logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 3 Akad Day

Gue meraih album foto usang dalam tas, yang sengaja gue bawa diam-diam. Membaliknya helai demi helai. Beberapa bagian telah berubah warna dijamah debu dan jamur.
Di sana gue dapati potret masa kecil yang dilingkupi kebahagiaan. Pose-pose manis, gue-lah sebagai model utamanya. Sepanjang kenangan yang terpajang, hanya tawa yang berderaian. Senyuman tanpa beban, ekspresi jiwa yang sebenarnya.
Pintalan memori membawa pada masa yang telah jauh terlampaui. Masa di mana hanya PR Matematika-lah yang paling memusingkan. Bukan menyoal remeh-temeh kehidupan seperti dewasa ini.
Mengapa waktu cepat sekali berlalu?
Hanya bisa membatin, sambil meraba pelan sudut-sudut kenangan masa lalu.
Ketukan pintu dari luar, membuyarkan lamunan gue. Menyentak dan memaksa untuk kembali sadar. Menjalani kenyataan yang sedang terhidang.
"Masuk."
Suara gue seolah tertahan. Ada sekat di pita suara, yang mengharuskan untuk irit bicara.
Mama dan beberapa orang nggak gue kenali, masuk. Seragam yang khas menunjukkan mereka adalah makeup artist dan wardrobe. Satu di antaranya membawa gaun untuk gue pakai.
"Pagi ini, pakai kebaya dulu, Mba ... untuk ijab qabul. Selesai itu, ganti ke pakaian Anak Daro dengan Suntiang. Setelah Ashar sampai malam, pakai gaun dengan atasan Koto Gadang, ya. Semuanya sudah disiapkan, 'kan?" Mama berkata serius pada orang di depannya.
"Make up-nya gimana, Bu?" Wanita yang lebih muda dari Mama itu membalas.
"Seperti yang sudah kita bahas kemarin. Pagi ini yang natural saja. Pas nanti resepsi baru agak bold, begitupun untuk yang gaun, kalau bisa Arabian Look. Bisa ya? Tolong berikan yang terbaik, saya nggak mau anak saya terlihat asal-asalan di depan tamu," imbuh Mama.
"Bisa, Bu."
"Ara, sudah selesai salat Subuh?" Mama alih bertanya pada gue.
Gue mengangguk lemah. Mood dan tenaga seperti menguar entah ke mana. Hanya tatapan kosong, ada gemuruh yang tidak bisa diredam dalam dada.
"Gimana Ara, sudah siap di-make up?" Wanita yang bersama Mama itu, memegang pundak gue. Memijatnya sebentar. "Rileks ya, Dears."
"Kulitnya sehat nih, terawat. Rajin skincare-an ya? MUA senang dan bersemangat kalau dapat wajah terawat begini. Foundation nempel sempurna, hasil akhirnya juga paripurna."
Lagi, hanya anggukan lemah dengan seutas senyum hambar. Pantulan cermin di depan, juga dengan jelas memproyeksikan bahwa gue sangat pucat.
Lampu di sekeliling cermin, cukup menyilaukan mata. Step by step, mulai dipakaikan segala printilan oleh wanita berkerudung biru itu. Tangan yang begitu telaten memainkan alat tempur dalam genggamannya.
🍁
08.00 WIB
Dua jam kurang lebih, mulai dari make up sampai memakaikan kebaya yang ribet. Stagen entah korset, melilit perut agar posisi songket tidak mudah bergeser. Hiasan kepala juga cukup ketat, memerihkan daun telinga yang terjepit.
Gini amat jadi gue.
Papa membimbing untuk turun ke lantai satu. Tempat akad dan resepsi akan di gelar. Tamu yang hadir sudah ramai, menunggu dengan binar mata aneka ragam.
Gedung serbaguna ini, berdiri kokoh menghadap pantai Padang. Papa memilih resepsi di sini, mengingat tamu undangan yang ribuan jumlahnya. Ya, dia bilang gitu waktu gue tanya.
Ya, memang ... bangunan luas dan lokasi yang sangat strategis. Kayaknya mahal sih tarifnya.
Orang tua gue memilih langkah praktis. Hidangan catering dan segala kebutuhan dekorasi diserahkan penuh pada wedding organizer. Cukup memikirkan masalah uang, tidak ambil repot soal hal lain.
Masalahnya, Papa punya uang dari mana? Ngepet ... kan nggak mungkin. Curigation ini keluarga Leo yang bayarin. Kalau misalnya iya, beugh parah dah.
"Hati-hati, Nak!" tegur Papa sangat tulus.
Penuh kehati-hatian, gue langkahkan kaki menuruni satu persatu undakan anak tangga. Salah perhitungan sedikit saja, tumit heels ini akan mencelakakan. Kaki gue canggung banget kenalan sama high heels, saban hari juga makanannya kets.
Beberapa teman kampus terlihat datang. Mau sembunyi, nggak bisa gue, kan diundang. Bego juga gue kadang-kadang.
Sanak saudara sudah ramai di mana-mana. Hanya pihak keluarga Leo yang belum kelihatan batang hidungnya. Ngaret, Indonesia banget.
Akhirnya, sampai pada panggung yang tidak terlalu tinggi. Gue duduk bersimpuh di samping Papa. Dalam hati komat-kamit, semoga kaki gue nggak kesemutan.
Semua mata menyoroti dari ujung kaki, hingga pucuk kepala. Mendadak merasa cantik gue tuh. Padahal modal make up doang.
Terdengar decak kagum, puja-puji pada penampilan yang menjadi topeng gue saat ini. Detail pakaian hingga pilihan make up menjadi topik empuk bagi mereka. Apalah arti semua ini, hanya topeng pembungkus luka yang kuderita. Terngiang-ngiang dalam kepala gue suara Bang Boriel, eh Mas Ariel. Buka dulu topengmu, buka dulu topengmu. Anjay.
Nggak lama, rombongan keluarga Leo datang. Ya, lelaki es itu gue akui terlihat gagah dengan jas berwarna senada dengan kebaya yang gue kenakan. Orang tua kami dan saksi juga telah hadir.
Keringat dingin mancur dari pori-pori rasanya.
"Sudah siap?" tanya penghulu pada Papa.
"Bissmilah." Papa menjawab dengan suara serak, melirik sedikit pada gue.
Mama di sebelah, terus meremas jemari gue yang dingin. Gue nervous, bukan karena bahagia segera dinikahi Leo. Bukan juga karena transisi dari lajang menjadi seorang istri.
Gue mencemaskan hidup setelah ini. Seperti paranoid mengakar dalam otak. Kompilasi takut, cemas, marah, segalanya. Rumit pokoknya mah.
Fokus gue buyar, tidak terasa genangan itu mengaburkan pandangan. Gue nggak menyimak dengan baik apa-apa yang dilakukan oleh orang sekeliling. Semua benda seperti menjauh, meninggalkan gue sendiri. Suara-suara mereka terdengar samar. Jangan-jangan gue pingsan.
Eh, enggak. Gue masih sadar dong.
Lalu, gema kata "sah" meruntuhkan pertahanan gue. Airmata begitu saja menggelinding jatuh. Gue tersadar, bahwa baru saja gerbang itu dipotong pitanya. Mempersilakan gue masuk, dengan atau tanpa sukacita.
Selesai!
Satu langkah selesai, dia menyematkan cincin kawin bertahta berlian di jari manis. Gue melakukan hal sama, kali ini nggak pakai drama cincin jatuh lagi kayak acara lamaran tempo hari. Degup jantung bertalu-talu menahan kebencian. Bisa koroner nih gue.
Selesai doa-doa dipanjatkan, gue dibawa Mama ke lantai dua. Ke ruangan yang semula, di sana bersalin pakaian dengan pakaian Anak Daro, dipakaikan Suntiang besar berwarna keemasan. Pakaian adat Sumatera Barat yang menjadi lambang tangguhnya seorang wanita.
Sementara Leo, bersalin pakaian dengan pakaian Marapulai di kamar sebelah. Entahlah, hari ini dia terlihat keren. Ups.
Ya ... meskipun tetap beku dan seperti kulkas berjalan.
Cut! Cut! Cut!
Gue nggak tiba-tiba jatuh cinta ya sama dia, sumpah deh, ciyuz!
"Ara, sambil di-make up ulang, Mama suapin makan?" tawar Mama.
"Iya boleh."
Mama keluar, lalu kembali membawa sepiring nasi dan beberapa lauk. Sambil berjalan memakai baju dan Suntiang, lolos satu persatu suapan ke dalam mulut.
"Sudah, Ma?" tegur Papa dari pintu yang terbuka.
"Sedikit lagi, sambil makan. Leo sudah?" tukas Mama.
Lelaki itu tiba-tiba muncul di pintu. Mengenakan pakaian Marapulai berwarna merah dengan corak emas, sama seperti gue. Hanya berdiri seperti patung, tanpa ekspresi menatap ke arah gue.
Dalam hati gue, Hayoloh, terpesona kan lo ngeliat gue cantik. Ngaku aja deh, nggak usah sok-sokan nahan gengsi. Hehe.
"Sudah, nanti kalau ada yang longgar bilang ya, Ara. Biar dibenerin." Mba-mba Make up artist itu berpesan.
Papa menghampiri, menarik satu kursi dan duduk di hadapan gue. Kali ini, nggak ada gurat sangar seperti biasa di wajah Papa. Usianya yang tidak lagi muda, tak melunturkan karisma sama sekali.
"Leo, sini, Nak!" pintanya pada lelaki es yang masih mematung di pintu.
Satu kursi ditarik lagi untuknya, kini dia duduk bersebelahan dengan Papa. Masih bisu, atau jangan-jangan dia memang tunawicara. Bodo amat!
Ah, benar-benar menyebalkan!
"Ara, hari ini tugas Papa selesai. Jadilah istri salihah." Suara itu lebih serak, dan mata papa juga berkaca-kaca.
Tidak, gue tidak akan luluh begitu saja. Bagaimanapun, keputusan Papa menikahkan gue dengan Leo dalam usia yang masih dini adalah kesalahan besar. Papa sudah merenggut hak masa muda gue.
"Papa minta maaf," tuturnya tulus.
Gue raih tangan Papa, mencium punggung tangannya sebentar. Sebenci-bencinya gue, bukan berarti menjadi halal untuk jadi Malin Kundang versi female. Hanya sebatas benci pada sifat, itu pun tidak semua. Papa tetap cinta pertama anak perempuannya ini. Valid no debat.
"Takdir tidak bisa ditentang, Pa!" Ada ketegasan yang gue lontarkan dalam kalimat itu.
" Titip Ara ya, Nak Leo." Papa beralih ke orang di sebelahnya. His, sok cool banget nih orang.
"Insya Allah, Pa."
Hah?
Sejak kapan dia memanggil Papa? Telinga gue gatal banget dengar ucapannya.
Seorang petugas wedding organizer masuk. Memberitahukan bahwa di bawah sudah sangat ramai tamu berdatangan. Artinya, kami harus segera turun.
Papa dan Mama sudah berjalan lebih dahulu. Mau tidak mau, gue harus sudi dibimbing Leo untuk turun. Nekad turun sendiri, dengan high heels yang licin, baju yang ribet dan hiasan kepala yang sangat berat tentu tidak mungkin. Bisa-bisa gue landing dalam posisi kayang.
Jangan. Ini resepsi pernikahan, bukan akrobatik. Gini banget biar gue waras.
Dia mengulurkan tangan, memberi isyarat agar segera gue raih dan menggenggamnya sebagai tumpuan keseimbangan. Setengah anak tangga telah terlewati, fotografer menahan langkah. Sesi foto di tangga tidak boleh dilewatkan, begitu katanya.
Kami duduk di pelaminan, kiri-kanan orang tua kami masing-masing. Perhelatan yang mewah dan megah. Kolega bisnis papa hadir hampir semua. Belum lagi pejabat daerah, kenalan baik papa. Tentu di antara mereka adalah rekan bisnis Papa Leo. Tumpah ruah, semua orang lebur menikmati pesta.
"Kamu sudah makan?" tegurnya setengah berbisik.
"Tadi sudah," jawab gue sinis.
Orang-orang bergantian naik ke panggung, menyalami kami. Menitipkan doa-doa baik untuk rumah tangga nantinya. Sakinah, mawaddah, warrahmah, langgeng sampai tua, sehidup sesurga, diberikan momongan segera, dan basa-basi senada lainnya. Sampai gue hapalin tuh kalimat.
Tunggu! Wait.
Sepanjang resepsi mengapa Leo begitu luwes? Bisa-bisanya dia menyambut tamu undangan dengan tawa renyah dan hangat.
Apa yang salah dengan orang ini? Mungkinkah dia bipolar, punya kepribadian ganda? Serem.
Beranjak kian sore, sekali lagi berganti baju dengan gaun. Tentu juga berganti make up. Dari make up pinkis natural saat akad, diubah menjadi bold saat pakai Suntiang. Terakhir, Arabian Look untuk gaun panjang yang tidak kalah ribet dari pakaian sebelumnya.
Ruwet sekali, Coy! rutuk gue dalam hati.
Gaun ini sangat panjang, dengan hiasan brukat dan payet, berwarna senada dengan jas Leo. Warnanya gradasi biru dan tosca. Tidak luput, mahkota kecil sebagai hiasan kepala di atas selendang Koto Gadang. Layaknya princess di negeri dongeng.
"Leo ... selamat ya, pintar banget milih berlian," kelakar sahabatnya yang naik ke panggung.
"Bisa aja lu, Bro!" jawabnya sambil tertawa.
Apakah orang ini punya dua jiwa? Sebelumnya mengapa begitu dingin, beku, judes dan arogan. Lantas sekarang tiba-tiba menjadi orang yang humble dan periang? Bikin gue negatif thinking.
Tiap kali ada tamu yang hendak bersalaman, dia merangkul dan menggenggam jemari gue. Entahlah! Seperti kemesraan yang sengaja dibuat-buat di hadapan banyak orang. Inikah cara seorang Leo membangun branding?
Hingga pukul sepuluh malam, masih ada satu dua tamu yang datang. Akhirnya, tepat jam sebelas, pintu gedung ditutup. Pesta dianggap selesai.
Dibantu Leo, gue naik ke lantai dua untuk berganti dengan pakaian biasa. Badan terasa lengket. Wajah kaku karena dempulan make up berlapis-lapis.
Usai!
Satu episode lagi telah berhasil diselesaikan. Rasa lelah menghinggapi tiap jengkal tubuh. Rindu sekali dengan kasur empuk, sambil memeluk guling.
"Leo langsung pulang ke rumah Ara, ya!" Terdengar suara Papa Leo di pintu.
"Tapi, Pa?" bantahnya.
"Kan sudah sah suami istri, ya kamu baliknya ke sana!" Mama Leo menimpali.
Gue bingung nih, manggil mereka Om-Tante atau ....
Hanya hening kemudian, langkah kaki terdengar menjauh. Mulut gue ikut terkunci. Beberapa kata yang tadinya ingin gue ucapkan, tiba-tiba hilang begitu saja.
"Sudah, Ara. Ini make up remover, kalau mau dibersihkan sekarang," suguh make up artist yang baru gue ketahui bernama Mba Milda.
"Makasih, Mba Mil. Ara boleh bawa pulang aja nggak? Nanti di rumah bersihinnya," ucap gue memohon.
"Oh, boleh." Senyum Mba Milda begitu hangat. Dua lesung pipinya menambah keayuan sang perias ini.
Selesai berkemas, gue cari Mama ataupun Papa. Sedikit tergesa gue turun, hanya ada WO dan beberapa kerabat yang tampak sibuk. Nggak kelihatan batang hidung mereka.
"Ayo pulang," tegur seseorang dari belakang.
Gue berbalik memastikan suara empuk kayak daging rendang itu milik siapa, benar saja. Leo, dengan wajah kaku, dingin, angkuh, menyebalkan. Bukankah beberapa jam lalu di sana ada senyum dan tawa? Lama-lama gue senewen duluan.
Oh Lord!
Gue bisa gila menghadapi orang ini. Ini baru hari pertama, bagaimana besok, lusa, dan seterusnya. Harus se-rumah, bahkan seranjang dengannya. Oh tidak! Aku mau jadi butiran debu aja, biar terbang dan lupa arah jalan pulang.
"Papa ke mana, ya?"
Gue masih berdiri, dia yang sudah melangkah beberapa kali ke depan, berhenti dan berbalik badan.
"Segede ini masih nyariin papa?" ucapnya dengan sungging senyum penuh ledekan.
Dia benar-benar sedang menguji kesabaran. Awas saja nanti, akan ada masanya gue balas. Tungguin tanggal cantiknya, eh tanggal mainnya. Baek-baek elu sama gue, Leo. Belum tau sih siapa gue kan.
Tbc

Bình Luận Sách (250)

  • avatar
    GustianiSheila

    bagus

    27/07

      0
  • avatar
    MaryanaNini

    suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,

    08/02/2025

      0
  • avatar
    MahdiYanti

    bgus

    21/10/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất