Bab 1. Kelahiran seorang Bayi
Di tengah gelap gulita, Ia berjalan menggunakan sebatang bambu ya
Di tengah gelap gulita, Ia berjalan menggunakan sebatang bambu yang tersulut api pada sumbu agar dapat menerangi jalan yang akan dilewati. Suara petir yang menggelegar diangkasa ditengah malam seperti ini, membuat jantung berdenyut kencang. Akibat rasa takut yang di alami oleh ayah pada suaranya, terlebih kilatan petir itu mampu menyambar dan membakar pohon yang ada disebrang jalan. Namun, perjuangan dalam mencari pertolongan bidan kampung tak sedikit pun menyurutkan langkahnya mengingat ibu yang akan segera melahirkanku kedunia. Rasa sakit yang luar biasa itu terus berulang. Hingga jeritan itu menggelegar keseluruh penjuru, akibat dari kontraksi perut yang tidak kalah hebatnya dengan suara petir. Bersama itu pula hujan turut turun membasahi jalanan. Malam itu adalah malam perjuangan antara hidup dan mati seorang wanita yang akan melahirkan di kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Pada masa itu, Dokter atau Bidan yang bertugas membantu persalinan seorang wanita yang akan melahirkan masih sangat jarang ditemukan, khususnya dipelosok desa. Kalau pun ada harus pergi ke kota yang jaraknya puluhan kilometer. Sementara kondisi ibu dan bayi yang ada didalam kandungan harus segera diselamatkan. Satu-satunya jalan adalah dengan memanggil bidan kampung. Hampir semua wanita yang akan melahirkan akan ditangani oleh mereka. Kepercayaan masyarakat pada bidan kampung menjadi satu-satunya pilihan untuk membantu persalinan wanita yang akan melahirkan. Disamping itu, bidan kampung juga memiliki keahlian khusus yang tidak dapat diterima logika manusia. Didalam jiwa raga mereka terdapat sumber kekuatan supranatural yang membantunya bekerja untuk menyelamatkan kehidupan seorang Ibu dan bayi yang akan dilahirkan. Namun, tidak semua ibu di selamatkan dari maut sebab mereka bukanlah penentu takdir. Langkah ayah yang berjalan dijalanan setapak yang bercampur lumpur dengan selembar pelepah daun pisang sebagai payung untuk menghindari tetesan hujan yang mengucur deras dari langit, tetapi masih mampu membasahi bagian tubuh lainnya. Perjuangan yang sungguh nikmat bagi seorang suami, tatkala ingin menyelamatkan dua nyawa dalam satu tubuh yang sama. Tubuh yang telah basah terkena air hujan membuatnya menggigil. Hanya bibir yang mampu terus berucap melafazh ayat-ayat suci Al- Quran, berdoa untuk keselamatan keduanya. Prosesi melahirkan merupakan situasi yang tidak bisa dikendalikan oleh siapapun. Bahkan sang Bidan kampung sekali pun dan hanya mampu berharap semoga semuanya akan baik-baik saja. Suara tangisan bayi yang melengking terdengar oleh seorang pria yang sejak tadi menunggu kabar keselamatan keduanya di depan pintu kamar. Tergurat rasa bahagia ketika beberapa menit yang lalu resmi menjadi seorang Ayah. Kecemasan itu pun hilang dari raut wajahnya, lalu berganti haru dan tangis bahagia menyambut kelahiran putra kedua mereka. Meski dalam keadaan yang sangat lemah Sang Ibu masih bisa tersenyum untuk pertama kalinya melihat sesosok tubuh manusia yang baru saja, Ia lahirkan. *** Digubuk renta inilah seorang anak laki-laki baru dilahirkan kebumi. Rumah yang terbuat dari potongan anyaman bilah-bilah bambu disusun sedemikian rupa, lalu tiang dan kerangkanya yang terbuat dari potongan-potongan kayu kelapa, di sertai atap yang terbuat dari daun rumbia sebagai pelindung dari cuaca panas dan hujan. Meskipun begitu cuaca yang tidak bersahabat itu mampu menembus dinding, di sebabkan oleh celah lubang kecil pada dinding bambu itu sebagai jalan keluar masuknya udara. Dinding bambu juga berfungsi sebagai pembatas dengan hewan liar. Di sebabkan kampung yang masih asri dan dekat dengan hutan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Seringkali kabar berita tentang terkaman binatang buas terjadi di kampung ini, sedangkan masyarakat di wilayah ini sebagian besar berprofesi sebagai petani. Raut wajahnya yang mungil, menggemaskan selalu menjadi pelipur lara, dan pemacu semangat kembali bekerja lebih keras dengan harapan "Semoga esok kehidupan putranya lebih baik dari mereka". Dengan sepeda tuanya, Ayah menyusuri jalanan kampung berpindah dari satu tempat ke tempat lainya. Ia berusaha menawarkan barang dagangannya kepada semua orang yang ditemui di jalan. Sesekali ada beberapa orang yang memanggil, mungkin orang itu telah mengenali Ayah sejak lama atau telah menjadi pembeli tetap. Berdagang seperti ini tidak selamanya membawa untung, adakalanya kesialan pun menghampiri. Resiko seorang pedang dari dahulu hingga sekarang adalah “system penjualan yang bersifat tutup lubang gali lubang”. Hanya sesekali berjalan dengan lancar tanpa hutang. Karena pelanggan Ayah adalah kaum ibu-ibu dari golongan menengah kebawah. Jika tidak demikan barang yang dijual tidak akan laku, dan membusuk. Sedangkan Ayahku bukanlah pemilik modal, tetapi hanya mengambil dan menjualkan dari seorang jurangan ikan. Akibatnya sering kali setoran berkurang dari ketentuan. Sehingga uang tabungan yang dikumpulkan selama ini terpaksa harus dijadikan penutup kekurangan tersebut. Cubiran pedas yang menghangatkan telinga dari tetangga harus ditelan pahit. Diam seribu bahasa adalah cara terbaik tanpa membalas perbuatan mereka. Hanya tetesan air mata yang membasahi pipi menjadi pertanda kalau hatinya terluka. Akibat kata-kata tajam yang mereka lontarkan tanpa belas kasihan. Semua ini terjadi, karena pekerjaan ayah yang serabutan dengan penghasilan tak menentu. Wajah yang manis tak selamanya menunjukkan hati dan sifat seseorang. Adakalanya itu hanya sebagai ungkapan perasaan yang tidak ingin melukai, tetapi hati cukup berat untuk menerimanya. Kasbon merupakan salah satu cara ibu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang harus segera dipenuhi ketika penghasilan ayah tak mencukupi, lalu dengan sangat terpaksa harus berhutang kewarung tetangga. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan ketika bertemu tetangga Sang pemilik warung. Seketika bibir terasa getir ingin berucap satu kalimat yang seharusnya tak ingin diucapkan. Wajah yang semula mampu menatap luasnya jalanan, kini wajah itu sulit untuk menatap dengan tegas wajah Sang pemilik warung. Sesekali sindiran itu pun terucap juga olehnya yang merasa kesal. Mengapa warungnya selalu menjadi tumpuan para tetangga seperti ibuku? Sindiran itu seakan melekat dengan kuat, dan mendarah daging dalam tubuh yang sengaja ditujukan pada Ayah dan ibu. Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak berdaya seperti mereka? Hanya bisa melapangkan dada seluas samudra atas semua ucapan yang memilukan. Meski demikian, Ayah dan ibu tidak pernah lari dari tanggungjawabnya. Demi membantu pemasukan keluarga, ibu berusaha bekerja dengan menganyam atap yang terbuat dari helaian daun rumbia. Daun rumbia dilipat menjadi dua bagian yang sama panjang, lalu di tengahnya di beri sebuah potongan kecil bilah bambu. Kemudian daun tersebut disatukan dengan cara dijahit menggunakan seutas bemban sebagai pengikat antara daun dan potongan bilah bambu tersebut. Akhirnya terciptalah sebuah atap yang siap digunakan oleh masyarakat. Upah yang diterima tidaklah sebesar apa yang kita pikirkan. Satu atap daun rumbia hanya dihargai lima puluh rupiah perlembarnya. Upah yang diterima tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk membuat satu atap daun rumbia. Dalam seminggu, ibu mampu menyelesaikan paling sedikit tiga ratus lembar atap daun rumbia. Pekerjaan ini sudah biasa dilakukan oleh seluruh perempuan yang tinggal dikampung ini. Tak ada rasa malas ataupun kata lelah meskipun tubuh telah berbicara memohon ampun. Terkadang panggilan sebagai buruh cuci dari tetangga yang membutuhkan bantuan menjadi peluang untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Karena ibu sadar penghasilan suaminya yang tidak sepadan dengan kebutuhan sehari-hari hingga harus mengambil keputusan untuk tidak berpangku tangan. Kenakalan-kenakalan yang terjadi dimasa lalu seringkali menjadi perbincangan ibu dengan teman-temannya. Kenakalan itu sangat tidak wajar dilakukan oleh anak gadis seperti mereka. Mengingat kejadian yang terjadi di masa kecil hingga membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Kenakalan yang mereka buat tentu saja mendapat sambutan yang keras dari ibu masing-masing. Sehingga mereka lari pontang-panting menyelamatkan diri. Namun, ada beberapa dari mereka yang berhasil tertangkap, dan mendapat pukulan sebagai hukuman. Akibat mengambil hasil panen dari lumbung secara diam-diam, di sebabkan ingin menonton layar tancap yang akan ditayangkan minggu depan. Sedangkan mereka tidak memiliki tabungan sama sekali, dan sering kali hukuman itu juga berlaku akibat tidak mengerjakan pekerjaan rumah tepat waktu. Suara teriakan dari ibu mereka dengan gagang penyapu ditangan berhasil menciutkan nyali kepremanismean mereka. Diujung pinggiran kota Medan ini, Ayah dan ibu tinggal di sebuah Desa kecil yang bernama Desa Percut Saituan terletak di Kec. Percut Saituan, Kab. Deli Sedang, Provinsi Sumatera utara. Aku dilahirkan pada tanggal 06 Februari 1989. Kemudian bayi itu diberi nama “ ISMAIL”. Nama itu diberikan sesuai anjuran dari para tetua kampung untuk setiap bayi yang baru lahir agar diberikan nama sebaik mungkin “sebaik-baiknya nama adalah nama yang paling mulia didalam Al-quran”. Nama itu sangat singkat, tetapi memiliki arti yang mendalam. ISMAIL memiliki arti “ Anak yang di berkahi"
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Gooddd story
10/05/2025
0bagus sekali cerita nya
18/11/2024
0ceritanya baguss
01/11/2024
0Xem tất cả