logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

The Final Note

The Final Note

Moody Moody


Bab 1

Cuaca terlihat mendung. Suara keramaian terus bergeming kencang. Ferrell pun menatap langit mendung tersebut sambil meneguk kopi yang dia bawa. Sudah saatnya bagi dirinya kembali ke rutinitas yang cukup membosankan itu. Beberapa bulan yang lalu, ketika dirinya berada di kampung halamannya tepat di Kyoto, saat itu pula dirinya harus menerima kenyataan kalau dirinya dinyatakan keterima di sebuah perusahaan industri musik. Berkat bakat yang luar biasa, dirinya mampu bersaing dengan teman-temannya yang lain. Namun, begitu pindah ke Tokyo rasanya sangat berbeda. Setiap orang hanya fokus dengan diri mereka sendiri. Tidak peduli dengan orang sekitar bahkan ini terlihat seperti bersaing lagi satu sama lain. Ferrell pun tidak memperdulikan akan hal itu dan kembali fokus dengan kegiatannya. Setiap hari berlatih selayaknya selebriti yang lain, hanya saja ada sedikit perbedaan kali ini. Dirinya melihat beberapa orang yang terus membicarakan sesuatu sambil tampak ceria. Tidak dipungkiri kalau mereka memang senang melakukannya. Mengerjakan projek lagu yang sangat banyak itu. Tapi di sisi lain, dirinya juga merasa tertekan dengan semua hal yang ada di sini. Seakan sangat tertinggal dibandingkan dengan mereka semua. Hari demi hari terus terlewati semakin lama terasa membosankan. Ketika harus berhadapan dengan para penggemar, dirinya cukup mampu untuk menyembunyikan semua yang dirasanya. Kali ini pun sama. Meski ada beberapa hal yang sebelumnya terjadi, Ferrel mulai bergerak dan kembali memasuki gedung tersebut. Disana dirinya melihat banyak orang yang memang sangat sibuk. Tidak terkecuali dengan dirinya sendiri. Sampai disini memang cukup mengerikan kalau hanya terus menyaksikan bayang-bayang mereka. Ferrell pun kemudian memasuki ruangannya dan duduk tepat di depan monitor miliknya. Kali ini dirinya juga diperintahkan untuk membuat lagu yang akan digunakan di album yang akan datang. Meski ini bukan pertama kalinya, tidak tahu kenapa rasanya Ferrell sempat merasa terpukul. Memang tidak mudah menjalankan apa yang tidak seharusnya tepat di waktu yang memang kurang tepat. Tidak lama kemudian, seseorang memasuki studio miliknya itu sambil membawa beberapa lembar kertas.
"Yo. Kau sudah membuat berapa banyak?" Ucap orang tersebut dengan nada yang seakan memperlihatkan rasa penasaran.
"Ah, baru saja kumulai. Apa yang kau bawa itu?"
"Ini lirik yang sudah kubuat. Kupikir akan berguna kalau kau yang menjadi komposer nya."
"Apa? Jangan bercanda kau."
"Kenapa terkejut begitu? Jangan-jangan mereka belum memberitahumu?"
"Kau bisa menebaknya sendiri."
"Wah, apa-apaan ini?"
"Sejujurnya aku tidak tahu kalau mereka berniat begitu. Kenapa hanya memberitahu kau saja?"
"Mana kutahu. Seharusnya kau juga bertanya pada mereka. Kau sendiri malah pergi."
"Sial. Padahal itu hanya sekedar menghirup udara segar."
Mereka berdua terus berdebat. Ferrell yang memang terkejut dengan ucapan temannya itu, saat ini hanya fokus dengan kegiatannya saja. Memang ada benarnya. Seharusnya lebih aktif dari biasanya tidak hanya sekedar berdiam saja. Tapi bagaimanapun juga mereka tidak mungkin berbicara semudah itu. Terkadang hubungan manusia memang rumit. Bahkan hanya sebatas rekan kerja saja selalu begini. Tanpa berlama-lama, Ferrell menyelesaikan projek nya itu meskipun baru beberapa saja.
"Wow. Kau lumayan cepat juga sobat."
"Tidak juga. Kurasa ini malah terlambat."
"Memangnya biasanya kau lebih cepat dari ini?"
"Begitulah. Tapi tergantung situasi juga. Bisa lebih lambat bahkan."
"Sudah kuduga memang tidak akan semudah itu."
Setelah perbincangan yang tiada habisnya itu, Antoni pun keluar dari ruangannya Ferrell. Dia lalu pergi menuju ke suatu ruangan lainnya. Tidak ada hal yang lebih menyebalkan selain berdebat dengan orang itu. Tanpa disadari, dari kejauhan terlihat seseorang memperhatikan dirinya. Sekilas Antoni merasa terkejut sampai memalingkan wajahnya. Namun ternyata tidak ada seorang pun. Dirinya kemudian menghela nafas sambil melanjutkan langkah kecilnya itu. Beberapa kali orang-orang saling memperhatikan satu sama lain. Mereka seperti tidak mau merasa tertinggal dari siapapun. Anehnya semua itu dilakukan secara diam-diam. Kali ini Ferrell yang masih ada di dalam ruangannya itu terlihat kelelahan karena terus mengerjakan bagiannya tanpa henti. Waktu yang sudah berlalu memang tidak biasa kembali. Itulah kata-kata yang sering terucap dari mulutnya itu. Hanya saja, Ferrell sama sekali merasa itu sekedar omong kosong saja. Pada kenyataannya semuanya memang aneh. Sangat aneh sampai tidak habis pikir akan hal itu. Jauh-jauh hari sebelumnya pun sama saja. Hampa tidak ada apapun yang membuat dirinya merasakan kesenangan. Awalnya ini adalah karir yang memang diimpikan olehnya, tapi ternyata semua itu malah tidak seperti yang ada dalam bayangannya. Rasa frustasi terus muncul tiada henti. Disaat yang sama juga itu mencekam dirinya. Lagi-lagi perasaan tidak karuan ini malah menggerogoti dirinya tiada henti. Sementara itu, Antoni yang sekarang ini terlihat sedang berada di ruangan miliknya, dia terus memeriksa beberapa lembaran kertas yang tidak lain adalah tugasnya. Tidak ada hal yang harus diperbaiki. Semuanya sudah sempurna. Hanya saja ada sedikit kejanggalan. Tiba-tiba dirinya teringat akan sesuatu. Tidak lama setelah itu Mark datang menghampirinya sambil membawa kopi. Melihat Antoni yang seperti sedang berpikir keras, dirinya pun tidak berani mengatakan apapun padanya. Orang itu memang sering murka kalau tiba-tiba saja diganggu tanpa permisi. Melihat ada Mark datang, Antoni seketika menghentikan lamunannya itu lalu mengajak orang ini berbicara dengannya.
"Wah, kebetulan sekali."
"Apa maksudmu?"
"Ngomong-ngomong apa akhir-akhir ini ada yang tidak beres dengan semua orang di perusahaan ini?"
"Hah? Kenapa kau malah kebanyakan hal yang tidak masuk diakal begitu?"
"Ayolah katakan saja kalau kau tahu sedikit."
"Astaga. Aneh sekali kau malah mendesakku untuk mengatakan hal yang memang tidak kutahu. Jujur saja akhir-akhir ini mereka sibuk promosi album bulan ini. Jadi wajar saja kalau ada keributan."
"Tidak mungkin hanya itu saja bukan?"
"Entahlah. Kurasa kau terlalu berlebihan dengan menanyakan hal semacam itu."
"Begitu ya."
"Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Tidak. Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Memang terdengar cukup tidak masuk akal. Kurasa mereka sedang terburu-buru."
"Dalam hal apa?"
"Masih belum tahu."
Antoni dengan rasa penasarannya yang tinggi itu malah semakin mendesak Mark untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan ini. Dari tadi orang-orang terus ramai bahkan seakan sedang memperdebatkan sesuatu. Tapi semua itu hanya dirasakan oleh Antoni saja yang memang cenderung memiliki tingkat kepekaan yang tinggi kalau menyangkut hal-hal yang mencurigakan. Mark terus menggeleng kepalanya memperlihatkan kalau dirinya sudah tidak habis pikir lagi dengan ocehan orang yang ada dihadapannya ini. Tapi kalau dipikir lagi sepertinya dia juga mulai penasaran akan hal itu.
"Tunggu, kurasa memang ada sesuatu yang tidak beres," ucap Mark dengan tatapan mata yang tampak serius.
Malam harinya. Ferrell baru saja pulang ke asrama. Setibanya di asrama, dirinya melihat beberapa temannya yang tidak lain adalah Mark dan Antoni. Rupanya mereka berdua sudah sampai di asrama lebih dulu dibandingkan dengan dirinya. Meski begitu, hari ini cukup menguras energi. Tidak ada hal yang membuat dirinya merasa senang kecuali dengan pulang ke asrama seperti ini. Sementara itu, Mark dan Antoni sedang asyiknya menonton acara TV kesukaan mereka. Tidak hanya itu saja, mereka juga terdengar bernyanyi-nyari karaoke sampai larut malam. Ferrell yang masih belum bisa memejamkan matanya itu, seketika dirinya beranjak dari tempat tidur lalu menemui mereka berdua yang ada di ruang tengah. 
"Kalian masih terus berisik?" Ucap Ferrell yang tiba-tiba mendatangi mereka berdua.
"Oh, kau belum juga terlelap ya," sahut Mark
"Sorry kalau berisik," ucap Antoni
"Hey, apa kalian tidak lelah?"
"Ah, soal itu. Tentu saja. Tapi terlalu cepat kalau langsung tidur. Lebih baik menikmati keseruan dulu bukan."
"Memang ada benarnya. Ya. Kalian memang aneh."
"Oh ya, kau dalam masalah?" Tanya Mark
"Apa?"
"Tidak. Sekedar bertanya saja. Kupikir kau sedang tidak baik-baik saja."
"Soal itu tidak ada masalah. Ya. Setidaknya memang seperti itu."
"Baguslah. Kalau memang ada yang tidak beres, tidak ada salahnya memberitahu kami."
"Kau benar. Itu pasti."
Malam gelap gulita tepat di sebuah jalanan. Di sini beberapa orang terlihat berlalu-lalang. Hanya saja ada sebagian yang tampak terburu-buru. Dari sudut jalanan seorang pria yang memakai jacket berjalan dengan perlahan. Pria itu tidak lupa memainkan ponselnya. Sampailah di depan sebuah bar. Pria tersebut pun memasuki tempat itu dengan tenang. Disana, dirinya bertemu dengan seorang pria yang memakai topi hitam. Pria itu tersenyum seakan menantikan pertemuan mereka berdua ini. Tanpa berlama-lama pria bertopi memperlihatkan sebuah moneybag yang dia bawa ke hadapan pria yang memakai jaket tersebut. Seakan inilah yang akan dia tunggu-tunggu. Dari kejauhan tampak bartender yang memperhatikan gerak-gerik kedua pria tersebut sambil menuangkan minuman untuk pelanggan.
"Ini hanya sedikit dari yang seharusnya."
"Kau yakin? Tapi kurasa ini bukan masalah besar. Kau sudah melakukannya dengan baik," ucap pria yang memakai jaket sambil tertawa.
"Satu hal yang cukup menghambat."
"Apa itu? Jangan bilang kau sama sekali tidak bisa mengatasinya?"
"Tidak. Bukan seperti itu. Ini hanya masalah waktu saja mungkin mereka sudah mulai bergerak."
"Jangan gila. Terlalu cepat kalau polisi mengetahui hal ini."
"Kau benar. Akan lebih baik kalau mereka sepantasnya bungkam saja."
"Itu ide yang bagus."
Suara tawa mereka memecah keheningan tempat ini. Suasana yang terasa mencekam itu mulai tampak. Sementara di tempat lain, pihak kepolisian memang sedang melakukan penyelidikan kasus yang mereka tangani. Lalu kalo ini Ferrell mulai merasa ngantuk hingga dirinya pun berpindah dari ruang tengah asrama menuju ke kamar tidurnya. Berbeda dengan Mark dan Antoni yang masih saja bersenang-senang. 
"Astaga. Ini cukup membuatku pusing."
"Kau pusing hanya karena karoke. Dasar gila."
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan rencana promosi album bulan depan? Apa mereka sudah memberitahumu?"
"Ya. Mereka masih merencanakannya hanya itu yang kudengar."
"Apa-apaan itu? Lagi-lagi tidak jelas. Bagaimana kita bisa punya banyak uang kalau terus begini?"
"Entahlah. Kurasa nasib seniman memang selalu seperti ini. Padahal sudah banyak hal yang ku korbankan. Sangat tidak adil."

Bình Luận Sách (20)

  • avatar
    Nilton M Da S

    aplikasi yang menghibur

    25/12

      0
  • avatar
    RizkyWahyu

    bagus seru nyaa

    22/12

      0
  • avatar
    sipengopetsipengopet

    very good, i really like it😍

    22/12

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất