logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 6 Restu

Rahang Wijaya mengeras saat mendengar penuturan Daksa yang meminta izin untuk menikahkan putrinya. Lelaki itu mengusap pipi yang sempat memerah karena ditampar oleh Sekar.
Wijaya merasa menyesal, tetapi semua sudah terlambat. Entah mengapa ketika bertemu kembali dan melihat gadis kecilnya itu telah banyak berubah, hasratnya sebagai seorang laki-laki berontak. Selama ini, dia tidak pernah bermain dengan wanita seperti yang kakak-kakaknya lakukan.
Wijaya hanya tekun belajar demi menata masa depan. Dia akan menjadi salah satu kandidat untuk menggantikan posisi raja kelak. Sehingga, kepintarannya harus melebihi yang lain.
"Putri hamba sudah dipinang oleh seorang lelaki, Kanjeng Gusti. Hamba mohon izin untuk mengadakan pesta pertunangan sederhana di pendopo sebagai ungkapan rasa syukur," ucap Daksa dengan lancar.
Daksa sudah berdiskusi dengan istrinya. Pada saat dia mengatakan itu, Ratih setengah tak percaya. Istrinya langsung setuju karena Kamandanu merupakan panglima di keraton yang namanya sudah termasyur. Dia bahkan diberikan tempat tinggal khusus atas jasa-jasanya selama ini.
Bagi Ratih, tak mengapa jika putrinya tak menjadi selir. Toh, kemewahan memang di depan mata, tetapi tak dinikahi secara legal. Jika raja atau pengeran merasa bosan, maka selir bisa dibuang atau dihadiahkan kepada siapa saja semaunya. Namun, jika Sekar menjadi istri Kamandanu, maka mereka akan hidup langgeng seperti dia dan Daksa.
"Aku tidak keberatan dengan itu. Lagipula putrimu sudah dewasa. Dia pantas menikah dan memiliki keluarga sendiri," jawab Raja yang disetujui oleh anggukan dari Ratu.
Sekar anak yang baik, ceria dan suka membantu. Semua orang di karaton menyanyanginya. Memang benar beredar kabar bahwa dia diinginkan menjadi salah satu selir atas keinginan ibu ratu. Namun, sepertinya itu belum sepenuhnya mutlak, hanya kabar angin yang sempat berhembus.
"Kami akan meminta abdi dalam menyiapkan pesta. Kalian sudah lama mengabdi. Tidak mengapa jika biayanya ditanggung oleh keraton. Jangan merasa sungkan," timpal Ratu.
Sebenarnya dalam hati wanita itu sedikit kecewa. Dia tahu jika putranya Wijaya menyukai Sekar. Namun, sebuah perasaan tentu saja tidak bisa dipaksakan.
Saat Daksa bercerita tadi, Ratu mendengarkan dengan seksama. Sekar dan lelaki itu saling mencintai walaupun namanya belum disebut. Dan mereka tak boleh menghalangi niat baik itu.
Daksa benar-benar berhati-hati saat menuturkan semua rencana yang sudah disusun, agar tidak ada pihak yang tersinggung. Tadi dia sempat melihat kekesalan di raut wajah Wijaya. Namun, lelaki paruh baya itu berpura-pura tidak tahu.
Jika saja pelaku pelecehan itu bukan Wijaya, mungkin Daksa akan menghajar orang itu karena telah berbuat lancang kepada putrinya.
"Kapan rencanamu akan mengadakan pesta itu?" tanya Raja.
"Minggu depan, Kanjeng Gusti," jawabnya.
"Baiklah. Kanjeng Ratu yang akan mengurusnya agar di harinya nanti pendopo sudah dihias dan makanan disiapkan," lanjut Raja.
"Terima kasih, Kanjeng Gusti. Hamba merasa lega karena semua sudah setuju."
"Siapa yang bilang kalau semua sudah setuju?" ucap Wijaya, yang membuat semua orang di ruangan itu kaget.
Ratu dan beberapa selir yang lain mengulum senyum saat sang pangeran ketiga menyatakan keberatan. Sejak dulu, mereka sudah tahu mengenai perasaan sang pangeran.
"Maksud Raden?" tanya Daksa berpura-pura tidak tahu.
Daksa pikir semua akan berjalan lancar hari ini. Namun, jika ada yang bisa mempengaruhi keputusan Raja, maka pertunangan itu bisa dibatalkan.
"Aku--"
"Cukup Wijaya!"
Terdengar suara Ratu menegur putranya.
"Tapi, Ibu!"
"Kamu boleh pergi, Daksa. Kami merestui pertunangan Sekar," lanjutnya.
Wijaya kembali duduk dengan napas tersengal dan menahan emosi. Tangannya terkepal. Tak terbayangkan jika sampai Sekar dimiliki oleh orang lain. Bertahun-tahun dia memendam perasaan itu. Cinta yang sejak kecil tumbuh karena kebersamaan mereka.
Dia bahkan pergi merantau untuk belajar agar kelak jika Sekar menjadi selirnya, ilmu yang didapat bisa diajarkan kepada gadis itu.
Sayang, Wijaya kalah cepat. Sudah ada orang lain yang mendahuluinya. Namun, siapa gerangan lelaki itu. Sejak tadi Daksa tak menyebut nama seorangpun.
Dalam hati Wijaya menduga-duga. Apa jangan-jangan yang lain sudah mengetahuinya, sementara hanya dia yang tidak. Jika memang benar begitu, maka dia akan marah besar.
"Baik, Kanjeng Ratu. Hamba pamit undur diri. Matur nuwun sanget."
Daksa hendak berbalik dan keluar dari ruangan itu ketika terdengar Raja berkata.
"Daksa. Siapa yang akan menjadi suami Sekar? Kamu lupa mengatakannya tadi."
Wijaya tersenyum mendengar itu. Kali ini jantungnya berdetak kencang menunggu jawaban Daksa.
"Calon suami putri hamba adalah ...." Matanya berkeliling menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu.
"Katakan saja, Paman." Wijaya tersenyum penuh kemenangan. Dia akan membuat perhitungan dengan siapapun yang telah merebut gadisnya.
"Panglima Kamandanu."
Seketika ruangan menjadi hening. Bisik-bisik mulai terdengar.
Wijaya membuang pandangan kesal. Jika itu memang lawannya, maka dia harus menggunakan cara lain untuk merebut Sekar. Tidak mungkin dia menandingi Kamanadanu dari segi ilmu bela diri.
Sekalipun statusnya adalah seorang pangeran, Wijaya tak bisa berbuat semaunya. Semua gerak-geriknya diawasi oleh Ratu. Apalagi Kamandanu adalah salah satu prajurit kesayangan Raja.
Setelah mengucapkan itu, Daksa keluar dari ruangan dan memberi hormat. Sementara itu, Wijaya langsung meninggalkan ruangan tanpa berpamitan kepada siapa pun. Di dadanya terbakar amarah yang meluap.
***
Di kamarnya, Wijaya terdiam sambil berbaring. Sebuah bantal berada di pelukan. Setiap malam lelaki itu selalu membayangkan wajah Sekar yang ayu, juga kemolekan tubuhnya. Rasanya dia tak rela jika sang pujaan hari dijamah oleh orang lain.
Kepala Wijaya sakit karena terlalu banyak berpikir. Sepertinya, dia akan menemui ratu untuk meminta solusi.
"Kar. Aku tresno karo koe. Jangan menikah dengan yang lain, Kar. Kamu hanya milikku," ucapnya sambil berbicara dengan bantal.
Di dalam bayangan Wijaya, di depannya kini adalah sosok Sekar yang sedang berbaring. Benaknya melayang saat kejadian itu, di mana hangatnya tubuh Sekar sempat dia cicipi sebentar.
Sayang, ternyata dia ditolak.
Wijaya pikir karena kebersamaan mereka sejak kecil, gadis itu memiliki perasaan yang sama. Ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Ketika dia mulai lupa diri dan larut, sebuah tamparan keras melayang di pipi.
Sekar menangis dan membetulkan letak kembannya, kemudian berlari meninggalkannya begitu saja. Sejak itu hingga kini, dia tak mendapati gadis itu dimanapun dalam wilayah keraton.
Entah di mana Sekar bersembunyi. Wijaya hendak bertanya namun merasa sungkan. Hingga tiba hati ini, yang tak disangka sama sekali. Saat Daksa menghadap Raja untuk meminta restu.
Wijaya memeluk bantal dengan erat sambil berkhayal sampai akhirnya dengkur halus pun terdengar. Lelaki itu terlelap dengan segala mimpi yang diharapkannya akan terwujud menjadi nyata.
***
Sementara itu, di tempat lain Sekar sedang mengulum senyum ketika mendengar penuturan ayahnya bahwa Raja dan Ratu merestui hubungannya dengan Kamandanu.
Sekar merasa tenang sekarang. Gadis itu mengucap doa dalam hati kepada Sang Pencipta semoga rencana ini berjalan lancar sesuai dengan keinginan mereka. Setelahnya, dia dan Kamandanu yang akan menghadap Raja dan keluarga keraton untuk meminta restu. Semoga saja niat baik mereka berjalan lancar dan dimudahkan.

Bình Luận Sách (75)

  • avatar
    GantengTombro

    sangat bagus

    11/04

      0
  • avatar
    IlhamAndi

    bagus banget

    19/07

      0
  • avatar
    NurhasanahJulia

    bagus banget

    04/05/2025

      1
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất