🍀🍀🍀 Setelah mengatakan niat baik Abi Andre kepada Diana, mereka pun pamit. Tinggallah Andre dan Diana di ruangan tersebut. "Heh ...! Jangan merasa menang dulu. Mentang-mentang Abi gua milih lu, lu bisa seenaknya. Tidak semudah itu, ya. hidup ini tidak ada yang gratis!" sinis Andre penuh penekanan. Diana adalah gadis yang phobia sama bentakan dan kekerasan, setelah mendengar ancaman Andre Diana jadi gemetar dan takut. "Kak," lirih Diana membuat Andre langsung mendongak ke arahnya. "Apa lagi?" ketus Andre. "Em ... apakah biaya rumah sakit sudah di bayar?" tanya Diana pelan, takut Andre marah. "Sudah, memangnya kenapa? Lu mau bayar lagi?" tanya Andre tanpa melihat Diana. "Eng--enggak Kak. Maksud Diana apakah boleh aku ganti uang Kakak di akhir bulan?" tanya Diana memohon. "Memangnya kenapa kalo sekarang? O iya, satu lagi jangan panggil aku-kamu, gua gak suka. Kita nggak ada hubungan apa-apa, paham?" tegas Andre dingin plus datar. "Iya Kak, paham," lirih Diana sambil menunduk. "Lu ngabaikan pertanyaan gua? Hah," sinis Andre dengan tatapan tajam. "Eh enggak Kak, maaf lupa. Kalo gua bayar sekarang, gua belum gajian, Kak," ucap Diana. Sebenarnya Andre kasihan mendengarnya. Namun, ia tidak mau terlihat lemah di depan Diana, Andre lebih mementingkan egonya. "Terserah," ucap Andre ketus. "Em ... Kak, apa boleh gua keluar sekarang dari sini? Biar administrasinya gak nambah," ucap Diana berharap Andre mengerti. Andre yang mendengar permintaan dia hanya mengarnyitkan keningnya. "Memangnya lu udah gak pusing lagi?" tanya Andre yang dibalas gelengan oleh Diana, padahal sebenarnya ia masih pusing tapi, dia tahan. "Baiklah, kalau itu keputusan lu, gua juga senang nggak perlu repot-repot jagain lu di sini," jawab Andre ketus. Kemudian Diana turun dari ranjang rumah sakit berjalan menuju keluar. Sedangkan Andre, Diana tidak tau lagi kemana ketos jutek itu. Setiba di halaman rumah sakit ada mobil yang berhenti tepat di hadapan Diana, kemudian kaca mobil terbuka. "Naik lu. Ntar lu kenapa-kenapa di jalan gua lagi yang repot," ketus Andre dingin. Karena tidak mau bertengkar dengan Andre, Diana memilih diam dan hendak masuk ke mobil bagian belakang, Andre yang melihat itu langsung kesal. "Emang gua supir lu? Naik di depan!" tegas Andre dengan tatapan tajam, sedangkan Diana hanya diam tidak mau ambil pusing. huft! 'Ni orang niat nggak sih nganterin gua pulang, dasar ketos kulkas,' batin Diana kemudian ia masuk ke dalam mobil Andre. Hening! Tidak ada percakapan antara keduanya. Andre yang sesekali melirik Diana sedangkan Diana hanya melihat ke arah jendela. Tidak lama kemudian mobil Andre sudah memasuki gang rumah Diana. "Kak, gua turun di depan, ya. itu rumah gua," ucap Diana sambil menunjuk rumah kecil berwarna biru. "Hem," ucap Andre kemudian ia memberhentikan mobilnya di depan rumah Diana. "Kak, makasih, ya. Apa Kakak mau mampir dulu?" tanya Diana. "Tidak perlu," ucap Andre yang hanya dibalas anggukan oleh Diana. Kemudian Diana langsung turun. Diana masih berdiri di samping mobil Andre menunggu Andre pergi. Tapi, hasilnya nihil. Andre masih belum pergi membuat Diana bingung, tidak lama kemudian kaca mobil terbuka. "Lu beneran tinggal sendiri di rumah itu?" tanya Andre yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Diana. Andre yang melihat senyum itu sangat teduh. Tapi, langsung dia tepis pikiran anehnya. "Ok, kalo gitu gua balik," ucap Andre. "Iya, Kak" jawab Diana. **POV Andre** Gua sedikit bingung kenapa dia nanyain masalah administrasi rumah sakit. Setelah dia mengatakan ingin membayar administrasi itu akhir bulan gua bingung kenapa? Ternyata dia belum gajian. Sebenarnya gua pengen bilang nggak usah di bayar. Cuman, gua gak mau terlihat baik di depannya terpaksa gua jawab "terserah" untuk menutupi rasa kasihanku. Disaat dia minta pulang, gua sedikit kaget karena gua lihat dia masih sedikit kesulitan menggerakkan kepalanya. Tapi, gua nggak mau ambil pusing. Gua iya in saja. Kemudian gua keluar duluan menuju parkiran sekolah ngambil tas gua dan ngambil mobil. Kemudian gua lajuin mobil ke depan rumah sakit gua lihat Diana celingak-celinguk ingin nyebrang. Gua hentikan mobil tepat di hadapannya, gua liat dia bingung langsung gua buka kaca mobil dan menyuruh nya masuk. Dia tidak menyahut, yang membuatku gemas dia membuka pintu bagian belakang seolah-olah ingin duduk di belakang dengan segera gua larang dan langsung gua kasih tatapan tajam, sedangkan dia hanya diam saja dan langsung masuk ke mobil. Di dalam perjalanan hanya ada keheningan. Sebenarnya, gua pengen nanya banyak sama dia cuma mengingat gua senior dan lebih mementingkan ego. Jadi, gua urungkan niat tapi gua sesekali melirik nya, gua liat dia seperti orang banyak pikiran. Sampai tiba di depan rumahnya dia langsung turun tapi, sebelum nya dia nawarin gua buat mampir. Namun, langsung gua acuhkan padahal dalam pikiran gua 'apakah dia bakal baik-baik saja?' secara dia tinggal sendiri dan kepalanya masih diperban. Gua lihat dia masih menunggu di samping mobil, gua buka kaca mobil dan bertanya apakah dia beneran tinggal sendiri dan hanya dibalas anggukan dan senyuman olehnya yang membuatku hampir meleleh melihatnya. Tapi, langsung gua tepis perasaan itu dan langsung pamit pulang. **** Ceklek! "Assalamu'alaikum," sapa Diana kepada rumahnya. Karena merasa kepalanya masih sangat pusing , akhirnya Diana memilih tidur dulu. Padahal dari pagi ia belum makan gara-gara kejadian dia dan Andre. *Malam hari* Diana terbangun dengan perut keroncongan minta diisi. Dia melihat persediaan berasnya tinggal sedikit, sedangkan ia masih seminggu lagi untuk gajian. "Mulai besok gua puasa aja kali ya?" cicit diana. kemudian ia mencuci beras dan mencuci sebutir telur untuk lauknya kemudian Diana memasukkannya ke dalam rice cooker. Hampir 20 menit, nasi dan telurnya sudah matang tanpa menunda waktu Diana langsung makan dengan lahap. Begitulah kehidupan diana yang hidup sebatang kara, Diana tidak mau menjadi beban om maupun tantenya yang memang Diana tidak tahu mereka tinggal di mana. *** Pagi hari, Diana ingin berangkat sekolah. Tapi, ia tidak menemukan tasnya, Diana teringat tas nya belum di ambil dari kelas. Karena terburu-buru, kepala Diana terbentur pelan ke sisi meja belajar, tetapi membuat kepalanya pusing kembali. Diana berjalan ke arah ranjang sambil menangis menahan sakit. "Ya Allah, kepala Diana pusing. Ayah ... bunda ... Diana sakit," ucap Diana sambil menangis. 🍀🍀 Sedangkan Andre bersiap-siap ke sekolah. Andre pengen melihat perkembangan Diana. Namun,setelah sampai di sekolah dia tidak menemukan Diana, kemudian dia putuskan bertanya kepada anak kelas 10 dimana kelas Diana dan perempuan tersebut menunjukkan kelas Diana. Tanpa membuang waktu Andre langsung ke kelasnya. Akan tetapi, hasilnya nihil. Kemudian datanglah seorang gadis menghampiri nya. "Nyari siapa, Kak?" tanya Dewi teman sebangku Diana. "Eh, Diana masuk sekolah, nggak?" tanya Andre langsung to the point. "Gak deh kayaknya Kak. Soalnya kemaren dari pagi Diana nggak masuk kelas terus tasnya masih di meja," jawab Dewi jujur. Deg! 'Apa yang terjadi padanya?' batin Andre. "Baiklah, bisa tolong ambilkan tasnya?" pinta Andre yang langsung diangguki oleh Dewi, tidak lama kemudian Dewi datang memberikan tas Diana. "Terima kasih," ucap Andre yang diangguki oleh Dewi. Tanpa membuang waktu Andre pamit pulang kepada guru BK, kemudian ia keluar mengendarai mobilnya dengan perasaan kacau. **Bersambung**
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
best gila cerita ni...sampai kluar air mata....
03/07/2022
0baguss
25/06
0baguss sukaa❤️
24/05
0Xem tất cả