logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 4 Bicara

POV; Mas Angga
"Ada yang perlu ditanyakan?"
Pagi ini kelas aku mulai jam delapan pagi dan berakhir di jam setengah sepuluh, soalnya kalau hari jumat aku tidak bisa kalau siang setelah jumatan.
Soalnya aku harus ke pabriknya Ayah untuk mendata beberapa klien yang datang secara bergantian.
Ayah di sana bekerja sama dengan konveksi yang saat ini terkenal di Kota Magelang.
Usaha bisnis itu sudah berlangsung lama sekitar dua hingga empat tahunan.
Ayah adalah sebagai pemasaran, pemroduksi dan sekaligus pembeli baju-baju buatan yang dikirim dari Pabrik Konveksi Dewi Tiara.
"Sudah pak, sudah faham!"
"Oh iyapa ... jangan lupa mempelajari granmar ya ... hari senin ada praktek ulangan buat kalian!"
Aku meletakkan file-file kerjaan mereka untuk hari ini di kolong bawah meja. Muatlah. Soalnya cuma lembaran kertas saja meskipun jumlahnya sekitar dua puluh delapan anak.
"Baik Pak."
Anak-anak kalau jawab seperti ini sangat sulit menjawab bersamaan.
Maunya giliran mungkin. Jadi harus selisih sepuluh hingga dua puluh detik.
"Ya sudah, terimakasih Wassalamualaikum!"
"Waalaikum salam ...."
Anak-anak aku biarkan keluar terlebih dahulu, soalnya aku juga harus mengecek pesan whats aap yang waktu aku ngajar tadi seperti ada yang mengirim pesan yang bertubi-tubi. Mungkin grub,
"Assalamualaikum Mas!"
Tiba-tiba Raisa menelpond.
Nada itu tidaklah asing bagiku, justru mendengarnya aku sellau ingat tingkahnya yang sellau ingin aku perhatikan.
"Mas ... kok diam sih!"
Ujarnya manja, padahal aku cuma sedang menghindari anak-anak yang lagi keluar kelas.
Ada beberapa dari mereka yang tidak mau keluar dahulu, karena mejanya masih penuh buku.
Ada juga mereka yang belum keluar dulu, karena menyalin tulisan yang ada dipapan.
Aku tidak tahu ketika aku selesai menerangkan tadi mereka ngapain, tapi peraturan dikelasku.
Kalaupun ada yang tidak faham maka diwajibkan untuk bertanya.
Mereka semua haruslah mendengarkan apa saja yang aku terangkan, meskipun pada akhirnya mereka sebagian ada yang kurang faham.
Tenanglah, aku bukanlah seorang guru yang akan cuek kepada mereka, aku juga bukan guru yang akan memarahi mereka karena belum bisa.

Namun aku adalah guru yang akan mengajari mereka sampai mahir sepertiku.
Bahkan aku berharap mereka semua lebih mahir bahasa inggris dariku.
"Mas, ada apa?"
Aku mendengar suara Raisa kembali keluar dari telpon.
Aku kurang tahu, Raisa mau ngapain jam segini telpon?
Bukankah sudah tahu kalau jam segini aku mau pulang. Jadi tidak mungkin juga kalau aku bakalan bicara lama. Apalagi kalau posisiku masih berada dikelas yang ada anak-anak.
"Waalaikum salam, apa Raisa?"
Barusan bisa jawab setelah enam muridku tadi yang sempat menetap dikelas itu keluar.
"Mas bisa kesini?"
Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara pelan. Rasanya aku pingin marah, tapi buat apa. Raisa ini benar-benar menggemaskan.
"Raisa ... dengar, aku sekarang ini lagi sibuk. Jam segini aku harus mampir ke sekolah SMK dulu untuk mengajar!"
"Batalkan sebentar mas, aku tidak berani sendirian dirumah, disini cuman ada om aku yang belum menikah. Ibu lagi belanja Mas ...."
Rintih Raisa aku dengar dari telpon.
Memang Raisa ini lagi membicarakan om yang mana?
Bukannya Om nya itu perasaan orang jawa barat kebanyakannya?
Kalau ini om yang mana?
"Maaf ya, aku tidak bisa ... tapi kalau setelah ke pabrik ayah nanti aku baru bisa mampir atau mungkin setelah jumatan tapi aku tidak lama ya, cuma sebentar saja ....."
"Sekarang Mas!"
Raisa ini keras kepala, tidak tahu harus dikasih apa biar nurut sama aku.
"Tidak bisa Raisa!"
"Mas lak begitu!!!!"
Raisa menggrutu, dia kali ini sepertinya mendengus kesal karena aku tidak menuruti permintaannya kali ini.
Bagaimana mungkin juga aku menurutinya, kalau anak-anak di SMK tidak aku ajarin mereka pulang tanpa membawa ilmuku. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Semisal kalau aku digaji bulan ini karena ke aktifan mengajarku, maka aku bangga karena sudah memberikan ilmu pada mereka.
Namun kalau aku digaji namun aku tidak aktif mengajar mereka sama saja aku seperti mengambil yang bukan hakku.
"Mampir sebentar mas..., masa tidak bisa sih!"
Aku sudah bingung mau jawab lagi, lagian kalau tidak ada orang tuanya itu malah tidak boleh kalau mampir. Itu bahaya buat kami.
"Tidak bisa Raisa, orang tuamu keluar semua begitu?"
"Iya Mas, jadi sendirian di kamar. Soalnya diruang tamu ada om erik!"
Bicaranya merendah, tapi tetap saja aku tidak akan bisa menemaninya.
"Terus kalau aku kesitu, aku harus bicara sama Om Erikmu begitu?"
"Tidak Mas ... Om Erik mungkin ke kamar tidak akan ganggu aku yang sama mas!"
Ini malah bahaya, Raisa itu cewek. Jadi aku sebagai cowoknya ya harus tahu batasan-batasan.
Kalau orang tuanya tidak dirumah lebih baik aku tidak datang. Kalau kata islam tidak baik kalau berduaan dengan sesama yang bukan mahram.
"Kalau begitu aku tidak jadi ke situ!"
Aku menutup telpon tanpa berbicara lagi.
Maaf, kali ini aku tidak salam Raisa. Hanya untuk kebaikanmu.
Aku bisa saja datang, tapi aku sayang kamu.
Aku harus tahan diri untuk menjaga batasan-batasan itu dengan tidak menemuimu saat orang tuamu tidak dirumah. Memang lebih baik kamu di kamar saja.
***
POV; Salsa
"Kamu dari pagi cemberut saja Sal, cerita dong ada apa"
Aku menghentikan tanganku yang sedang menulis.
Kebetulan di sini memang disediakan meja-meja dan kursi untuk makan. Kantinnya Mbah Gimah adalah kantin nomor dua dari arah utara kelas lokal bawah.
Memang agak jauh dari letak kelasku. Tapi kantinya Mbah Gimah bagiku paling spesial. Soalnya hanya kantin ini saja yang menjual pecel sama menyediakan meja kursi untuk makan disini.
Kalau kantin lainnya, cuma menyediakan makanan ringan dan ada nasi juga. Seperti nasi goreng, nasi kuning. Lalu ada juga kantin yang menjual jajanan basah dan makanan ringan.
Nabila menduduki kursi yang berada disebelah kananku.
Sebenarnya aku ke kantin biar aku bisa menjauh dari teman-teman kelasku. Tapi justru Nabila mengikutiku terus.
Dia memang sahabatku, cuma kalau aku lagi pingin sendiri rasanya aku tidak mau diganggu.
"Tidak mau ah, lagi malas bicara!"
Aku menggrutu sambil mendengus kesal tidak menatapnya.
"Kok lagi malas bicara, biasanya kamu kalau ada apa-apa selalu curhat sama aku!" Paksa Nabila.
Aku cuma membalas lirikan biasa ke arahnya saja sambil diam.
"Ayo dong, curhat!"
Nabila menggoyah lenganku, hingga tubuhku juga ikut goyah. Untungnya kursi kantin ini kuat nahan tubuhku, kalau saja bahan kursinya tidak bagus mungkin aku sudah jatuh sama Nabila.
"Tidak mau Nab!" Aku berpaling.
"Ya sudah, kamu mau aku pesanin makanan?"
Nabila mengalihkan pembicaraan, setelah dianya nyerah maksa aku curhat tapi tidak aku turutin.
"Tidak saja Nab, kamu saja. Aku sudah pesan kok nasi pecel. Cuma nunggu panggilan dari Mbah Gimah!"
"Oooh ok!"

Bình Luận Sách (51)

  • avatar
    Yuliana Virgo

    bagus

    04/07/2024

      0
  • avatar
    JalFaijal

    baikkk

    03/07/2024

      0
  • avatar
    Wifa Wahyudi

    asyik cerita nya bro

    21/06/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất