logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

BAB 6 SUDAH LAMA TAK TERLIHAT POCONG ITU DATANG

Sandi dan Yosef duduk dikursi luar sambil merokok dan minum kopi. "Sef , dipikir-pikir si Pocong sekarang enggak ada muncul-mucul ya, udah lama."ucap Sandi. "Kamu kangen bukan hahaha? sampe nanyain."ucap Yosef. "Bukan gitu biasanya kan dia datang , minta roko , minta kopi untung aja enggak minta uang."ucap Sandi sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah berbicang banyak si Pocong itu pun datang dibelakangnya mengagetkan Sandi dan Yosef. "Allahu Akbar Congggg .. congg.. ngagetin aja sampe jantung berhenti sejenak nih."ucap Sandi. "Lah kalau jantung berhenti entar metonggg dong hahaha."ucap si Pocong. "Metong apaan?."tanya Yosef. "Metong itu matiii... "ucap si Pocong sambil tertawa. "Ya ampun sampe kebawa mati juga ya bahasa nyaa."ucap Sandi. Datanglah Husni sambil membawa cemilan kedepan teras. "ASTAGFIRULAHHHHH."ucap Husni sambil terkejut sampai cemilan itu jatuh berhamburan dilantai. "Waduhhh Husni hati-hati dong bawa makanan nya sampe jatuh semua ini."ucap Yosef. "Tuh salahin si Pocong , tadi kan dia enggak ada ko sekarang ada kan saya teh terjekut bingittt, bantuin Cong ini salah kamu nihh jadi jatuh nih cemilan, kamu sih Cong ngagetin."ucap Husni sambil membereskan cemilan dibawah lantai. "Husni .. bukan saya enggak mau bantu cuma liat tangan saya nihh .. nihh .. diiket erat-erat kaya lagu balonku nihh."ucap si Pocong sambil menyodorkan tangannya. Saat itu Yosef langsung menceritakan kejadian dibelakang yang bersama Pak Hendra kepada si Pocong itu, Pocong itu terlihat sebal saat mendengar nama Pak Hendra.
"Aku hanya ingin menanyakan , kamu waktu meninggalnya seperti apa? Sehingga kamu masih gentayangan seperti ini?."ucap Yosef. "Aku tidak bisa menjelaskan semuanya , nanti juga kalian akan tau , aku hanya meminta keadilan saja."ucap si Pocong. "Keadilan? keladilan untuk naon?"ucap Husni. Tapi si Pocong itu enggan menceritakan detail saat kematiannya , masih menjadi misteri tentang si Pocong itu , Yosef pun bingung bagaimana akan menyelesaikanna sedangkan si Pocong itu tak mau membicarakannya.
Sela dan Windi sedang menuju pulang dari pasar untuk menyiapkan makan malam nanti , tak sengaja mendengar pembicaraan Pak Hendra , Pak Dodi , Rifky dan Ilyas di dekat Pos tempat penjaga Vila. "Sel .. sel liat mereka kayanya lagi ngobrolin yang serius, coba dengerin yuk sambil pura-pura jalan pelan-pelan aja tapi jangan sampai mereka curiga."ucap Windi. Alangkah terkejutnya mereka sedang membicarakan Banci itu , dan makin terkejut sekali saat Pak Hendra menujuk Rifky dan Ilyas , Pak Hendra mengatakan. "Jangan sampai mereka tau kalau mayat banci itu masih ada di Vila itu."ucap Pak Hendra. Dengan mata melotot Sela dan Windi tidak bisa bergerak karena mendengar itu , mereka berpikir mayat banci itu ada di Vila yang ditempatinya sekarang, mereka menutup mulut dan langsung berlari sekencang mungkin untuk menceritakan yang mereka dengar.
"Sef.. San.. Uniiiii.."ucap Sela dan Windi sambil berlari. "Kalian kenapa heiii kenapa? dikejar anjing? dikejar copet atau apa sampai lari-lari kaya gitu."ucap Sandi. "Ituu San .. itu Sann .. itu San.."ucap Sela sambil menghela napas. "ituu .. ituu .. naon atuh kamu teh Sel ada apa hantu? apa ketemu si Pocong itu."ucap Husni. "Kan barusan teh kita baru pulang dari pasar nih, kebetulan liat Pak Hendra, Pak Dodi, Rifky sama Ilyas mereka membicarakan Banci itu Sef. "Bicara apa katanya."ucap Yosef. "Pokonya menyeramkan ya Sel sampai kita lari juga sampai enggak nyangka."ucap Windi. "Iya apa atuh yang menyeramkan teh?"ucap Husni. "Pak Hendra bilang gini , jangan sampai mereka tahu kalau mayat banci itu ada di Vila ini Sef."ucap Sela sambil merinding. Benar apa yang dikatakan Husni kalau si Pocong itu meninggal dengan tidak baik , makanya si Pocong itu masih berkeliaran didaerah ini. Mereka pun merasa ketakutan saat tau kalau mayat si Pocong masih ada di Vila namun entah dimana mereka menguburkannya.
Keesokan hari nya saat masih pagi-pagi sekali Pak Dodi dan 2 Pemuda itu mengedor pintu dengan keras. Windi pun membukakan pintu "Ada apa sih Pak Dodi pagi-pagi gini gedor-gedor pintu berisik tauu."ucap Windi sambil garuk-garuk kepala. "Sekarang kalian beresin baju-baju kalian , sekarang pergi dari sini saya beri waktu sampai nanti siang , kalau sampai kalian belum keluar dari Vila ini kami paksa."ucap Ilyas. Keluar Yosef, Sandi dan Husni. "Ada apa ini teh pagi-pagi udah rame pisan , saya teh masih ngantuk tauu , huaaaaaaappphhh."ucap Husni. "Ini nih katanya kita suruh beresin barang-barang kita terus kita disuruh pulang dikasih waktu sampai nanti siang kalau enggak mereka bakal paksa kita pulang , kan kita ada 3 hari lagi pak nanti juga kalau udah waktunya kita pulang jangan main usir-usir gini enggak sopan tau, kita kan udah bayar, kalau gitu kembaliin sini uang nya."ucap Windi.
Yosef terheran kenapa mereka tiba-tiba menyuruh kami pulang hari ini sedangkan kita masih ada 3 hari lagi untuk menginap disini. Namun, tetap Pak Dodi dan 2 Pemuda itu memaksa kami untuk pergi hari ini juga , apa mungkin mereka saat membicarakan Banci itu mereka melihat Sela dan Windi. Entahlah tapi tak apa karena sudah sangat puas berlibur di Laut Santolo ini walaupun dengan teka-teki dari si Pocong itu belum terpecahkan.
Siangnya saat mereka sudah beres menyiapkan barang-barang untuk pulang, tak disangkat si Pocong itu datang dan menangis dibelakang Sela. "Win .. win.. dibelakang ada siapa win .. kaya ada yang nangis win .."ucap Sela sambil terus menepuk bahu Windi. Windi pun menoleh kebelakang dan alangkah kaget nya ternyata si Pocong itu datang dan menangis dipojokan dekat lemari. "Cong kamu kenapa nangis? apa karena kami mau pulang kamu jadi nangis gini."ucap Windi sambil menghampirinya. Si Pocong itu pun hanya menganggukan kepala tanpa mengatakan sepatah kata, Windi pun memanggil Yosef , Sandi dan Husni yang ada dikamar sebelah sedang membereskan pakaianya. "Heii .. tu si Pocong datang sambil nangis loh mungkin dia sedih ditinggalin kita kali ya."ucap Windi. Mereka pun mendatanginya ternyata benar si Pocong itu menangis tersedu-sedu dekat lemari. "Cong kami harus pulang , kami harusnya ada 3 hari lagi disini , namun Pak Dodi mengusir kami entah apa yang kami perbuat sampai kami diusir, kamu disini baik-baik ya , Insya Allah saya akan mengungkap kematian kamu Cong."ucap Yosef sambil menenangkannya. Namun, si Pocong itu tak ada sepatah kata dari mulutnya sama sekali , tapi di melihat ke laci lemari yang dikunci , namun kami susah untuk membukanya karena tidak ada kunci. Sandi pun berusaha membukanya namun tidak bisa , akhirnya Sandi pun menggunakan pisau untuk menghancurkan laci yang terkunci itu , dan ternyata isi nya handuk saja , namun setelah dibuka ternyata ada handphone yang tidak menyala. Mereka pun berpikir pasti didalam Handphone ini ada jawabannya. Setelah semuanya beres mereka pun berpamitan dengan Pak Dodi , dan 2 Pemuda itu sambil memberikan kunci Vila.

Bình Luận Sách (413)

  • avatar
    Oy Setya

    terimakasih KK,alur ceritanya bgus ,,saya smpai ngakak baca novelnya ,smngat KK ,,

    01/07/2022

      0
  • avatar
    Neschenney Tracy

    crita lawak.. but ada paet seram.. tapi best bila baca time mata x ngantok

    21/05/2022

      0
  • avatar

    Gara Gara novel ini sy jadi suka baca novel yg lain. Bagus Ceritanya kak sy suka👍🏻👍🏻💗

    04/03/2022

      10
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất