Baim berjalan perlahan mendekati kedua orang tuanya yang tengah asik menonton acara televisi di ruang tengah. Sejak kepergian Ainul ke rumah suaminya, suasana di rumahnya terasa sepi. Biasanya Ainul yang cerewet selalu bercerita apa saja. Membuat bibir terus menyunggingkan senyum kala melihat tingkah gadis itu. Membuat perasaan Baim menjadi bahagia melihatnya. "Ummi, Abi, boleh Baim bicara sesuatu?" tanya Baim dengan sopan saat dia sudah sampai di hadapan kedua orang tuanya. "Boleh dong, Sayang. Sini duduk!" balas Laila--Ummi Baim--dengan senyum mengembang di wajahnya. Telapak tangannya menepuk-nepuk kursi sofa di sebelahnya. Laki-laki yang mengenakan peci hitam di kepalanya itu pun duduk di sebelah Laila. "Ada apa, Baim?" tanya Joko--ayah sambung Baim--tak sabar. Dia penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh anak tirinya itu. Kalau sudah meminta bicara begini, biasanya ada hal penting yang akan dia sampaikan. "Begini, Abi, Ummi, Baim ... ingin melanjutkan kuliah," katanya pelan. Ada binar bahagia dikedua mata bening Laila. Pasalnya, anaknya itu selalu menolak jika disuruh kuliah. Sampai dia pasrah. Namun kali ini, tanpa diminta, dia mengutarakan keinginannya sendiri untuk kuliah. "Alhamdulillah, Nak. Kamu serius?" Laila menatap dalam manik putranya itu. "Iya, Ummi. Baim serius ingin kuliah." "Abi ingin tahu alasan kamu jadi ingin kuliah itu apa, Baim?" tanya Joko sambil menatap Baim dengan tatapan heran. Kenapa tiba-tiba dia jadi ingin kuliah? "Baim pikir-pikir lagi, untuk mengabdikan diri mengajar di pesantren ini ilmu yang Baim punya masih kurang, Abi. "Terlebih jika ada beberapa pertanyaan dari santri yang Baim nggak tahu. Rasanya malu. Jadi, Baim putuskan untuk memperdalam ilmu agama lagi...." "Syukur kalau kamu mau kuliah, Nak. Abi sama Ummi senang sekali mendengar kabar ini. Iya kan, Mi?" "Benar banget, Bi." "Terus kamu mau kuliah di mana, Nak?" Laila menatap anaknya dalam-dalam. "Emm ... anu, Mi. Di ... Jogja ...." Kedua mata Laila dan Joko sama-sama terbuka lebar. Mereka terkejut dengan rencana putranya yang ingin kuliah di Jogja. "Kenapa harus di Jogja, Nak? Kenapa nggak kuliah di Malang atau Surabaya yang dekat dari sini?" Laila mencecar Baim dengan beberapa pertanyaan. "Abi, Ummi, jurusan yang Baim inginkan hanya ada di sana, Mi. Di UIN Sunan Kalijaga." "Memang kamu mau ambil jurusan apa, Baim?" tanya Joko. "Aqidah dan filsafat islam, Bi, Mi." Wajah kedua orang tua Baim yang semula bahagia, kini berubah muram saat anaknya itu menyatakan keinginannya untuk kuliah di Jogja. Terlebih Laila, dia sangat terkejut saat mendengar keinginan anak laki-lakinya itu. Ainul sudah dibawa ikut tinggal di rumah suaminya. Sekarang anaknya juga akan pergi meninggalkannya? Ya Allah ... Laila merasa tak sanggup. "Ummi nggak bisa jauh dari kamu, Nak ... bagaimana nanti kalau kamu di sana sakit? Siapa yang mau ngurus? Kalau kamu lapar, siapa yang mau masakkin?" "Ummi nggak setuju kalau kamu mau kuliah di Jogja!" tegas Laila. Dia bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan anak dan suaminya masuk ke dalam kamar. "Ummi!" Baim hendak menyusul langkah Laila, namun lengannya ditahan oleh Joko. "Biar Ummi kamu tenang dulu. Mungkin dia masih syok," ucap Joko dengan lembut. "Tapi, Bi ...." "Apa kamu sudah yakin ingin kuliah di Jogja, Nak?" tanya Joko memastikan. "InsyaAllah Baim sudah yakin, Bi. Baim sudah memikirkannya matang-matang selama beberapa hari ini," jawab Baim meyakinkan. "Baiklah. Nanti biar Abi yang bicara sama Ummi. Kamu sabar dulu, ya!" "Iya, Bi. Terima kasih. Baim pamit ke kamar dulu, Bi." Baim beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah kamarnya. Sejenak langkahnya berhenti saat melewati kamar Laila. Dia berbalik arah menatap Joko dengan tatapan penuh harap. Ayah sambungnya itu hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis. Setelah Baim hilang di balik pintu kamarnya, Joko masuk ke dalam kamarnya. Menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk kamar. Telapk tangannya menyentuh bahu istrinya yang bergetar dengan lembut. "Sayang," bisiknya. "Dia mau ninggalin aku lagi, Bi," ucapnya di sela-sela isakannya. Joko pun membawa tubuh ramping Laila ke dalam depakannya. Membiarkannya meluapkan segala emosinya. Telapak tangannya mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut. Bahkan beberapa kecupan kecil mendarat di puncak kepalanya. Berharap dengan itu semua bisa meredakan emosi Laila. Cara itu selalu Joko lakukan saat istrinya sedang merajuk. Karena sejatinya, wanita itu hanya butuh pelukan yang menenangkan dan telinga yang siap mendengar keluh kesahnya. DAN SELALU BERHASIL. Terbukti baru beberapa menit Joko mendekap Laila, isak tangis pada bibir tebal wanita itu mereda. Dia lebih memilih untuk membuka telinganya lebar-lebar sebelum memberi pengertian padanya. "Dia sudah terlalu lama jauh dari kita, Bi. Mondok di pesantren selama 10 tahun. Baru satu tahun melewati waktu bersama, dia malah mau pergi jauh lagi." "Nggak kuat rasanya menahan rindu lagi sama Baim, Bi. Apalagi Ainul udah nggak di sini. Pasti akan kesepian," ucap Laila pelan sambil mengusap air matanya yang kembali menetes. "Sayang, lihat aku sini!" Joko melepas pelukannnya. Kedua telapak tangannya menangkup pipi Laila yang masih basah terkena air mata. Dia tersenyum ke arah istrinya. Karena dia tahu, senyumannya itu adalah jurus paling ampuh untuk meredam emosi wanita yang ada di hadapannya itu. Setelah perjalanan cinta penuh dengan rintangan, akhirnya dia bisa bersanding dengan wanita yang sangat dicintainya. Dan dia berjanji untuk tidak akan pernah menyakiti hatinya. Lagi dan lagi. Dia tak ingin kehilangan Laila untuk kesekian kali. Mata sayunya menatap Laila dalam-dalam dengan senyum yang memabukkan bagi Laila. "Baim itu kan sudah besar, Sayang. Biarkan dia menentukan sendiri apa yang menjadi keinginannya. Selagi itu baik, kenapa nggak kita dukung? "Masalah rindu, bisa video call kapan pun kita mau 'kan? Dia juga bisa pulang ke Jombang kalau libur semester," "Lagian niat Baim kan baik. Dia kuliah, menimba ilmu agama yang InsyaAllah akan bermanfaat untuk kita semua. "Bisa menjadi pahala jariyah juga untuknya jika para santri mengamalkan ilmu bermanfaat yang dia bagikan," jelas Joko dengan sangat lembut. Laila menurunkan telapak tangan suaminya yang masih bertengger pada kedua pipinya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Tapi kenapa harus di Jogja, Bi? Dia kan bisa kuliah di Malang atau Surabaya. Di sini masih banyak universitas dengan kualitas yang baik." "Kan tadi Baim bilang kalau jurusan yang diminatinya hanya ada di universitas itu, Mi." "Tapi, Bi...," rengeknya. "Percaya sama Abi. InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Dia kan sudah besar juga, dia pasti bisa jaga diri. Kan ada Allah. Kamu nggak perlu khawatir." Laki-laki itu berusaha untuk meyakinkan istrinya. "Laila sayang, kamu mau memberikan Baim kesempatan sekali lagi 'kan? Mumpung dia lagi mau kuliah lho." Joko masih saja membujuk istrinya agar mau mengizinkan putranya kuliah di Jogja. Laila terdiam, kedua matanya membalas tatapan suaminya dalam-dalam. "Beri aku waktu untuk memikrikan ini semua, Bi," ucapnya kemudian bringsut dari hadapan suaminya. Dia memilih menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Membuat Joko mengembuskan napas panjangnya. Sedangkan di kamar lain, Baim tengah gelisah menunggu kabar dari Abi tentang keputusan Umminya. Mengizinkan atau tidak?
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
baguss bgt😌
24d
0bagus
26/01
0good job
25/01
0Xem tất cả