logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 2. Ibuku wanita terhebat

Sepagi ini, aktivitas ibu mulai terlihat sibuk didapur mempersiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga. Tangannya sangat lincah mengerjakan berbagai pekerjaan lainnya demi mengejar waktu yang terus berjalan semakin siang. Suara teriakan dan omelan di pagi hari menjadi ciri khas tersendiri, ketika matahari telah muncul dari timur. Hingga para tetangga pun berdecak heran dengan kebiasaannya. Suasana tenang yang ingin dirasakan di pagi hari, tiba-tiba lenyaplah sudah oleh kebisingan yang memekakkan telinga. Tak ada satupun dari mereka yang berani menegur ketika ibu sedang berada didapur.

Matahari hampir mencapai puncaknya membumbung tinggi dilangit. Kemudian ibu bergegas mempersiapkan kebutuhan untuk pergi menuju perkebunan sawit yang letaknya berada dikampung seberang. Ibu bukanlah buruh pengumpul sawit seperti dibayangkan, tetapi petani tumpang sari yang menamam berbagai jenis tanaman rambat seperti kacang, dan ubi jalar diantara dua buah pohon sawit yang sengaja diberi jarak agar pertumbuhan pohon sawit maksimal. Lahan kosong seperti inilah yang di manfaatkan oleh sebagian warga Sumatera timur yang tidak mempunyai lahan untuk bertani.

Sebuah tas jinjing terbuat dari anyaman plastic berukuran dua puluh centimeter menjadi tas keseharian ibu, ketika akan menuju Perkebunan PTPN IX Saentis wilayah Sumatera Timur, lalu sebuah sarung diikat sedemikian rupa sebagai tudung kepala menghindari panasnya matahari yang mampu membakar kulit ari. Kemudian bedak lulur ditaburkan pada wajah agar wajah tetap dingin dan tidak terbakar sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan flek hitam. Kemudian berjalan kaki menyusuri pasar hitam tanpa memperdulikan perhatian orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.
Kulitnya yang dahulu segar perlahan layu terbakar sinar matahari. Tulangnya yang dahulu kuat, akhirnya rapuh termakan usia. Meskipun begitu masih saja terampil menggunakan arit dan cangkul membersihkan rumput-rumput liar dikebun. Berharap suatu saat tanaman yang ditanam dapat dipanen dan menghasilkan pundi-pundi rupiah yang dapat membantu perekonomian keluarga. Ia begitu tegar dan kuat menghadapi persoalan hidup yang tidak pernah usai. Namun, tetap semangat menjalani hidup diusia yang hampir setengah abad.
Tujuh tahun kemudian, masalah baru dalam kehidupan mereka pun muncul. Disaat anak seusiaku mengenyam pendidikan dasar. Kemudian di dalam hatinya bagaikan tersayat sebilah sembilu ketika putranya tidak dapat mengenyam pendidikan lebih awal. Penyebabnya adalah ketidakberdayaan mereka sebagai orangtua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya, lalu terpaksa mengurungkan niat dan berusaha sebaik mungkin ditahun depan agar putranya dapat merasakan dan mengecap pendidikan. Harapan itu terus dilangitkan siang dan malam agar semua anaknya menjadi orang yang sukses dalam kehidupan melebihi kedua orangtuanya saat ini. Namun, jika takdir berkata lain setidaknya pandai dalam berhitung, menulis dan membaca agar mengetahui kejamnya dunia.
Hati terasa lirih melihat ibu yang bekerja dibawah teriknya sinar matahari. Peluh keringat yang mengucur deras dari kening, lalu menetes membasahi pipi. Kemudian menengenai mulutnya meski terasa asin dilidah, beliau tetap bekerja dengan giat. Hanya sesekali menyeka dengan telapak tangan menghapus peluh yang jatuh dipipi. Disaat itu usiaku menginjak Sembilan tahun, duduk dibangku kelas 2 sekolah dasar. Melihat ibu yang bekerja dengan gigih seketika bathin meronta, dan berkata “Ibu doakan anakmu, semoga dimasa yang akan datang nanti agar menjadi orang yang sukses. Sehingga dirimu Ibu tak perlu bekerja keras seperti ini lagi, dan cibiran yang sering engkau dengar ketika orang-orang menghinamu tak mampu lagi berucap atas kekuranganmu hingga ibu tidak perlu lagi bersedih akibat ulah mereka”.
Dari sini sayup terdengar suara azan zuhur berkumandang memanggil seluruh kaum muslimin muslimat agar segera menunaikan sholat. Ibu yang mendengar suara azan yang menggema hingga kedalam perkebunan berkat pengeras suara yang digunakan oleh pengurus masjid, langsung menghentikan aktifitasnya sebagai pertanda waktu telah memasuki tengah hari. Berarti matahari telah duduk manis di singgasananya yang sedang memancarkan cahaya ke seluruh alam semesta dengan ganas.
“Mail… udah dulu nak, ke pondok yuk? Tuh, dengar ada suara azan” ibu memanggilku agar segera menghentikan semua pekerjaan. Menurut ibu tengah hari seperti ini, banyak jin atau mahkluk halus yang berkeliaran sedang mencari makan untuk memenuhi kebutuhannnya. Jadi sangat tidak baik bagi kita yang terus melanjutkan pekerjaan, apabila pantangan ini diabaikan pasti terkena musibah akibat tidak menghargai sesama makhluk ciptaan Allah Swt.
“Iya… Mak!” tanpa banyak bicara, langsung menurut atas perintah yang diucapkan, lalu mencuci tangan disumur yang sengaja dibuat oleh Ibu dan teman-temannya sebagai sumber air yang dapat digunakan untuk menyiram tanaman hingga panen tiba. Tak jarang pula musim kemarau menjadi kendala terbesar bagi petani tumpang sari yang ada diperkebunan ini, lalu terpaksa menggunakan air yang berada diparit besar diantara sepanjang lahan perkebunan dan jalan pasar hitam.
Ketika hari menjelang sore, dan tubuh pun mencapai batas akibat kelelahan bekerja seharian dikebun. Ibu segera memutuskan untuk pulang sebelum tenaganya benar-benar terkuras habis, lalu sesampainya harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, dan mempersiapkan makanan malam yang harus segera dihidangkan sebelum pukul delapan malam. Dimataku ibu adalah wanita terhebat yang pernah aku temui, ia sangat tegar dalam menghadapi ujian hidup yang datang silih berganti. Sebisa mungkin keluh kesahnya, ia simpan sendiri. Namun, sesekali ia tidak mampu menyimpan dan berbicara meluapkan kekesalannya padaku. Aku satu-satunya anak yang mampu menjadi pendengar terbaik buat ibu ketika hatinya sudah tak sanggup lagi menahan beban mental yang menggerogoti jiwa. Karena keterbatasan kemampuan ekonomi yang terus menguji bathin beliau.
Selembar sajadah merah terbentang diatas tikar dua meter, dan ketika waktu salat tiba disanalah ia memanjatkan seluruh untaian harapan lewat doa-doa yang dilangitkan kepada Sang Maha Pencipta. Didalam sujudnya, deru tangis selalu mewarnai diakhir sujud yang dilakukan. Tangis itu sebagai bentuk permohonan ampunan atas segala prilaku buruk dimasa lalu dan sekaligus sebagai mediasi berbicara kepada Robbinya mengenai berbagai permasalahan hidup yang datang menghimpit hingga tak mampu berbicara. Selain memanjatkan ribuan doa agar segera dikabulkan. Namun, ibu menyadari tidak semua doa dapat dikabulkan dengan segera. Karena Allah Swt lebih mengetahui doa yang mana lebih pantas didahulukan. Semua itu tergantung dari keimanan yang dimiliki oleh hambanya.
Walaupun begitu ibu tidak pernah lelah untuk terus memanjatkan seluruh doa kepada Tuhan pemilik alam semesta. Ibu hanyalah seorang manusia biasa yang terus berharap mendapatkan keridhoan Allah Swt, dan berharap mendpatkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW ketika perhitungan seluruh amal dan keburukkan ditimbang. Kemudian syafa’at itu menjadi penyelamat jiwanya agar terhindar dan terjerumus kedalam api neraka. Berkat syafa’at yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, akhirnya Ibu masuk kedalam syurga yang dipenuhi segala keindahan dan kemewahan. Surga adalah tempat paling indah dengan segala keistimewaan yang tidak pernah dimiliki oleh dunia atau alam manapun yang dapat menandingi kehebatannya dalam memberikan fasilitas terlengkap untuk setiap penghuni yang ada.

Bình Luận Sách (20)

  • avatar
    Ade.nImelda

    Gooddd story

    10/05/2025

      0
  • avatar
    GandulAhmad

    bagus sekali cerita nya

    18/11/2024

      0
  • avatar
    Nur Rahma KNadya

    ceritanya baguss

    01/11/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất