logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 6 Mulai Over Cemburu Kepada Rian

Judul: Pernikahan Tanpa Cinta
Penulis: Nurma Syafitri
Part06
Wisnu dan Fitri melangkah keluar, lalu lelaki berkulit putih itu menggandeng tangannya. Wulan menghampiri mereka berdua di teras rumah gadis bertubuh ideal.
“Wulan, kamu kenapa keluar?” tanya Fitri.
“Fitri, aku bosen di dalam rumah kamu,” sahut Wulan sambil memegang perutnya.
“Wulan kenapa dengan perut kamu?” selidik Fitri, lalu ia menghampirinya.
“Fitri, aku belum makan semenjak tadi pagi sampai sore ini,” sahut Wulan sambil terus memegangi perutnya.
“Iya Tuhan Wulan. Mas kita makan di luar, kasihan dia belum makan dari tadi pagi,” pinta Fitri.
“Iya, Fitri. Mas juga belum makan siang tadi banyak pekerjaan yang belum selesai,” sahut Wisnu.
“Iya, sudah. Mas dan Wulan tunggu di mobil, Fitri mau ganti baju dulu dan ambil tas,” ucap Fitri.
“Mas ikut kamu masuk ke dalam rumah, ya sayang,” pinta Wisnu.
“Iya sudah kalau Mas mau masuk ke rumah, Wulan kamu tunggu di mobil enggak apa-apa, kan?” tanya Fitri.
“Iya Wulan tunggu di mobil, tapi kalian berdua jangan lama-lama,” sahut Wulan.
Fitri dan Wisnu berjalan ke dalam rumah, lelaki berkulit putih duduk di sofa, lalu gadis bertubuh ideal itu melangkah ke arah kamar. Ia mengganti baju, memakai hijab segitiga dan mengambil tas kecil selempang berwarna coklat muda.
Setelah selesai Fitri memakai pelembap, bedak dan lipstik, lalu ia keluar menghampiri Wisnu yang berada di ruang tamu.
“Sayang kamu cantik banget hari ini. Fitri kalau ke kantor seperti ini apa berdandan,” pinta Wisnu.
“Mas yakin suruh Fitri berdandan seperti ini? Nanti yang ada kamu cemburu kalau banyak yang menggoda aku,” ucap Fitri.
“ Enggaklah sayang, Mas suka Fitri yang natural,” sahut Wisnu.
“Iya sudah kita ke mobil, kasihan Wulan sudah menunggu kita lama di sana,” ucap Fitri.
Fitri dan Wisnu melangkah keluar, lalu gadis berkulit putih itu menutup pintu dan menguncinya. Mereka berdua berpegangan tangan dan berjalan menuju mobil.
Fitri dan Wisnu masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba ponsel Wisnu berdering melihat ada panggilan masuk dari nomor telepon tak di kenal, lalu ia tidak menghiraukan panggilan itu.
“Mas kenapa teleponnya enggak di angkat?” tanya Fitri.
“Fitri nomor tidak di kenal, aku paling malas angkat telepon yang tidak ada nama di ponselku. Kamu mau makan di mana sayang?” tanya Wisnu.
“Mas di depan perumahan ada restoran masakan padang. Fitri lagi mau makan rendang,” pinta Fitri.
“Iya sayang nanti Mas menyuapi kamu, ya,” sahut Wisnu.
“Iya Mas yang super manja,” ledek Fitri sambil terkekeh-kekeh.
Tiba-tiba Wisnu mencubit hidung Fitri yang pesek, lalu ia geregetan dengannya.
“Mas sakit tahu hidung Fitri di cubit sama kamu,” ucap Fitri.
“Fitri habis Mas geregetan sama kamu, I love you kesayanganku,” sahut Wisnu.
“Mas malu sama Wulan, Iya sudah yuk jalan,” pinta Fitri.
“Iya Fitri, Maaf ya Wulan aku terkadang suka enggak bisa ke kontrol sama dia,” ucap Wisnu.
“Pak Wisnu enggak apa-apa kok, aku suka lihat kalian yang seperti ini daripada diam-diam,” sahut Wulan.
Wisnu mengendarai mobilnya menuju restoran masakan padang. Setelah sampai di depan, lalu ia memarkirkan mobilnya.
Wulan melihat Rian dan Tiara yang baru tiba di restoran, lalu mereka berdua berjalan memasukinya. Gadis bertubuh gemuk melarang Fitri dan Wisnu untuk tidak turun di sini.
“Wulan kenapa kita berdua enggak boleh turun?” tanya Fitri.
“Fitri ada Rian dan Tiara di restoran ini,” ucap Wulan.
“Mas bagaimana kita jadi turun di sini?” tanya Fitri.
“Fitri kita tetap turun di sini. Kamu enggak usah takut sama Rian,” sahut Wisnu.
“Baiklah Mas kalau itu sudah yakin keputusan kamu,” ucap Fitri.
Fitri, Wisnu dan Wulan keluar dari mobil dan berjalan memasuki restoran. Mereka bertiga duduk di kursi nomor 15 tidak jauh dari Rian dan Tiara.
Rian melihat Fitri bersama Wisnu. Ia tidak ikhlas melihat mereka berdua bermesraan di tempat ini. Lelaki berkulit putih itu menghampiri mereka bertiga.
“Hai Wisnu, Fitri dan Wulan kalian di sini juga,” ucap Rian sambil menatap Fitri.
“Iya, Rian. Kenapa ada masalah sama kita bertiga,” sahut Wisnu.
“Wisnu apa boleh aku sama Tiara gabung di meja sini?” tanya Rian masih terus menatap Fitri.
“ Boleh Rian, ajak sekalian pacar kamu ke sini,” ucap Wisnu.
“ Baiklah Wisnu,” sahut Rian.
“Mas kamu kenapa izinkan dia gabung di sini?” tanya Fitri.
“Fitri enggak apa-apa, Mas mau melihat gerak gerik dia sama kamu,” ucap Wisnu.
“Iya sudah kalau itu mau kamu. Fitri enggak bisa melarangnya,” sahut Fitri.
Rian berjalan menghampiri Tiara untuk mengajaknya bergabung dengan Wisnu, Fitri dan Wulan, lalu wanita itu menuruti kemauan suaminya.
“Wisnu perkenalkan ini Tiara istri aku,” ucap Rian sambil menatap Fitri.
“Hay, saya Wisnu yang di sebelah saya Fitri calon istri aku,” sahut Wisnu.
“Rian cantik juga ya calon istri Wisnu,” sindir Tiara pada Rian.
“Mas aku panggilkan pelayan dulu, ya di depan,” ucap Fitri.
Fitri bangun dari tempat duduk dan berjalan menghampiri pelayan.
“Kak bangku nomor 15 mau pesan makanan bisa ke sana sekarang?” tanya Fitri dengan ketus.
“Bisa, kakak,” sahut pelayan.
Fitri kembali berjalan ke meja dan duduk di sebelah Wisnu. Gadis bertubuh ideal itu tidak menghiraukan pandangan Rian kepadanya.
“Fitri antarkan aku ke toilet, yuk,” pinta Wulan.
Wulan tiba-tiba menginjak kaki Fitri dan memberikan kode padanya.
“Mas Fitri antarkan Wulan ke toilet dulu, ya,” ucap Fitri sambil menatap Wulan.
“Iya sudah jangan lama-lama sayang,” sahut Wisnu.
Fitri dan Wulan berjalan ke arah toilet. Setelah sampai di sana gadis bertubuh gemuk itu menyuruhnya untuk makanan di bungkus.
“Wulan kamu enggak usah takut, Wisnu bisa tahan emosinya sama Rian,” ucap Fitri.
“Iya Wulan tahu, Rian itu emosional dan bisa pancing emosi orang sampai meluap,” sahut Wulan.
“Iya sudah kita ke sana lagi, aku enggak mau Wisnu ke pancing emosi sama Rian,” ucap Fitri.
Fitri dan Wulan berjalan menuju meja nomor 15 dan menghampiri Wisnu, Rian dan Tiara di sana.
“Fitri, Wulan duduk dulu, aku sudah memesankan kalian makanan yang sama tinggal menunggu makanan tiba,” ucap Wisnu.
“Iya Mas, oh ya, Tiara kamu sudah pesan makanan belum?” tanya Fitri.
“Sudah Fitri, kamu lama sekali habis dari toilet,” sindir Tiara pada Fitri.
“Oh, tadi toilet antre jadi aku tunggu giliran,” sahut Fitri.
Tak lama kemudian pesanan makanan tiba. Pelayan itu tak sengaja menyenggol minuman jus yang ada di depan Fitri, lalu tumpah di baju gadis bertubuh ideal itu.
Rian tiba-tiba memarahi pelayan itu dan mencaci makinya. Wisnu melihat lelaki berkulit putih itu masih mempunyai perasaan cinta padanya.
“Kak saya bersihkan bajunya pakai tisu!” ucap Pelayan.
“Tidak usah Kak, Mas kaya kita pulang saja, aku sudah enggak nafsu makan di sini,” pinta Fitri.
“Maafkan saya Kak,” ucap Pelayan.
“Iya tidak apa-apa, Kak bisa minta tolong di bungkus makanan yang ini,” sahut Wisnu.
“Baiklah Pak saya bawa ke dapur untuk di bungkus,” ucap pelayan.
“Iya sudah jangan terlalu lama Kak saya sudah enggak tahan lama-lama di sini,” sahut Fitri.
Pelayan itu melangkah ke dapur untuk membungkus makanan yang telah di pesan. Tak lama kemudian pelayan itu datang membawa nota dan pesanan yang telah di bungkus.
“Kak ini nota yang harus di bayar dan ini pesanan yang di bungkus,” ucap Pelayan.
“Ini uangnya Kak 400.000 ribu rupiah,” sahut Fitri.
“Terima kasih Kak,” ucap Pelayan.
“Mas kunci mobil mana?” tanya Fitri.
“Fitri ini kunci mobilnya. Kamu masuk mobil duluan sama Wulan,” sahut Wisnu.
“Baiklah Mas, Tiara, Rian Fitri pamit pulang dulu, ya,” ucap Fitri.
“Fitri terus Wisnu pulang naik apa?” tanya Rian.
“Rian biar nanti saya pulang naik taksi, biar Fitri aman pulang sama Wulan dari pada kelamaan di sini yang ada di lebih enggak aman,” sindir Wisnu pada Rian.
“Oh, terus besok pagi kamu ke kantor naik apa Wisnu?” tanya Rian.
“Rian besok pagi aku naik mobil satu lagu yang ada di rumah. Kamu kenapa tanya seperti ke pada aku?” tanya Wisnu.
“Enggak Wisnu kalau kamu butuh boncengan bisa chat aku,” ucap Rian.
“Terima kasih Rian saya tidak butuh bantuan kamu. Sayang hati-hati bawa mobilnya, biar Mas pulang naik taksi. Besok pagi kamu bawa mobil ke kantor bersama Wulan,” sahut Wisnu.
“Iya Mas kalau sudah sampai rumah beritahu Fitri,” ucap Fitri.
“Iya sayang Mas. Fitri ini bawa makanannya jangan lupa di makan,” sahut Wisnu.
“Iya Mas aku yang bawel,” ucap Fitri.
Rian melihat Wisnu dan Fitri wajah merah dan tangannya menggumpal seperti mau memukul. Lelaki berkulit putih itu mengajak Tiara untuk pulang. Akan Tetapi, Wanita berkulit sawo matang ini menolaknya.

Bình Luận Sách (42)

  • avatar
    Nur Fatika Aldarista

    Baguss banget

    31/07

      0
  • avatar
    AuliaMarsya

    bagusssss bgtttt

    11/07/2025

      0
  • avatar
    Dyah_22Pretty

    Oke lah

    03/02/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất