logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Part 2

Part 2
Kakaknya Mantan Ternyata ….
“Mas, ternyata rumah sebelah itu ditempati Mbak Maria, lho,” aduku malam itu pada Mas Zaki.
“Mbak Maria, siapa?”
“Kakaknya mantan pacarku, Mas Hendi.”
“Ooh … ya sudah, jalin silaturahmi saja.”
“Dia masih sama seperti dulu, Mas. Suka pamer harta, dan merendahkan orang lain.”
“Ya kalau sifat gak baik, jangan ditiru, sayang!”
“Ya enggak, lah, Mas.”
“Oh, iya, besok Mami mau ajak kamu ke butik, fitting baju untuk acara grand opening cabang perusahaan kita di Pekanbaru.”
“Hmm … aku bisa pakai baju yang ada aja, kok, Mas.”
“Jangan gitu, dong. Kasihan Mami. Kamu kayak gak tau Mami aja. Entar ngambek lagi kalau gak ditemenin. Mami cuma mau kemana-mana sama kamu!”
“Lah iya, mantunya yang lain, kan, cowok.”
“Makanya, besok pergi aja sama Mami, ya!”
“Oke, lah. Tapi aku gak mau dijemput sama supirnya Mami, ya!”
“Kenapa?”
“Gak apa-apa, biar gak terlalu mencolok terlihat sama orang-orang di sekitar kompleks ini.”
“Kamu, sih, disuruh tinggal sementara di rumah Mami malah gak mau.”
“Diih … kan mau ngerasain mandiri, Mas.”
“Iya, deeh … kamu emang dari dulu suka begitu. Makanya Mas cinta sama kamu! Kamu gak suka manja, gak suka tampil glamor, dan selalu berusaha rendah hati.”
“Ehm … masak, siiih? Padahal mantan-mantan kamu cantik dan modis, lho, Mas.”
“Justru itu, Mas gak suka cewek menor. Apalagi rata-rata yang mau deketin cuma karena hartanya saja.”
“Aku jugak, mau sama kamu karena hartamu, Mas!”
“Hahaha … kalau untuk kamu, Mas rela-rela aja, kok!” Mas Zaki menjawil hidungku.
“Kenapa? Apa bedanya, coba?”
“Kamu itu aslinya gimana, mah, Mas udah tauk! Dikasih duit satu gepok malah keringat dingin! Emang kamu kenapa, sih? Kok suka takut lihat uang banyak?”
“Takut aja, takut dirampok! Karena aku trauma, Mas. papaku meninggal karena melindungi aku dan Mama saat rumah kami disantroni rampok.”
“Maaf, ya, sayang. Gak ada maksud buat kamu jadi sedih, lho.”
“Gak apa-apa, Mas. Udah takdir.”
“Eh, betewe, kamu sadar, gak, sih? Acara grand opening kita besok itu bersamaan dengan anivversary nikahan kita yang pertama?”
“Owh … iya, juga, ya? Aku baru nyadar.”
“Kamu mau minta kado apa?”
“Aku mau minta sama Allah saja, Mas. semoga kamu selalu sehat, terus sayang dengan tulus padaku, dan lekas dititipin malaikat kecil untuk kita berdua.”
“Aamiinn … tapi beneran, deh, kamu itu aneh! Dimana-mana istri itu kalau aniversary mintanya barang yang dia suka, atau ajak liburan ke mana, gitu? Kenapa kamu enggak?”
“Gimana, ya? Pertama, aku berasal dari kalangan biasa, Mas. kalau dibawa-bawa ke tempat mewah aku belum biasa. Takut malu-maluin keluarga kamu.”
“Ya ampuun, ya enggak, lah, sayang.”
“Makanya kalau kemana-mana kudu sama kamu, Mas. Jadi kalau aku gak sengaja jatuh gara-gara high heels, ada kamu yang nangkep aku. Hihihi ….”
“Jiaaah … maunya!”
“Ya udah, istirahat aja, ya, Mas!”
***
Esok paginya, saat aku menunggu taksi online di depan rumah, lagi-lagi Mbak Maria menyapaku.
“Mau kemana, Ran?”
“Mau ke tempat ….”
“Tempat kerja? Emang kamu kerja di mana, sih?”
“Ehm, mau ke butik, Mbak.”
“Ooh … kerja di butik? Jadi pramuniaga, atau cleaning servis?”
“Hah? Emm ….”
“Ya udah, gak usah dijawab kalau malu! Lagi nunggu ojek, ya?”
“Iya, Mbak.”
“Sama, dong, tapi aku nunggu taksi online, sih. Kalau naik ojek mana tahaaan … panas begini, bisa hitam nanti kulitku. Mana perawatannya mahal lagi!”
“Mobilnya kemana, Mbak?” tanyaku iseng.
“Mobil? Emm … ada, kok. Tapi lagi diservis di bengkel.”
“Ooh ….”
“Nah, itu kayaknya taksi pesenan aku dateng.” Mbak Maria menghentikan mobil Avanza warna putih yang melintas. Ternyata benar, itu taksi pesanan Mbak Maria.
“Duluan, ya, Ran! Atau kamu mau numpang sekalian sama aku, yuk! Tenang aja, ongkosnya aku yang bayar, kok!” ujarnya pula.
“Makasih, Mbak. Gak apa-apa, duluan aja! Kasihan abang ojeknya kalau aku cancel.”
“Ooh … iya jugak, sih. Ya udah, deh. Duluan, ya!”
“Iya, Mbak!” jawabku dengan senyum simpul. Mbak Maria pun berlalu.
“Mbak … warga baru, ya? Saya baru lihat.” Tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar dari rumah yang tepat di depan rumah kontrakan kami.
“Eh, iya, Ibu. Aduh, maaf, belum sempat silaturahmi ke tetangga.” Kuhampiri wanita itu, lalu menyalaminya.
“Gak apa-apa. sudah biasa, kok. Di sini tetangga jarang interaksi kalau jam kerja begini. Pada sibuk masing-masing,” jawabnya.
“Saya Rania, Bu. Suami saya Mas Zaki, tapi sudah duluan pergi kerja.”
“Ooh … panggil saja saya Bu Mira. Saya warga terlama di kompleks ini.”
“Ooh … iya, Bu? Kami mungkin hanya semantara, Bu. Soalnya sedang renovasi rumah. Jadi sementara ngontrak saja.”
“Ooh … begitu? Eh, tapi kayaknya sudah akrab sama Mbak Maria?”
“Ooh … iya, Bu. Sudah kenal sejak lama. Tapi baru ketemu lagi sekarang.”
“Ooh, begitu. Palingan tadi dia mau ke pasar. Soalnya majikannya sedang pergi ke Amerika, mungkin tahun depan baru balik ke Indonesia.”
“Majikan, Bu?” tanyaku bingung.
“Iya, Mbak Maria itu ART di rumah itu. Pemilik rumah itu namanya Tuan Smith dan Nyonya Callen. Mbak Maria itu ART yang ngurusin si Hailey, anaknya majikannya yang sekolah di sini.”
“O-ooh, gitu. Jadi gadis bule tadi pagi itu anaknya pemilik rumah itu, Bu?”
“Iya, yang tadi bawa mobil sedan warna hitam itu. Hailey itu setelah tamat mau pindah sekolah ke Amerika.”
“Ooh … begitu ….”

Bình Luận Sách (119)

  • avatar
    GoodAdi

    ooooo

    13d

      0
  • avatar
    SamsunAndi

    bagus

    27d

      0
  • avatar
    mufaddholalfath

    nice

    22/12

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất