Hai Shobat NQ. Bagaimana sikap Fairuz dan bagaimana tanggapan Zahwa? Yuk kita ikuti cerita selanjutnya😍😍😍👍 ******** "Kenapa Mas tidur di sofa?" Aku melihat Mas Fairuz yang sudah terlelap. Aku berniat membangunkannya, tapi sebelum sampai menyentuh lengannya Mas Fairuz sudah membalikkan badan membelakangiku. Aku merasa ada yang disembunyikan. Aku hanya menyelimuti dan pergi tidur. "Apa yang salah? Kenapa Mas menghindariku?" Gumamku. *** Adzan shubuh sudah berkumandang, aku siap-siap untuk sholat berjamaah, tapi sayangnya Mas Fairuz sudah sholat dan pergi ke tempat kerjanya di kamar sebelah. "Ada apa Mas. Kenapa kau mendiamiku lagi? Apa salah Zahwa?" Batinku bertanya-tanya sendiri. Dengan keberanian dan tekad, aku datangi Mas Fairuz yang sedang memeriksa data-data kantor. "Mas. Ini tehnya" tidak ada tanggapan, Mas Fairuz tidak memperdulikanku yang berdiri di sampingnya. ku taruh teh itu dengan hati-hati. Tidak ada reaksi apa-apa dari Mas Fairuz, ia hanya bernostalgia dengan berkas-berkas itu. "Mas. Ada apa? Kenapa Mas bersikap seperti ini?" Tanyaku dihadapan mejanya. Mas Fairuz menatapku dengan emosional. "Apa kamu tidak sadar apa yang telah dilakukan?" "Zahwa salah apa Mas. Tolong katakan, jangan bersikap seperti ini, jangan bersikap seperti anak-anak" "Apa! Anak-anak! Seharusnya kamu yang sadar! dan kamu yang tidak perlu sok menjadi prempuan baik, tapi diam-diam di belakang bisa menyakitkan!" Dengan nada keras. "Mas. Apa maksudnya? Aku tidak merasa melakukan kesalahan" air mataku mulai jatuh "Zahwa bingung dengan ucapan Mas, jangan pakai teka-teki hingga aku tidak mengerti" "Sebenarnya kamu yang telah memancing emosiku Zahwa! Kamu tidak bisa menghargaiku sama sekali!" "Apa! Apa maksudmu Mas!" Nadaku tercekat karena emosi dan tidak mengerti apa yang dimaksud Mas Fairuz. "Kau sudah bernada tinggi dihadapanku sekarang? Aku pikir perceraian adalah jalan yang terbaik" Mas Fairuz membelakangiku menghadap ke jendela yang masih tertutup tirai. Aku tercekat mendengar kata perceraian. Aku seakan tidak kuat berdiri. "Apa. Perceraian" lirihku. Air mataku tumpah seketika dan langsung pergi ke kamar menumpahkan semua kekecewaan dan kemarahanku dengan menangis sejadi-jadinya. "Mas......" tangisku bertambah menjadi-jadi dalam dekapan bantal. "Tidak. Aku tidak terima, aku tidak mau bercerai" tangisku menjadi-jadi. Air mataku tumpah ruah. *** "Aku akan urus surat perceraiaannya sekarang, kamu tinggal menandatangani kesepakatan ini" Seraya Mas Fairuz melemparkan berkas itu di atas kasur. Surat Kesepakatan. Aku terdiam melirik berkas itu, hatiku teriris sangat sakit. Aku tidak pernah merasakan sesakit ini meskipun pernah ditinggalkan oleh orang yang di cintai, tapi sakit ini sangat dalam sampai ke relung hati yang begitu dalam. "Fairuz. Mana Zahwa? Kenapa tidak ikut sarapan?" Tanya Mama sambil mengambil menu untuk Papa. "Jika Mama ingin tahu dia di mana, tanya sendiri kepada orangnya? Aku tidak mempunyai urusan lagi dengannya" Jawaban Mas Fairuz membuat seluruh keluarga tercengang dan bingung. Bahkan Bik Ijah pun ikut terkejut dengan perkataan Mas Fairuz. Mama dan Papa saling pandang, mereka merasa di antara aku dan Mas Fairuz terjadi sesuatu. "Ada apa Pa? Kenapa dengan mereka?" Tanya Mama disela-sela menyajikan makanan ke Papa. "Lebih baik Mama temui Zahwa. Papa juga khawatir" sambil menyunggingkan senyumnya kepada Lidia yang mendengar percakapan mereka "sudah-sudah Ma. Papa nanti ada pertemuan jadi Papa harus cepat-cepat ke kantor" sambil mengedipkan matanya. Mama mengerti apa isyarat Papa. "Emmm. Mama panggil Zahwa dulu, kalian makanlah dulu nanti Mama nyusul" Lidia hanya tersenyum dan melanjutkan mengunyah makanannya. Biasanya Lidia paling crewet jika sudah ada di meja makan, karena ekspresi serta perkataan Mas Fairuz yang tidak biasa membuat Lidia lebih baik diam. *** "Zahwa sayang" Mama memanggilku seraya membuka pintu kamar. Aku hanya duduk memegang kedua lututku. Mataku bengkak karena banyak menangis. "Kenapa Nak? Apa kamu sakit?" Aku hanya menggeleng. Mama memelukku dan tiba-tiba matanya melihat berkas itu berceceran di atas kasur. Mama mengambil dan membacanya. Reflek Mama terkejut dan duduk penuh dengan kebingungan. Mama melihatku dan memeluk dengan erat. "Pa...." Mama memanggil Papa pas mau berangkat. "Mama hantar ya sampai ke mobil" Mama tersenyum penuh dengan kemesraan. Mama berjalan beriringan sambil bercanda dan bergurau. Senyumannya menandakan mereka bermesraan. "Ihhhh. Papa bisa ajah" sambil mencubit lengan Papa dengan mesra. "Ma. Jangan khawatir, Papa akan urus. Pertemuan dengan klien tidak akan menguras tenaga loh" "Papa cepat pulang ya jika sudah selesai" "Pasti sayang" "Jangan lupa hubungi Mama secepatnya" "Ok sayang" *** "Masssss!" Suara Lidia membuat orang-orang di rumah berhamburan menghampiri termasuk aku. Melihat Lidia memegang Mama yang tidak sadarkan diri, reflek aku lari mendekatinya dan membantu untuk membawa Mama ke dalam rumah. "Ada apa dengan Mama?" Tanyaku sambil berusaha menyadarkannya. "Ayo Kak kita bawa ke kamar. Saya takut ada apa-apa dengan Mama" dengan susah payah Aku dan Lidia mengangkatnya. "Ada apa dengan Mama?!" Suara bariton Mas Fairuz membuatku terciut. "Minggir, minggir!" Mas Fairuz membawa Mama ke dalam kamar. Selang sepuluh menit Mama siuman. "Ma. Kenapa Ma?" "Dada Mama sakit. Tolong panggilkan dokter Anna, Mama tidak kuat nahan sakitnya" sambil memegang dadanya dan meringis menahan rasa sakit. Mas Fairuz langsung menghubungi dokter Anna. Tidak selang satu menit Mas Fairuz sudah ada di samping Mama. Wajahnya begitu sangat khawatir. "Kamu berangkat saja ke Kantor" "Tidak Ma. Jika Mama sudah baikan Fairuz akan berangkat" Mama tersenyum mendengar ucapan Mas Fairuz. "Maafkan Mama sayang, hanya cara ini yang bisa Mama lakukan" batinnya. "Apa yang terjadi dengan Bu Anisa?" Tanya dokter Anna khawatir. "Saya kurang tahu dokter, tapi Mama sangat kesakitan" Dokter Anna langsung pergi ke kamar Mama dan menanyakan keadaannya. "Maaf. Saya minta kepada kalian untuk menunggu di luar dulu" tanpa menjawab Aku dan Lidia sudah ke luar. Mas Fairuz sangat khawatir dia tidak ingin ke luar dari kamar Mama. "Pak Fairuz, saya minta pengertiannya" "Dokter. Tolong Mama, saya takut terjadi apa-apa kepada Mama" dengan kekhawatiran yang sangat. Lidia sibuk menghubungi Papa, tapi sudah delapan panggilan Papa tidak mengangkatnya juga. "Pa! Mama Pa......." Lidia menangis karena takut. "Sudah Dek. Kita doakan saja semoga Mama tidak apa-apa" "Kak. Lidia sangat takut" "Kenapa Papa tidak bisa dihubungi?" Tanyaku. "Papa sudah pulang Kak, tapi dia terjebak macet dan hujan" "Semoga Papa tidak khawatir dan cepat sampai kerumah" Aku terus berdoa dalam hati, suapa Mama sehat. Dokter Anna sudah keluar dan tersenyum. "Ibu Anisa tidak apa-apa. Beliau hanya kecapean dan saya minta jangan sampai Beliau mendengar berita yang mengejutkan" "Ada apa dengan Mama Dokter?" Tanya Mas Fairuz khawatir. "Pak Fairuz jangan khawatir. Selama Bu Anisa tidak terkejut berlebihan ini masih aman. Beliau mengalami serangan jantung, jadi jaga keadaan Beliau baik-baik" "Iya Dokter" "Saya permisi dulu, karena masih banyak pasien yang menunggu" "Terima kasih Dokter" secara bersamaan Aku dan Lidia mengucapkannya. "Aku hantar Dokter" "Terima kasih banyak Pak. Mari silahkan" Aku langsung menemui Mama yang lemah. "Ma. Zahwa ambilkan makanan dulu ya, karena Zahwa lihat Mama belum makan" "Tidak sayang. Mama tidak apa-apa kok" "Mama harus makan, jika Mama seperti ini Lidia jadi takut Ma. Mama jangan sakit ya, Lidia tidak kuat melihat Mama terbaring lemah" "Tidak apa-apa sayang. Mama pasti sehat" Aku tersenyum melihat Mama dan Lidia berpelukan. Mas Fairuz menatapku tajam dan pergi keluar sambil merenggangkan tali dasinya dengan keras. Lidia melihat Aku dan Mas Fairuz bergantian. "Aku tidak sudi melihat wajahnya. Bertemu orangnya saja membuatku marah!" Gerutu Mas Fairuz. *** "Pak Handoko. Tolong urus semua surat-surat yang ku pinta tadi malam, dan hantar kerumah secepatnya" Mas Fairuz berbicara dengan orang diseberang telpon. "Baik Pak" suara di seberang "tapi Pak-" "Ada apa lagi? Cepat hantar berkas itu, saya tidak ingin berlama-lama dengan hal yang tidak pasti" Aku menulan ludah mendengar perkataan Mas Fairuz "segitu rendahkah harga diriku di matanya? Tidakkah Mas Fairuz melihat cinta dan kasih sayangku? Dan kenapa dalam keadaan sekarang, mama lagi sakit Mas masih ingin menceraikanku? Ya Allah...... akan di bawa kemana hidul Zahwa. Kenapa begitu sulit untuk menjalin keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Ya Allah..... kuatkan Zahwa" lirih dalam hatinya. Sambil berjalan mendekati kami yang lagi bersama Mama Mas Fairuz dengan dinginnya menyuruh Kami keluar. "Mas Fairuz kenapa Kak?" "Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu Lidia, aku pun tidak tahu kenapa Mas tiba-tiba bersikap kasar dan dingin lagi. Aku sudah susah payah agar bisa diterima dalam hidupnya dan kenapa sekarang seperti semula" air mataku menetes. "Kakak sabar. Saya yakin Mas berbuat seperti pasti ada sesuatu yang telah menyakiti hatinya" "Apa yang aku lakukan?" "Coba Kakak ingat-ingat mungkin tanpa Kakak ketahui bersama siapa dan Mas mengetahui?" Aku berusaha mengingatnya dan pikiranku langsung teringat Pak Bawafi. "Apa waktu aku sampai jam empat pulangnya itu?" Tanyaku sendiri. "Kenapa Kak?" Tanya Lidia. "Lidia dua hari yang lalu Mas apakah ke Kantor?" "Iya Kak, tapi Mas Fai pulang jam empat dan wajahnya sangat murung. Semua orang yang ada di rumah kena marahannya termasuk Mama" "Apa!" Aku terkejut dan heran. "Jadi karena itu Mas Fairuz membenciku. Apakah Mas Fairuz cemburu?" Lirihku sambil senyum-senyum sendiri. Dengan takut aku aku mencoba meliriknya. Ketampanannya tidak berubah, tatapannya yang tajam menusuk relung hatiku. "Mas. Apakah Kau cemburu?" Tanya hatiku, tiba-tiba Mas Fairuz memandangku dengan tatapan tajamnya. Relung hatiku langsung meleleh. "Aduh! Kenapa melihat ke sini sih!" Lirihku pelan. Aku senang dan sedih. Senang karena Mas Fairuz cemburu berarti Mas sayang, tapi aku sedih, karena peeceraian itu pasti terjadi. Dretttt dretttt dretttt Handphone Mas berdering, samar-samar aku mendengar suaranya kesal. "Kenapa tidak bisa diantar? Jangan memperlambat keputusan yang sudah saya buat!" Nadanya sangat kesal. "Apanya yang salah? Berkas kesepakatan sudah dia tandatangani, jadi tinggal surat itu saja diproses. Paham?" Ia mengangkat tangannya menaruh belakang tangan kedahinya. Ia menarik nafas dengan berat. Suara Mas Fairuz samar-samar terdengar lagi. "Ok. Saya akan datang. Ingat dandan yang cantik untuk menyambutku sayang" ia tersenyum manis. "Apa! Dandan yang cantik?! Siapa dia?" Aku penasaran dan bahagia, karena Mas Fairuz cemburu. Bahagiaku sirna seketika kala mendengar "dandan yang cantik sayang" Mataku berkaca-kaca "tidak. Zahwa tidak kuat" aku langsung pergi ke kamar mandi dan menumpahkan semua kesedihanku di sana. "Dandan yang cantik sayang. Tidak! Zahwa tidak suka itu. Tidak........! Siapa dia?" Teriakku sedih dan marah **** 😭😭😭 Zahwa sakit hati gaessssss. Bagaimana perasaanya jika ia bercerai dan Fairuz bersama wanita lain 😭😭😭😭 Author jadi nangis nih 😉💖😭😍
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
sangat seruu
06/09
0mantap
12/06/2025
0baik
28/05/2025
0Xem tất cả