logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 5 Makanan yang Tak Tersentuh

"Waktu anda satu jam dari sekarang untuk menyiapkan makan malam."
"Baik, Pak."
Koper aku seret ke dapur. Secepatnya aku melihat bahan-bahan yang ada. Lumayan lengkap, syukurlah.
Rambut aku tali tinggi di atas. Celemek mulai aku gunakan. Kemudian meminta bantuan orang yang memang disiapkan untuk membantuku.
"Tolong kentang kamu kupas kemudian kukus, kamu! Tolong cuci udang ini."
Secepatnya aku mengolah udang dan kentang menjadi bola bola udang Krispy, kemudian wortel, kacang panjang aku potong memanjang dan ditumis sebentar dengan minyak wijen.
"Mbak? Ini biasanya jadi berapa piring?"
"Nggak tahu, Mbak. Kami juga baru di sini."
"Duh, memangnya berapa keluarga anggota keluarga sih! Kita jadikan empat piring saja ya?"
Bola udang aku tata berkumpul di tengah, kemudian sebagai hiasan daun seledri dan saos yang aku letakkan memanjang.
Untuk minuman, sengaja aku buatkan jeruk nipis hangat. Selesai, satu orang bertugas membawa makanan dan menata di meja makan. Sementara kami menunggu di dapur yang juga disediakan meja untuk makan.
Beberapa menit berlalu, pria berjas yang sekarang tampak mengenakan pakaian biasa datang dan memberikan kami kesempatan untuk makan.
"Pak?" Panggilku sebelum dia berbalik ke ruang makan utama.
"Ya? Ada yang perlu disampaikan?"
"Apa tuan suka dengan makanannya?" Tanyaku ragu.
"Mmm, kalau saya boleh sarankan. Tuan lebih suka masakan kampung daripada masakan aneh."
"Jadi?"
"Usahakan besok pagi makanannya dimakan."
"Jadi, tuan tidak makan?"
"Sepertinya dia lebih tertarik dengan buahnya daripada makanannya. Kalian bisa merapikan yang ada di meja. Ada lagi yang lain?"
"Ah, tidak Pak. Terima kasih."
Kecewa, pasti. Usaha menyiapkan makanan sia-sia belaka. Aku masih meraba-raba sebenarnya. Tidak ada petunjuk pasti makanan apa yang harus aku siapkan. Mengenai selera, aku juga tidak tahu seleranya bagaimana.
Kami berempat memandangi empat piring yang tak tersentuh sama sekali.
"Mbak? Ini diapakan?" Tanya Santi, yang baru aku ketahui namanya tadi.
"Dimakan aja, daripada mubadzir."
"Beneran nggak apa-apa?" Tanyanya lagi.
Aku mengangguk lemah sembari menyesap kopi susu yang aku buat.
"Seperti apa sih bos kita itu? Nggak menghargai sama sekali upaya karyawannya," ungkap Rini.
"Eh, enak lowh. Beneran ini enak, meski agak dingin sih," seru Ana.
Mereka saling memandang sejenak untuk kemudian memakan makanan yang disia-siakan tadi.
"Mbak? Ini beneran makanan super enak yang pernah aku makan. Sederhana tapi ngena!"
Mereka tergelak, akupun ikut tersenyum.
"Super enak, tapi nggak dimakan!" Ucapku.
"Kita coba lagi besok, Mbak. Sumpah, masakan Mbak enak. Bos belum tahu aja rasanya," ungkap Rini.
"Ok! Kita coba besok! Kalau nggak dimakan lagi, aku mengundurkan diri."
"Waah, jangan dong. Kita sama siapa?"
Bercengkerama sebentar dengan mereka membuat moodku sedikit naik. Ada keinginan untuk tetap berjuang di sini. Tapi lagi-lagi pesimis melanda. Usaha masak yang aku lakukan sepenuh hati, sama sekali tidak dihargai.
Aku memasuki kamar yang sudah disiapkan. Lumayan luas daripada kamarku sendiri. Fasilitas juga bagus. Satu bed ukuran sedang, satu lemari pakaian, ac dan kamar mandi dalam.
Mengguyur badan dengan air dingin lumayan merefresh otak yang sedari tadi memikirkan makanan yang disia-siakan. Pertanyaan Rini tadi sebetulnya juga sama dengan yang ada di benak. Seperti apa model bos yang ada di sini, sehingga dengan seenaknya saja membuat karyawannya kecewa. Semoga saja tidak seperti mantan ibu mertua.
Ponsel berdering, dengan cepat aku menggeser tombol merah menjadi hijau.
"Assalamualaikum, Nak?"
"Waalaikum salam, Bu? Maaf, belum bisa menghubungi ibu. Ini baru saja masuk kamar dan selesai mandi."
"Iya, nggak apa-apa. Sudah istirahat, kan?"
"Iya. Ayah sudah tidur, Bu?"
"Ini di sebelah, ibu sambil tiduran. Bagaimana masak pertama?"
"Zonk, Bu."
"Maksudnya?"
"Masakan Nisah nggak dimakan sama sekali."
"Oalah. Yang sabar ya? Besok usahakan dengan tampilan yang menarik saja. Memang kesukaan bosmu apa?"
"Nisah juga nggak tahu. Baru tadi dikasih tahu kalau sukanya masakan kampung. Nisah sudah enak-enakin buat masakan model Eropa, eh nggak dimakan."
"Yang semangat putri ibu. Coba besok buat sayur pecel saja. Masakan kampung tho?"
"Nisah nggak yakin, Bu."
"Kan belum dicoba? Bumbunya pakai resep yang biasa kita pakai di rumah."
"Besok Nisah coba, deh. Kalau nggak dimakan juga Nisah mengundurkan diri saja."
"Eh, nggak boleh gitu dong? Masak kalah sebelum berperang?"
"Iya, Nisah coba dulu. Ibu istirahat gih!"
"Ya sudah, kamu juga istirahat. Besok yang semangat!"
"Makasih, Bu. Assalamualaikum?"
"Waalaikum salam."
Ponsel aku matikan dan letakkan di meja. Melaksanakan salat sebentar kemudian merebahkan badan menikmati capek, kesal dan kecewa. Semoga besok berjalan lancar.
***
Aku terbangun tengah malam. Mimpi buruk. Dimana mantan ibu mertua tertawa ketika mas Shony memulangkanku ke rumah.
Aku mengambil wudhu dan melaksanakan salat malam setelahnya berusaha memejamkan mata kembali tapi tidak bisa. Entah kenapa bayangan mereka muncul kembali setelah sekian hari. Akupun tak berusaha memikirkan.
Berniat mencari udara segar, aku keluar lewat pintu belakang yang tadi aku lihat. Lagi-lagi aku terkesima. Sebuah taman yang ternyata terdapat air mancur di tengahnya. Mungkin saking kayanya, pemilik rumah mempunyai tata letak ruangan dan tempat sendiri, dan tentunya penata taman pribadi. Mungkin. Orang kaya mah bebas. Aku terpaku di tepi kolam yang banyak terdiri dari ikan koi. Tak berapa lama, ketika serius menikmati hilir mudik ikan di kolam, terdengar suara yang membuatku tersentak.
"Aaaah!!!"

Bình Luận Sách (167)

  • avatar
    JayantiTri

    ceritanya bagus...di tunggu episode berikutnya

    16/05/2022

      0
  • avatar
    FebrizalSalman

    hayalan tingkat dewa 😀😀😀👍👍👍

    23/03

      0
  • avatar
    AmanSahri

    baik

    14/02

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất