logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 6. Menggapai Impian

Berdasarkan Pasal 34 Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan : "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara Negara".
Inilah Negeriku. Negeri yang katanya Kaya Raya penuh dengan sumber daya Alam Seperti mineral, Emas, dan Tembaga. Namun, kekayaan itu tidak dapat dirasakan oleh rakyatnya. Bahkan, untuk mendapatkan pendidikan yang layak harus bertumpah darah bertaruh nyawa. Pendidikan merupakan hak paling dasar yang seharusnya dimiliki setiap warga negaran. Namun, disayangkan. Kenyataannya sangat jauh dari harapan. Tidak semua anak Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama. Jika mengingat perjuangan Bangsa indonesia dalam meraih Kemerdekaan. Semua itu berkat, para pemuda terpelajar yang menyadari arti Persatuan dan Kebangsaan.
Di gubuk yang beratapkan daun rumbia dengan tiangnya terbuat dari potongan kayu pohon kelapa. Kemudian dinding yang terbuat dari anyaman bilah bambu yang berlantaikan tanah. Gubuk inilah yang kusebut dengan Rumah. Mata menjadi nanar ketika melihat lubang yang terperangah lebar dibagian bawah dinding rumah. Dinding yang terbuat dari anyaman bilah bambu itu telah lapuk akibat diterpa oleh cuaca panas dan hujan. Sehingga mudah patah tak lagi rapat seperti sedia kala. Sering kali dari lubang yang terperangah itu, kucing atau pun unggas berlalu-lalang. Kemudian pandangan mata pun beralih membandingkan rumah yang berada disekitarnya. Selirih hati tersedu melihat sebuah rumah yang berdiri tegak dan kokoh menantang matahari. Sementara rumah yang kutinggali telah condong keselatan.
Lihatlah langit diatas sana! Terbentang luas tiada batas. Dari bilik anyaman bilah-bilah bambu dan beratapkan daun Rumbia, seorang anak bermimpi ingin menggapai bintang dilangit, lalu dengan penuh harapan mimpi itu Ia gantung di antara bintang-bintang dan berharap suatu saat dapat terwujud. Mungkinkah mimpi itu dapat menjadi Nyata? Mengingat diri yang berasal dari keluarga tak mampu. Sementara Ayah bekerja serabutan dan Ibu hanyalah buruh tandur disawah milik tetangga. Rasanya sangat mustahil mimpi itu akan tercapai.
Jiwa yang pantang menyerah bangkit menantang dunia ditengah keterbatasan yang ada. Tak sedikit pun menyurutkan niat untuk menggapai cita-cita. Meski jalan yang kutempuh tak akan mudah dan penuh dengan duri disertai sembilu. Kemudian sejenak memejamkan mata, lalu melihat kembali cita-cita yang disemai didalam sanubari. Sebarapa kuat keinginan itu agar dapat terwujud menjadi nyata dan tak hanya sekedar ungkapan. Dari bilik bilah bambu, seorang anak bermimpi tentang kegemilangan yang akan diraih di masa mendatang.

Menjelang ujian kelulusan SMA yang hanya tinggal menghitung hari, harapan untuk melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi seakan menjadi sebatas angan. Kehidupan ini seolah hanya memberikan dua pilihan, berjuang atau diam ditempat dan berjalanlah sesuai perputaran waktu. Dentingan suara penggorengan berada diatas tungku api yang membara terdengar dengan jelas ketelingga. Sebagai pertanda Ibu sudah berada di dapur saat ini.
Mataku terasa sangat sulit untuk dibuka, lalu dengan kedua tangan mencoba membersihkan kerak-kerak yang menempel disekitar kelopak mata dan menjadi penyebab utama mata sulit untuk di buka. Kondisi tubuh yang masih sempoyongan berusaha berdiri dengan sempurna. Kemudian mengambil handuk yang tergantung dibalik pintu dan langsung menuju kamar mandi. Sedangkan jam didinding menunjukkan pukul tujuh pagi, seperti biasanya Ibu sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga. Selintas terpikirkan, apa yang ingin aku lakukan setelah kelulusan nanti, lalu melangkah mendekati ibu yang asik bermain dengan penggorengan.
"Mak, Maaakk!" Teriakku memanggil ibu yang sedang fokus dengan wajan dan api yang membara dari tungku.
"Apa ni kau, Mail? Enggak tahu kau, aku lagi masak" sentaknya dengan nada suara yang keras, sebab merasa terganggu dengan panggilanku.
"Mak, Mail mau ngomong?" ungkapku agar ibu dapat mendengarkan ketika akan memberitahu, apa yang ingin diutarakan kepadanya. Meski kutahu, ini tidak akan berhasil. Bahkan mendapat respon penolakkan dari beliau.
"Mau ngomong apa kau? Cepat aku lagi masak ini! Nanti bapak kau marah pula, enggak siap-siap katanya" ujar ibuku.
"Abis tamat SMA ini, Pengen kuliah Mak!"
"Apa kau bilang? Ah... jangan ngawur kau!"
"Manalah cocok orang seperti kita, ingin kuliah! Ini kau pula pengen kuliah. Sadar kau, emangnya bapak kau direktur, punya banyak uang," cecar ibu setelah mendengar perkataanku yang menurutnya diluar nalar dan kemampuan keluarga.
"Tapi Mak...! Mana tahu selepas tamat kuliah, hidup kita lebih bagus," timpalku.
"Heh... kau tengok itu! Anak tetangga cuma tamat SMA-nya. Udahlah, jangan banyak cerita! Kerja aja yang rajin, tabung uangmu. Nanti kalau mau kawin 'kan nggak payah lagi!"
Aku sama sekali tidak terkejut dengan perkataan ibu. Perkataan itu tak hanya keluar dari bibirnya, tetapi hampir semua ibu yang memiliki anak remaja juga berkata demikian. Anak seolah-olah dianggap beban keluarga yang harus segera dilepaskan ketika memasuki usia remaja. Penyebab utamanya adalah ekonomi keluarga yang kurang mendukung, dan seakan-akan pernikahan dini menjadi jawaban. Selain itu untuk mencegah pergaulan bebas yang kian marak terjadi saat ini. Setelah mendengar ucapan ibu seketika rongga dada menyempit, dan sulit untuk bernafas. Rasanya terlalu sakit, ketika harus menerima kenyataan.

"Dengar ya, Orang yang kuliah itu cuma orang kaya. Kita ini siapa rupanya? Kita ini cuma keset, jadi jangan mimpi!" Debat Ibu dengan tegas.
"Tapi Mak...!"
"Udah, pergi kau sekolah sana!"
Hasrat yang telah tertanam sejak duduk dibangku kelas 2 sekolah dasar itu, tak lantas membuatku mengubur impian dan menyerah dengan mudah. Bahkan, sampai detik ini masih berpikir dengan keras "Bagaimana caranya agar aku dapat mewujudkan semua mimpi itu menjadi nyata".
****
Suasana hening yang tercipta di waktu subuh sebelum terbitnya matahari dari timur. Satu persatu suara kendaraan yang biasa memadati jalan raya mulai terlihat bergerak menuju kota, lalu disusul oleh lantunan Ayat-ayat Al-quran yang berkumandang lewat pengeras suara dari Masjid dan menjadi penyejuk kalbu sekaligus sebagai pengingat bagi setiap insan yang tertidur pulas. Sehinggga suara itu seakan berbisik memerintahkan untuk segera bangkit menunaikan sholat.
Awan merah muda menandai terbitnya ufuk disebelah timur sebagai tanda sebentar lagi matahari akan muncul dilangit. Sebuah pengait yang terbuat dari sebatang ranting dengan besi berukuran 10 milimeter sebagai kail berada ditangan, lalu berangkat menuju jalanan dengan menyandang karung berukuran 50 kg dibahu. Kedua benda itu menjadi saksi bisu betapa kerasnya perjuangan yang aku alami untuk mewujudkan mimpi dengan membulatkan tekad mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Untuk pertama kalinya, rasa mual pun menjalar keseluruh tubuh ketika mendekati lubang sampah dengan aroma yang menyengat mengancam indra penciuman. Dari sana, aku berharap dapat mengumpulkan barang bekas yang dapat dijual kembali pada pengempul. Gelas-gelas palstik yang berserakkan dijalan tak luput menjadi sasaran. Huru-hara pun terjadi didalam bathin mengingat rasa malu yang tercipta akibat mengumpulkan barang bekas disepanjang jalan. Namun, tekadku lebih kuat dari rasa malu yang menjalar didalam tubuh. Karena tak ingin di masa depan merasakan hal yang sama.
Baju yang semula berwarna putih telah berubah warna menjadi kecoklatan dan basah akibat aqua gelas yang berisi air, lalu tumpah mengenai karung yang disandang dibahu. Sekilas beberapa orang yang berada diujung jalan menaruh rasa curiga dengan sorotan mata yang tajam mengarah padaku. Ketakutan akan kehilangan barang barang yang berada disekitar rumah menjadi pemicunya. Aku sangat mengerti mengapa mereka bersikap sinis. Karena tidak semua pemulung bersikap jujur dan seringkali mereka menemukan pemulung yang tingkah lakunya panjang tangan.
Rentetan jalan hitam yang diberi nama Jalan sudirman ini, menjadi saksi atas perjuanganku dalam menggapai cita-cita. Kini matahari telah mencapai puncaknya, dan dari atas singgasananya, ia duduk manis sembari tersenyum padaku. Kemudian berkata "Kamu hebat, nak! Ditengah cuaca panas yang menyengat seperti ini, Kau tetap teguh dan kuat dalam pendirian".
"Kau dari mana? Kotor kali baju, abis ngapain kau rupanya?"
"Abis, nyari botot Mak!"
"Aduh... nyari botot pula kau! Kurang jajanmu rupanya?"
"  'kan aku mau kuliah Mak! Jadi aku cari duitlah buat ditabung!"
"Terserah kaulah, pandai-pandai kaulah situ!
"Ya... Mak!"
"Tapi jangan patah hati kau ya! Kalau cuma sampai ditengah jalan"
"Iya... Mak! Yang penting, aku udah usaha. Lebih baik coba dahulu Mak! Daripada enggak"
"Mandilah kau sana, ganti bajumu!"

Bình Luận Sách (20)

  • avatar
    Ade.nImelda

    Gooddd story

    10/05/2025

      0
  • avatar
    GandulAhmad

    bagus sekali cerita nya

    18/11/2024

      0
  • avatar
    Nur Rahma KNadya

    ceritanya baguss

    01/11/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất