logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 6 Sedekat Nadi

Entah ada angin segar apa yang membuat Aletta sudah terbangun tepat pukul 05.00 WIB. Saat ini ia sedang terduduk di atas tempat tidurnya sambil mengumpulkan nyawanya yang belum genap. 15 menit telah berlalu, Aletta beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju dapur. Sesampainya di dapur ia membuka kulkas dan menutupnya lagi. Ia beralih ke lemari kayu di sampingnya. Aletta seperti sedang kebingungan mencari sesuatu.
“Ketemu.” Kata Aletta sambil membawa handuk kecil.
Ia berjalan kearah kulkas dan kembali membuka kulkas tersebut. Ia mengeluarkan sekotak es batu dan menaruhnya di meja makan. Ia duduk di ruang makan sambil mengeluarkan es batu dari cetakannya. Kemudian ia membungkus es batu tersebut dengan handuk kecilnya. Aletta berjalan ke ruang tengah dan merebahkan tubuhnya di sofa. Setelah merasa nyaman dengan posisinya, Aletta meletakan es batu yang dibungkus handuk ke mata kanannya.
“Kenapa kemarin gue nangis sih. Ribetkan sekarang. Mata gue sembab mana nanti ada syuting ourdoor. Pasti banyak yang nonton. Nggak lucu dong kalau gue datang dengan penampilan sekacau ini.”
Aletta menyeka matanya secara bergantian. Ia kembali teringat kejadian kemarin ketika Refan datang ke rumahnya.
“Kenapa gue kemarin deg-degan ya pas Refan bilang sedekat nadi. Jangan-jangan gue suka sama Refan. Aah nggak mungkin, gue kan sukanya sama Kak Aldev.”
Sesaat kemudian ponsel Aletta berdering dan nama Sebastian tertera di layar ponselnya. Tanpa berpikir panjang Aletta segera mengangkat panggilan tersebut.
“Halo.”
“Aletta nanti jam 9 pagi kamu ada syuting. Maaf saya kemarin lupa ngabarin.”
“Iya Kak nggak apa-apa.”
“Oh iya, tumben jam segini udah bangun?”
“Nggak boleh emang? Aku tidur lagi nih.”
“Eh jangan dong.”
Aletta menertawakan kepanikan Sebastian.
“Kak Tian?”
“Kenapa? Tiap kamu manggil saya kayak gini saya jadi deg-degan.”
“Deg-degan kenapa?”
“Ya saya takut kamu kembali berulah.”
“Nggak kok. Aku cuma mau cerita aja.”
“Cerita apa?”
Aletta yang awalnya rebahan mendadak terduduk seakan mengambil ancang-ancang untuk bercerita. Sebelum bercerita ia menarik napas dan menghembuskannya.
“Jadi ini cerita temanku Kak bukan aku. Dia kan lagi dekat sama A nah terus dia dibully sama orang-orang karena ada rumor kalau dia pacaran sama si A. Padahal hubungan dia sama si A itu sebatas dekat aja belum ada kejelasan apapun. Ya meskipun mereka saling suka. Nah disaat dia lagi terpuruk melihat respon orang-orang yang membully dia, datang lah si B yang mencoba untuk menghibur dia. Nah pas si B mau pulang dia menyebutkan dua kata yang membuat temanku deg-degan. Kok bisa ya? Padahal kan dia sukanya sama si A kok bisa deg-degan juga ke si B.”
“Letta, saya tebak kalau si A itu Aldev kan. Dan siapa si B?” tanya Sebastian.
“Kak Tian kan aku udah bilang itu ceritanya temanku.”
“Mampus gue. Kenapa bisa ketahuan sih?” Batin Aletta.
“Letta, saya sudah kenal kamu lama. Dan yang saya tahu kamu nggak punya teman selain istri saya.”
“Aku kan punya banyak rekan kerja Kak.”
“Dan saya tahu hubunganmu dengan rekan kerjamu hanya sebatas profesionalitas saja.”
“Kak Tian bisa nggak sih jawab pertanyaanku aja tanpa kepo sama cerita temanku tadi.”
“Oke. Menurut saya kamu masih suka sama Aldev, dan rasa deg-degan yang kamu alami sama si B itu hanya sebatas rasa berterima kasih. Karena si B sudah meluangkan waktunya untuk menghibur kamu dan ada di samping kamu saat kamu terpuruk. Aletta nggak semua rasa deg-degan yang kamu rasain adalah rasa suka. Kamu ingat perkataan saya sebelum kamu cerita kan. Saya juga deg-degan takutnya kalau kamu menyebabkan masalah lagi. Ya walaupun saya tahu kamu suka sama Aldev entah kenapa saya berharap ucapan saya kali ini salah. Saya lebih mendukung si B dari pada Aldev.”
“Kok bisa gitu? Kak Tian bahkan nggak tahu siapa si B sebenarnya.”
“Karena hanya laki-laki yang bisa menilai laki-laki lain apakah dia baik atau tidak. Dan saya tidak mendapatkan kesan baik dari seorang Aldev Aldron.”
“Kak Tian bahkan belum pernah mengobrol langsung dengan Kak Aldev kan?”
“Fakta kalau Aldev hanya diam saja ketika berita miring menimpa kamu dan netizen menghujat kamu habis-habisan sudah cukup membuat saya yakin kalau dia nggak pantas buat kamu.”
“Tapi Kak bisa aja kan dari agensinya Kak Aldev menentang Kak Aldev untuk klarifikasi dan Kak Aldev juga nggak mungkin setiap saat memantau instagramku.”
“Letta, kalau dia beneran suka atau bahkan cinta sama kamu harusnya dia rela berkorban demi kamu dan harusnya dia memantau kamu entah melalui sosial media atau bahkan datang menemui kamu secara langsung. Kalau dia nggak melakukan hal tersebut hanya ada dua kemungkinan yaitu dia tidak sepenuhnya suka sama kamu atau kamu bukan prioritas dia.”
“Haduh udah deh Kak. Mending sekarang Kak Tian siap-siap karena udah jam 7 pagi. Dan yang tadi itu cerita temanku. Bye.” Kata Aletta yang kemudian meutup sambungan teleponnya dengan Sebastian.
Aletta segera meletakan ponselnya di meja dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Perkataan Sebastian masih terngiang-ngiang dipikirannya.
“Apa perkataan Kak Tian benar? Apa Kak Aldev nggak sepenuhnya suka sama gue? Atau mungkin dia cuma sekedar tertarik sama gue.” Gumam Aletta.
***
Di sebuah mini market terlihat Gavin yang sedang menata barang-barang di etalase. Hari ini ia harus kerja pagi sampai sore karena malamnya ia harus mengantikan posisi Bryan menjadi pelayan café. Entah sudah berapa lama Bryan menumpang di rumahnya. Keadaan Bryan memang sudah mulai pulih. Namun kata dokter ia masih tidak boleh bekerja terlalu berat. Dan pada akhirnya mau tidak mau Gavin harus menggantikan posisi Bryan untuk bekerja di café.
“Vin.” Sapa Bryan sambil tersenyum manis ke arah Gavin.
Gavin yang menerima perilaku absurd temannya itu hanya meliriknya sekilas dan kembali melanjutkan kerjanya.
“Lapar nih perut gue. Belum sarapan.” Kata Bryan.
“Ya kalau lapar. Makan!”
“Anak TK juga tahu Vin. Maksud gue makan apaan?”
“Masak mie instan kan bisa.”
“Vin keterlaluan banget sih lu. Dari tiga hari yang lalu gue cuma makan mie instan. Entar kalau gue kena gizi buruk yang repot kan elu.”
Gavin menghembuskan napasnya dengan kasar. Kemudian ia berjalan menuju gudang dan membawa 4 onigiri dan 2 sosis yang ukurannya cukup besar. Ia kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan pihak mini market. Bryan melihat Gavin membawa makanan. Ia segera mengekori dan duduk di samping Gavin.
“Nih makan.”
Bryan tanpa sengaja melihat tanggal kadaluarsa di onigiri dan sosis yang diberikan Gavin.
“Vin, ini kan udah expired.”
“Terus kenapa?” Kata Gavin sambil melahap onigiri.
“Ya kalau gue mati gimana. Kan nggak lucu ada timeline berita seorang pemuda berusia 23 tahun ditemukan tewas karena mengonsumsi onigiri dan sosis expired.”
“Bacot lu.” Kata Gavin sambil menjejalkan onigiri ke mulut Bryan.
“Gue udah berkali-kali makan onigiri sama osis expired masih hidup kok. Sehat juga. Lu kalau nggak doyan bilang, biar gue aja yang makan.” Kata Gavin sambi mengambil onigiri dan sosis milik Bryan. Namun Bryan tidak tinggal diam, ia menahan tangan Gavin dan memakan onigiri tersebut.
“Ya gue akui makanan expired ini masih enak untuk dimakan. Apalagi ada contoh nyata di samping gue. Jadi gue nggak takut bakal sakit atau mati karena makan makanan expired.”
“Di samping ada apaan sih? Rame banget.”
“Lah gue kira lu udah tahu.”
“Tahu apaan?”
“Kan Aletta Keena sama Aldev Alderon bakal syuting di sekitar sini. Nah toko kosong di samping mini market ini jadi basecamp para kru.”
“Serius lho?”
“Tampang gue emang ada kayak penipu? Gimana sih lu? Ngakunya fans Aletta garis keras.”
“Yah gue nggak bisa nonton dong.”
“Santai bos. Yang gue dengar sih, bakal lewat sini juga syutingnya. Lagian syutingnya sampai besok kok.”
“Nih lu makan sosis bagian gue.”
“Terbaik emang lu.”
Setelah menyelesaikan sarapannya, Bryan kembali ke rumah Gavin. Ia tersenyum ceria setelah memenuhi perutnya dengan makanan.
***
Sebastian : Aletta saya sudah di depan.
Itulah pesan Sebastian kepada Aletta setelah ia sampai di depan rumah Aletta. Selang beberapa menit Aletta keluar dari rumahnya dan memasuki mobil.
“Letta, siapa sih si B? saya kepo tahu.”
Aletta terkejut dengan pertanyaan Sebastian. Ia merasa sedikit panik. Apalagi ia sedang semobil dengan Refan.
“Apaan sih Kak? Kan udah aku bilang cerita temanku. Bukan aku.”
“Kok saya masih ragu ya.”
“Cerita apa sih? Kok cuma saya yang nggak tahu.” Kata Refan.
“Bukan apa-apa.” Jawab Aletta.
“Jadi gini Refan.”
Belum sempat melanjutkan perkataannya, Aletta justru memotong pembicaraan Sebastian dan Refan.
“Kak Tian.” Rengek Aletta.
“Kamu kenapa sih? Saya cuma mau bilang ke Refan, kalau saya tetap tidak setuju dengan hubungan kamu dan Aldev.”
“Hobi banget sih bikin sport jantung.”
Perkataan Aletta barusan sukses menjadi bahan tertawaan Sebastian dan Refan.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, sampailah mereka di lokasi syuting. Aletta segera turun dari mobil. Aldev yang lebih dulu sampai di lokasi syuting segera menghampiri dan menyapa Aletta. Melihat hal tersebut Sebastian terpancing emosi.
“Masih bisa-bisanya dia menampilkan senyuman polos setelah membuat Aletta terkena masalah dan dihujat netizen habis-habisan.” Batin Sebastian.
Saat Sebastian ingin menegur Aldev, lengannya justru ditahan oleh Refan. Sebastian segera berbalik kearah Refan dan memasang wajah datar. Namun bukannya memasang wajah bersalah, Refan justru menarik Sebastian untuk pergi dari sana meninggalkan Aletta dan Aldev yang menjadi pusat perhatian.
“Kamu apa-apan Refan? Kenapa main tarik saya gitu aja?”
“Bang, saya cuma nggak mau Bang Tian membuat keributan yang nantinya merugikan Kak Aletta.”
Sebastian baru sadar. Untung saja Refan menariknya menjauh dari Aldev. Kalau tidak mungkin sudah terjadi keributan besar yang akan merugikan Aletta.
“Thanks Refan. Kamu sudah mengingatkan saya.”
“Iya Bang. Kita saling mengingatkan saja. toh tujuan kita sama yaitu melindungi Kak Aletta.”
Di sisi lain, Aletta mendadak merasa lelah karena saat ini menjadi pusat perhatian banyak orang. Bukan hanya kru namun juga penduduk sekitar yang ingin menonton jalannya proses syuting.
“Baru kali ini gue berharap Kak Aldev nggak nyamperin gue.” Batin Aletta

Bình Luận Sách (38)

  • avatar
    Botol Yakult

    sangat indah

    04/09

      0
  • avatar
    AnjaniAnjani

    bagussss bangettt

    19/05/2025

      0
  • avatar
    Putri Billa

    Bagus bangetttt🥹🥹🥹

    16/05/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất