logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Tugu Pembatas Dua Alam

Setelah beberapa saat, Aqeel memberitahu Afifa bahwa harimau tersebut sudah pergi. Afifa langsung melepaskan pelukannya.
"Ma ... af, tanpa sadar aku telah bertindak tidak sopan padamu, Kak," ucap Afifa dengan pipi merah karena malu.
"Aku merasakan tubuh makhluk ini sangat dingin dan aku mendengar detak jantungnya yang begitu cepat. Apakah semua makhluk astral seperti Aqeel, suhu tubuh dingin dan detak jantung cepat?" Lagi-lagi Afifa termenung.
Aqeel mengatakan tidak keberatan karena saat orang terkejut dan takut, mereka biasanya spontan bertingkah diluar batas kesadarannya.
"Oh, terima kasih, Kak?" ucapan Afifa spontan yang tersadar dari termenungnya.
"Bisakah kita melanjutkan perjalanan, Fif? Atau kamu masih terkejut karena harimau tadi. Kita bisa istirahat sebentar menunggu kamu tenang?"
"Aku baik-baik saja, Kak? Mari kita lanjutkan saja perjalanannya. Kalau kita berhenti waktu akan terus berjalan. Takut pagi datang dan teman-teman khawatir atas kepergianku," sahut Afifa.
Aqeel meminta izin untuk memegang tangan Afifa. Afifa terpaksa menyetujui untuk terhindar dari bahaya yang mengintai. Mereka berjalan lurus ke depan dan terlihatlah tugu oleh Afifa, seperti tugu pembatas.
"Inikah tugu pembatas wilayah yang di maksud Aqeel. Sebenarnya tempat seperti apa yang Aqeel maksud. Kenapa aku menaruh prasangka terhadap Aqeel secara berlebih. Mudah-mudahan semua yang Aqeel katakan benar. Dia hanya mengajakku kerumahnya. Semoga juga beneran lebih eksotis dari Segara Anakan. Namun setelah masuk, apakah aku dapat keluar dengan mudah, karena perjalanannya yang lumayan jauh. Kenapa sepertinya tempat yang akan dituju seperti terasa asing?" Banyak pertanyaan di hati Afifa membuat dia tidak tenang.
"Aku melihat tugu. Apakah ini jalan masuk ke desa yang kamu maksud, Kak?" tanya Afifa yang penuh dengan rasa ingin tahu lebih banyak.
"Benar, kamu benar, Fif ..." jawab Aqeel dengan lembut.
Namun tragedi datang lagi saat mendekati tugu tersebut. Datanglah angin kencang. Aqeel semakin erat memegang tangan Afifa dan menariknya kedalam pelukkannya. Karena angin yang sangat kencang takut Afifa terpisah darinya. Dan Aqeel mendengar salah satu penjaga batas alam berbicara.
"Wahai, Saudaraku. Ini bukan tempat dimana kamu bisa membawa seorang manusia. Bawalah manusia itu pergi dari sini atau kamu akan terkena hukum alam sini."
Aqeel lalu menjawabnya," Saudara aku sebangsa. Aku tidak membawa manusia ini, melainkan ada tujuan yang harus aku capai. Datanglah temui kami dengan samaran agar manusia ini tidak curiga. Tolonglah untuk membiarkan aku lolos kali ini," telepati Aqeel terhadap sang penjaga.
Datanglah penjaga tersebut dengan bentuk ular hitam. Dia melihat bahwa yang membawa manusia adalah Aqeel. Pergilah ular tersebut.
"Ular, ada ular, Kak? Tapi kenapa dia pergi begitu saja?" tanya Afifa.
"Maafkan kelancangan aku, Tuan? Aku tidak tahu bahwa itu kamu. Masuklah dengan rasa aman?" telepati Penjaga tersebut di dengar Aqeel.
"Tidak apa-apa, Afifa? Ular tersebut hanya lewat dan tidak akan menyakiti kita," jawab Aqeel.

"Kita akan melewati pembatas tersebut. Sebelum memasuki, bisakah kamu memanggilku dengan namaku, bukan dengan sebutan kakak agar lebih terasa akrab, Fif?" pinta Aqeel. Tujuannya lebih mudah mencapai niat dalam hatinya.
Afifa menyetujuinya. Berjalanlah mereka berdua menuju tugu pembatas. Saat mau masuk, dipeluklah erat Afifa tanpa persetujuannya. Afifa sempat kaget saat itu, namun mencoba mengerti Aqeel. Pikiran Aqeel saat itu, karena mereka akan melewati jalan gaib, jika sendiri-sendiri saat berjalan dikhawatirkan Afifa bisa masuk ke tempat yang berbeda dan sulit ditemukan. Mereka pun melewati pembatas tersebut. Afifa merasakan seperti masuk dalam cermin. Akhirnya dia sadar tempat yang akan dituju adalah Alam Gaib tempat tinggalnya Aqeel. Teringatlah Afifa akan mimpinya. Dan nasehat dari orang tuanya membuat hati Afifa kacau. Namun Afifa berusaha bersikap tenang.
Begitu sampai terperanjatlah Afifa dengan melebarkan mata dan berkata,
"Subhanallah, dalam hutan terdapat desa yang begitu banyak bangunan tinggi. Seperti disuatu negara yang maju. Inikah desa yang kamu sebutkan, Kak? Ini seperti bukan desa melainkan kota atau suatu negara, Kak?" Afifa berkata dan bertanya dengan wajah yang penuh kekaguman dan terlihat oleh Aqeel.
"Ada apa, Afifa?" tanya Aqeel balik dengan menatap wajah Afifa.
"Oh, tidak ada apa-apa Kak, eh Aqeel?" jawab Afifa dengan senyuman yang begitu memikat Aqeel. Karena Afifa masih melihat dengan mata berkeliling dan merasa takjub. Secara tidak sadar Afifa terus tersenyum manis melihat pemandangan yang luar biasa, kalau orang biasa akan pingsan. Afifa saat itu tidak tahu Aqeel selalu memperhatikannya.
"Cantik, sangat cantik?" kata lirih Aqeel dengan terus memandang Afifa. Aqeel tidak menyadari dari semua hal yang dia lakukan untuk Afifa dan keinginan untuk membawa Afifa. Dari tidak suka Afifa dekat dengan Andrian, menghalangi Andrian dengannya, jantung berdegup kencang saat dipeluknya, dan ingin selalu dekat dengan Afifa. Aqeel belum tahu bahwa dia sedang jatuh cinta.
Afifa orang yang pintar dan juga peka, walau terkadang masih sangat polos. Dia pun merasakan kejanggalan atas tingkah laku Aqeel.
"Kenapa Aqeel membawa aku kesini? Bagaimana aku bisa pergi dari sini? Meski teman melihat petunjuk jalan aku, mereka tentu tidak bisa datang kesini karena tempat ini, tempat gaib. Apa yang akan terjadi dengan aku di tempat ini? Apa yang harus aku lakukan? Tamatlah aku," gumam Afifa dalam hati.
Untuk mengetahui tujuan Aqeel, dia terus mengikuti Aqeel dan berusaha mengalihkan perhatian Aqeel. Karena Afifa mulai menyadari Aqeel terus memandangnya yang membuat Afifa risih.
"Disebelah mana kamu tinggal, A ... qeel?" tanya Afifa dengan memandang desa yang penuh misteri dan tidak terbiasa memanggilnya dengan sebutan nama. Afifa berpikir tidak benar orang yang lebih tua dipanggil dengan sebutan hanya nama. Tapi itu permintaan Aqeel sendiri. Dia hanya bisa menurutinya.
Aqeel dengan lembut menjawab," Dia tinggal di ujung desa."
"Berapa saudaramu?" tanya Afifa.
Aqeel menjawab," Dua bersaudara. Hanya mempunyai satu adik dan tinggal bersama ibuku."
Afifa pun mempertanyakan bapak Aqeel. Lalu Aqeel menjelaskan bapaknya meninggal karena sakit.
"Maaf, aku tidak seharusnya bertanya dengan detail yang membuat kamu menjadi sedih, Aqeel?" jawab Afifa.
"Masya Allah, ternyata makhluk gaib bisa meninggal karena sakit. Tapi sakit apa sehingga bisa meninggal. Penasaran juga, tapi tidak mungkin aku tanya sama Aqeel?" gumam Afifa dalam hati. Benar-benar dangkal pengetahuanku. Ternyata masih banyak yang belum aku ketahui.
Aqeel pun memaklumi Afifa. Wajar saat pertama kali berkenalan menanyakan hal seperti itu. wajah Aqeel terlihat sangat ceria karena Aqeel sekarang dekat dengan Afifa, dan Afifa menyebut namanya bukan dengan sebutan kakak lagi, jadi lebih mudah dalam pikiran Aqeel untuk mendekati Afifa lebih jauh.
Afifa diajak Aqeel untuk melihat-lihat dan terus menelusuri desa tersebut. Terlihat oleh Afifa dari selain bangunan juga makhluknya pun bermacam-macam. Ada yang jalan dengan kaki terbalik, ada yang berdiri dengan kepala terbalik kebelakang, ada yang melihatnya dengan kepala berputar-putar, dan masih banyak lagi. Afifa tidaklah takut sama sekali, bagi dia semua yang dialaminya adalah anugerah yang Allah SWT berikan kepadanya, dan dia sangat bersyukur.
Afifa melihat semuanya, tapi dia tetap bersandiwara layaknya manusia biasa pada umumnya. Mereka ahli sihir dan berusaha merubah wujud layaknya manusia. Karena Aqeel berjalan bersama Afifa yang seorang manusia, tercium di hidung mereka masing - masing. Mereka mempunyai kepekaan yang tidak di miliki manusia pada umumnya. Dan sihir mereka untuk berubah wujud tidak berpengaruh bagi Afifa, karena dia seorang Indigo.
Saat Aqeel datang mereka membungkukkan badan, Aqeel mengangkat tangan, dan membuka telapak tangannya menghadap ke arah mereka seperti yang dilakukan pada siluman harimau. Afifa terheran kenapa sikap mereka seperti itu terhadap Aqeel.
"Aqeel, kenapa mereka selalu membungkukkan badan setiap bertemu dengan kamu?" tanya Afifa dengan penuh rasa penasaran.
Aqeel menjelaskan selain raja dan keluarganya, disini para guru juga dihormati. Afifa tersenyum kagum dengan Aqeel. Ternyata Aqeel tidak berbohong kalau dia seorang dosen.
"Tunggu, jangan-jangan harimau dan ular tadi adalah siluman. Dan sama seperti ular, harimau tersebut langsung pergi begitu melihat Aqeel. Wah, aku dikerjai sama Aqeel. Betapa malunya aku tadi memeluknya begitu lama. Apa yang dipikirkan Aqeel saat itu? Atau kah dia menyukaiku? Detak jantungnya yang cepat, apakah sama dengan manusia karena rasa suka? Duh, kenapa aku jadi berpikir tidak karuan seperti ini." Afifa bertanya-tanya dalam hati tentang perilaku Aqeel.
"Inilah desa kami, Fif?"
"Oh, sangat indah desa kamu, Qeel?" Afifa mulai terbiasa menyebut nama Aqeel.
Saat perjalanan Afifa juga melihat rumah-rumah warga, sekolah-sekolah, masjid, pasar, dan persis seperti alam manusia pada umumnya. Pakaian mereka juga bermacam - macam. Ada yang berpakaian seperti gaya Eropa Kuno. Namun Afifa tidak melihat kendaraan dan alat komunikasi.
"Kenapa tidak ada kendaraan sama sekali dan alat komunikasi? Atau mereka makhluk yang mempunyai kekuatan dapat berjalan secepat kilat seperti yang aku baca di buku perpustakaan saat aku kuliah dulu. Dan mereka pandai merubah wujud. Apakah mereka berkomunikasi dengan telepati," gumam Afifa dalam hati.
Aqeel pun bertanya ketika Afifa terdiam dan sedang mengamati sekitar.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Afifa? Jika ada sesuatu yang ingin kamu ketahui tanyakan padaku, aku siap menjawabnya?" tanya Aqeel.
"Sekarang belum ada yang ingin aku tanyakan. Mungkin lain waktu aku akan bertanya banyak sama kamu. Jika kita membawa teman-teman kesini, mereka akan sangat senang," jawab Afifa, membuat Aqeel terdiam.
"Mana bisa aku bawa teman-teman kamu kesini. Mereka bisa mengacaukan semuanya. Yang aku inginkan hanya kamu, Afifa," gumam Aqeel dalam hati sambil menatap Afifa.
Aqeel menjelaskan peraturan di daerah Aqeel sama seperti di daerah Afifa. Namun di daerah Aqeel lebih keras dan ketat. Ada yang baik dan ada yang jahat. Dalam satu daerah bermacam-macam budaya dan banyak agama. Ada yang menganut agama Hindu, ada yang menganut agama Budha, Yahudi, Nasrani, dan mayoritas Islam. Mereka hidup dalam satu daerah dan terlihat rukun. Mereka seperti di pantau oleh pihak berwajib, namun mereka terlihat tenang.
Afifa meminta Aqeel untuk menemaninya ke masjid terdekat. Masuklah mereka berdua.
"Subhanallah. Suatu momen yang tidak akan bisa aku lupakan. Masjid di alam gaib begitu megah, sama seperti di daerah aku. Namun masjid di sini kenapa tidak ada pengeras suara. Bagaimana cara mereka mengumandangkan Adzan," gumam Afifa dalam hati.
Namun Afifa tidak berani bertanya pada Aqeel. Dia mempunyai seribu pertanyaan dan akan membuat Aqeel curiga, bahwa Afifa telah mengetahui bahwa Aqeel dan Afifa makhluk yang berbeda. Afifa memilih diam. Dia menikmati pemandangan yang dia sendiri tidak pernah menyangka akan mendatangi alam yang jarang manusia memasukinya.

Bình Luận Sách (435)

  • avatar
    Nelya Mof

    sangat keren banget, cerita x sangat menyentuh hati, dari sinilah aku banyak tau apa artinya cinta dan kasih sayang dalam sebuah hubungan di dalam rumah tangga bahkan pengorbanan seorang suami x Aqeel jadi mewek deh😭😭😭😭. ternyata dia dunia gaib juga mereka bisa berperan sebagai antagonis dan protagonis. mereka juga punya aktivitas,tmpt ibadah dll.

    18/02/2022

      9
  • avatar
    VabsatikaKhusna

    bagus banget aqeel nya gen z ya😭

    14d

      0
  • avatar
    Umi Ainizairin

    mangap

    29/03

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất