menghampirinya kemudian menjewer telinganya. Enak sekali dia, yang lain pada kepanasan dia malah leha-leha di sini, mana penjualnya cantik lagi!
"Ngapain lo disini! Bukannya ikut bantuin malah enak-enakan minum es cendol!" omel Agung dengan satu tangan yang menjewer telinga Raden dan tangan satunya merebut es milik Raden lalu meminumnya hingga tandas.
"Hehehe peace Pi, enggak lagi kok suer deh," ucapnya dengan mengangkat dua jarinya menyerupai bentuk V. Cowok yang duduk di sebelah Raden tadi lantas menahan tawanya melihat kesialan musuhnya.
Mendengar suara cekikikan dari sampingnya sontak Raden menoleh dan mendapati seorang cowok yang sedang menertawakannya. Ia pun menatapnya tajam, tapi ternyata tak menghentikan tawa dari cowok tadi.
"Lo juga, temennya lagi sekarat bukannya ditolongin malah di tinggal nyantai!" Cowok tadi seketika menghentikan tawanya dan menatap Agung cengo.
"Lah beneran ada yang sekarat?" tanyanya dengan polos hingga membuat Agung gemas, rasanya ingin sekali ia mematahkan tulang lehernya karena sangking gemasnya!
"YA APA HARUS NUNGGUIN DIA SEKARAT DULU BARU LO TOLONGIN BEGO!" pekik Agung membuat keduanya serempak menutup telinganya. Bisa-bisa gendang telinga mereka rusak gara-gara teriakan merdu Agung.
"Auto ke THT ni besok," gumam Raden.
Kalo kalian denger teriakannya si Agung, Raden yakin besok udah auto gak bisa denger. Soalnya teriakan dia itu keras banget kek suara lumba-lumba, nyaring pakek banget.
"Lah emang lo anggota gue?" tanyanya lagi membuat emosi Agung memuncak.
Raden udah natep takut-takut ke arah wakilnya sama musuhnya secara bergantian, sumpah tu mulut si musuh rasanya pengen Raden sumpelin pakek kaos kakinya yang seminggu gak di cuci. Ya gimana ya, pertanyaan itu tuh bisa buat si Agung teriak-teriak lagi dan Raden udah gak kuat.
"Gini nih kalau tulang belakang di ganti sama pipa rucika, gobloknya mengalir sampai jauh," ucap Raden kesal.
Tapi untungnya sebelum Agung kembali berteriak lelaki berambut cepak tersebut langsung berlari menuju anggotanya untuk menghindari teriakan maut dari wakil Deverodz.
Ia baru tahu jika anggota bahkan inti Deverodz memiliki tingkah laku yang amat-teramat bar-bar. Padahal sering banget mereka tawuran atau balapan tapi gak pernah tuh tau kalo ternyata mereka sebar-bar ini.
Agung menarik Raden menuju anggotanya, sedangkan Raden hanya pasrah ingin di tarik kemana saja oleh wakil ketuanya. Sesampainya di sana ternyata tawuran susah selesai dan mereka menatap Raden nyalang. Sedang, yang ditatap hanya menampilkan cengiran lebarnya.
"Ampun mas, jangan sakiti dedek," ucap Raden, tetapi tak ada yang menghiraukan dan langsung menuju motornya masing-masing untuk kembali ke markas. "anjir ditinggalin dong gue!"

Bình Luận Sách (142)

  • avatar
    Arif Karisma

    Ceritanya sangat menarik dan menghibur saya suka sekali dengan alur ceritanya semangat

    14/06/2022

      0
  • avatar
    FajriFajri

    terbaik

    26/11

      0
  • avatar
    PelajarDanishazzam

    semoga bermanfaat dan buat novel lebih bagus lagi

    30/10

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất