Untunglah sampai terminal langsung dapat bus. Semoga Tuan Khalil tidak mengejarku. Maafkan aku ya, Nyonya, kalau aku disana terus, mau ngapain? Nyonya-kan sudah sembuh. Perjalanan memakan waktu 10 jam untuk sampai Terminal Jogja. Alhamdulillah jam 16.00 aku sampai, setelah itu naik angkudes untuk menuju desaku, lalu ngojek dan tepat jam 16.45 sampai rumah. Kangen rumah, Setelah turun dari ojek aku langsung menuju rumah. Rumahku masih seperti yang dulu, asri, nyaman sejuk. Sepi, pada kemana? Biasanya sore begini duduk santai di depan pendopo. “Refan!..” kupanggil nama anakku yang sedang bermain kejar-kejaran dan siapa itu? Mas Prayit? Mantan suamiku? Ngapain disini? Refan menoleh kearahku, sedikit terkejut dan berlari menghampiriku. “Ibu..! Aku kangen sama ibu, ibu kok ndak pulang-pulang sih, Bu,” kata Refan anakku yang setahun kutinggal merantau. Dia tampak lebih tinggi dan gemuk. Dia memelukku, akupun memeluknya dan kucium. Kami saling melepas rindu. “Refan, ibu kangen banget, Refan sehat to?” tanyaku sambil kuciumi. “Refan sehat, Bu, itu ada Bapak, Bapak sering kesini, aku sering di ajak jalan-jalan," kata Refan sambil menunjuk kearah mas Prayit. Aku cuek, aku memang masih sakit hati saat dia memutuskan menikahi janda beranak satu tetangga desa, karena dia yang menyebabkan perceraianku. Apabila didepan anakku, sebisanya bersikap biasa saja. “Oh iya, ayo masuk, ibu kangen sama Mbah Kung dan Mbah Uti,” perintahku. Kami masuk kedalam rumah diikuti mas Prayit. Diih ngapain dia ngekor, males lihat mukanya. “Assalamualaikum, ibu bapak apa kabar.” Aku mencium punggung tangan kedua orang tuaku. “Bapak dan Ibu sehat to?” tanyaku. Mereka berdua mengangguk bahagia. Lalu kupeluk keduanya, kulepaskan rasa rinduku, kuucapkan terimakasih karena telah merawat anakku selama ini. Kemudian aku masuk kamar meletakkan koperku, setelah itu, aku menuju dapur, kulihat ibu didapur sedang membuat teh manis. “Bu, apakah Mas Prayit sering kesini?" Tanyaku. Ibu mengangguk. “Ngapain sih Mas Prayit ke sini," tanyaku penasaran, “bukankah dulu ndak peduli dengan Refan?” lanjutku. Ibu masih diam, tangannya mengaduk teh manis yang akan disajikan di ruang tamu. “Prayit sudah cerai dengan si Endah dua bulan yang lalu, dan sejak saat itu, dia sering kesini dan sering pula mengajak Refan. Dia menyesal katanya, ah nanti biar Prayit yang menceritakannya sendiri,” jawab ibu. “Ah, Bu Aku capek mau mandi terus mau istirahat," jawabku lagi. Kemudian aku mandi setelah itu masuk kamar dan sama sekali tidak menemui Mas prayit, malas, sudah tidak ada urusan lagi dengannya. Melihat wajahnya saja muak. Aku masih ingat bagaimana penghianatannya terhadapku dulu. Namun tiba-tiba anakku masuk ke kamar dan memintaku keluar menemui Mas Prayit. Sebenarnya aku malas tetapi karena permintaan anakku akhirnya aku keluar juga. Mas Prayit membuka pembicaraan. “Insani, di depan kedua orang tuamu aku ingin rujuk padamu. Aku sangat menyesal, ternyata si Endah bukanlah wanita baik-baik. 2 bulan yang lalu aku menceraikannya, dia egois, dia tidak mau menerima Refan, dia hanya mau hartaku saja. Maka dari itu pas banget kamu pulang aku bermaksud ingin rujuk lagi denganmu demi Refan," kata Prayit menjelaskan. Wajahnya terlihat penuh penyesalan, bahkan air matanya menetes. Aku hanya diam. sebenarnya di hatiku masih ada setitik cinta tetapi mampu terkalahkan oleh rasa sakit yang telah Mas Prayit torehkan. Dia menatapku penuh harap. “Nanti akan aku pikirkan lagi yo, Mas.” Aku bergegas masuk kamar, tapi Ibu mengikutiku. “Sani, sebelum kamu pulang, Prayit sudah bicara sama ibu, dia menyesali semua perbuatannya, sekarang, bagaimana kalau kamu rujuk lagi sama Prayit, demi anakmu. Kasihan dia, anak seumuran dia masih butuh kasih sayang Ayahnya.” Ibu membujukku, entah kenapa ibu sangat mendukungnya. Namun, yang dikatakan ibu ada benarnya. “Tapi, Bu, Bukankah dalam Islam, jika sudah cerai kemudian ingin rujuk lagi maka istri harus menikah dengan orang lain dulu, dan harus sudah berhubungan badan. Dan aku ndak mau seperti itu.” Jawabku. Kulihat ibu mengiyakan. Kemudian beliau keluar, sepertinya menceritakan hal tersebut ke Bapak dan Mas Prayit. Kemudian ibu datang lagi dan menyuruhku untuk keluar, menuju ruang tamu. “Ada apa lagi, sudah jelas bukan?” jawabku. Ada semburat kecewa dimata mas Prayit. “Iya Insani, apa yang kamu katakan itu memang benar, Baiklah aku pulang dulu barangkali nanti menemukan solusi.” Kata Mas Prayit. Anakku mengikutinya. “Bapak, ikuut,” kata Refan. “Refan mau, bapak disini saja” lanjutnya, sambil memegang tangan mas Prayit. Hatiku pilu, sedih, tapi itu semua karena ulahmu sendiri mas, kini, saat kamu ingin memperbaiki, semua sudah terlambat. Akupun tak bisa rujuk, aku harus menikah dengan orang lain dulu. “Bapak pulang dulu ya, Insha Allah besok kesini lagi.” Kata mas Prayit. Akhirnya Refan mengiyakan. Mas Prayit pamit, kami saling pandang, masih ada cinta dimatanya, seperti ada rasa rindu, sebetulnya, akupun demikian. Jika dia suamiku, mungkin aku sudah memeluknya, menciumnya, dan ah... “Sayang, sudah malam, tidur yuk, kali ini tidur sama ibuk yo,” ajakku pada Refan yang masih sedih karena bapaknya pulang dan tidak menginap. POV Khalil Akhirnya sampai juga gue di Jogja. Masih seperti yang dulu, wah sudah malam, gue cari hotel saja, pencarian rumah Sani besok. Kalau lihat di google map, sepertinya sudah dekat. Pagi tiba gue siap-siap nyari rumah Insani. Gue telusuri melalui Google Map, sampailah gue di sebuah desa yang lumayan agak terpencil, gue tanyakan kepada salah seorang penduduk desa tentang Insani. Lalu gue ditunjukkan ke rumahnya. Kulihat rumah yang besar dengan ornamen Jawa terkenal dengan Joglo. Kanan kiri rumah terdapat pohon mangga. Kuparkir mobilku di halaman rumah, kemudian gue jalan menuju pendopo rumahnya. Gue ketuk pintunya, seorang anak kecil laki-laki membukakan pintu dia tersenyum padaku. Setelah itu dia berlari dan memanggil Mbah Uti nya. Terdengar dari kejauhan. “Mbah, ada tamu seorang laki-laki sangat ganteng.” Teriaknya. Gue senyum, lucu sekali dia, siapa dia ya, apa dia Anaknya Insani. Seorang perempuan setengah baya keluar dari dalam rumah. Gue disambutnya dan disalaminya. “Maaf ini dengan siapa ya,” tanyanya dengan nada khas Jawa. “Ehm, saya temannya Insani, eh ibu saya yang dirawat Insani saat di Jakarta,” jawabku. “Oh Tuan Khalil ya, Insani sering bercerita tentang Tuan, mari silakan duduk,” sebentar saya panggilkan. Gue mengangguk, Wah rupanya Insani sering cerita tentang gue ke ibunya, pasti menceritakan yang jelek-jelek tentang gue. Tak lama Insani keluar dan menemuiku, sepertinya dia kaget. “Tuan!” kata Insani kaget. Gue hanya senyum datar. “Kenapa Tuan menyusulku,” tanyanya. Masih dengan ekspresi kaget. “Aku hanya melaksanakan perintah Ummi.” Jawabku. “Tapi maafkan aku Tuan aku tidak mau ikut dengan Tuan lagi,” Jawab Insani sedikit judes. “Aku sudah tidak ingin Merantau Lagi Tuan kasihan anakku.” Belum sempat gue jawab tiba-tiba anak kecil yang tadi, berlari dan memelukku. Dia minta dipangku kemudian dia bertanya, “Tuan, Tuan kok ganteng sekali, namanya siapa Tuan,” Gue senyum. Lucu sekali dia. Kulihat Insani juga kaget, kemudian dia melarang anak tersebut, tapi anak tersebut tak peduli. “Namaku Khalil Al Fatih, kamu juga ganteng, manis lagi, seperti gula, hehehe, Oya namamu siapa?” masih kupangku anak tersebut, dan kucium. “Namaku Refan, itu ibuku, Insani Anugrah.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah Insani. Aku ber oooooooooo. Ibu Insani keluar dan membawakan teh manis serta camilan, lalu mengajak Refan untuk main di belakang rumah. “Itu anakmu Sani?” tanyaku. Dia mengangguk. Ah, andai aku punya anak, mungkin anakku sudah 10 tahun. “Anakmu lucu, pintar dan nggemesin,” lanjutku. “Itulah sebabnya Tuan, aku sudah ndak mau lagi ke Jakarta,” jawab Insani. Kami terdiam hingga beberapa menit. “Sani” ucapku membuka pembicaraan. “Maukah kamu menerima permintaan Ummiku? Sani, aku hanya ingin membahagiakannya, selama ini, aku sudah durhaka, jika kamu mau, aku akan memenuhi semua permintaanmu. Kembalilah ke rumahku.” Kulihat dia masih diam tanpa bicara. “Tu, Tuan, ini sulit bagiku.” Jawabnya singkat. “Tapi kenapa Sani, bukankah kamu sudah tidak bersuami? “ Kataku lagi. Sebenarnya pantang bagiku memohon-mohon, apalagi dengan wanita kampungan itu, tapi demi Ummiku, kuturunkan egoku. “Nanti akan saya pikirkan Tuan,” jawabnya datar. **
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 30 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (384)
KholifahSifah
sekilas dari judulnya jadi terkesan ingin membaca😊
sekilas dari judulnya jadi terkesan ingin membaca😊
18/06
0terima kasih
14/06
0bagus
01/05
0Xem tất cả