logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 2 Ulah Jin Usil

"Tolooong!" teriakku histeris.
"Non kenapa, ada apa?"
"Pergi kau Setan, Iblis, Jin, Demit. Jangan ganggu, aku ...!"
"Non, ini Bapak ... buka matamu. Ini Bapak, Non!"
"Hei ... Demit sialan, jangan pura-pura kamu ya. Maumu apa, hah?"
Lagi-lagi cengkraman itu semakin erat mengguncang-guncang tubuhku, tetapi tunggu! Tadi itu suara Pak Dadang, dia asli atau si Jin usil yang pura-pura? Perlahan-lahan kubuka mata.
"Non ketempelan, ya?" tanya Pak Dadang yang sepertinya memang asli.
"Eh, ini Bapak 'kan. Bukan hantu?" balikku tanya dia.
"Oalah, ya ini Bapak, Non. Masa hantu, sih!"
"Bapak dari mana, kenapa gak pamit dulu?" tanyaku sedikit kesal.
"Bapak lagi ganti ban mobil Non, tadi bannya kempes," ucap Pak Dadang menerangkan.
'Wah, jangan-jangan suara ketukan yang kudengar tadi suara Pak Dadang yang mengganti ban,' batinku.
Lalu Pak Dadang membuka pintu belakang mobil dan memasukkan ban yang sudah dia ganti. Kuperhatikan gerak-geriknya waspada, kalau-kalau ini masih ulah Jin usil itu.
"Non sebentar lagi Maghrib, kita lanjut jalan atau berhenti dulu?" tanya Pak Dadang yang sudah duduk di balik kemudi.
Syukurlah, kali ini aku yakin dia Pak Dadang yang asli. Tidak mungkin demit mengingatkan shalat magrib, kecuali Jin Islam. Itu pun kata Pak ustad.
"Jalan saja Pak, kalau sudah di perkampungan baru kita berhenti, seingatku sebentar lagi ada perkampungan," jawabku pada Pak Dadang.
Setelah kejadian yang baru saja aku alami, rasanya enggan berlama-lama di tempat ini. Menurutku sangat aneh, jalanan sepi tanpa ada yang lewat. Padahal ini perkebunan karet, tetapi tidak ada pekebun yang terlihat. Tempat ini sunyi sepi.
Pak Dadang sudah mulai menyalakn mobil kembali, deru mesin sudah terdengar. Kuatur posisi duduk yang nyaman, rasa kebelet yang aku rasa tadi masih belum hilang. Berharap cepat tiba di perkampungan dan menuntaskan hajat ini.
*
"Duh kok kita belum juga keluar dari perkebunan karet ini ya, Pak, padahal hampir setengah jam. Maghrib pun sudah hampir habis."
Entah mungkin karena faktor kebelet, rasanya sangat lama untuk tiba di perkampungan warga, padahal lima tahun yang lalu saat kembali karena Nenek meninggal, kebun karet tak sepanjang ini.
"iya nih, Non, padahal Bapak sudah lumayan ngebut. Tapi belum kelihatan satu rumah warga pun," jawab Pak Dadang yang juga merasa tak kunjung keluar dari perkebunan karet.
"Mudah-mudahan sebentar lagi ya pak."
Pak Dadang mengangguk lalu bertanya, "Tadi Non kenapa sih, kok ketakutan gitu?"
"Tadi ada Demit yang mirip sama Bapak, pura-pura jadi Bapak maksudku."
"Tapi Bapak denger Non baca niat buka puasa, emmhhh ... sama kalau gak salah, do'a masuk WC ya, Non?" kata Pak Dadang yang wajahnya nampak sedikit menahan tawa.
"Anu Pak .... " lalu aku tertawa terbahak mengingat kejadian barusan.
Tanpa kusadari ternyata sudah salah membaca do'a. Dan malunya lagi, ternyata Pak Dadang mendengar itu semua.
"Berkali-kali Bapak panggil, eh ... malah dibacakan do'a masuk WC," kelakar Pak Dadang, yang membuat aku semakin malu.
Masih sambil menahan tawa Pak Dadang terus saja membahas hal memalukan yang baru saja aku alami, "Katanya pemburu hantu, liat begitu saja gak kuat Non," lalu dia terbahak.
Aku pun ikut tertawa, bersama Pak Dadang.
Sambil membahas kejadian memalukan yang menimpaku barusan, kuperhatikan sesuatu di luar sana yang terasa begitu amat janggal. Waktu maghrib pun sudah lewat, kamipun belum tiba di perkampungan. 'Ada yang aneh' fikirku.
"Kok diem, Non? " tanya Pak Dadang yang melihatku terdiam.
"Aku merasa ada yang aneh Pak, coba kita berhenti sebentar," pintaku.
Pak Dadang menghentikan laju mobil, dan memutar kepalanya kearah belakang di mana aku duduk. Lalu bertanya, "ada apa, Non?"
"Tidak Pak, ayo kita jalan."
Kuminta Pak Dadang menyalakan mobil lagi setelah memperhatikan satu pohon karet yang janggal menurutku.
Deru mesin mobil sudah terdengar kembali, mataku masih fokus dengan satu pohon karet di sebelah kiri jalan.
Lima belas menit berlalu, aku sangat yakin dengan dugaan di dalam hati ini. Tetapi untuk memastikan bahwa aku sedang tidak mengada-ada, kuminta Pak Dadang menghentikan laju mobil.
"Berhenti, Pak!"
"Ada apa Non?" tanya Pak Dadang yang heran dengan tingkahku.
"Berhenti saja, nanti kujelaskan."
Pak Dadang menginjak rem dan mematikan mesin mobil, dengan wajah yang penasaran dia bertanya, "Ada apa sih Non, jangan buat penasaran. Kita masih di tengah kebun karet, bahaya Non takut ada perampok."
"Gak akan ada yang bisa merampok kita pak," sungutku.
Wajah Pak Dadang mengernyit, aku tahu dia sangat penasaran. Dan dari wajahnya tampak ketakutan.
"Pak, dengarkan perkataanku ini. Ingat pak, Bapak harus fokus," ujarku pada Pak Dadang, yang dibalas anggukan olehnya.
"Pak perhatikan pohon karet itu," Pak Dadang mengikuti arah telunjukku.
"Diantara banyaknya pohon karet, hanya pohon itu yang bercabang, kan?" Pak Dadang kembali mengangguk.
"Baiklah, sekarang Bapak nyalakan mobil. Dan tetaplah fokus pada pohon itu."
"Wah, Non jangan becanda, dong! Kalau kita nabrak, gimana?" ucap Pak Dadang yang heran dengan rencanaku.
"Pak, kita tidak akan menabrak siapapun. Cepat Pak, lakukan apa yang baru kuminta tadi."
Ragu-ragu pak Dadang menyalakan mobil, setelah mobil menyala diinjaknya gas perlahan-lahan, sambil terus menatap satu pohon karet itu.
Deru mesin mobil sudah meraung-raung, sepertinya Pak Dadang kali ini sudah menyadari apa yang kucurigakan. Nampak jelas wajah Pak Dadang ketakutan, semakin keras diinjaknya gas mobil.
"Sudah Pak, berhenti!" pintaku, yang melihat wajah Pak Dadang pucat ketakutan.
"Non ...?" tanya Pak Dadang gugup.
"Iya, Pak. Pasti ini ulah Jin usil itu," tuturku memotong kata-kata Pak Dadang.
Bibir Pak Dadang nampak komat-kamit membaca do'a, aku sendiri sedang mengingat-ingat sebuah cerita yang pernah dituturkan Pak Ridwan. Beliau adalah guru ngajiku, dan banyak memberi ilmu. Sepertinya beliau pernah menceritakan satu kisah tentang Nabi Muhammad SAW ketika melakukan Isra Miraj.
Pak Ridwan menceritakan, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Miraj beliau sempat diberikan Allah kelebihan untuk melihat Jin. Kala itu beliau dihampiri sekumpulan Jin Ifrid yang hendak menyerang dengan membawa api.
Lalu Malaikat Jibril berkata, "Maukah engkau aku ajarkan suatu kalimat, apabila engkau mengucapkannya maka apinya akan padam dan dia akan jatuh tersungkur pada wajahnya?"
Dan ya, aku ingat do'a itu. Tanpa berfikir panjang, aku mengucap Ta'awudz dan membaca do'a, "A'udzu bi wajhillahil karimi wa bi kalimatillahit tammatillati la yujawizuhunna barrun wa la fajirun min syarri ma dzara'a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min fitalnillaili wannahari, illa thariqan yathruqu bi khairin, ya rahman."
"Aamiin ...."
Seketika mobil yang aku tumpangi bergerak, terguncang-guncang kesana kemari seperti kapas yang melayang. Tak putus do'a yang kupanjatkan, mulai dari ayat kursi, dilanjut dengan surat Al-Falaq juga An-nas. Surat-surat yang dipercaya juga bisa mengusir Jin, dan melindungi diri.
Mobil semakin bergoyang-goyang, Hingga membuat aku dan Pak Dadang yang berada di dalamnya terhempas kesana-kemari. Terlihat dari dalam mobil, suasana di luar yang tadinya gelap gulita tanpa ada cahaya bulan dan bintang perlahan mulai terang.
Angin yang berhembus kencang menggoyang-goyangkan dedaunan pohon karet, aku dan Pak Dadang masih terus membaca do'a. Sambil sesekali kami saling pandang untuk menguatkan, untuk tidak takut dan menyerah.
Tak lama kemudian, mobil yang kami tumpangi terasa terbanting keras. Membuat aku dan Pak Dadang tersungkur. Seiring suasana yang mulai terang terkena sinar bulan dan bintang. Hembusan angin yang tadi seperti berputar-putar pun sudah hilang.
"Alhamdulillah," ucapku dan Pak Dadang bersamaan.
"Kita selamat, Pak."
"Iya, Non. Ya Allah, pantaslah dari tadi kita tidak kunjung menemukan perkampungan warga. Itu karena ...."

Bình Luận Sách (160)

  • avatar
    Saha We

    ending nya nyesek ga enak😖🥺🥲

    10/09

      0
  • avatar
    RojiatiSari Lila

    keren ka

    30/06/2025

      0
  • avatar
    zizeeeyy

    baguss bgttt

    18/03/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất