logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 3. Secerca Asa

Riuhnya suara teriakkan anak-anak yang sedang bermain disebuah lahan seluas lapangan sepak bola. Ada belasan anak berkumpul memainkan berbagai jenis permainan yang mereka sukai. Gelak tawa dan kebahagian terpancar dengan jelas dari wajah mereka yang polos tanpa beban, tentu sangat berbeda dengan kehidupan orang dewasa yang harus menghadapi berbagai macam persoalan, dan tak jarang pula menyebabkan sakit kepala. Dunia anak adalah bermain yang berfungsi untuk mengembangkan daya tangkap saraf motorik halus dan kasar yang terdapat pada tubuh mereka. Sehingga anak-anak menjadi lebih kreatif, cemat dan pandai bersosialisasi antar teman sebaya.
Tam-tam Buku atau Ular Naga adalah sebuah permainan tradisional yang dilakukan secara berkelompok terdiri dari 12 orang anak. Dalam permainan ini tidak ada batasan usia atau perbedaan gender, semua bisa melakukan permainan ini. Ketika akan memulai permainan harus menentukan dua orang yang akan menjadi pawang pintu gerbang Ular Naga dan akan menangkap salah satu teman yang berada di bagian terakhir sebagai ekor sampai seluruh anak tertangkap. Kedua pawang itu diberi nama bulan dan bintang.

Permainan belum berakhir dengan tertangkapnya seluruh anggota yang menjadi bagian dari Ular Naga. Permainan dilanjutkan dengan mengadu fisik antara kedua kelompok dengan menggunakan seutas tali, dan sebuah garis pemisah diantara mereka. Apabila salah satu kelompok melewati batas, maka kelompok itu akan menjadi pemenangnya, dan kelompok yang kalah harus siap menerima hukuman dengan menggendong temannya mengelilingi lapangan.
Namun, didalam permainan tidak selamanya berjalan mulus. pertengkaran selalu mewarnai dunia mereka.
Tingkah laku bocah itu sangat berbeda dengan orang dewasa. Ketika Perselisihan terjadi diantara keduanya beberapa jam yang lalu. Namun, beberapa jam kemudian kembali bersama seakan melupakan perselisihan yang telah terjadi, tetapi tidak bagi kedua orangtua mereka. Perselisihan itu juga dapat menyebabkan keributan panjang antar tetangga, dan hampir memutuskan tali silahturahmi keduanya.
Dari balik pintu rumah tetangga yang terbuka, aku sedang menyaksikan sebuah tayangan dari layar hitam putih yang menggugah rasa keingin tahuan akhir ceritanya. Diantara teras dan pintu rumah terdapat beton yang terbuat dari batu bata dan dilapisi semen sebagai pembungkusnya. Tempat duduk itu biasanya digunakan oleh kumpulan ibu-ibu yang suka berkunjung, dan mengerumpi bersama-sama. Tak jarang pula mereka merasa terganggu dengan kehadiranku yang ikut serta menyaksikan. Kemudian menutup pintu dan jendela yang semula terbuka. Perlakuan yang kurang menyenangkan itu pernah dirasakan oleh semua anak didesa ini.
Langkahnya begitu senyap tak terdengar oleh telinga seketika mengejutkanku dengan kehadiran seorang ibu muda berusia 30 tahun. Dari seraut wajahnya sangat pitam ketika melihat wajahku yang tengah bersandar didinding pintu, lalu ia menggeramkan giginya hingga berbunyi. Kini ibu muda itu telah berubah “Seperti seekor singa betina yang siap menyantap buruannya”.
"Dasar, anak tidak tahu diuntung! Tanpa bantuanku, kamu tidak akan hidup. Mau kamu dan keluargamu kelaparan haaaa…!” Ungkap Bu Dasmi. Bu Dasmi adalah pedagang kelontong yang menjual berbagai jenis bahan sembako dan beberapa kebutuhan lainnnya. Kemarahan Bu Dasmi diakibatkan oleh pertengkaran yang terjadi diantara aku dengan putranya yang telah babak belur.
Ibu merupakan salah satu pelanggan tetap beliau, tetapi karena keadaan yang kurang mendukung terpaksa ibu berbelanja kasbon terlebih dahulu. Malu yang teramat sangat luar biasa menyelimuti hati ibu hingga tidak bisa dinugkapkan dengan kata-kata setiap kali bertatapan langsung dengan Bu Dasmi. Hanya muka tembok yang mampu mengatasi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari agar putra-putrinya tidak merasakan lapar dan makan dengan tepat waktu. Namun, ibu bukan berarti lari dari tanggungjawab yang seharusnya dipikul bersama ayah. Ibuku adalah seorang wanita pekerja keras yang rela menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk keluarga.
Penghinaan yang aku terima dari Ibu Dasmi semakin mendorongku untuk menjadi orang sukses yang dapat membahagiakan kelaurga dan membebaskan ibu dari segala macam jenis hutang yang selama ini membelenggu hidupnya demi memenuhi kebutuhan kami. Tanggung jawabnya sebagai orang tua menjadikan semangatku semakin membara. Tekad kian bulat meskipun aku tidak tahu bagaimana untuk menggapainya? Hingga kini kata-kata it uterus terngiang dikepala sangat sulit dilupakan, dan terus berulang setiap kali bertemu dengan beliau.
Sebuah kata dapat berubah menjadi senjata yang ampuh melukai atau meneduhkan hati seseorang. Namun, ketika kata-kata itu keluar dari mulut seseorang dan melukai bathin dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkannya. Disamping itu penyembuhan itu pun tidak akan berdampak pada orang tersebut mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, tetapi proses itu adalah proses penerimaan atas jiwa pribadi terhadap apa yang sudah terjadi, dan mengikhlaskannya. Inilah yang disebut konsep psikologi kejiwaan Manusia.
Semenjak itu, perubahan pada diriku mulai terlihat walaupun hanya sekilas sama sekali tidak ada satu orang pun yang tahu “apa yang terjadi sebenarnya?”. Aku menjadi anak yang introvert, lebih senang menyendiri dan lebih suka berbicara seperlunya. Apa yang digemari dan apa yang menjadi tontotan keseharian pun ikut berubah seiring dengan tingginya motivasi hidup yang berkembang dari waktu ke waktu. Serial remaja yang sangat digandrungi oleh teman seusiaku, bukan menjadi pilihan utama. Hanya sebagai pelepas penat ketika talkshow seperti kickandy dan Mata Najwa tidak tayang ditelevisi. Aku lebih menyukai siaran televisi yang membangkitkan jiwa petriotisme dan daya juang sebagai anak desa. Bukan siaran televisi yang membangkitkan syahwat atau menumbuhkan keinginan tahuan sejak dini terhadap lawan jenis.
Semangat itu terus dipupuk hingga dewasa, bahkan semangat itu juga yang membuatku mampu menerobos Birokrasi kampus yang sangat mustahil untuk dilewati dengan segala keterbatasan. Semua itu bermodalkan Keberanian dan kegilaan yang aku miliki tanpa itu tak mungkin mampu meraih apapun yang menjadi impianku selama ini, tetapi takdir berkehendak lain sekali lagi harus mengulang kembali dari awal membangun sebuah bangunan yang kokoh atas usahaku sendiri. Kemandirian yang selama ini ditempuh menjadi modal yang kuat didalam perjuanganku kali ini. Meskipun kutahu ini tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan dari hitam menjadi putih dibutuhkan proses yang teramat panjang dan menyakitkan. Perjuangan baru saja dimulai, semoga dapat memberikan keberkahan dan kebaikan yang berlimpah.

Bình Luận Sách (20)

  • avatar
    Ade.nImelda

    Gooddd story

    10/05/2025

      0
  • avatar
    GandulAhmad

    bagus sekali cerita nya

    18/11/2024

      0
  • avatar
    Nur Rahma KNadya

    ceritanya baguss

    01/11/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất