logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 6 Sarapan yang Menyenangkan

Seorang pria yang menurutku usianya tiga puluhan, terperangah melihat ke arahku lebih tepatnya shock atau kaget. Entah kenapa aku jadi parno sendiri. Pelan-pelan menoleh ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa.
"Kamu kenapa?" Tanyaku dengan perasaan takut.
"Kamu siapa?" Tanyanya ragu.
Kata yang keluar dari mulut kami berupa pertanyaan yang ingin kami ungkapkan. Aku bertanya kenapa mimik wajahnya seperti itu, sedang dia bertanya siapa aku karena memang mungkin aku baru di sini, dia tidak pernah melihatku.
Beberapa menit aku mulai tersadar, kalau pria ini ternyata kaget melihatku. Aku tertawa terbahak. Wajahnya lucu.
"Jangan tertawa seperti itu! Menakutkan!" Ujarnya sambil berkacak pinggang tapi masih dengan wajah ragu.
"Ya Allah tolong. Kamu cowok loh! Jadi kamu kaget melihatku? Memangnya aku kenapa?" aku mengikuti gayanya. Berkacak pinggang dan mengintimidasi dengan pandangan mata.
"Rambut panjang, piyama putih, terus nggak gerak. Siapa yang nggak takut!" hardiknya.
"Kamu kira aku Kunti! Enak saja!" protesku.
Aku kembali duduk bersila di dekat kolam. Kembali menekuni gerakan ikan-ikan yang lincah berenang kesana kemari. Mungkin mereka terganggu dengan kedatanganku.
"Pegawai baru di sini?" tanyanya sembari mendekat.
"Iya, kamu?"
Tanganku memainkan air di kolam dan menyiram-nyiramkan ke atasnya. Dingin dan segar.
"Aku sopir di sini!"
"Oh!"
"Kenapa sendirian di luar sini? Dingin tahu!"
Dia lebih mendekat, kemudian ikut duduk bersila di tepi kolam.
"Mimpi buruk! Aku hanya mencari udara segar," jelasku padanya.
"Kenapa memangnya? Nggak betah di sini?" tanyanya penasaran.
Sekilas wajahnya terkena sinar lampu temaram kolam. Lumayan tampan.
"Entahlah! Mungkin, karena masakanku tak tersentuh," jawabku dengan nada kecewa.
Sekilas aku melihatnya agak kaget, tapi secepatnya masih bisa menguasai keadaan.
"Jangan diambil hati!" Ucapnya kembali. Pandangan matanya ikut ke arah kolam.
"Nggak sih, cuma kecewa saja."
"Tapi minumannya seger," rayunya.
"Kamu minum?"
"Itu ... Tadi aku nemenin bos makan, aku cicip minumannya. Kan ada empat. Terus bukannya dia tidak mau makan sih, tapi kelihatannya masih kenyang."
"Oh, begitu? Eh, aku boleh tanya?"
"Apa?"
"Di sini anggota keluarga berapa? Aku bingung mau siapin berapa piring."
"Sepertinya empat itu tadi juga cukup. Biasanya bos ditemenin sama asistennya. Aku juga nemenin."
"Oh, ok!"
Aku jadi punya gambaran tentang keluarga di sini. Akhirnya kami mengobrol lumayan lama. Suasana tidak secanggung tadi. Disertai guyon-guyon garing yang lumayan membuat suntuk hilang.
Di saat kami asyik membicarakan tentang pekerjaan, seseorang mengagetkan kami.
"Pak!"
Kami menoleh ke arah suara. Pria berjas yang aku tidak tahu namanya. Aku menyebutnya berjas karena seringnya dia memakai pakaian itu.
"Namaku Pakih," ucapnya mengoreksi panggilan dari pria berjas tadi, tapi dengan suara gugup.
"Aku masuk dulu ya? Istirahatlah, tidak baik perempuan sendirian termenung di luar rumah. Bisa kerasukan." Ucapnya kembali sembari meninggalkanku.
"Dasar!" Gumamku.
Tapi nyatanya mungkin iya, ucapan laki-laki itu ada benarnya. Aku belum mengenal siapa-siapa di sini, juga mengenal tempat ini. Bisa jadi karena tidak kenal, ada orang yang salah paham seperti tadi. Lucu.
***
Pagi ini aku memulai hari dengan semangat. Masuk ke dapur, mulai menggiling kacang kemudian diberi bumbu sesuai resep turun temurun dalam keluarga. Sayur kacang panjang, kol dan sawi aku kukus setengah matang.
Lauk yang aku gunakan adalah bumbu bali tahu tempe. Makanan berbumbu merah berbahan dasar cabe merah, bawang putih dan bawang merah. Telur dadar dengan banyak bawang aku sediakan di atas piring tersendiri. Baunya sedap. Pasti mereka suka.
Wedang jahe dan sereh digeprek aku sediakan dalam mug kecil untuk mengurangi begah perut di pagi hari. Masakan selesai. Semoga kali ini dimakan.
Santi bertugas menata di meja makan utama, Rini menata di meja makan dapur untuk kami. Setelah beberapa menit, pria berjas masuk ke dapur dan memberikan kami kesempatan untuk sarapan.
"Pak? Bagaimana?"
Dia mengangguk tersenyum.
Kami berempat bergantian menatap.
"Tiga puluh menit lagi silahkan dirapikan, tuan sedang sarapan sekarang."
"Alhamdulillah," ucap kami senang dan hampir bersamaan. Senyum tak lepas dari bibirku. Lega sekaligus bangga. Bos keluarga ini mau memakan masakanku.
Akhirnya aku bisa makan dengan lahap sekarang, perut terasa sangat lapar. Setelah semalaman tidak bisa tidur memikirkan bos baru dan mimpi buruk tentang ibu mertua.
Belum selesai sarapan, pria berjas tadi masuk kembali.
"Mbak? Tolong siapkan sayuran dan bumbunya, tuan meminta bekal seperti tadi."
"Siap, Pak!" jawabku semangat.
Dengan segera aku menyiapkan kotak untuk makan siang dan aku tata sedemikian rupa. Jus jeruk aku siapkan untuk minumannya.
"Ini, Pak!"
"Terima kasih."
Dengan langkah cepat dia meninggalkan dapur yang menyisakan kami berempat. Sorak sorai terdengar dari Santi, Rini dan Ana.
"Masakan Mbak memang enak!" Ungkap Ana dengan mengacungkan jempolnya.
"Kok bisa sih, enak banget," sahut Rini.
"Karena terbiasa. Aku memang kuliah jurusan tata boga, tapi karena terbiasa masak dengan ibu di rumah jadi lumayan hafal bumbu-bumbu dan bahan masakan," jawabku.
"Wah, pantesan. Masakan rumahan tapi rasa bintang lima ini mah," sahut Santi.
Aku terkekeh mendengar celoteh mereka. Karena bagian bersih-bersih sudah ada yang menangani. Aku menyusun menu makan malam sembari mengecek ponsel.
[Nis? Bisa kita ketemu untuk membicarakan hubungan kita?]
Satu pesan tak sengaja terbaca. Mas Shony. Ada apa lagi sebenarnya ini.

Bình Luận Sách (167)

  • avatar
    JayantiTri

    ceritanya bagus...di tunggu episode berikutnya

    16/05/2022

      0
  • avatar
    FebrizalSalman

    hayalan tingkat dewa 😀😀😀👍👍👍

    23/03

      0
  • avatar
    AmanSahri

    baik

    14/02

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất